
Misha masih bersama Khayra di halte dekat sekolah, mereka tampak tengah duduk berdua dengan kedua mata Khayra yang terus mengarah ke wajah Misha.
Misha tentu bingung, dia tak mengenal siapa wanita di sampingnya itu dan merasa tidak pernah memiliki masalah dengannya.
"Maaf! Tapi, kamu itu siapa ya?" tanya Misha.
"Oh iya, kenalin aku Khayra! Aku model terkenal di Jakarta sekaligus artis film," jawab Khayra seraya menyodorkan tangan ke arah Misha.
"Eee a-aku Misha.." Misha sedikit gugup, satu tangannya bergerak berusaha meraih tangan Khayra yang diarahkan ke tubuhnya.
Akan tetapi, tiba-tiba Khayra justru menarik kembali tangannya seakan tak mau bersalaman dengan Misha.
"Eh gausah salaman deh, nanti tangan aku kena kotoran lagi. Secara kamu itu wanita kotor yang gak tahu diri, malahan lebih kotor dari binatang, ups!" ujar Khayra.
Misha membulatkan matanya, sungguh ia tak mengerti apa maksud Khayra.
"Maksud kamu apa sih? Kita baru kenal loh, tapi kamu udah main ngatain aku gitu aja. Kalau kamu ngerasa ada masalah sama aku, langsung to the point aja, bilang sama aku!" Misha mulai kesal, namun ia tetap berusaha menahan emosinya.
"Wow wow, keren deh kamu! Ternyata perempuan kotor seperti kamu masih bisa emosi juga ya? Luar biasa!" ucap Khayra dengan nada meledek.
"Kamu itu sebenarnya mau apa?! Kalau bicara itu yang jelas dong!" kesal Misha.
"Oke, aku tegasin ke kamu buat jauh-jauh dari pria bernama Fabian! Jangan pernah kamu dekati dia lagi atau kamu akan menyesal nantinya!" ucap Khayra mengancam Misha.
"Fabian? Emangnya kenapa aku gak boleh dekat sama dia? Kamu siapa dan apa hubungan kamu dengan Fabian?" tanya Misha heran.
"Aku istrinya," jawab Khayra dengan santai.
Misha langsung melotot lebar, mulutnya terbuka begitu mendengar jawaban Khayra.
"Hah? Kamu serius?!" tanya Misha tak percaya.
"Ya, aku sangat-sangat serius. Itu sebabnya aku gak suka kamu dekat-dekat sama Fabian, karena dia suami aku dan aku ini istrinya. Kalau kamu masih aja deketin dia, artinya kamu gak anggap aku sebagai istri sahnya Fabian, dan aku bakal benci banget sama kamu!" geram Khayra.
Misha terdiam sembari memalingkan wajahnya, sedangkan Khayra mengeluarkan smirk nya merasa telah berhasil memengaruhi Misha.
"Bagaimana Misha? Kamu mau kan nurut sama aku? Jangan jadi pelakor Misha, kamu itu masih muda loh! Apa kata orang coba nanti? Kamu juga bisa dibenci seluruh dunia," ujar Khayra.
"Aku bukan pelakor, aku sama Fabian juga gak ada apa-apa kok," sangkal Misha.
"Oh ya? Terus, kenapa kamu bisa dekat sama suami aku itu?" tanya Khayra.
"Suami kamu yang duluan deketin aku," jawab Misha lantang.
"Ah masa? Aku gak yakin sama jawaban kamu, udah pasti kamu yang kegatelan dan godain suami aku, ya kan?!" ujar Khayra.
__ADS_1
Misha menggeleng dengan mata berkaca-kaca, "Aku gak pernah seperti itu!" ia terus mengelak dan membantah tuduhan Khayra.
Tak lama, terdengar bel berbunyi. Misha pun izin pergi untuk segera masuk ke sekolah.
"Maaf nyonya! Aku harus pergi sekarang, bel sekolah udah bunyi. Kalau nyonya masih mau tuduh aku yang enggak-enggak, silahkan aja! Tapi yang pasti, aku gak pernah ngelakuin apa yang dituduhkan nyonya itu!" ucap Misha.
Misha bangkit dari duduknya, lalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Khayra.
•
•
Saat pulang sekolah, Fabian datang menjemput Misha dan menunggu di depan gerbang.
