Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Tidak apa-apa


__ADS_3

Fabian coba membujuk Misha untuk bicara, namun usahanya gagal karena wanita itu tetap pada pendiriannya dan tidak mau mengeluarkan suara barang sedikitpun.


Akhirnya Fabian pasrah dan memilih ikut diam, ia fokus saja menuntun Misha berjalan ke dalam rumah sakit agar wanita itu tidak kenapa-napa seperti yang dikhawatirkan nya.


Saat di dalam lorong, Fabian dan Misha tanpa sengaja berpapasan dengan seorang lelaki.


"Loh Misha?" keduanya sama-sama terkejut saat seseorang muncul dan menyapa Misha sambil tersenyum lebar.


Laki-laki itu melangkah mendekati mereka berdua.


"Kamu disini juga? Mau ngapain? Ada yang sakit atau butuh perawatan?" tanya pria tersebut.


"Rully?" ucap Misha sembari menatap pria di hadapannya itu.


Ya pria tersebut ialah Rully, teman sekolah Misha dulu yang masih menyukai wanita itu sampai sekarang.


"Ngapain anda disini?" tanya Fabian pada Rully.


"Eee aku kebetulan aja abis cek kesehatan, aku juga gak nyangka bisa ketemu kalian disini. Apa kabar Misha?" ucap Rully.


"Aku baik kok, kamu sendiri gimana?" ucap Misha.


"Sama, aku juga baik. Terus ini kamu mau ngapain?" tanya Rully.


"Pengen cek kandungan aku," jawab Misha.


"Oh gitu, emang udah berapa bulan?" tanya Rully.


"Baru masuk bulan ketiga," jawab Misha.


Rully manggut-manggut sambil tersenyum, sedangkan Fabian menatapnya dengan geram.


"Oh ya, kalau kabar kamu gimana bang?" tanya Rully pada Fabian dengan santai.


"Saya baik, sama seperti istri saya. Tapi, mungkin bisa jadi tidak baik kalau anda masih terus-terusan disini dan mengganggu istri saya. Jadi, sebaiknya anda pergi saja ya! Urusan anda disini sudah kelar kan?" ucap Fabian.


"Mas, kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu bicara begitu sama Rully? Dia itu teman aku mas, gak pantas banget kamu ngomong gitu ke dia!" ucap Misha menegur suaminya.


"Salahnya dimana? Saya cuma ingetin dia buat gak godain kamu sayang," ujar Fabian.


"Tapi Rully sama sekali gak godain aku mas, dia cuma sapa aku dan tanyain kabar kita. Kamu nya aja yang sensian!" cibir Misha.


"Kok kamu jadi belain dia sih? Harusnya kamu tuh setuju sama saya, karena saya suami kamu!" tegas Fabian.


"Tau ah aku gak perduli!" kesal Misha.


Misha yang kesal akhirnya memutuskan pergi lebih dulu meninggalkan Fabian.


"Misha, tunggu!" teriak Fabian.


"Ini semua gara-gara anda ya! Sekali lagi saya lihat anda muncul di hadapan saya, jangan harap anda bisa pulang dengan selamat!" ucap Fabian mengancam Rully.


Setelahnya, Fabian pun pergi menyusul Misha. Sementara Rully tetap terdiam di tempat menatap punggung Fabian yang menjauh.


"Saya salah apa sih? Perasaan saya cuma mau menjaga tali silaturahmi dengan Misha, kenapa suaminya itu bertindak seolah-olah saya akan merebut Misha dari dia ya?" gumam Rully.

__ADS_1




"Misha tunggu Misha!" Fabian terus berlari sembari berteriak memanggil istrinya.


Misha berusaha tak mendengar panggilan sang suami, dia terus berjalan dengan cepat menuju ruang dokter.


Namun, tiba-tiba perutnya terasa sakit akibat terlalu cepat berjalan. Ia pun berhenti sejenak sembari memegangi perutnya itu.


"Awhh akh!" Misha meringis pelan.


"Hah Misha??" Fabian terkejut melihatnya, dia reflek memegang tubuh Misha dengan wajah panik berusaha membantu istrinya itu.


"Kamu kenapa sayang? Perut kamu sakit?" tanya Fabian cemas.


"Akh iya mas, sakit banget!" jawab Misha.


"Tuh kan, harusnya tadi kamu nurut sama saya dan jangan jalan duluan!" tegur Fabian.


"Akh udah dong mas, marah-marahnya nanti aja! Sekarang bawa aku ke ruang dokter!" pinta Misha.


