Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Sebentar lagi sadar


__ADS_3

Fabian serta Misha mendatangi rumah sakit, mereka menjenguk ayah Misha yang masih terbaring koma disana untuk meminta restu darinya terkait pernikahan mereka.


Sebenarnya Fabian juga ingin membawa kedua orangtuanya, tetapi baik papa maupun makanya tidak ada yang berkenan hadir karena merasa Misha tak pantas menjadi bagian keluarga mereka.


"Tuan, apa tuan yakin tetap akan menikahi aku? Tadi aku lihat, tatapan nyonya besar seperti tidak menyukai keberadaan ku tuan," tanya Misha.


"Kamu gak perlu mikirin soal itu! Saya janji sama kamu, mereka pasti bisa terima kamu menjadi istri saya!" jawab Fabian yakin.


"Tapi tuan, aku gak mau tuan sama orang tua tuan jadi bermusuhan. Sebaiknya kita batalkan saja pernikahan ini ya tuan?" ujar Misha.


"Kamu bicara apa sih Misha? Tekad saya sudah bulat, saya akan nikahi kamu apapun resikonya! Udah kamu tenang aja, mama papa itu biar jadi urusan saya! Lagipun, memangnya kamu mau kalau anak yang kamu kandung itu lahir tanpa sosok ayah?" ucap Fabian.


Seketika Misha terdiam, yang dikatakan Fabian tentang status anaknya kelak ada benarnya.


"Gak mau kan pasti?" tanya Fabian.


Misha menggeleng sebagai jawaban, Fabian pun tersenyum lebar lalu menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Misha dan memberi kecupan lembut pada kening wanita itu.


Cup!


"Saya berjanji sama kamu, saya akan bahagiakan kamu dan juga anak kita! Kamu bisa pegang kata-kata saya Misha!" lirih Fabian.


"Terimakasih tuan, aku beruntung ketemu sama lelaki sebaik dan setulus tuan!" ucap Misha.


"Ya, saya juga beruntung bisa bertemu kamu. Tanpa kamu, mungkin saat ini saya masih tersiksa dengan pernikahan saya dan Khayra. Kehadiran kamu juga membuat hari saya lebih berwarna, kamu selalu bisa bikin saya tersenyum!" ucap Fabian seraya mengelus wajah Misha.


Misha tertunduk malu, memundurkan tubuhnya begitu menyadari pergerakan dari Fabian yang mendekatinya. Ya tubuh Misha pun membentur dinding rumah sakit, membuat Fabian lebih leluasa untuk mengungkungnya disana.


"Kamu cantik, boleh ya saya cium bibir kamu sebentar? Saya gak tahan lihatnya, bibir kamu ini selalu menggoda," ujar Fabian sensual.


Misha hanya mengangguk memberi izin, baginya menolak pun percuma karena pasti Fabian akan memintanya secara paksa. Walau dia ragu untuk berciuman di tempat umum seperti ini.


Dan tanpa menunggu lama, Fabian langsung menahan tengkuk Misha dan menyatukan bibir keduanya. Ia melum-at dengan lembut dan bergairah membuat suasana semakin panas.


Ceklek..


Mereka reflek melepas tautan bibir saat mendengar suara pintu terbuka, untunglah sang suster yang baru keluar itu tak sempat melihat pemandangan panas tadi.


"Eee sus, ayah saya gimana? Baik-baik aja kan?" tanya Misha mendekati suster itu.


"Kamu tenang aja ya, ayah kamu kondisinya semakin membaik kok! Dokter juga memprediksi kalau tidak lama lagi ayah kamu akan sadar," jawab sang suster.

__ADS_1


Misha amat bahagia mendengarnya, dia menatap Fabian sambil tersenyum lebar karena tak sabar ingin melihat ayahnya sadar dari koma.


"Sus, ini benar kan??" tanya Misha.


"Iya kak, begitu yang dikatakan dokter tadi. Tapi, untuk waktu pastinya kami tidak bisa memprediksi secara pasti," jawab suster itu.


"Gapapa sus, dengar kabar ayah saya mau sadar aja saya udah senang banget kok! Sekarang saya boleh masuk kan lihat kondisi ayah saya?" ujar Misha.


"Boleh kok, silahkan!" suster itu membukakan pintu, memberi jalan bagi Fabian dan Misha untuk masuk ke dalam.


"Terimakasih sus!" ucap Misha sebelum berjalan memasuki ruangan itu.


Kini keduanya berdiri tepat di samping tubuh sang ayah dari wanita itu, Misha terlihat bahagia karena sebentar lagi ayahnya akan sadar dari koma.


"Ayah, cepat sadar ya! Misha udah gak sabar buat bicara sama ayah lagi!" ucap Misha.


"Tenang ya Misha! Saya yakin kok ayah kamu pasti bisa sadar dan pulih seperti semula!" ucap Fabian memegang pundak wanitanya.


