
Mahen tiba di rumah sakit tempat Misha berada, dia turun dari mobilnya dan tampak celingak-celinguk mencari keberadaan Misha di sekitar bangunan itu.
Saat ia sedang sibuk mencari Misha, tiba-tiba saja dia baru teringat kalau sebenarnya dia bisa membawa serta tubuh Khayra tadi karena dia pun hendak menjemput Misha di rumah sakit.
"Aduh! Oh iya, saya kan mau ke rumah sakit. Kenapa tadi saya gak bawa Bu Khayra sekalian ya? Haish, bodoh banget sih saya!" gumam Mahen.
"Pak Mahen!" sapa Misha yang muncul dari belakang lelaki itu. Sontak Mahen terkejut dan reflek membalikkan tubuhnya.
"Eh non Misha?" ujar Mahen.
"Maaf ya pak! Bapak nunggu lama ya? Tadi saya harus ke toilet dulu soalnya," ucap Misha.
"Ah enggak kok non, saya juga baru sampai. Yaudah, mari non saya antar ke kantornya tuan muda!" ucap Mahen.
"Iya pak, terimakasih ya!" ucap Misha singkat.
Mahen pun membukakan pintu, Misha langsung saja masuk ke dalam dan duduk di kursi belakang. Sedangkan Mahen berputar mengitari mobil, lalu masuk melalui pintu kemudi.
"Kita jalan sekarang ya non? Gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Mahen.
"Eee iya pak, gak ada kok." Misha menjawab disertai senyum manisnya.
"Baik non! Kalau begitu saya izin jalan sekarang non," ucap Mahen.
"Iya pak," Misha mengangguk saja meski ia tak mengerti mengapa Mahen harus izin padanya.
Mahen langsung tancap gas, keluar dari area rumah sakit dan bergegas menuju kantor Fabian untuk mengantar Misha.
Misha yang duduk di belakang, merasa heran ketika melihat ekspresi Mahen yang seperti orang cemas.
"Pak, pak Mahen kenapa cemas gitu? Ada yang pak Mahen lagi pikirin ya?" tanya Misha.
"Eh eee enggak kok non, saya gapapa. Saya emang gini kalo lagi nyetir non," bohong Mahen.
"Ohh, bener nih pak?" tanya Misha sekali lagi.
"I-i-iya non, bener kok." Mahen menjawab dengan gugup dan sedikit bingung. Ia tak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada Misha.
"Yaudah deh gapapa, tapi kalau bapak mau cerita silahkan aja, saya terbuka kok buat dengerin cerita bapak!" ucap Misha sambil tersenyum.
"Iya non, nanti kalau saya ada cerita pasti saya cerita sama non Misha deh," ucap Mahen.
Misha mengangguk kecil, lalu mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengabari Fabian kalau ia sudah berada di jalan menuju kantornya.
^^^Misha^^^
^^^Halo tuan! Aku udah di jalan nih, tunggu ya sebentar lagi aku sampe disana!^^^
Misha tersenyum menatap layar ponselnya, menanti jawaban dari sang pria.
Sementara Mahen melirik ke arahnya melalui kaca spion, tersirat rasa kecewa pada sorotan matanya saat melihat Misha di belakang sana.
Tliingg...
__ADS_1
Pesan balasan Fabian akhirnya muncul, Misha pun langsung membukanya dan membaca isi pesan tersebut.
Fabian
Baguslah, suruh Mahen yang cepat ya bawa mobilnya! Saya udah gak sabar nih pengen ketemu kamu, termasuk adik kecil saya juga. Dia kayaknya udah kepengen banget masuk ke rumahnya.
Misha terkekeh kecil begitu membaca isi pesan Fabian, ada-ada saja pikirnya karena Fabian masih bisa bertindak mesum walau berjauhan dengannya.
•
•
TOK TOK TOK...
"Masuk!" perintah Fabian.
Ceklek..
Pintu terbuka, Fabian yang masih fokus menatap komputer tak menyadari kehadiran Misha disana. Ia justru mengira yang datang adalah Zya, sekretarisnya.
"Siapa? Zya ya? Mau apa??" tanya Fabian sambil sibuk mengutak-atik komputernya.
"Zya siapa tuan? Ini aku loh Misha, masa tuan gak ngenalin wangi aku?" ucap Misha yang kini sudah berada di samping Fabian.
"Hah? Misha??" Fabian terkejut bukan main, dia tak mengira Misha lah yang datang barusan.
"Kamu kenapa kaget gitu tuan? Zya siapa sih? Kok kamu berharap yang datang itu dia bukan aku?" tanya Misha menelisik.
"Eee Zya itu sekretaris aku sayang, kamu gausah cemburu gitu lah sama dia!" jawab Fabian.
"Gak salah kok, kamu cemburu juga gak salah, saya justru senang," ucap Fabian.
"Loh, kenapa senang?" tanya Misha keheranan.
"Ya karena cemburu itu kan tanda cinta, kalau kamu cemburu itu artinya kamu cinta sama saya. Jelas dong saya senang, karena dengan begitu kita bakal lebih muda buat menikah," jelas Fabian.