"Iya iya.." dengan hati-hati Fabian menggendong Misha dan membawanya untuk diperiksa.


Setelah menjalani pemeriksaan, Fabian serta Misha dapat tersenyum lega karena tidak terjadi apa-apa dengan kondisi bayi di dalam kandungan Misha itu.


"Alhamdulillah! Semua baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu yang patut dikhawatirkan pada kandungan Bu Misha," ucap sang dokter.


"Oh syukurlah! Tapi bener kan dok kandungan istri saya baik-baik aja? Gak terjadi apa-apa kan dok sama calon anak saya?" tanya Fabian memastikan.


"Ah baik dok! Nanti saya akan nasehati istri saya yang bandel ini," ucap Fabian.


Misha sontak melirik dan mencubit lengan sang suami dengan ekspresi kesal.


Fabian hanya bisa menahan sakit sembari mengusap-usap lengannya, sedangkan sang dokter ikut terkekeh menyaksikan itu.


"Itu lebih bagus pak," ucap dokter itu.


"Eee kalau gitu saya permisi ya pak, Bu? Dijaga ya kesehatannya!" sambung sang dokter.


"Ah iya dok, terimakasih ya!" ucap Fabian.


"Sama-sama pak," ucap dokter itu.


Sang dokter pun pergi meninggalkan sepasang suami-istri itu disana, Fabian sontak langsung mendekati Misha dan mencubit hidung wanita itu.


"Nakal ya kamu! Beraninya kamu cubit tangan saya di depan dokter tadi," ujar Fabian.


"Biarin, abisnya kamu ngeselin sih!" cibir Misha.


"Loh kok jadi saya? Ada juga kamu tuh yang ngeselin, bandel banget jadi cewek!" balas Fabian.


"Aku gak bakal gitu, kalo kamu gak ngeselin duluan! Ngapain coba kamu marah-marah ke Rully tadi?" kesal Misha.


"Iya iya, yaudah saya minta maaf sama kamu! Saya janji gak akan begitu lagi deh!" ucap Fabian.

__ADS_1


"Huh!" Misha hanya mengerucutkan bibirnya lalu membuang muka, membuat Fabian gemas dan mencubit pipinya.




Saat perjalanan pulang, tak sengaja Misha melihat penjual kue cubit di pinggir jalan yang menggugah seleranya.


Sontak Misha pun merengek pada Fabian untuk dibelikan kue cubit kesukaannya itu, meski sebelumnya ia masih kesal dengan Fabian.


"Mas, aku mau kue cubit dong!" pinta Misha dengan nada manja.


"Hmm kebiasaan! Kalau ada maunya aja langsung manja-manja begini ke saya, emang dasar cewek ya pinter banget ngegoda!" ujar Fabian.


"Hehe, ayolah mas beliin kue cubit itu aku pengen!" rengek Misha.


"Kita cari di tempat yang lain aja ya? Soalnya itu kan jualannya di pinggir jalan, saya takut gak higienis. Nanti yang ada kamu malah sakit, terus anak kita kenapa-napa!" ucap Fabian.


"Gak mau! Aku mau yang disitu aja mas, lagian gak bakal sakit kok, itu pasti higienis mas!" ucap Misha.


"Tapi sayang—"


"Mas, kalo kamu gak mau turun dan beliin kue cubit itu aku ngambek nih!" potong Misha.


"Eh eh, ya jangan ngambek dong sayang! Iya deh iya, saya turun ya beliin kuenya?" ucap Fabian.


"Nah gitu dong mas! Beliin yang banyak ya!" pinta Misha.


"Iya sayangku cintaku, tapi kamu tunggu disini aja gausah ikut turun!" perintah Fabian.


"Oke bos!" ucap Misha patuh.


Fabian pun meminggirkan mobilnya, lalu turun untuk membeli kue cubit sesuai permintaan sang istri.


Sementara Misha tetap di dalam mobil dan menunggu Fabian selesai membeli.


Tling


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Misha langsung mengeceknya dan melihat pesan yang ternyata dikirim Rully.


Rully 'teman SMA'


Misha, nanti sore aku ke rumah kamu ya?


Misha terkejut saat membaca isi pesan itu, dia mulai kebingungan bagaimana caranya untuk membuat Rully mengurungkan niatnya.


"Duh gimana ya ini??" gumam Misha.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...



Satu bab lagi ya...

__ADS_1


Sabar bentar lagi tamat kok, hehe😆😆😆


__ADS_2