
Setelah kejadian kepergok oleh istrinya itu, kini Fabian memutuskan selalu mengunci pintu depan rumahnya agar Khayra tidak bisa sembarangan masuk kesana seperti sebelumnya.
Sementara Misha harus pasrah dijadikan pelampiasan amarah Fabian, tubuhnya terus dihujam tanpa henti dan dengan gerakan yang kasar oleh lelaki itu.
Berkali-kali mereka melakukannya, sampai rasanya punggung Misha hendak remuk akibat perlakuan kasar Fabian. Namun, pria itu seakan tak perduli dan terus menghujamnya dari atas.
Mereka juga bergonta-ganti tempat, kadang di kamar, toilet, balkon, dapur, ruang tamu, bahkan pinggir tangga. Alasannya Fabian ingin merasakan sesuatu yang berbeda dan Misha hanya bisa menuruti kemauan tuannya itu.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Fabian kembali meraih puncaknya untuk ketiga kalinya. Ya dia memang cukup kuat, bermain dari sore saja dia baru keluar tiga kali, berbeda dengan Misha yang sudah berkali-kali keluar.
Wanita itu terbaring lemas di atas meja makan, ya pergelutan terakhir mereka memang dilakukan disana dan cukup membuat punggung Misha terluka.
Fabian membersihkan tubuhnya menggunakan tisu, dia juga membantu Misha menyeka bekas pertempuran mereka tadi karena wanita itu sangat lemas dan sulit bergerak.
"Maafkan saya! Gara-gara saya, kamu jadi seperti ini," ucap Fabian menyesal.
"Tidak apa-apa tuan, ini kan sudah tugasku untuk melayani tuan. Jika aku tak melakukannya, aku tidak mungkin bisa membantu ayah," ucap Misha.
Fabian tersenyum penuh arti, satu tangannya bergerak mengusap dahi Misha yang dipenuhi peluh. Lalu, perlahan dia membungkuk dan mengecup kening wanita itu.
Cup!
Misha sedikit tersentak ketika merasakan kulitnya bersentuhan dengan benda kenyal, dia masih sangat sensitif saat ini.
"Kamu boleh istirahat sekarang, saya harus keluar sebentar karena ada yang mau saya urus!" ucap Fabian sembari memakai celananya.
"Tapi, tuan mau kemana? Memangnya tuan tidak mandi dulu?" tanya Misha yang kini terduduk di atas meja makan.
"Kamu tidak usah banyak tanya! Kamu diam saja disini sampai saya kembali!" seru Fabian.
Misha menundukkan wajahnya, ia merasa saat ini Fabian masih emosi sehingga lelaki itu berulang kali keras padanya.
Setelah memakai pakaiannya dengan lengkap, Fabian akhirnya pergi dan tak lupa mengecup bibir serta kening Misha.
Wanita itu kini sendirian, dia turun perlahan dari meja dan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai.
Ia merasa kecewa saat menyadari pakaiannya robek akibat ulah Fabian tadi.
"Yah sobek lagi, udah berapa kali coba aku harus kehilangan baju-baju kesayangan aku? Huh yaudah deh terima aja, mau protes juga pasti gak bakal didengar sama tuan Fabian!" ucapnya pasrah.
__ADS_1
Misha pun melangkah menuju kamar tanpa memakai apapun, ya karena sudah tidak ada yang bisa dipakai dari pakaiannya itu.
•
•
"KHAYRA! KHAYRA!!" Fabian berteriak cukup keras begitu sampai di rumahnya bersama sang istri.
Dia langsung masuk begitu saja mencari Khayra dengan emosi, beberapa penjaga serta pelayan disana pun tampak ketakutan melihat wajah Fabian saat ini.
"KHAYRA KELUAR KAMU!" sekali lagi Fabian melantangkan suaranya memanggil istrinya.
"KHAYRAAA!!!" kesabarannya sudah habis, dia terpaksa memaksa masuk ke dalam kamarnya karena sudah tak tahan lagi.
Braakkk...
Ia langsung terbelalak melihat kondisi istrinya yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi setengah tubuhnya itu.
"Hah? Mas, kamu ngapain sih main masuk gitu aja?! Aku tuh baru selesai mandi, aku mau pake baju dulu. Kalau kamu emang mau lihat tubuh polos aku, yaudah sini!" ujar Khayra.
