
"Kau sangat nikmat, sayang."
Deru napas pria itu beradu seiring dengan rasa kenikmatan yang memuncak dalam dirinya. Kecupan manis tersematkan di bibir sosok wanita di sebelahnya yang sudah berhasil melepaskan hasrat yang sempat menggelora.
Misha masih terdiam tak menyangka jika saat ini dia sedang bersama Fabian dan baru saja selesai melakukan kegiatan panas mereka.
Melihat wanitanya tanpa ekspresi, Fabian mendekat lalu menaruh wajah Misha di bawah rangkulannya.
"Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Fabian.
Misha menaikkan bola matanya, menatap wajah pria yang dipenuhi peluh itu. Sejujurnya Misha masih bingung, haruskah dia menceritakan semuanya kepada Fabian atau tidak.
"Kalau kamu butuh sesuatu, bilang sama saya! Kamu gak perlu balik lagi ke tempat itu, asal kamu tahu saya gak suka milik saya disentuh orang lain! Kalau sampai itu terjadi lagi, saya akan beri kamu hukuman yang berat!" suara berat Fabian membuat Misha menutup kedua matanya.
"Aku minta maaf, tuan! Aku hanya bingung harus mendapatkan uang darimana, aku sangat membutuhkan uang itu untuk membantu ayahku mendapat perawatan maksimal," jelas Misha.
"Ayahmu?" Fabian tersentak kaget, dia baru tahu jika ayah Misha saat ini berada di rumah sakit dan memerlukan bantuan.
Misha mengangguk kecil, "Ya. Ayahku sekarang sedang koma, aku butuh biaya yang sangat besar agar ayah bisa terus mendapat perawatan. Jika tidak, pihak rumah sakit akan mengeluarkan ayah dari sana." dia langsung membuang muka.
Fabian kembali menarik wajah wanitanya itu dan menyatukan bibirnya. Kecupan kecil yang dilanjutkan dengan sebuah permainan lidah yang kembali memancing gairah sang tuan muda itu.
Misha hanya pasrah, dia sadar posisinya saat ini dan tak berani berontak.
Fabian makin meraup bibirnya dengan liar, kedua tangannya terarah pada dua bulatan bukit yang indah dan kenyal itu.
Jari-jarinya mengusap lembut inti sang wanita, membuat empunya memekik nikmat. Misha sudah terpejam dengan kepala mendongak, permainan jari Fabian sungguh membuatnya terlena.
Fabian melepas tautan bibirnya dan beralih menjelajahi telinga Misha, "Sudahi sedih mu itu! Kita sambung permainan tadi, nanti saya akan berikan kamu uang yang banyak." bisiknya lembut.
Dalam keadaan setengah sadar, Misha mengangguk saja karena posisinya saat ini sudah bergairah.
Mendapat lampu hijau dari Misha, sang tuan muda pun semakin bersemangat. Dia terus bermain di area leher Misha dan meninggalkan cukup banyak jejak disana, tangan-tangan nakalnya juga tak berhenti meraba tubuh mulus wanita itu.
Sedetik kemudian, mereka sudah kembali menyatu sempurna. Misha memekik kaget saat merasakan sesuatu menusuk miliknya. Tak lama, Fabian langsung menggoyangkan pinggulnya dan menyentak dengan tempo cepat.
Butuh waktu empat puluh lima menit lebih sedikit bagi Fabian untuk mencapai puncaknya kembali, dia menyemburkan lahar panasnya ke dalam rahim Misha dan tergeletak lemas di samping wanita itu
Misha melirik sekilas wajah Fabian, tanpa sadar ia tersenyum seraya mengusap peluh si pria yang tangannya masih merengkuh pinggangnya itu.
"Kamu tampan,"
•
•
__ADS_1
Hari sudah pagi, Misha terkejut saat melihat ke arah jam dan waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Wanita itu langsung bangkit dari ranjangnya, ia tampak kalang kabut mencari-cari handuk agar bisa segera mandi.
Tanpa basa-basi, Misha langsung membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam sana.
Disitulah sesuatu yang tidak terduga terjadi, rupanya disana sudah terdapat Fabian yang sedang membersihkan tubuhnya.
"Aaaaa!!" Misha reflek berteriak dan menutupi kedua matanya saat melihat tubuh telanjang Fabian yang dipenuhi busa itu.
Fabian juga tak kalah kaget, dia mematikan keran shower lalu mendekati Misha.
