
Sesaat sebelum Fabian pergi menemui Misha...
"Mas, mau kemana?" Khayra berlari mengejar suaminya yang tampak terburu-buru dengan pakaian rapih itu.
Fabian menoleh saja dengan dingin, dia sungguh masih menyesal telah melakukan permainan panas itu bersama istrinya semalam. Padahal yang Fabian inginkan adalah berpisah dengan Khayra.
"Mas, kenapa kamu diam? Jawab dong mas!" tegur Khayra yang dilanda kecemasan hebat.
"Kamu gak perlu tau aku mau kemana, kamu cukup diam dan biarin aku pergi!" tegas Fabian.
"Tapi mas, aku ini istri kamu loh. Aku berhak tau kemana kamu mau pergi," ucap Khayra.
"Ya, kamu memang istri sah aku secara hukum dan agama. Tapi, kamu gak pernah melakukan kewajiban kamu sebagai seorang istri. Untuk apa aku masih anggap kamu istri aku, ha?" ujar Fabian meluapkan emosinya.
"Semalam kan udah mas, apa kurang? Kamu mau lagi? Aku siap kok," ucap Khayra.
Perkataan Khayra barusan membuat Fabian kesal dan langsung memberikan sorot mata tajam ke arah wanita itu.
"Kamu kira aku tertarik sama tubuh kamu? Enggak Khayra, aku gak suka!" ketus Fabian.
"Kalau kamu gak suka, kenapa semalam kamu gak mau berhenti?!" balas Khayra.
"Itu kan karena aku dalam pengaruh obat yang kamu kasih di minuman itu," elak Fabian. Ia memang sudah mengingat semuanya, termasuk saat meminum minuman aneh dari Khayra.
"Maaf mas! Aku ngelakuin itu supaya kamu suka sama aku, jujur aku gak pengen kehilangan kamu Biyan!" ucap Khayra.
"Terlambat Khayra," ucap Fabian singkat.
"Apa maksud kamu terlambat?" tanya Khayra.
"Ya, aku tetap minta pisah sama kamu. Aku udah muak dan gak tahan lagi punya istri seperti kamu, apalagi kamu udah bikin aku malu di depan keluarga besar aku!" jelas Fabian.
Khayra melotot lebar tak menyangka jika Fabian akan mengatakan itu padanya.
"Pisah? Ka-kamu serius mas??" tanya Khayra.
"Kamu lihat muka aku lagi bercanda?" Fabian balik bertanya pada Khayra dengan kesal.
"Mas, jangan gitu dong!" mohon Khayra.
Fabian langsung menyingkirkan tangan Khayra yang hendak menyentuhnya, "Jangan sentuh aku! Aku gak mau terbuai lagi." Khayra semakin merasa sakit hati mendengar perkataan suaminya, dia pun teringat pada wanita bernama Misha yang disebut Fabian semalam.
"Mas, apa ini karena Misha? Kamu minta pisah sama aku karena kamu udah nemu wanita lain, iya kan?" tanya Khayra.
Fabian terkejut hebat, "Maksud kamu apa? Misha siapa?" namun, lelaki itu tetap mencoba tenang dan pura-pura tidak mengenal Misha.
"Kamu gausah bohong deh Biyan! Aku dengar sendiri kamu sebut-sebut nama Misha sewaktu kita bercinta semalam, mending kamu ngaku aja dia itu selingkuhan kamu kan!" geram Khayra.
__ADS_1
Fabian terdiam, ia sungguh tak sadar jika dirinya menyebut nama Misha semalam.
"Kenapa diam? Benar kan begitu mas? Kamu jahat ya sama aku, bisa-bisanya kamu selingkuh di belakang aku kayak gini! Aku yakin, kalau sampai tuan Alvan tau kelakuan anaknya yang tukang selingkuh, dia pasti kecewa banget sama kamu!" ucap Khayra emosi.
"Kalau emang iya, kenapa? Aku memang ada hubungan dengan wanita bernama Misha itu, sebentar lagi juga aku bakal menikahi dia. Kalau kamu gak mau pisah, kamu harus siap dimadu!" ucap Fabian penuh penekanan.
Mata Khayra sudah berkaca-kaca saat ini, hari masih pagi namun suasana disana sudah terasa sangat panas dan tegang.
"Sudahlah, aku mau pergi. Kamu urus saja kerjaan kamu yang penting banget itu!" kesal Fabian.
Khayra hanya bisa membiarkan suaminya itu pergi, ia pun menangis sejadi-jadinya meratapi nasib rumah tangganya yang telah hancur.
"Ini gak bisa dibiarin, aku harus singkirin Misha!" monolog Khayra.
•
•
Saat ini Misha masih di sekolahnya, wanita itu baru saja selesai makan dan hendak kembali ke kelas sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.
