
^^^GAES KOMEN YA BIAR AUTHOR SEMANGAT, ^^^
...PLIS PLIS PLIS🥺🥺🥺...
...***...
Ashraf masuk menemui Hardi yang sedang berbaring lesu di atas ranjang rumah sakit dengan tatapan datar.
Pria itu tersenyum miring seraya berjalan mendekati Hardi disana, ia menyapa dengan lembut dan membuat lelaki paruh baya itu terkejut.
"Paman Hardi?" panggil Ashraf.
"Hah? Ka-kamu Ashraf kan??" ujar Hardi kaget saat melihat keponakannya ada di dekatnya.
"Iya paman, ini saya Ashraf. Paman apa kabar? Baik-baik aja kan?" ucap Ashraf sambil tersenyum.
"Ya, paman baik kok. Kamu sendiri gimana? Lama paman gak lihat kamu karena paman koma," ucap Hardi balik bertanya pada Ashraf.
"Saya juga sama kok seperti paman, baik-baik aja walau perasaan saya masih enggak baik," jawab Ashraf dengan santai.
"Loh kenapa gitu? Memangnya perasaan kamu kenapa Ashraf?" tanya Hardi penasaran.
"Saya masih belum bisa melupakan kejadian hari itu paman, hari dimana saya harus melihat dengan mata kepala saya sendiri saat tante Fey meregang nyawa. Tapi, pelakunya malah tidak mau bertanggung jawab dan membuat berita seolah-olah dia tidak bersalah," jelas Ashraf.
Hardi dapat melihat jelas bahwasanya saat ini Ashraf tengah dilanda emosi yang luar biasa, kedua tangan lelaki itu terkepal kuat membayangkan kejadian masa kelam itu.
"Kamu memang benar Ashraf! Sampai sekarang pun saya juga masih belum bisa melupakan kejadian itu, tapi apa maksud kamu kalau tante Fey meregang nyawa? Memangnya dia tidak selamat dalam kecelakaan itu?" tanya Hardi.
Deg!
Seketika Ashraf terkejut hebat, dia tidak tahu jika Hardi belum mengetahui perihal itu.
"Eee paman belum tahu?" tanya Ashraf.
"Apa maksud kamu Ashraf? Apa istri saya tidak selamat dalam kecelakaan itu? Dia meninggal dunia?" ujar Hardi tampak syok.
"Pa-paman yang tenang ya! Memang benar tante Fey tidak selamat, beliau langsung dimakamkan sehari setelah kecelakaan itu. Dan paman dibawa ke rumah sakit karena tak sadarkan diri," jawab Ashraf.
Hardi benar-benar syok mendengarnya, nafasnya terasa sesak setelah mengetahui kabar bahwa istri tercintanya ternyata telah tiada akibat kecelakaan hari itu.
__ADS_1
"Hah? Apa?? Ini gak mungkin, kamu pasti bohong kan sama saya Ashraf!" ujar Hardi.
"Maaf paman! Harusnya saya emang gak bicara soal ini ke paman, karena kondisi paman masih belum stabil. Saya benar-benar minta maaf paman!" ucap Ashraf merasa bersalah.
Hardi mulai meneteskan air mata, ia amat sedih karena disaat-saat terakhir sang istri ia malah terbaring koma dan tidak bisa memberi ucapan selamat tinggal.
"Paman, tolong maafkan saya! Paman jangan sedih begini ya! Nanti kondisi paman bisa memburuk lagi, terus Misha bakalan sedih banget!" ujar Ashraf berusaha menenangkan Hardi.
"Tidak tidak, kamu gak salah Ashraf. Justru paman makasih sama kamu, karena kamu udah kasih tau semuanya!" ucap Hardi.
Ashraf merasa lega karena saat ini pamannya telah berhasil menahan kesedihannya, meskipun terlihat jelas kalau Hardi sangat terpukul atas kepergian istrinya.
"Paman tenang ya! Saya janji saya akan tuntut balas semua ini!" ujar Ashraf.
"Kamu bicara apa sih Ashraf? Tidak ada balas dendam, kamu gak boleh berbuat begitu!" tegas Hardi.
"Tapi paman—"
"Dengerin paman, kamu lupakan semua dendam gak penting kamu itu! Semuanya takdir dan sudah direncanakan oleh Tuhan, jadi kamu gak perlu ngelakuin itu!" potong Hardi.