"Hey! Kamu ngapain masuk kesini gak ketuk dulu? Sengaja ya mau ngintip saya mandi?" tanya Fabian.
"Eee enggak tuan, a-aku gak tahu kalau ada tuan disini. Tadi aku niatnya juga mau mandi, soalnya udah jam enam dan aku takut telat sekolah," jelas Misha dengan gugup.
"Sudahlah, kamu tidak perlu menutup mata seperti itu! Bukannya kamu sudah sering melihat saya begini?" ujar Fabian.
Misha perlahan mulai menyingkirkan tangannya dan membuka matanya, ia melihat Fabian tersenyum ke arahnya dengan sesuatu yang berdiri tegak di bawah sana.
"Sekali lagi maaf ya tuan! Aku benar-benar gak tahu kalau ada tuan disini," ucap Misha.
"Tidak apa, saya bisa maafkan itu. Asalkan kamu mau menemani saya disini," ucap Fabian.
"Iya, kamu harus tidurkan dia lagi. Kamu gak lihat dia sudah bangun gara-gara kamu kesini?" jawab Fabian seraya menunjuk miliknya.
"Ih tuan mesum! Masa cuma begini aja udah bangun sih? Punya burung tuh jangan baperan dong tuan!" cibir Misha.
"Aw!" Misha memekik kecil saat Fabian menyentil telinganya.
"Sudah kamu gausah banyak bicara! Ayo kamu harus tanggung jawab!" Fabian langsung menarik lengan Misha begitu saja ke dekatnya.
Fabian pun mengarahkan tangan ramping Misha ke miliknya, Misha yang bingung hanya menuruti saja.
"Urut dia dengan lembut!" perintah Fabian yang dibalas anggukan kecil oleh Misha.
•
•
Cup!
Fabian syok berat saat wanita kecilnya itu tiba-tiba memberi kecupan gratis di bibirnya.
Misha pun terkekeh menyaksikan ekspresi kaget dari seorang Fabian.
__ADS_1
"Kamu cium saya?" tanya Fabian tak percaya.
"Ya, kenapa? Emangnya cuma tuan doang ya yang boleh cium aku?" jawab Misha dengan suara gemasnya.
Fabian yang semula diam, kini bereaksi dan bangkit dari jok mobilnya. Ia mencubit kedua pipi chubby Misha itu berkali-kali sehingga sang empu protes.
"Ih tuan, udah ah jangan dicubitin terus nanti tambah gede!" kesal Misha.
"Gapapa, makin gede makin bagus. Buktinya gunung kamu begitu kan?" ucap Fabian sensual.
"Hah? Ish, mesum!" Misha reflek menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan.
"Sudah, kamu cepat turun sana sebelum yang di bawah bangkit lagi!" ujar Fabian.
Misha spontan melirik ke bagian bawah pria itu, tak disangka memang jika dia harus melayani gairah sang tuan muda yang tak mendapat jatah dari istrinya itu.
"Kenapa bengong aja sambil ngeliatin punya saya? Mau coba lagi?" tanya Fabian.
"Ah eee.."
"Kalau emang mau, saya bisa buka sekarang. Mungkin cuma butuh beberapa menit, gimana?" potong Fabian.
"Ih enggak-enggak, aku mau sekolah." Misha panik dan langsung melepas sabuk pengamannya.
"Aku pamit ya tuan?" gadis itu mencium tangan Fabian, membuat si pria kaget namun akhirnya tersenyum.
"Iya, hati-hati ya! Belajar yang rajin, dan ingat jangan dekat-dekat sama lelaki lain!" ucap Fabian.
"Siap tuan!" Misha tersenyum singkat, lalu turun dari mobil dengan wajah ceria.
Fabian membuka kaca mobilnya, menyapa gadis itu kembali dan melambaikan tangannya.
"Misha!" sontak Misha terkejut, ia menoleh dan membalas lambaian tangan Fabian disertai senyum manisnya.
Setelahnya, Misha pun masuk ke dalam sekolah bersama teman-temannya.
"Ahh Misha benar-benar bikin saya gila!" ucap Fabian yang kembali duduk di kursi kemudinya.
Tanpa disadari olehnya, Khayra tampak memperhatikan Fabian dari jauh. Wanita itu terlihat menggeram dari dalam mobilnya.
"Ternyata ini sebabnya dia gak pulang-pulang,"
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1