"Ih tuan bisa aja, emang orang tua tuan udah kasih izin buat kita nikah?" ujar Misha.
"Izin mah gampang, gausah dipikirin. Yang penting itu dari kamunya dulu, mau apa enggak nikah sama saya!" ucap Fabian.
"Eee aku sih ngikut tuan aja, kan tuan udah beli aku. Jadi, terserah tuan mau ngapain aku karena aku kan milik tuan," ucap Misha.
"Iya juga sih, berarti kamu gak nolak kan nikah sama saya?" tanya Fabian memastikan.
Misha mengangguk pelan, Fabian yang gemas pun bergerak mendekat dan langsung mengecup pipi Misha secara tiba-tiba.
Cup!
"Saya kangen sama kamu! Boleh kan saya minta jatah lagi sekarang?" bisik Fabian. Ia bermain-main di telinga Misha, membuat sang empu bersuara geli dengan apa yang dilakukannya.
"Mmhhh tuan, lakukanlah!" ucap Misha spontan.
Mendapat lampu hijau, Fabian tentu saja tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menarik tubuh Misha membawanya ke atas pangkuan dengan kaki melebar, ceruk leher Misha langsung menjadi objek pertama yang diincar, dia menyesap dan menghilangkan beberapa bekas disana.
__ADS_1
Kedua tangannya terus bergerilya menyusuri tiap lekuk tubuh Misha, meraup dua benda kenyal nan indah serta menyusup masuk pada inti Misha yang masih tertutup kain segitiga itu.
Fabian mengangkat satu kaki Misha ke atas meja kerjanya agar lebih leluasa bermain disana, ia menggerakkan satu tangannya dengan mulut yang masih berkutat di leher jenjang sang wanita.
"Ahh, ini nikmat! Lebih cepat tuan!" racau Misha sembari menggigit bibir bawahnya.
"As you wish baby!" bisik Fabian.
Akhirnya ruangan itu berubah menjadi tempat yang panas dan bergairah, dua insan terus beradu menuntaskan hasrat yang menggelora.
•
•
Khayra tersadar dari pingsannya, ia cukup kaget menyadari dirinya berada di rumah sakit dengan tangan penuh infus.
"Hah? Kok aku bisa disini sih? Perasaan tadi aku masih di kamar mandi deh," gumamnya.
Ia melirik ke kanan dan kiri, tapi tak ada siapapun yang bisa dia tanyakan. Seketika pikirannya kembali mengarah pada kejadian saat sang suami memberi hukuman padanya.
Khayra pun mendadak ketakutan, ia berusaha keras menghilangkan momen itu dari kepalanya meski selalu gagal.
"Aaarrgghh!! Kamu jahat mas, kamu jahat! Kamu lebih bela wanita murahan itu dibanding aku, dimana hati nurani kamu mas?!" geram Khayra.
Tak lama kemudian, seseorang datang memasuki ruangan itu. Khayra terkejut lalu menolehkan wajahnya ke arah pintu untuk mencari tahu siapa yang datang.
"Permisi Bu!" ucap Mahen yang kini berada di dekatnya. "Kondisi ibu baik-baik aja kan? Gak ada yang sakit lagi?" lanjutnya.
"Mahen, kamu yang bawa saya kesini?" tanya Khayra.
"Eee iya Bu, tadi saya yang bawa ibu kesini untuk diperiksa. Abisnya ibu pingsan sih, terus tubuh ibu juga panas banget. Karena saya gak mau ibu kenapa-kenapa, jadinya saya bawa ibu kemari," jelas Mahen dengan berbohong.
"Apa? Itu artinya kamu juga yang keluarin saya dari kamar mandi tadi??" tanya Khayra kaget.
"I-i-iya Bu," jawab Mahen gugup.
"Hah? Kamu lihat tubuh polos saya dong? Ih dasar kurang ajar ya kamu Mahen! Harusnya kamu jangan begitu sama saya, kamu lupa kalau saya ini istri bos kamu?!" sentak Khayra.
"Saya ingat kok Bu, ini juga atas perintah tuan muda. Beliau yang meminta saya menolong ibu dari kamar mandi, itu sebabnya saya berani melakukan ini." Mahen berusaha meyakinkan Khayra.
"Bohong kamu! Gak mungkin suami saya biarin istrinya disentuh orang lain!" ujar Khayra.
"Memang benar begitu Bu, tuan muda sendiri yang meminta saya menyelamatkan ibu. Kalau tidak, bagaimana saya bisa tahu ibu ada di kamar mandi dalam keadaan pingsan?" ucap Mahen.
Khayra terdiam seraya memalingkan wajahnya.
"Tapi Bu, saya bisa jamin kalau saya tidak bertindak kurang ajar sama ibu! Saya hanya menolong ibu," sambung Mahen.
"Baguslah," ucap Khayra singkat.
Khayra masih tak percaya dengan ini, ia benar-benar kecewa pada suaminya.
"Kamu kelewatan mas!" batinnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...