Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Kamu nanya?


__ADS_3

Pagi ini, Misha telah bersiap berangkat menuju sekolahnya. Dia keluar dari kamar mengenakan seragam serta jepit rambut motif kupu-kupu di kepalanya yang memang selalu dia kenakan.


Misha sebenarnya masih khawatir dengan Fabian, pasalnya pria itu tak memberi kabar padanya dari semalam. Entah mengapa Misha mulai gelisah dan cemas jika Fabian ternyata hanya memainkan perasaannya dan tidak benar-benar mencintai dirinya, apalagi menikahinya.


Tentunya Misha memang sudah siap menanggung resiko itu, karena dia tahu diri bahwa dia hanyalah seorang gadis ranjang milik tuan Fabian. Jikalau nantinya Fabian pergi dari hidupnya, maka Misha pun tak bisa berbuat apa-apa.


"Tuan Biyan kemana ya? Apa dia pulang ke rumah istrinya?" gumam Misha.


Wanita itu terus diam di depan pintu dengan kedua tangan menyatu, ia juga mengigit bibir bawahnya menahan rasa cemas yang melanda.


"Duh, kenapa juga sih aku mikirin dia?! Toh dia kan emang suami orang, jadi wajar aja kalau dia pulang ke rumah istrinya. Ngapain aku malah khawatir sama dia? Ayolah Misha, kamu gak boleh jadi pelakor!" Misha berdebat dengan dirinya sendiri.


"Tapi, kalau sampai tuan Biyan ninggalin aku dan ternyata aku hamil anaknya gimana ya? Apa aku sanggup menghidupi anak itu sendirian? Mengurus ayah aja aku gak bisa, apalagi kalau harus ngurus anak?" tiba-tiba Misha kembali memikirkan mengenai kemungkinan dia akan hamil.


Namun pada akhirnya, Misha pun menggeleng berusaha menghilangkan pikiran itu.


"Enggak Misha enggak! Kamu gak boleh mikir kayak gitu, aku pasti gak mungkin hamil anaknya tuan Biyan! Kalaupun itu terjadi—eh enggak deh amit-amit, gak mau hamil gak mau!" Misha terus berdebat sendiri sembari memukul-mukul kepalanya.


Wanita itu berulang kali mengucapkan kata "Gak mau hamil, gak mau hamil" selama perjalanannya ke luar mansion itu. Dia benar-benar takut akan kehamilan, walau menikmati juga setiap kali Fabian menyentuh tubuhnya.


Saat di luar, Misha tak sengaja melihat mobil milik Fabian sudah terparkir di halaman mansion itu. Sontak Misha terkejut, dia bergerak menghampiri mobil tersebut untuk memastikan apakah Fabian juga ada disana atau tidak.


Dan benar saja dugaannya, Misha mendapati Fabian tengah tertidur pulas di dalam mobil dengan mulut terbuka.


Melihat itu, Misha pun merasa kasihan pada Fabian dan menyesal telah menuduh yang tidak-tidak pada lelaki tampan itu.


"Huft, aku jadi nyesel udah duga yang enggak-enggak soal tuan Biyan!" batin Misha.


Perlahan Misha mulai mendekati Fabian, ia sebenarnya tidak tega membangunkan pria itu, tetapi ia juga merasa kasihan melihat Fabian tertidur disana.


"Tu-tuan, bangun tuan!" ucapnya lirih. Satu tangannya bergerak menyentuh wajah halus Fabian yang masih tertidur itu. "Tuan, ayo bangun dulu tuan! Jangan tidur disini, enakan tidur di ranjang!" lanjutnya sembari mengusap wajah Fabian.


"Eenngghh.." Fabian tiba-tiba menggerakkan wajahnya setelah merasa ada sesuatu yang menyentuhnya, dengan cepat dia mencengkeram lengan Misha dan menciuminya.


Cup! "Uhh wangi banget, mulus lagi.. ini tangan siapa sih? Bidadari ya?" Fabian seperti sedang mengigau sambil terus menempelkan lengan Misha di wajahnya.


"Eee tu-tuan sadar tuan!" ujar Misha panik. Dia berusaha menarik tangannya lepas dari genggaman Fabian, tetapi gagal. "Tuan, ayolah lepas! Tuan juga harus sadar, jangan tidur disini nanti badan tuan sakit semua!" rengek Misha.

__ADS_1


Akhirnya Fabian tersadar mendengar suara berisik Misha, dia mengerjapkan matanya berkali-kali sembari menguap lebar.