"Jangan gila kamu Khayra! Saya kesini bukan untuk itu, temui saya di depan begitu kamu selesai memakai baju!" tegas Fabian.
"Iya deh mas, terserah kamu aja!" ucap Khayra tersenyum pasrah.
Tak lama kemudian, Khayra pun muncul menemui suaminya yang sedang terduduk sendirian.
"Mas!" panggil Khayra dengan lembut. Wanita itu sengaja hanya mengenakan dress tipisnya untuk memancing gairah Fabian.
"Kenapa kamu pakai baju begini? Mau pancing saya?" tanya Fabian tegas.
Khayra menunduk tersenyum, menggeser posisi duduknya lebih mendekat ke suaminya dan dengan sengaja menempelkan tubuhnya sembari menaruh satu tangannya di paha sang suami.
"Kamu mau apa kesini mas? Minta maaf ya sama aku karena kamu udah khianati aku?" tanya Khayra.
"Hah? Buat apa saya minta maaf sama kamu? Saya gak salah, justru harusnya kamu yang minta maaf sama saya!" tegas Fabian.
"Iya, aku minta maaf ya mas! Aku janji gak akan ulangi kesalahan aku lagi, dan aku bakal puasin kamu deh!" bujuk Khayra.
Fabian menyeringai tipis menatap wajah istrinya, meraih satu tangan Khayra yang ada di pahanya dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Saya maafin kamu, tapi itu tetap tidak merubah keputusan saya untuk menceraikan kamu. Jadi, kamu besok hadir ya ke persidangan!" ucap Fabian seraya memberikan sebuah amplop coklat kepada Khayra.
"I-ini apa mas??" tanya Khayra bingung.
"Surat perceraian kita, kamu baca dengan baik supaya kamu bisa ngerti!" jawab Fabian.
"Mas, ka-kamu serius mau cerai sama aku?" Khayra bertanya dengan tubuh gemetar.
"Iyalah, ini kan udah ada suratnya. Yaudah, itu aja yang mau saya sampaikan ke kamu. Saya permisi!" ucap Fabian singkat.
"Mas tunggu!" Khayra mencekal lengan Fabian dan menghalangi suaminya itu untuk pergi.
"Apa lagi sih?! Keputusan saya sudah bulat, saya tidak mau mempunyai istri seperti kamu!" tegas Fabian menyingkirkan tangan istrinya.
"Mas, aku mohon sama kamu tolong pikirin ini semua dulu! Jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi, mas!" pinta Khayra.
Fabian menggeleng, mendorong pelan bahu istrinya hingga terjatuh ke sofa.
"Saya tidak akan berubah pikiran! Hubungan antara kamu dan saya sudah selesai, jadi stop ganggu saya!" sentak Fabian.
"Enggak mas, aku gak mau cerai sama kamu!" Khayra berteriak histeris, namun sama sekali tak digubris oleh Fabian. Pria itu malah berbalik dan pergi menjauh begitu saja.
Khayra pun bangkit untuk mengejar Fabian, akan tetapi tanpa sengaja kakinya justru menyenggol kaki meja di dekatnya hingga dia terjatuh.
Bukkk..
"Awhh!!" Khayra meringis memegangi dahinya yang terbentur ujung meja cukup keras, seketika itu juga darah menetes disana. "Akh sakit!" ia sengaja mengeraskan suara bermaksud membuat Fabian kembali.
"Hah? Nyonya!" seorang pelayan datang mendekatinya dan berusaha membantunya. "Nyonya gapapa?" tanyanya pada Khayra.
"Ih lepasin! Saya gak mau ditolong kamu, saya maunya sama suami saya!" sentak Khayra.
"Maaf nyonya! Tapi, tuan muda sudah pergi. Gak mungkin tuan muda bisa bantu nyonya," ucap si pelayan.
"Aaarrgghh sial! Benar-benar nyebelin!" umpat Khayra kesal.
Sementara itu, di luar tampak Fabian menyunggingkan senyum sembari menatap ke dalam rumahnya.
"Hahaha, Khayra Khayra.. memangnya kamu pikir saya akan iba gitu kalau lihat kamu terjatuh begitu? Enggak akan Khayra!" gumamnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...