"Baik paman! Sekarang paman istirahat aja ya? Saya gak mau paman ngedrop lagi, Misha pasti sedih banget nanti paman!" ucap Ashraf.
•
•
Sementara itu, Fabian dan Misha masih berdebat di luar terkait kedatangan Ashraf disana.
"Sayang, kamu kok biarin cowok itu masuk ke dalam sih? Kalau dia apa-apa ayah kamu gimana?" tanya Fabian terheran-heran.
"Kenapa sih mas? Kak Ashraf itu sepupu aku, dia orang baik kok dan dia gak mungkin celakai pamannya sendiri," ucap Misha.
"Tapi Misha, dia semalam ngancem aku loh. Apa itu yang namanya orang baik?" ujar Fabian.
"Maksud kamu apa sih mas? Ngancem apa?" tanya Misha tak mengerti.
Fabian terdiam dan berpikir sejenak, ia ragu untuk menceritakan semua itu kepada Misha karena khawatir jika benar papanya lah yang sudah membuat ibu Misha terbunuh.
"Saya gak bisa cerita sekarang, saya lebih baik selidiki semuanya dulu! Ya tapi semoga aja yang dibilang Ashraf itu gak benar!" batin Fabian.
__ADS_1
Melihat calon suaminya terdiam kaku, Misha pun penasaran dan menegurnya.
"Mas, kamu kenapa malah diem? Jawab dong pertanyaan aku tadi mas! Kak Ashraf ngancem kamu soal apa?" tegur Misha.
"Ah eee anu itu..."
"Anu itu apa mas?!" sentak Misha tak sabaran, ia semakin curiga saat lelaki di depannya itu tampak gugup dan gemetar.
"Udah mas, kamu cerita aja sama aku! Kalau emang kak Ashraf jahatin kamu, biar aku nanti yang hukum dia!" ujar Misha.
"Enggak sayang, semalam cuma salah paham aja kok. Antara aku dan sepupu kamu gak ada masalah apa-apa, kamu gausah khawatir ya!" ucap Fabian sembari memegang bahu wanitanya.
"Kok tiba-tiba kamu jadi lembut gini? Perasaan tadi kamu marah-marah deh sambil bilang kak Ashraf ancam kamu," ujar Misha heran.
"Lupain aja sayang, mending kamu sarapan dulu deh! Ini saya udah bawain kamu makanan yang super enak, sarapan dulu ya cantik?" ujar Fabian berupaya mengalihkan pembicaraan.
"Umm, oke deh. Tapi, kita sarapan bareng ya?" ucap Misha.
"Yah gak bisa sayang, kamu kan tau saya harus meeting sama klien penting. Untuk kali ini saya gak bisa temenin kamu sarapan, tapi saya janji lain waktu pasti saya akan selalu temenin kamu!" ucap Fabian.
"Iya deh iya, lagian kamu udah tau mau meeting ngapain malah kesini coba? Harusnya kamu langsung berangkat aja ke kantor sayang," ucap Misha.
Fabian melebarkan senyumnya mendengar Misha memanggilnya dengan sebutan sayang, sesuatu yang jarang sekali dilakukan oleh wanita itu.
"Makasih ya sayang!" ucap Fabian.
"Hah? Makasih buat apa?" tanya Misha heran.
"Makasih karena kamu udah mau panggil saya sayang tadi, saya senang banget dengarnya!" jawab Fabian.
"Ohh, iya sama-sama mas Biyan sayangku. Aku juga senang kalau kamu panggil aku sayang!" ucap Misha.
Mereka saling pandang selama beberapa detik, sebelum akhirnya Fabian mendekap tubuh Misha dan mengusap punggungnya. Suasana begitu dramatis saat ini, Fabian seakan tak mau melepas Misha dari pelukannya.
"Saya benar-benar gak habis pikir kalau memang papa Dominic yang bikin ibu kamu meninggal sayang, semoga aja itu cuma kebohongan Ashraf! Gak mungkin papa melakukan itu semua, saya tahu betul sikap papa seperti apa!" gumam Fabian dalam hati.
"Mas Fabian kenapa ya? Kayaknya dia lagi banyak masalah gini," batin Misha.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...