Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Direstui


__ADS_3

Fabian pulang ke rumah orangtuanya bersama Misha yang sudah ia dandani secantik mungkin dengan gaun biru tua di tubuhnya.


Wanita itu turun dari mobil dengan bantuan Fabian yang menuntunnya, "Kamu cantik!" senyum merekah saat sang lelaki memujinya.


"Terimakasih tuan!" lirih Misha menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.


"Hey, sudah berapa kali saya bilang?! Jangan panggil saya tuan lagi Misha!" ucap Fabian tegas.


"Ma-maaf tuan, aku—"


"Sekali lagi kamu panggil saya tuan, saya benar-benar akan memperlakukan kamu seperti budak saya! Apa itu yang kamu mau Misha?" potong Fabian seraya mencengkeram tangan wanitanya.


"Awhh enggak tuan! Iya iya, aku bakal coba panggil kamu sayang deh. Tapi, beri aku waktu sampai aku terbiasa panggil kamu kayak gitu! Soalnya ini kan pertama kali aku punya pasangan," ucap Misha.


"Ya, saya mengerti. Yang penting nanti di dalam kamu jangan panggil saya tuan!" ujar Fabian.


"I-i-iya tuan, eh maksud aku sayang.." Misha sangat gugup dan beberapa tubuhnya gemetar akibat sorot tajam yang diberikan Fabian untuknya.


"Yaudah, ayo masuk!" ajak Fabian.


Misha menurut tanpa berkata apa-apa, sedetik kemudian tubuhnya sudah ditarik memasuki area rumah besar yang lebih mirip istana itu.


"Umm mas, apa kamu yakin tuan Dominic dan nyonya Cornelia mau terima aku?" tanya Misha.


"Mereka harus melakukan itu, dulu sewaktu mereka menjodohkan saya dengan Khayra, saya menuruti kemauan mereka. Dan sekarang mereka yang harus menuruti saya!" jawab Fabian yakin.


"Baiklah mas!" lirih Misha.


Wanita dengan dress selutut itu pun mulai melangkahkan kakinya beriringan dengan sang kekasih, dia tersenyum menatap samping kanan dan kiri saat para penjaga di rumah itu menyambutnya.


"Lihat, mereka saja sudah tahu kalau kamu calon istriku. Kamu tidak perlu ragu lagi sayang!" ujar Fabian.


"Iya mas, aku harap mama papa kamu juga begitu," balas Misha disertai senyum manisnya.


Fabian mengusap puncak kepala Misha, membetulkan mahkota kecil yang sebelumnya dia letakkan disana agar berdiri sempurna.


"Mas, sebenarnya apa alasan kamu taruh beginian di kepala aku?" tanya Misha heran.


"Udah gausah banyak tanya, kamu kelihatan lebih cantik tau kalau begini!" ujar Fabian.


"Iya deh iya, aku mah gak berhak nanya. Cuma mas Fabian seorang yang boleh bicara, aku harus nurut aja sama kamu," cibir Misha.


"Ya itu benar, baguslah kalau kamu ngerti! Sekarang ayo cepat masuk, jangan kelamaan bicara!" ucap Fabian.


"Iya mas," Misha mengangguk setuju.


"Eh tuan muda? Non Misha?" sapa seorang maid yang datang menemui mereka.


"Iya bik, papa sama mama ada kan?" tanya Fabian.


"Ada kok tuan muda, silahkan masuk!" jawab maid tersebut memberi jalan bagi mereka.

__ADS_1


"Terimakasih! Tolong buatkan minuman paling enak, untuk saya dan calon istri saya!" titah Fabian.


"Baik tuan muda!" ucap maid itu menurut.


Lalu, Fabian dan Misha kembali melangkah menuju ruang tamu. Disana mereka melihat Dominic serta Cornelia yang sedang berbincang serius.


Fabian pun menghampiri mereka, berdiri di dekat Dominic dan Cornelia sembari merengkuh pinggang ramping Misha.


"Ma, pa, ini Fabian. Aku juga bawa Misha calon istri aku buat ketemu kalian," ucap Fabian pelan.


"Fabian?" Dominic terkejut melihat putranya hadir disana.


"Misha??" Cornelia bangkit dari sofa dan menatap calon menantunya dengan senyum.


"Halo om, tante!" Misha memberanikan diri menyapa kedua orang tua Fabian itu, meski di dalam hatinya dia sangat takut.


"Ya halo juga Misha! Kamu cantik sekali malam ini!" ucap Dominic melontarkan pujian pada Misha.


"Terimakasih om!" lirih Misha tertunduk.


"Ma, pa, aku bawa Misha kesini untuk bicara sama mama papa. Kami akan segera melangsungkan pernikahan, jadi aku butuh restu dari mama papa supaya pernikahan kami bisa berjalan dengan lancar," ucap Fabian.


