
Ini bab akhir ya guys, semoga kalian pada suka sama episode terakhir dari novelku ini!🤗🤗🤗
Sebelumnya, ada yang mau ucapin selamat tinggal dulu nih buat kalian readers setia.
Iya itu dia, bye bye kata Misha guys..😀😀
Oke, selamat membaca!!
•
•
"Aku akan terus belajar melupakan kamu yang begitu mudah melupakanku. Usai sudah semua cerita yang telah kita ukir berdua, meninggalkan dirimu adalah hal terberat yang harus ku jalani. Aku memang kehilangan kamu yang sangat kucintai, namun engkau telah kehilangan aku yang sangat mencintaimu,"
Entah mengapa Fabian menitikkan air mata begitu membaca isi pesan dari Khayra yang tersirat pada bunga pemberian wanita itu sebelumnya.
Tak pernah Fabian tahu bahwa Khayra mencintainya, ataukah semua tulisan itu hanya karangan Khayra semata?
Fabian pun mere-mas kertas berisi tulisan tersebut dan melemparnya asal, dia juga meletakkan bunga pemberian Khayra di atas meja dan melirik sekilas bingkai foto pernikahan mereka dahulu.
"Saya minta maaf ya Khayra, kalau saya sudah menyakiti perasaan kamu!" ucap Fabian.
Lelaki itu mengusap bingkai foto dengan lembut dan penuh perasaan, sudah delapan tahun lebih perceraian dirinya dengan Khayra, namun wanita itu baru kali ini mengiriminya bunga disertai surat yang cukup menyedihkan itu.
Bahkan, Fabian juga tak menyangka Khayra masih kesulitan melupakan dirinya setelah delapan tahun mereka berpisah. Padahal sebelumnya Khayra tak pernah mau menikah dengannya.
Ceklek
"Papa!" tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka, dan seorang gadis kecil muncul dari balik pintu sambil tersenyum ke arahnya.
"Eh Eveline?" Fabian sontak menoleh lalu tersenyum begitu menyadari putrinya ada disana.
Kalina Eveline, putri pertama Fabian dan Misha yang berusia tujuh tahun itu kini mendekat ke arah papanya dengan senyum terukir di bibirnya.
"Ada apa anak papa yang cantik?" tanya Fabian sembari memangku putrinya.
"Gak kok pa, aku cuma mau bilang kalau di depan ada tante Khayra cariin papa," jawab Eveline.
"Hah? Tante Khayra? Kamu serius sayang?" tanya Fabian sedikit kaget.
"Iyalah pa, masa aku bohong sama papa? Kan kata mama dan kakek, aku gak boleh bohong," jawab Eveline.
"Eee tante Khayra datang kesini sendiri atau sama om Mahen?" tanya Fabian lagi.
"Tante Khayra sendiri kok, pa. Eh enggak deh, tadi aku lihat sama Labib juga kesini nya," jawab Eveline.
"Ohh, yaudah yuk kita ke depan temui mereka!" Jak Fabian.
"Ayo pa! Aku senang banget kalau main bareng tante Khayra dan Labib, soalnya aku jadi gak bosan lagi! Sejak ditinggal mama, aku kan cuma main sama papa," ucap Eveline.
__ADS_1
"Hahaha, iya iya sayang. Papa juga senang kalau kamu senang kok!" ucap Fabian sembari tertawa dan mengusap puncak kepala putrinya.
Cup
Fabian mengecup kedua pipi Eveline bergantian, namun di dalam hatinya dia masih terus memikirkan Khayra serta Labib.
"Kenapa kamu harus menamai anak kamu sama seperti nama saya sih Khayra? Apa benar kalau dia itu anak saya? Saya kok masih gak yakin ya sama perkataan Khayra?" gumamnya dalam hati.
"Pa, papa kenapa bengong? Ayo pa kita ke depan sekarang!" ajak Eveline.
"Eh eh, iya iya anak papa yang cantik dan imut!" ucap Fabian.
Fabian pun menurunkan Eveline dari pangkuannya, lalu menuntun gadis kecil itu berjalan menuju ruang tamu yang mana sudah terdapat Khayra disana.
"Eveline, nanti kamu jangan nakal ya sama tante Khayra dan Labib!" peringat Fabian.
"Iya papa, masa aku nakal sih? Aku kan anak baik seperti mama papa," ucap Eveline.
Fabian hanya tersenyum sembari mengusap wajah putrinya dan terus berjalan.
"Andai kamu tahu nak, papa bukan orang baik," batin Fabian.
