
Deg!
Jantung Fabian serasa berhenti berdetak mendengar apa yang diucapkan Misha barusan, ia benar-benar khawatir pernikahan yang sudah diimpikannya itu akan batal.
"Kamu jangan bicara begitu lah Misha! Saya akan usaha kok untuk bawa papa kesini!" ujar Fabian.
"Yaudah, cepat kamu ajak papa kamu kesini! Anak di dalam perut aku ini butuh sosok ayah," ucap Misha sembari mengusap perutnya yang mulai membesar.
Seketika Fabian mengarahkan pandangan ke arah perut Misha, ia juga tak ingin anaknya lahir tanpa sosok ayah.
"Baiklah, saya akan berjuang demi kamu dan juga calon anak kita sayang!" ucap Fabian tersenyum lirih.
Keduanya saling tatap dan berbalas senyum, Misha sendiri sebenarnya tak ingin kehilangan Fabian karena ia sangat mencintai lelaki itu.
"Ini ada apa ya??" tiba-tiba Hardi muncul dari dalam dan membuat mereka bertiga terkejut bukan main.
"Ayah? Kok ayah bisa disini?" kaget Misha.
"Iya, tadi ayah gak sengaja dengar suara berisik dari sini. Makanya ayah keluar buat ngecek karena penasaran. Kalian lagi pada ngomongin apa sih? Kok kayaknya serius banget?" ujar Hardi.
"Eee kita gak ngomongin apa-apa kok yah, ini mas Fabian kesini cuma buat bahas pernikahan kita yang tinggal sebentar lagi. Ayah mending balik ke kamar deh, jangan kebanyakan gerak dulu! Kondisi ayah kan belum stabil," ucap Misha.
"Gapapa Misha, ayah udah sehat kok. Ayah juga bosen terus-terusan di kamar," ujar Hardi.
"Ya syukurlah kalau ayah emang udah baikan! Tapi, tetap aja ayah gak boleh kecapekan! Misha gak mau ayah jatuh sakit lagi tau!" ucap Misha.
"Iya Misha, ayah gak akan sakit lagi demi kamu. Ayah kan pengen lihat kamu menikah dengan nak Fabian, itu sesuatu yang ayah tunggu-tunggu dari dulu! Melihat putri ayah satu-satunya ini bahagia bersama pasangannya," ucap Hardi.
"Aamiin! Semoga ayah sehat terus dan bisa menyaksikan hari bahagia aku dan mas Fabian nanti!" ucap Misha.
"Eee om, apa kabar?" Fabian coba mengalihkan topik dengan menyapa Hardi dan mencium tangan calon mertuanya itu.
"Baik kok nak, kamu sendiri bagaimana? Lancar kan persiapan pernikahannya?" ucap Hardi.
"Semuanya lancar kok om, undangan juga udah disebar dan hari pernikahan kami gak mungkin berubah lagi. Om bantu doa ya supaya semuanya bisa berjalan lancar?" ucap Fabian.
"Aamiin aamiin! Saya pasti akan berdoa yang terbaik buat kalian berdua! Oh ya, kamu kenapa masih panggil saya om sih? Kalian kan sudah mau menikah, panggil ayah aja kali!" ujar Hardi.
"Iya mas, biar sama kayak aku. Ayah aku ini baik kok dan pastinya bakal suka banget kalau kamu mau panggil ayah aku dengan sebutan ayah," sahut Misha.
"Ah iya Misha, saya belum terbiasa buat panggil ayah kamu ini dengan sebutan ayah. Maafin saya ya om, eh maksudnya ayah!" ucap Fabian.
__ADS_1
"Gapapa, yang penting mulai sekarang kamu harus biasakan panggilan itu ya!" ujar Hardi.
"Siap ayah! Eee tapi saya boleh ajak Misha pergi sebentar gak ayah ke luar? Saya mau bicara sama Misha berdua," ucap Fabian.
"Hah? Ya boleh lah Fabian, kamu bawa aja Misha! Sudah sana Misha, kamu ikut sama Fabian!" ucap Hardi.
"Ta-tapi yah—"
"Kenapa Misha? Mungkin Fabian mau bahas hal penting terkait pernikahan kalian, udah kamu ikut aja sana!" potong Hardi.
"Terus ayah gimana?" tanya Misha.
"Ayah baik-baik aja kok, kamu gak perlu khawatir kan ada nak Ashraf!" jawab Hardi.
"Iya Misha, kamu tenang aja!" timpal Ashraf.
Akhirnya Misha mau ikut dengan Fabian pergi dari sana, meski sebenarnya Ashraf juga tidak rela kalau Misha pergi dengan Fabian.
