
Setelah mendapat maaf dan restu dari Hardi, kini Fabian beserta Misha langsung merayakan itu dengan pergi berdua.
Sudah lama memang mereka tidak pergi bersama seperti ini, karena masalah yang menimpa hubungan mereka.
Dan untungnya kini semua masalah itu telah selesai, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi oleh keduanya.
"Misha, kamu senang gak jalan-jalan bareng saya?" tanya Fabian sembari memegang tangan Misha.
"Kamu kenapa nanya begitu? Udah jelas lah aku senang, ini kan yang aku nanti-nanti dari kemarin! Aku kangen banget berduaan sama kamu, makanya begitu kamu datang tadi pagi dan bilang mau ajak aku pergi, aku langsung happy banget!" jawab Misha.
"Baguslah! Kalau gitu sekarang kita mau kemana? Nonton atau makan?" tanya Fabian.
"Hah? Kan kamu yang ngajak aku pergi tadi, masa kamu malah nanya ke aku? Harusnya tuh kamu udah tentuin kita mau kemana sayang, jadi gausah nanya lagi!" ujar Misha.
"Hahaha, iya iya maaf! Yaudah, kita nonton aja ya? Kebetulan lagi ada film yang rame banget nih di bioskop, kamu pasti suka!" usul Fabian.
"Boleh," singkat Misha.
"Umm, saya boleh tanya satu hal lagi gak sama kamu?" ucap Fabian berubah serius.
"Apa?" Misha terlihat penasaran.
"Soal pernikahan kita, kan tinggal tiga hari lagi tuh. Saya mau tanya ke kamu sekali lagi, apa kamu benar-benar bersedia jadi istri saya?" ucap Fabian.
"Kamu meragukan aku, mas?" tanya Misha, wajahnya kini berubah menjadi cemberut.
"Bu-bukan gitu sayang, saya cuma mau memastikan aja. Soalnya saya pengen di pernikahan saya kali ini, gak akan ada lagi yang namanya perceraian!" jelas Fabian.
Misha tersenyum, kemudian menggenggam tangan Fabian dengan kedua tangannya.
"Aku janji sama kamu mas, aku bakal jadi istri yang baik buat kamu! Lagipun, anak di kandungan aku ini kan bukti cinta kita berdua mas," ucap Misha meyakinkan kekasihnya.
"Iya sih, makasih ya kamu selalu baik sama saya! Maaf juga karena tadi saya udah nanya yang enggak-enggak!" ucap Fabian.
"Kamu gak perlu minta maaf, wajar aja kamu nanya gitu. Aku ngerti perasaan kamu yang pernah dikhianati wanita," ucap Misha.
"Kamu emang baik banget Misha!" puji Fabian.
"Udah, kamu fokus gih nyetirnya nanti nabrak loh kalo ngeliatin aku terus!" ujar Misha.
"Hahaha.." Fabian tertawa kecil.
Lalu, Fabian pun teringat pada undangan yang diberikan Mahen beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Oh ya, besok itu kan acara nikahnya Khayra sama Mahen. Kira-kira kamu mau gak jadi pendamping saya untuk hadir di acara mereka besok?" tanya Fabian pada Misha.
"Hah? Emangnya Bu Khayra mau nikah sama pak Mahen, mas?" kaget Misha.
"Iya sayang, kemarin Mahen yang kasih undangannya langsung ke saya. Kamu bisa gak besok temenin saya?" ujar Fabian.
"Bisa bisa aja sih mas, aku juga kan udah bikin surat izin seminggu buat gak masuk sekolah," ucap Misha sambil tersenyum.
"Duh, kamu kok bandel banget sih?! Kamu harus tetap sekolah sayang, gimana kalau gak lulus nantinya?!" ucap Fabian.
"Ya mau gimana lagi mas? Aku kan masih harus jagain ayah di rumah kak Ashraf," ucap Misha.
"Iya juga sih, bingung juga ya jadi kamu? Tapi, kenapa sih kamu mau terima tawaran Ashraf buat tinggal di rumahnya?" ujar Fabian.
"Loh, emang kenapa mas?" tanya Misha heran.
"Ashraf itu kan gak suka banget sama keluarga saya, bisa aja dia pengaruhi kamu terus buat jauhi saya," jawab Fabian.
"Kamu tenang aja ya mas! Walaupun kak Ashraf pengaruhi aku, aku gak akan terpengaruh kok! Karena cinta aku ke kamu itu kan besar banget mas, dan tak akan tergoyahkan oleh apapun!" ucap Misha.
"Ah bisa aja kamu! Tapi, mending kamu pindah deh dari rumah Ashraf!" usul Fabian.
"Iya, kan nanti kalau kita udah nikah, aku gak bakal tinggal disana lagi. Yang aku bingungin, nanti ayah tinggal dimana dong?" ucap Misha.
