
Tap
Tap
Tap
Telinga Misha menangkap sebuah suara langkah kaki yang mengarah menuju ruangan itu. Dia semakin panik tak karuan, tentu ia tak mau jika sesuatu yang buruk terjadi padanya disana.
"Duh, ada yang datang lagi!" ucap Misha panik.
Wanita itu masih berusaha melepaskan diri, tetapi ikatan di tangan serta kakinya sangat kuat sehingga dia tak dapat berbuat banyak.
Sementara orang di luar sana sudah semakin mendekat, bisa dia lihat kenop pintu seperti ditarik dari luar.
Ceklek..
Pintu terbuka, Misha membulatkan matanya melihat sesosok pria tinggi besar tengah menatap ke arahnya. Pria itu mengenakan penutup wajah, sehingga yang dapat Misha lihat hanya sorot mata tajam dari si pria.
"Ternyata kamu sudah bangun, Misha Nur Albiru!" ucap pria itu dingin.
Pria itu menutup pintu tak lupa menguncinya rapat, ia mengambil sesuatu seperti remote control dari dalam jasnya lalu menekan tombol di remote tersebut sembari menyeringai tipis.
Sementara Misha merasa seperti tak asing dengan suara yang didengarnya saat ini, namun dia tidak bisa menebak siapa orang yang kini tengah berdiri di hadapannya itu.
Tek
"Akh!" Misha memekik kaget saat merasakan getaran di bagian bawahnya, ah sial rupanya orang itu sudah memasang sesuatu disana.
"Bagaimana? Kau menikmatinya gadis manis?" ucapan pria itu terdengar mengerikan di telinga Misha, ia benar-benar takut bercampur nikmat saat ini karena sesuatu di bawah sana terus bergerak mengobrak-abrik miliknya.
"Mmhhh.." dengan sekuat tenaga Misha berusaha menahan suaranya, ia tak mau lelaki itu merasa puas karena mengetahui dirinya menikmati getaran di bawah sana.
"Jangan ditahan sayang! Aku suka dengar suara kamu yang merdu itu," ucap si pria.
Misha melotot tajam saat menyadari pria itu semakin mendekatinya, dia terus berusaha menggerakkan tangannya tetapi tak ada hasil.
"Hentikan sayang, itu hanya akan menyakitimu!" ucap pria itu sembari melepas jasnya.
Kini Misha melihat lelaki itu tengah melepas satu persatu kancing kemeja yang dikenakannya, Misha meneguk ludahnya seakan tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
Betul saja, pria itu melepas kemejanya dan membuangnya begitu saja ke lantai. Terpampang lah tubuh atletis si pria dengan enam kotak tersusun di tengah-tengahnya.
"Tolong, kumohon jangan sentuh aku!" Misha merengek disertai tangisan yang perlahan muncul dari matanya.
Tak ada jawaban dari si pria, dia kembali menekan remote itu menambah getaran pada bagian bawah Misha.
"Aakhhh!!" Misha sungguh dibuat lemah oleh ulah pria itu, ia rasa sebentar lagi pelepasannya akan tiba dan di bawah sana sudah sangat basah.
__ADS_1
Tak lama, tubuh Misha melengking merasakan ledakan di bawah sana. Dia baru meraih pelepasan pertamanya, hanya dengan sesuatu yang bergetar di miliknya.
"Hah! Hah! Hah!" Misha berusaha menetralkan nafasnya, namun miliknya kembali bergetar membuatnya sulit bernafas.
"To-tolong hentikan, pleaseeee!!" rengek Misha.
Seakan tuli, pria itu tak memperdulikan rengekan Misha dan mendiamkan milik wanita itu diobrak-abrik oleh sebuah alat kecil.
Pria itu terduduk di pinggir ranjang, menyentuh paha mulus Misha yang sudah terbuka itu. Ya rok Misha memang sudah dilepas dan menyisakan celana segitiga tipis yang menutupi miliknya.
"Kamu menikmati nya kan sayang? Ini hukuman untukmu," ucap pria itu sembari membuka penutup wajahnya.
Misha benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, mulutnya menganga lebar dan terus memandangi wajah si pria yang sangat dia kenali itu.
"Tu-tuan Biyan...??" ucapnya lirih.
"Yes baby, it's me." jawab si pria dengan santai, dia tersenyum penuh kemenangan melihat tubuh lemah tak berdaya milik wanitanya itu.
"Ke-kenapa tuan lakuin ini? Kalau tuan mau, tuan kan bisa minta baik-baik," tanya Misha.
"Ya saya tahu, tapi kali ini saya mau menghukum kamu dulu sayang. Kamu udah bikin saya kesal, jadi sekarang kamu harus dapat hukuman!" jawab Fabian dengan senyum mengerikan di bibirnya.