•
•
Singkat cerita, Fabian dan Misha telah tiba di sebuah taman dekat rumah Ashraf. Lelaki itu membersihkan sejenak kursi panjang disana sebelum diduduki oleh Misha.
"Nah sekarang udah bersih, kamu baru boleh duduk," ucap Fabian.
"Kamu ngapain sih pake begitu segala? Perasaan daritadi juga tempat duduknya bersih kok," tanya Misha sembari duduk disana.
"Gapapa, cuma jaga-jaga aja. Soalnya kamu kan lagi hamil, saya gak mau ada virus atau apalah itu yang menempel di tubuh kamu," jawab Fabian.
"Ahaha, kamu paling bisa bikin aku salting deh!" ujar Misha malu-malu.
Fabian hanya tersenyum tipis, lalu meraih satu tangan Misha dan menggenggamnya.
"Ada apa mas Fabian??" tanya Misha penasaran.
"Tadi Khayra datang ke rumah papa bareng orangtuanya, dia mengaku kalau dia sedang mengandung anak saya. Terus, dia juga minta pertanggungjawaban dari saya atas anak itu," jelas Fabian.
"Apa? Nyonya Khayra hamil? Kalau gitu kenapa kamu malah disini? Harusnya kamu tetap disana dan jaga dia!" ujar Misha sedikit terkejut.
"Enggak Misha, buat apa saya terus disana? Saya gak mau dengar omong kosong wanita itu lagi, belum tentu juga anak yang dikandung dia itu anak saya!" ucap Fabian.
__ADS_1
"Mas, kamu gak boleh gitu dong! Nyonya Misha itu mantan istri kamu, artinya anak itu ya udah pasti anak kamu lah mas Fabian! Sampai sekarang dia belum menikah lagi kan?" ucap Misha.
"Bisa aja dia ada hubungan sama orang lain, terus dia hamil dan supaya dia gak malu maka dia minta tanggung jawab dari saya. Dengar ya Misha, Khayra itu wanita licik!" ucap Fabian.
"Apa kamu ada buktinya mas?" tanya Misha.
Fabian menggeleng pelan.
"Tuh kan, artinya kamu gak boleh asal tuduh. Kalau benar itu anak kamu gimana?" ujar Misha.
"Gak mungkin Misha, pasti itu bukan anak saya!" sangkal Fabian.
"Kenapa kamu yakin banget?" tanya Misha.
"Ya karena seperti yang saya bilang tadi, Khayra itu wanita licik dan penuh ambisi. Dia bisa lakuin berbagai macam cara untuk mencapai tujuannya, termasuk dengan menjebak saya!" jawab Fabian.
"Kamu gak bisa menuduh nyonya Khayra yang enggak-enggak begitu! Gimana kalau itu emang benar anak kamu?" ucap Misha.
"Kalaupun iya itu anak saya, tetap aja saya gak akan tertarik untuk rujuk dengan dia. Saya udah punya kamu Misha dan cuma kamu yang saya cintai," ucap Fabian dengan serius.
"Itu bagus mas, aku juga gak mau kehilangan kamu gitu aja. Tapi, gimanapun kami harus tetap tanggung jawab sama anak yang dikandung nyonya Khayra karena itu anak kamu!" ujar Misha.
"Kamu bisa berhenti panggil dia nyonya gak? Sebut aja dia Khayra, karena dia bukan nyonya!" sentak Fabian.
"Iya iya, maksud aku Khayra. Sekarang aku minta kamu temui dia buat bahas anak di dalam kandungannya!" ucap Misha.
"Saya gak mau," singkat Fabian.
"Kamu harus mau!" tegas Misha.
"Kenapa sih Misha? Untuk saat ini saya lagi malas urus dia, saya mau fokus sama pernikahan kita aja! Papa saya akan datang kesini dan temui ayah kamu, setelah itu kita bisa menikah dengan tenang!" ucap Fabian.
"Lalu bagaimana dengan anak kamu dan Khayra?" tanya Misha.
"Itu bisa saya urus nanti, setelah kita berdua menikah dan hidup bahagia. Lagipun, di dalam perut kamu ini juga ada darah daging saya kan?" jawab Fabian seraya mengusap perut Misha.
"Iya sih mas, tapi Khayra pasti juga bingung banget gimana caranya buat merawat anaknya sendirian tanpa seorang suami di dekatnya," ucap Misha.
"Kamu gak perlu mikirin dia, toh dia juga sering jahat sama kamu! Biarin aja dia begitu, mungkin ini balasan buat dia!" ucap Fabian.
Misha menggeleng pelan, tak percaya jika Fabian bisa mengatakan itu mengenai Khayra. Namun, dia juga sebenarnya tidak suka jika Fabian masih berdekatan dengan Khayra.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...