
Misha tersenyum dan mencium punggung tangan calon suaminya itu, membiarkan Fabian pergi seorang diri ke pernikahan Khayra.
Wanita itu masih terus memandangi punggung Fabian sambil tersenyum, sampai sebuah suara mengagetkannya.
"Misha!" panggil Cornelia.
Sontak Misha terkejut dan langsung menoleh ke asal suara, ia tersenyum menatap Cornelia yang memang tengah terduduk disana.
"Eh mama, maaf ma aku malah fokus ke mas Fabian aja!" ucap Misha seraya berjalan mendekati wanita dewasa itu.
"Ahaha, iya gapapa Misha. Sini duduk samping mama!" ujar Cornelia.
"Ah iya ma," Misha menurut dan ikut duduk di sebelah Cornelia.
"Gimana soal Ashraf sepupu kamu itu? Kamu bicara apa aja sama dia di penjara tadi?" tanya Cornelia.
"Eee..." Misha berpikir sejenak, kedua bola matanya berputar ke arah berlawanan menghindari tatapan Cornelia.
"Kak Ashraf masih tetap gak mau mengakui kesalahannya, ma. Dia malah bilang kalau semua itu dia lakukan untuk balas dendam ke papa Dominic," ucap Misha bercerita pada Cornelia.
"Seperti dugaan mama, Ashraf itu pasti dendam sekali sama suami mama. Untung aja papa Dominic masih bisa selamat," ucap Cornelia.
"Iya ma, sekali lagi aku minta maaf ya atas kelakuan kak Ashraf! Aku udah coba tegur dia dan minta dia buat melupakan semuanya, tapi dia gak mau dengerin aku ma!" ucap Misha.
"Kamu gak perlu minta maaf sayang, ini bukan salah kamu kok!" ucap Cornelia seraya mengusap rambut calon menantunya.
"Tapi ma—"
"Sssttt udah gausah dipikirin! Kita sama-sama fokus aja ke keselamatan papa Dominic ya! Kamu jangan terlalu mikirin apa yang dilakukan Ashraf, karena mama udah maafin dia kok!" potong Cornelia.
"Mama serius udah maafin kak Ashraf?" tanya Misha membulatkan matanya.
"Iya Misha, mama gak mau semuanya jadi panjang. Tapi, dia tetap akan melewati masa hukumannya di penjara sesuai ketetapan hukum," jawab Cornelia.
"Terimakasih ya ma!" ucap Misha.
"Sama-sama sayang, sudah ya kamu jangan sedih atau mikirin soal ini lagi! Mama juga yakin, papa Dominic pasti bisa maafin Ashraf!" ucap Cornelia.
Misha mengangguk pelan, Cornelia pun mendekap tubuh Misha dan menaruh kepala wanita itu di bahunya untuk ia usap.
Tak lama, Hardi keluar dari ruangan itu. Ia tersenyum begitu melihat putrinya yang sudah kembali dan tengah berpelukan dengan Cornelia di tempat duduk.
"Ehem ehem.." Hardi berdehem pelan yang membuat Misha serta Cornelia terkejut.
"Eh ayah?" kaget Misha.
"Iya Misha, kamu sudah kembali? Bagaimana dengan Ashraf?" tanya Hardi.
"Kak Ashraf masih gak mau lupain semuanya yah," jawab Misha.
"Yaudah, biarin aja dia hidup dengan dendam. Semoga dengan dia di penjara, dia bisa dapat pelajaran yang lebih berarti dan semua dendamnya itu juga bisa dia hilangkan!" ucap Hardi.
__ADS_1
"Aamiin yah! Tapi, aku mau bicara sebentar deh sama ayah," ucap Misha.
"Bicara aja sayang!" ujar Hardi.
"Gak disini ayah, kita kesana yuk!" ajak Misha.
Hardi tampak penasaran mengapa putrinya harus mengajak ia menjauh dari Cornelia.
"Eee ma, aku sama ayah mau bicara berdua dulu ya?" izin Misha pada Cornelia.
"Iya sayang, kalian bicara disini aja! Mama mau ke dalam temuin papa Dominic kok," ucap Cornelia.
"Oh gitu, maaf ya ma!" ucap Misha.
"Gapapa sayang, mama emang mau ke dalam kok. Kamu bicara aja sama ayah kamu disini, mama gak akan nguping kok!" ucap Cornelia.
Misha mengangguk, kemudian Cornelia pun bangkit dan pamit untuk menemui suaminya.
Hardi kini duduk di sebelah putrinya, menatap sang wanita dengan wajah penasaran.
"Apa yang mau kamu bicarakan sama ayah, Misha? Kelihatannya serius sekali, apa ini ada hubungannya sama Ashraf?" tanya Hardi.
"Iya yah, kak Ashraf bilang kalau dulu saat kecelakaan ibu dalam kondisi hamil," jawab Misha.
"Apa??" kaget Hardi.
•
•
Mahen sang suami hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya, dia tahu betul apa yang sedang dicari Khayra saat ini.
"Kamu cari tuan Fabian ya?" tanya Mahen.