Misha pun muncul dari balik pagar, senyum merekah di mulut Fabian begitu melihat wanitanya.
Namun, Misha justru menampakkan wajah tak sukanya dan memilih membuang muka.
"Cie yang dijemput pacar, ihiy!" goda Elin.
"Apa sih? Dia bukan pacar aku, dia cuma cowok gak jelas yang gak sengaja hadir di kehidupan aku!" sangkal Misha.
"Loh, kamu kok jadi sensi gitu bahas tuan Fabian? Kenapa?" tanya Elin.
Elin melongok tak mengerti dengan sifat Misha yang tiba-tiba berubah, padahal sebelumnya Misha terlihat senang saat dijemput oleh Fabian.
"Misha!" Fabian mendekat dan menyapa wanitanya.
"Ya kenapa?" tanya Misha dingin.
"Kamu kok ketus gitu sih sama aku? Kamu gak suka ya dijemput sama aku kayak gini?" Fabian balik bertanya pada Misha.
"Biasa aja," ucap Misha singkat.
"Kamu itu kenapa sih? Aku ada salah sama kamu?" tanya Fabian semakin heran.
Misha menggeleng, namun raut wajah yang ditunjukkan wanita itu membuat Fabian yakin jika ada sesuatu yang dia sembunyikan.
"Yaudah, ayo kamu ikut saya! Saya antar kamu pulang sekarang!" ajak Fabian.
Misha menepis tangan Fabian yang hendak menyentuhnya, "Aku gak perlu digandeng, aku bisa jalan sendiri kok." Misha pun melangkah begitu saja menuju mobil Fabian.
Fabian beralih menatap Elin untuk mencari info, "Elin, kamu tahu Misha kenapa?" tanya Fabian.
"Eee enggak tuh kak, aku juga heran kenapa Misha jadi kayak gitu," jawab Elin.
__ADS_1
"Duh, ada-ada aja deh!" keluh Fabian.
Akhirnya Fabian mengejar Misha dan masuk ke dalam mobilnya, lelaki itu terus menatap Misha dengan bingung saat hendak melajukan mobilnya.
"Kamu itu kenapa sih?" tanya Fabian.
"Gapapa," jawab Misha singkat dan cuek.
"Kalau kamu terus bilang begitu, gimana saya tau apa kesalahan saya?!" kesal Fabian.
"Anda gak punya salah kok tuan, jadi tenang aja!" ucap Misha.
Fabian pun menarik persneling nya dan mulai melaju pergi dengan kecepatan tinggi, Misha yang berada di sebelahnya sempat merasa kaget saat tiba-tiba mobil itu melaju cukup kencang, ia berusaha mencari pegangan disana agar tidak terombang-ambing.
"Tuan, apa anda sudah tidak waras? Pelankan mobilnya atau aku turun disini!" pinta Misha.
"Kamu siapa ngatur-ngatur saya? Kamu itu udah saya beli, jadi kamu yang harusnya menurut sama saya bukan sebaliknya!" ucap Fabian.
"Tapi tuan, ini udah kelewat batas!" Misha semakin ketakutan, apalagi banyak kendaraan di depan sana yang tengah melintas.
"Saya tidak perduli, ini juga kan ulah kamu! Andai aja kamu mau jujur sama saya dan cerita semuanya, pasti saya gak akan begini!" ujar Fabian.
"Tuan mau aku jujur soal apa?" tanya Misha.
"Soal kenapa kamu tiba-tiba cuek dan jutek sama aku, ayo cepat jelasin!" pinta Fabian.
"I-i-iya, tapi pelanin dulu mobilnya!" ucap Misha.
"Tidak akan, kamu cerita baru saya akan pelankan laju mobilnya," tegas Fabian.
Misha tak punya pilihan lain, dia terpaksa menjelaskan semua pada Fabian bahwa ia sudah tahu tentang identitas lelaki itu.
"Okay, aku jelasin ke tuan sekarang!" ucap Misha.
"Ya apa?" tanya Fabian penasaran.
"Aku udah tau semuanya, tuan punya istri kan? Itu sebabnya aku takut dekat-dekat sama tuan, aku gak mau dianggap perusak hubungan rumah tangga orang, atau pelakor!" jelas Misha.
Ciiitttt...
Fabian menginjak rem secara mendadak, menatap Misha dengan wajah terkejut dan mata terbelalak.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1