Akan tetapi, dia justru bertemu dengan rombongan perempuan elit di sekolah itu yang dipimpin oleh wanita bernama Nesya.
"Eh guys, ada cewek miskin tuh!" sindir Nesya. Misha tentu merasa bahwa kata-kata ditujukan padanya, dia memang biasa mendapat cemoohan seperti itu dari teman-teman sekolahnya.
"Hahaha, cewek miskin sok-sokan mau gabung di circle kita! Yang ada nanti cuma numpang makan gratis doang sama kita," cibir seorang yang lain, namanya Leka.
"Kenapa lu diem aja? Akhirnya ngaku juga ya kalau lu itu cuma cewek miskin!" ujar Nesya.
"Aku emang miskin, tapi seenggaknya aku gak miskin akhlak kayak kalian bertiga!" balas Misha.
"Hah? Apa lu bilang? Berani ya lu ngomong kayak gitu sama kita!" Nesya geram dan semakin mendekati Misha, namun itu tak membuat Misha gentar.
Nesya mulai menjambak rambut Misha dengan kuat hingga wanita itu meringis.
"Awss lepasin!!" Misha meringis pelan sambil berusaha menyingkirkan tangan Nesya.
"Lo gak akan gue ampuni kali ini!" bentak Nesya.
"Hajar aja Nes, kasih dia pelajaran! Miskin aja banyak lagunya!" ucap Leka.
"Pasti." Nesya menunjukkan smirk nya dan semakin kuat menjambak rambut Misha.
"Akh sshh!!" rintih Misha. Cairan bening sudah membasahi pipinya, bisa dibayangkan betapa Misha menahan sakit kali ini.
"Hey hentikan!" Nesya terkejut saat seseorang tiba-tiba datang dan mendorong tubuhnya menjauh dari Misha.
"Apa-apaan kalian ini?! Jangan pernah sakitin Misha!" bentak seorang pria yang datang itu.
__ADS_1
"Rully? Lo ngapain sih belain cewek miskin itu? Dia tuh udah berani ngata-ngatain gue tau gak! Dia harus dikasih pelajaran!" ujar Nesya.
"Sekali lagi gue lihat kalian sakitin Misha, gue gak akan segan-segan buat laporin perbuatan kalian ke guru BK!" ancam pria bernama Rully.
Ketiga wanita itu kompak terdiam.
"Ayo Misha, kamu ikut aku aja!" Rully langsung menggandeng tangan Misha dan membawa wanita itu pergi bersamanya.
•
•
"Rully, makasih ya! Kamu udah sering banget tolongin aku kayak gini," ucap Misha.
Rully tersenyum lebar, ia menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Misha dan membantu wanita itu merapihkan rambutnya.
"Misha cantik banget kalau dilihat dari posisi kayak gini," monolog Rully dalam hati, tangannya terus bergerak mengusap rambut serta wajah Misha.
"Eee Rully, kamu bisa pergi sekarang kok! Aku juga harus balik ke kelas," ucap Misha.
"Nanti dulu Misha, kamu tetap disini aja sama aku! Kita nikmati pemandangan di atas sini dulu, emang kamu gak ngerasa indah apa?" ucap Rully menahan Misha agar tetap bersamanya.
"Iya sih, disini indah." Misha tersenyum tipis dan menatap pemandangan dari atas sana.
"Kamu kalau senyum gitu makin kelihatan cantiknya," ucap Rully.
Misha tersentak kaget mendengar ucapan pria itu, ia pun menatapnya bingung, jarang sekali memang Rully memuji wanita seperti itu.
"Kamu lagi coba hibur aku ya?" tanya Misha.
"Hah? Maksudnya??" Rully tampak heran mendengar pertanyaan Misha.
"Iya, itu tadi yang kamu bilang aku cantik. Kamu cuma mau hibur aku kan?" jelas Misha.
"Ohh, bukan begitu maksudnya. Aku justru memuji kamu Misha, kamu emang cantik dan manis! Pantas banyak teman-teman aku yang omongin kamu," ucap Rully sambil tersenyum.
Deg!
Entah mengapa perasaan Misha mendadak aneh saat Rully memujinya. Memang pantas sih, siapa juga yang tidak tertarik dengan lelaki tampan yang juga idola sekolah itu? Tapi, Rully masih jauh jika dibandingkan dengan Fabian.
Tanpa mereka sadari, seseorang memantau aktivitas yang mereka lakukan di rooftop itu melalui sebuah kamera rahasia.
Bisa diketahui orang itu adalah Fabian, dia memang sengaja menaruh banyak kamera pengintai di sekolah tersebut untuk memantau apa yang dilakukan Misha.
"Ternyata ini yang kamu lakukan selama di sekolah, Misha. Lihat saja, saya akan beri kamu hukuman!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...