Mereka sampai di depan, Fabian langsung menyapa Khayra serta Labib yang sudah menunggu sedari tadi.
"Hai Khayra! Halo Labib!" sapa Fabian ramah.
Sontak Khayra dan putranya pun menoleh secara bersamaan, bahkan pria kecil itu langsung bergerak cepat menghampiri Fabian.
Suara itu bukanlah suara barang jatuh, melainkan suara Labib yang memeluk Fabian sangat erat.
"Halo juga om Biyan!" ucap Labib.
"Hahaha, duh semangat banget ya kamu Labib!" kekeh Fabian.
"Labib, kamu jangan keras-keras peluk papa aku! Nanti papa aku kesakitan tau!" tegur Eveline.
"Iya maaf ya Eve!" Labib pun melepas pelukannya dan menampakkan ekspresi kecewa.
"Hey! Eveline kamu jangan gitu dong sama Labib! Papa gak sakit kok, papa malah senang dipeluk sama Labib kayak tadi!" ujar Fabian.
"Yang bener om?" tanya Labib kembali bersemangat.
"Iya dong, yuk sini peluk lagi kalo kamu mau!" jawab Fabian sembari merentangkan tangannya.
"Asik!!" Labib pun memeluk Fabian lagi dan kali ini lebih erat dari sebelumnya.
Khayra yang sebelumnya terduduk, kini bangkit menghampiri ketiganya disana dan ikut berlutut seperti Fabian.
"Sayang, udah ya nak peluk om Biyan nya! Nanti om Biyan sesak nafas loh," ucap Khayra.
"Gapapa Khayra, saya suka kok dipeluk begini sama Labib. Kalau kamu mau peluk Eve, silahkan aja!" ucap Fabian.
__ADS_1
Khayra beralih menatap Eveline, begitupun sebaliknya.
"Kamu mau tante peluk?" tanya Khayra pada Eve.
"Mau tante!" jawab Eveline antusias.
"Yaudah, sini dong sayang!" pinta Khayra.
Eveline pun mengangguk pelan, lalu bergerak mendekati Khayra dan memeluk wanita itu.
"Aku sayang tante!" ucap Eveline.
"Tante juga sayang kamu Eve!" balas Khayra.
•
•
Singkat cerita, Fabian menghampiri Khayra dan mengajak wanita itu berbicara empat mata selagi kedua anak mereka bermain di halaman samping bersama baby sitter.
"Duduk!" pinta Fabian dan Khayra pun menurut lalu duduk di sofa.
"Ada apa sih Biyan? Kamu mau bicara apa sama aku?" tanya Khayra penasaran.
"Maksud surat yang kamu kirim ke saya kemarin itu apa? Kenapa kamu tulis seolah-olah kamu mencintai saya dan susah buat ngelupain saya? Padahal faktanya, kamu itu kan gak pernah cinta sama saya," ujar Fabian.
"Kamu salah Biyan! Justru selama ini aku paling susah buat lupain kamu, aku ini sangat cinta sama kamu. Gak kayak kamu yang langsung bisa moveon ke hati perempuan lain, yaitu Misha. Aku sampai sekarang aja masih sulit loh lupain kamu Biyan," ucap Khayra.
"Oh ya? Terus dengan tulis surat itu, kamu berharap apa Khayra? Kamu pengen kita rujuk? Itu kan jelas gak mungkin," tanya Fabian.
"Aku rasa soal itu gak perlu dijelasin lagi, aku kan udah tulis di surat itu kalau aku bakal berusaha lupain kamu. Jadi, aku gak berharap kita rujuk kok!" jawab Khayra.
"Aku tahu rujuk itu suatu yang gak mungkin buat kita, aku udah punya mas Mahen dan kamu juga punya Misha. Tapi, aku minta kamu akui Labib sebagai anak kamu ya Biyan!" sambungnya.
Deg!
Fabian melotot lebar mendengar permintaan Khayra, bagaimana bisa dia mengakui Labib sebagai putranya?
"Saya akan melakukan itu, asalkan kamu bisa kasih saya bukti kalau Labib memang anak kandung saya!" ujar Fabian.
"Apa om? Aku anak kandung om??" keduanya terkejut mendengar suara tersebut.
Khayra dan Fabian sama-sama menoleh ke asal suara, disana berdiri sosok Labib yang tengah menatap mereka dengan wajah bingung.
"Labib??!" kaget Fabian dan Khayra.
...~Selesai~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...|||...
__ADS_1
...Kok gantung? Biar kayak author yang digantung sama dia tanpa kepastian😔...