"Iya tuan," lirih Misha.




Fabian juga telah mengumpulkan seluruh pekerjanya di kantor itu, dia berharap memang Misha juga dapat dihormati oleh para karyawan-karyawannya.


"Selamat pagi semua!" Fabian muncul dan menyapa seluruh pekerja disana.


"Pagi pak!" balas mereka serentak.


"Maaf ya, saya kumpulin kalian semua disini tapi gak bilang-bilang dulu sebelumnya!" ucap Fabian.


"Gapapa pak, tapi kira-kira ada apa ya bapak minta kita kumpul disini?" ucap seorang karyawan.


"Pertanyaan bagus! Iya, saya meminta kalian semua kumpul disini karena saya ingin memperkenalkan seseorang kepada kalian semua yang ada disini dan bekerja di kantor saya ini," jawab Fabian sambil tersenyum.


Mereka semua mulai berbisik-bisik, mencari tahu siapa sebenarnya yang akan dikenalkan Fabian kepada mereka.


"Sudah, kalian gak perlu menebak-nebak begitu! Orangnya udah ada di depan kok," ujar Fabian.


"Yuk masuk sayang!" Fabian menatap ke arah pintu, meminta Misha segera masuk agar dapat dikenalkan pada seluruh karyawannya.

__ADS_1


Misha pun berjalan pelan dengan senyum merekah di bibirnya, dia menatap sekeliling dan melempar senyum pada seluruh manusia disana.


"Nah, ini dia orang yang mau saya kenalkan pada kalian semua. Dia adalah calon istri saya, namanya Misha Nur Albiru." Fabian langsung mengenalkan Misha kepada karyawannya dengan bangga.


Bahkan, Misha sampai tersipu malu saat Fabian menyebut dirinya sebagai calon istri di hadapan seluruh orang itu.


"Saya dan Misha sebentar lagi akan menikah, mohon doanya ya biar pernikahan kami bisa berjalan dengan lancar!" ucap Fabian.


"Aamiin pak!" jawab mereka serentak.


"Oh ya, jangan lupa juga kalian semua wajib datang di pesta pernikahan saya nanti! Undangannya bakal saya sebar gak lama lagi, awas ya kalau ada yang gak datang!" ucap Fabian.


"Siap pak! Kami ini kan karyawan bapak, jadi pasti kami akan hadir di acara penting bapak!" ucap salah seorang karyawan.


"Ya itu bagus, saya suka jika memang kalian semua menganggap saya seperti itu! Nantinya, kalian juga harus bertindak sama pada Misha kekasih saya ini, tidak ada yang boleh berlaku kurang ajar sama dia! Karena Misha lah pewaris atau penerus saya di perusahaan ini," ucap Fabian.


"Baik pak, kami mengerti!" seru seluruh karyawan.


Disaat semua orang berbahagia, Zya sang sekretaris justru menggerutu sendiri menyaksikan momen tak mengenakkan baginya itu.


"Haish, kapan sih ini kelarnya? Rasanya saya gak tahan lagi lihat semua ini, bisa-bisanya pak Fabian bawa perempuan ke kantor dan dikenalin ke semua karyawan dia!" batin Zya.


Setelah dirasa cukup, Fabian pun mengajak Misha keluar dari ruangan itu. Lalu, Fabian membawa sang kekasih menuju ruang pribadinya.


Disana Fabian dan Misha sudah disuguhi oleh dua gelas minuman yang sebelumnya memang telah diminta Fabian.


"Duduk sayang!" titah Fabian. Misha menurut dengan ucapan calon suaminya itu, ia pun duduk di sofa dan tersenyum ke arahnya.


"Makasih banyak ya tuan, karena tuan benar-benar anggap aku sebagai calon istri tuan!" ucap Misha.


"Ngapain pake makasih segala? Itu hal yang wajar kali bagi seorang kekasih, saya ngelakuin ini supaya kamu bisa percaya sama saya kalau saya itu setia sama kamu!" ucap Fabian.


"Iya tuan, sekarang aku udah makin percaya sama tuan kok. Maaf ya tuan, saya sempat meragukan ketulusan tuan!" ucap Misha.


"Gapapa, saya ngerti kok. Sebaiknya kamu minum dulu sekarang, supaya rileks dan gak tegang!" ucap Fabian menyodorkan gelas minum pada Misha.


Misha mengangguk pelan, mengambil gelas tersebut dan mulai menenggak minumannya.


"Oh ya tuan, apa Bu Khayra sudah dikasih tahu perihal pernikahan kita?" tanya Misha tiba-tiba yang membuat Fabian tersedak saat sedang minum.


"Uhuk uhuk!!"

__ADS_1


...~Bersambung~...


...KOMEN JUGA YA GES, AUTHOR BUTUH SUPPORT BIAR SEMANGAT LANJUTIN CERITANYA!...


__ADS_2