Misha menatap ngeri ke arah Fabian, belum pernah dia melihat Fabian seperti itu sebelumnya.
"Maksud tuan apa? Emangnya aku salah apa sampai tuan mau hukum aku?" tanya Misha.
"Siapa lelaki yang bersama kamu di rooftop sekolah tadi? Mengapa kalian terlihat sangat dekat? Apa kalian punya hubungan?" ujar Fabian.
"Tuan cemburu?" tanya Misha menggoda.
"Bukan, saya cuma gak suka milik saya disentuh orang lain. Kamu kan sudah setuju untuk menjadi penghangat ranjang saya, kenapa kamu masih mau berdekatan dengan lelaki lain?" ucap Fabian.
"Ti-tidak tuan, aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Dia itu namanya Rully, teman sekolahku. Tuan jangan salah paham ya!" ucap Misha.
"Apapun itu, tetap saja kamu tidak boleh dekat dengan dia lagi! Selamanya kamu harus jadi milik saya, dan kamu tidak boleh menjalin hubungan atau berkenalan dengan lelaki lain selain saya!" ucap Fabian tegas.
"I-i-iya tuan, aku mengerti." Misha mengangguk pelan menuruti perkataan Fabian.
"Berjanjilah padaku!" pinta Fabian.
"Iya tuan, aku janji gak akan mengulangi kesalahan aku ini lagi!" ucap Misha.
Cup!
"Good girl," ucap Fabian lirih sembari mengecup bibir ranum wanitanya.
Lelaki itu mulai menindih tubuh kecil Misha, melepas ikatan di tangan wanitanya dan mengecilkan getaran alat di bawah sana.
__ADS_1
Misha memejamkan mata, dia pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan Fabian padanya.
Tentu kalian bisa menerka yang terjadi selanjutnya diantara mereka berdua.
•
•
Singkat cerita, Fabian masih berbaring di samping tubuh Misha setelah selesai menggempur wanitanya selama lima ronde.
Pria itu tersenyum tipis sembari mengusap kening Misha yang dipenuhi keringat, dia dapat mengetahui jika Misha amat lelah saat ini.
"Capek ya?" tanya Fabian di telinga wanitanya.
"Udah tahu ngapain nanya?! Tuan sih semangat banget tadi sampe gak mau berhenti, aku jadi lemes nih!" jawab Misha ketus.
"Ahaha, itu hukuman buat kamu. Makanya lain kali kamu jangan dekat-dekat sama cowok di sekolah!" ujar Fabian.
"Iya tuan, aku kapok deh. Tapi, ini kita dimana sih tuan? Rumah tuan?" tanya Misha.
"Ya, ini mansion saya. Emang udah lama gak ditinggalin, tapi masih tetap diurus kok. Mulai hari ini, kamu tinggal disini sama saya," jawab Fabian.
"Hah? Kita tinggal berdua gitu tuan?" tanya Misha kaget.
"Kenapa? Kamu gak mau?" Fabian balik bertanya pada Misha.
"Umm, ma-mau kok tuan... tapi, apa tuan gak takut jadi omongan tetangga sekitar tuan?" ucap Misha.
"Buat apa? Siapa sih yang berani ngomongin saya? Mereka bisa langsung saya gantung," ujar Fabian.
Misha susah payah menelan saliva begitu mendengar ucapan Fabian, ekspresi Misha amat membuat Fabian gemas dan kembali menyerang wajahnya.
"Mmhhh tuan udah ah! Apa tuan gak puas tadi udah main lima ronde?!" tegur Misha.
"Iya, enggak lagi kok. Saya juga lapar nih, kamu bisa masak kan?" ucap Fabian.
"Bisa sih, tapi emang disini ada bahan makanannya?" tanya Misha.
"Udah saya siapkan semuanya, dapur ini penuh dengan bahan-bahan. Kamu masakin saya makanan yang enak ya!" pinta Fabian.
"Aku sih mau-mau aja, tapi sebelumnya perjanjian kita kan cuma sebatas partner ranjang. Kenapa aku malah disuruh masak juga?" protes Misha.
"Ohh, kamu nolak permintaan saya? Tenang aja, saya bayar juga kok masakan kamu, ya tapi kalau enak!" ujar Fabian.
"Hahaha, iya iya aku masakin deh." Misha tertawa kecil lalu bangkit secara susah payah, sungguh tubuhnya terasa sangat remuk akibat permainan ganas Fabian tadi.
Namun, Misha tetap memaksa turun dari ranjang untuk memasak sesuai permintaan Fabian.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...