"Hah? Bicara apa sih kamu? Ngapain juga aku nyari Fabian disini?" elak Khayra.
"Udah, kamu ngaku aja sama aku!" pinta Mahen.
"Apa sih Mahen? Aku gak lagi cari Fabian, aku tuh cuma gerakin kepala aja biar gak pegel. Kamu jangan salah paham dulu dong! Buat apa juga aku nyari Fabian?" ujar Khayra.
"Ya ya ya, padahal kalau emang kamu nyariin tuan Fabian juga gak masalah kok," ucap Mahen.
"Serius? Emang kamu gak bakal marah atau cemburu gitu?" tanya Khayra.
"Sebenarnya sih aku gak suka, tapi kalau itu yang kamu mau ya terserah kamu aja. Asalkan gak terlalu berlebihan," jawab Mahen.
"Enggak, aku gak nungguin Fabian kok. Dia mau datang atau enggak ya aku masa bodo," ujar Khayra.
"Okelah!" singkat Mahen.
Tak lama dari itu, Fabian muncul di hadapan mereka dengan kemeja batiknya. Lelaki itu berjalan ke arah pelaminan menghampiri sepasang pengantin yang tengah duduk disana sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Sontak kehadiran Fabian itu membuat beberapa orang berbincang di belakang, mereka tak menyangka jika Fabian masih mau berurusan dengan mantan istrinya meski hubungan mereka tidak baik-baik saja.
Tentu Khayra dengan cepat merespon, ia bangkit dari duduknya bersiap menyambut Fabian.
"Halo Mahen, Khayra! Selamat ya buat kalian berdua, semoga langgeng dan bahagia selalu!" ucap Fabian.
"Terimakasih mas! Aku senang banget kamu bisa hadir di nikahan aku ini, itu artinya kamu masih perhatian sama aku!" ucap Khayra.
"Bukan begitu Khayra, saya datang kesini karena saya gak enak aja sama Mahen. Biar gimanapun, dia kan pernah bekerja dengan saya dalam waktu yang cukup lama," ucap Fabian.
Seketika Khayra merasa jengkel dan cemberut.
"Makasih ya tuan! Tuan muda sudah mau menyempatkan hadir di acara pernikahan kami, saya sangat berterimakasih tuan muda!" ucap Mahen.
"Sama-sama Mahen, kamu kan undang saya jadi ya saya hadir lah. Oh ya, sekalian saya mau sampaikan salam dari mama saya. Beliau gak bisa hadir karena harus menemani papa saya di rumah sakit," ucap Fabian.
"Rumah sakit? Memangnya tuan besar kenapa, tuan?" tanya Mahen terkejut.
"Iya Mahen, papa saya ditusuk oleh orang saat baru keluar dari kantornya. Kondisinya sempat memburuk, tapi sekarang papa sudah agak membaik kok!" jawab Fabian.
"Ya ampun! Ada apa ini tuan muda? Kenapa bisa tuan besar ditusuk seperti itu? Siapa pelakunya?" tanya Mahen.
"Tidak apa-apa kok Mahen, cuma salah paham aja. Dan pelakunya juga sudah ditangkap polisi, kamu tidak perlu khawatir begitu!" jawab Fabian.
"Oh syukurlah! Maaf tuan muda, saya benar-benar tidak tahu dengan kejadian ini! Kalau saya tahu, pasti saya langsung datang ke rumah sakit buat jenguk tuan besar," ucap Mahen.
"Gapapa, lagian gimana caranya kamu mau datang kesana? Kamu kan lagi nikah sama Khayra, masa main ditinggal gitu aja?" kekeh Fabian.
"Eee iya juga sih," lirih Mahen.
"Mas, terus sekarang papa gimana kondisinya?" tanya Khayra menyela obrolan.
"Baik kok, paling sebentar lagi papa juga sadar dan bisa pulang ke rumah," jawab Fabian.
"Ah baguslah!" ucap Khayra.
"Oh iya, ini hadiah buat kalian berdua, dari saya sama mama papa. Maaf ya saya gak bisa kasih banyak!" ucap Fabian memberikan sebuah bingkisan pada Mahen.
"Waduh, harusnya tuan muda gak perlu repot-repot kayak gini! Tuan muda udah datang kesini aja saya sangat senang, pake acara bawain kado segala. Tapi, terimakasih ya tuan!" ucap Mahen.
"Sama-sama, semoga hadiah itu bisa bermanfaat buat kalian berdua! Sekali lagi langgeng terus ya!" ucap Fabian.
"Aamiin!" ucap keduanya.
Mereka pun berfoto-foto sejenak disana, tampak penyesalan di wajah Khayra ketika mengingat kembali momen ia dengan Fabian dahulu.
Setelahnya, Fabian pamit pulang karena ia tidak bisa berlama-lama meninggalkan papanya di rumah sakit.
"Maafin aku mas! Dulu aku udah nyakitin perasaan kamu, aku emang benar-benar bukan istri yang baik buat kamu. Semoga kamu dan Misha bisa bahagia ya mas!" batin Khayra.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...