"Duduk dulu Fabian, Misha! Kita bicara sambil duduk biar enak dan gak capek!" ajak Dominic.


"Iya, ayo duduk!" timpal Cornelia.


Fabian menurut, tangannya tidak bisa lepas dari pinggang Misha dan terus merengkuhnya posesif. Mereka berdua duduk berdampingan, di hadapan mereka kini terdapat dua orang yang paling Fabian hormati dalam hidupnya.


"Kalian mau minum apa?" tanya Cornelia.


"Okay, terserah kamu!" ujar Cornelia.


Fabian menghela nafas sejenak, melirik Misha singkat sebelum kembali menatap kedua orangtuanya untuk berbicara.


"Jadi begini ma, pa. Aku—"


"Permisi tuan, nyonya, ini minumannya!" potong sang maid yang datang membawa minuman.


"Ah iya, terimakasih bik!" ucap Dominic.


"Sial!" Fabian mengumpat pelan karena kedatangan maid itu membuatnya tidak jadi bicara. Misha yang berada di sebelahnya pun reflek mencubit paha Fabian untuk menegurnya.


"Akh! Kamu apa-apaan sih?!" protes Fabian.


"Mulut kamu itu loh mas!" tegur Misha pelan.


Fabian terus mengusap pahanya, membuat Dominic serta Cornelia kebingungan.


"Kamu kenapa Fabian?" tanya Cornelia.


"Eee enggak ma, ini tadi Misha bilang katanya gak sabar buat cepat-cepat nikah sama aku. Ya kan sayang?" jawab Fabian asal.

__ADS_1


Misha menatap tajam ke arah Fabian, namun tersenyum begitu melirik Cornelia di depannya.


Setelah sang maid pergi, kini Fabian berniat kembali melanjutkan perbincangan yang tertunda tadi.


"Ma, pa, bisa aku lanjutkan pembicaraan kita yang tadi kan?" tanya Fabian.


"Iya, bisa kok. Udah kamu bicara aja apa yang kamu mau bicarakan!" jawab Dominic.


"Baik pa! Aku cuma mau bilang satu hal, kalau aku dan Misha akan menikah Minggu depan. Aku bahkan sudah menyiapkan segalanya, mulai dari tempat, gaun, dan yang lainnya." ucap Fabian.


"Apa? Minggu depan? Apa itu tidak terlalu cepat Fabian??!" kaget Cornelia.


"Menurut aku, itu sudah pas kok ma. Aku mau cepat-cepat menikahi Misha, sebelum Misha hamil lebih dulu," ucap Fabian.


"Hah??" Cornelia bertambah kaget mendengarnya.


Sementara Dominic senyum-senyum saja, karena dia sudah mengetahui semuanya lebih dulu.


"Yasudah, papa setuju. Kamu memang harus cepat-cepat menikahi Misha, jangan sampai ada yang tahu jika kalian sudah pernah tidur berdua! Papa akan bantu mengurus keperluan pernikahan kalian nanti, katakan saja apa yang kamu butuhkan!" ucap Dominic.


"Baik pa! Tapi, artinya papa udah setuju kan kalau aku dan Misha menikah?" tanya Fabian.




Disisi lain, seorang pria berkemeja hitam yang tengah duduk di depan layar komputer melebarkan senyumnya setelah berhasil mendapatkan apa yang dia mau.


Seringaian muncul di bibirnya saat foto seorang pria muncul di layar monitor, seketika ingatannya mengenai sebuah tragedi kecelakaan yang menimpa keluarga pamannya muncul di kepala.


"Om awas!"


"Aaaaa!!"


Ciiitttt


Braakkk


Pria itu sontak beranjak dari kursi, mengusap wajahnya kasar berusaha menghilangkan segala kenangan buruk itu.


"Aku tidak akan biarkan orang yang menghancurkan keluarga paman bisa hidup tenang, dia harus menanggung semua penderitaan itu!" ujarnya.


Dia kembali melirik ke layar monitor, sorotan tajam disertai tangan terkepal dan tubuh bergetar terpampang jelas, dia benar-benar emosi!


"Kamu, saya pastikan hidup kamu hancur! Seperti apa yang telah kamu lakukan pada keluarga paman saya, tunggu saja saatnya nanti saya pasti datang di kehidupan kamu!" ucapnya lirih.


Kriiitt


Mesin printer berbunyi, foto di monitor tersebut telah ia cetak. Ia pun mengambilnya dan menatap foto tersebut sambil tersenyum seringai.


"Dominic Alvansyah, orang terkaya di kota. Tapi, dia telah menghancurkan keluarga paman Hardi dan sampai menyebabkan tante Fey harus kehilangan nyawa, Misha sepupu ku kehilangan ibunya. Kamu harus bayar semuanya Dominic!" ia menggeram kesal.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2