"Buat apa bingung? Saya bisa sediakan tempat tinggal yang layak untuk ayah kamu," ujar Fabian.
"Sama-sama, ayah kamu kan udah saya anggap ayah saya sendiri. Mulai besok kamu sama ayah kamu pindah ya dari rumah Ashraf?" ucap Fabian.
"Besok mas?" kaget Misha.
"Iya, saya akan bantu proses pindahan nya nanti. Supaya ayah kamu ada yang rawat, karena saya udah siapkan perawat di rumah baru nanti. Jadi, kamu bisa fokus sekolah deh," ucap Fabian.
Misha tersenyum lebar, lalu memeluk Fabian dengan erat seraya mengucapkan terimakasih padanya.
"Makasih banyak mas Fabian!" ucap Misha disertai air mata.
•
•
Disisi lain, Ashraf berhasil bertemu dengan Dominic di gedung parkir perusahaan tuan besar itu.
Ashraf pun menghadang niat Dominic yang ingin masuk ke mobilnya, dia tersenyum miring menatap pria itu hingga membuatnya ketakutan.
__ADS_1
"Halo, misteri Dominic!" sapa Ashraf.
"Ka-kamu? Mau apa kamu ada di wilayah kantor saya?" kaget Dominic.
"Hahaha, wah wah wah kelihatannya udah ada yang berani keluar rumah lagi nih pake mobil! Perasaan katanya kemarin-kemarin situ trauma dan gak mau keluar lagi? Tapi, kok tiba-tiba traumanya hilang gitu aja? Apa karena udah dapat maaf dari om Hardi?" sindir Ashraf.
"Kamu mau apa Ashraf? Bukannya masalah saya dan keluarga Hardi sudah selesai kemarin? Saya sudah mendapat maaf darinya, jadi kamu jangan memperpanjang ini lagi!" ucap Dominic.
"Memang, om Hardi emang udah maafin situ. Tapi kan saya belum maafin anda, tuan Dominic yang terhormat!" ujar Ashraf.
"Lalu kamu mau apa temui saya disini? Uang? Saya akan berikan uang sebanyak mungkin yang kamu mau, tapi tolong jangan ganggu saya karena saya sekarang sedang banyak masalah!" ucap Dominic.
"Gak selamanya uang bisa menyelesaikan masalah, tuan Dominic!" cibir Ashraf.
"Jangan mentang-mentang anda kaya, lalu anda bersikap seenaknya terhadap rakyat jelata seperti saya! Saya kesini bukan ingin memeras anda, tapi untuk membalaskan apa yang sudah anda lakukan dahulu!" sambungnya.
Keringat dingin mulai menyerang tubuh Dominic, dia ketakutan saat Ashraf menatapnya seakan hendak membunuhnya.
"Katakan saja apa mau kamu! Saya akan turuti jika saya mampu, asalkan kamu mau berjanji untuk tidak mengganggu saya maupun anak saya!" ucap Dominic.
"Oh tentu, setelah ini saya pastikan semuanya selesai misteri Dominic. Saya tidak akan mengganggu keluarga anda lagi, termasuk hubungan Fabian dan Misha!" ucap Ashraf.
"Yasudah, katakan apa mau kamu!" pinta Dominic.
Ashraf memajukan langkahnya mendekati Dominic yang sudah bergetar hebat itu.
"Kejadian kelam itu masih membekas di hati saya, mister Dominic. Hari dimana tante saya kehilangan nyawanya, dan seorang anak yang kehilangan ibunya. Hidup keluarga saya menderita akibat ulah anda, tetapi anda tidak pernah mau bertanggung jawab. Justru anda menyuap pihak tv dan wartawan untuk tidak memberitakan kasus ini, anda benar-benar jahat mister Dominic!" ujar Ashraf.
Dominic hanya bisa diam mengamati pergerakan Ashraf yang terus bergerak mengitari tubuhnya dengan perlahan.
"Dan sekarang, anak anda juga akan merasa kehilangan yang sama dengan yang dirasakan Misha dahulu. Walau tak sebanding, tapi saya bisa pastikan semuanya selesai sampai disini mister Dominic," sambung Ashraf.
"Apa maksud kamu Ashraf?" tanya Dominic ketar-ketir.
Jlebb
Ashraf mengeluarkan pisau yang sudah diberi racun dari saku jaketnya, lalu menancapkan itu pada jantung Dominic.
"Ughh!!" rintih Dominic.
"Nyawa dibayar nyawa, darah dibayar darah. Selamat tinggal mister Dominic!" ucap Ashraf.
Dominic pun tergeletak disana dengan pisau yang masih tertancap di tubuhnya, sedangkan Ashraf pergi begitu saja.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...