Fabian terkejut hebat saat menyadari kehadiran Misha disana, apalagi sekarang dia juga sedang memegang tangan wanita itu.


"Loh, kamu kok bisa disini sayang? Udah mau sekolah ya?" tanya Fabian heran.


"Kamu nanya kok aku bisa disini? Oke aku jawab, ak—" ucapan Misha dihentikan oleh Fabian yang langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Kamu lagi kenapa sih? Ngapain mulutnya dimenye-menyein gitu?" ujar Fabian.


Misha terus menepuk-nepuk punggung tangan Fabian agar lepas dari mulutnya, Fabian menurut dan melepaskannya Misha.


"Hehe, itu aku ngikutin dilan cepmek yang lagi viral. Biar tuan gemes aja gitu," jawab Misha.


"Ohh ada-ada aja kamu.. gak perlu kamu ngikutin begituan, kamu juga udah gemesin kok sayang!" ucap Fabian sambil mencubit pipi wanitanya.


Misha terkekeh kecil lalu menunduk malu.


"Tapi gapapa sih, saya suka kalau kamu lagi mode godain saya begitu. Kamu lebih kelihatan gemas dan bikin saya bergairah," ujar Fabian.


"Huh dasar tuan mesum!" cibir Misha.


"Umm, emangnya tuan bisa? Bukannya tuan baru bangun tidur? Nanti kalau tuan ngantuk di jalan gimana?" tanya Misha.


"Gak bakal sayang, udah ayo kamu masuk!" jawab Fabian meyakinkan wanitanya.


"Iya deh tuan," Misha mengangguk setuju, kemudian masuk ke dalam mobil Fabian dan duduk di sebelah lelaki itu.


"Sini saya pasangin seat belt nya," Fabian bergerak mendekati Misha, memasangkan sabuk pengaman di tubuh wanita itu sembari sesekali mengecup pipi Misha yang chubby.


Cup!


"Ih tuan modus ya? Pura-pura mau pasangin seat belt, padahal mah pengen cium pipi aku kan?" ujar Misha.


"Hehe itu tau.." Fabian terkekeh, lalu kembali ke kursi kemudi dan melajukan mobilnya.


__ADS_1



Di dalam perjalanan, Misha menatap wajah Fabian dari tempat duduknya saat ini dengan raut heran. Fabian yang sadar tengah diperhatikan, langsung menoleh dan mencolek hidung Misha.


"Hayo, ngapain ngeliatin muka saya aja, ha? Kamu terpesona ya sama ketampanan saya?" goda Fabian.


"Hah? Apa sih tuan?! Aku tuh cuma heran aja, ngapain tuan tadi tidur di mobil bukannya masuk ke dalam?" elak Misha.


"Saya sebenarnya mau masuk, tapi takut ganggu tidur kamu. Makanya saya milih buat tidur di mobil," jawab Fabian.


"Masa sih?" Misha menatap seakan tak percaya.


"Gak juga sih, saya ketiduran semalam pas mau turun dari mobil. Yaudah deh, akhirnya saya tidur di mobil aja sampai pagi," kekeh Fabian.


"Ish, dasar tukang bohong!" kesal Misha merengutkan bibirnya.


Fabian hanya terkekeh geli melihat reaksi wajah Misha yang menggemaskan.


"Terus, emang semalam tuan pulang jam berapa?" tanya Misha.


"Kamu nanya saya pulang jam berapa?" Fabian ikut menirukan nada bicara Misha tadi sambil cekikikan.


"Ih nyebelin!" kesal Misha.


"Hahaha, saya pulang jam satu. Kondisi rumah udah sepi banget, di sekitaran komplek juga udah gak ada apa-apa selain suara jangkrik. Karena saya ngantuk banget dan gak bisa tahan, yaudah deh saya ketiduran di mobil," jelas Fabian.


"Emang sebenarnya semalam tuan abis darimana sih? Kenapa tuan kelihatan emosi banget semalam waktu mau pergi? Malahan sampai bikin aku remuk dan susah jalan," tanya Misha.


"Maaf cantik! Saya emosi karena Khayra, kamu kan tau dia udah bikin kita gagal puas kemarin. Makanya saya langsung datangi dia dan kasih surat cerai ke dia," jawab Fabian.


"Hah? Surat cerai??" Misha terkejut hebat mendengar jawaban Fabian.


"Iya, baru nanti setelah semua proses perceraian saya selesai, saya akan langsung nikahi kamu," lanjut Fabian.


Misha menutup mulutnya rapat, entah dia harus senang atau sedih saat ini.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2