Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Balasan Fabian


__ADS_3

Fabian pun menatap Misha sekilas untuk pamit padanya. "Sayang, kamu tunggu sebentar ya! Saya mau bicara dulu sama papa, tapi nanti saya kembali kok untuk kamu!" ucapnya.


"Iya tuan," lirih Misha.


Cup!


Fabian mengecup kening Misha di hadapan mama serta istrinya, kemudian pergi begitu saja menyusul papanya ke dalam sana.


Khayra menatap tajam ke arah Misha, rasanya ingin sekali dia menjambak atau bahkan menampar wanita itu saat ini.


"Umm, permisi Bu! Saya mohon izin keluar!" pamit Misha pada Cornelia.


"Hm." hanya itu yang keluar dari bibir Cornelia, sepertinya dia sangat cemas saat ini.


Misha pun pergi keluar, dia tidak berani berada di rumah itu tanpa adanya Fabian di sisinya.


Khayra yang melihat itu sontak mengikuti kemana Misha melangkah, dia sudah berencana untuk memberi pelajaran kepada Misha disana.


"Heh wanita murahan!" panggil Khayra.


Sontak Misha menoleh, melihat Khayra sudah ada di dekatnya membuat Misha sedikit takut. Apalagi tatapan Khayra seperti hendak membunuhnya.


"Eee ibu manggil saya ya?" tanya Misha gugup.


Tanpa basa-basi, Khayra langsung menarik rambut panjang Misha dan menjambak nya kuat sampai Misha meringis.


"Awhh aduh sakit Bu! Ampun, tolong lepasin saya!" rintih Misha berusaha melepaskan diri.


"Heh! Enak aja minta dilepas, saya gak akan lepas kamu sampai kapanpun! Ini pantas didapat oleh seorang pelakor seperti kamu! Saya kan sudah bilang, Fabian itu sudah menikah dan memiliki istri. Kenapa kamu masih aja deketin dia? Malahan kamu mau nikah sama dia, dimana perasaan kamu?!" geram Khayra.


"Akh sakit! A-ampun Bu saya gak ada niat untuk jadi perusak rumah tangga ibu! Suami ibu sendiri yang dekati saya dan berjanji akan menikahi saya," rengek Misha.


"Halah alasan! Mana ada pelakor yang mau ngaku? Sekarang rasain ini, ayo ikut saya biar saya tunjukin ke kamu siapa diri kamu!" ujar Khayra.


Khayra menyeret paksa tubuh Misha untuk ikut dengannya, Misha dibuat tak berdaya oleh Khayra saat ini karena rambutnya terus dijambak dengan kuat tanpa ampun.


"Aakhhhsss saya mohon lepasin saya! Saya minta maaf!" rengek Misha.


Namun, tentunya permohonan Misha itu tidak didengar oleh Khayra. Wanita itu tampaknya sudah kerasukan dan tidak mau mengampuni Misha.


"Saya tidak akan pernah lepasin kamu! Saya akan bikin kamu menderita selamanya!" ujar Khayra.

__ADS_1


"Akh lepas! Saya mohon lepas, ini sakit!" Misha terus memohon pada Khayra, tapi tak berhasil.


Tak lama, Mahen yang kebetulan melihat kejadian itu langsung bergerak menghampiri Khayra dan Misha untuk melerai mereka.


"Maaf Bu! Ini ada apa ya?" tanya Mahen.


"Diam kamu Mahen, jangan halangi jalan saya! Ini urusan saya dengan wanita murahan ini, jadi kamu tidak usah ikut campur!" bentak Khayra.


"Bukan saya ingin ikut campur, tapi tuan muda sendiri yang memerintahkan saya untuk menjaga nona Misha. Sebaiknya Bu Khayra lepaskan nona Misha sekarang!" ucap Mahen.


"Apa? Kamu berani bicara begitu di depan saya, Mahen? Saya ini istri bos kamu, jadi kamu harusnya bela saya bukan dia!" kesal Khayra.


"Maaf Bu, saya hanya menjalankan perintah tuan muda! Kalau Bu Khayra tidak mau melepaskan nona Misha, maka saya akan melaporkan kejadian ini pada tuan muda," ucap Mahen.


Khayra langsung melotot lebar, dia tentu tak mau jika Fabian sampai tahu kejadian ini.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Khayra pun melepaskan Misha dan sedikit mendorongnya.


"Awhh!!" Misha meringis sembari memegangi rambutnya, tubuhnya berhasil ditahan oleh Mahen agar tak terdorong makin jauh.


"Non, nona Misha tidak apa-apa?" tanya Mahen.


"I-i-iya, aku baik kok." jawab Misha gugup.


Sementara Mahen kini melepaskan tubuh Misha dari dekapannya, mencoba menenangkan Misha yang masih sedikit syok itu.


"Tenang ya non! Bu Khayra mungkin terbawa emosi tadi, non Misha tidak perlu khawatir karena saya yakin tuan muda akan selalu melindungi non Misha!" ucap Mahen.


"Iya, aku juga tidak takut dengannya. Hanya saja aku merasa bersalah karena sudah mengganggu rumah tangga Bu Khayra dan tuan Fabian, aku ini pelakor!" lirih Misha.


Mahen terdiam, ia juga tak tahu harus mengatakan apa pada Misha saat ini.




PLAAAKK...


Pagi itu, Khayra terkejut saat tiba-tiba suaminya muncul dan menampar wajahnya dengan kasar tanpa alasan yang jelas.


Khayra yang baru terbangun dari tidurnya pun dibuat bingung dengan kelakuan sang suami, ia meringis sembari memegangi pipinya yang memerah dan basah akibat tetesan bening di wajahnya.

__ADS_1


"Mas, kamu apa-apaan sih?! Kenapa kamu datang-datang langsung tampar aku gitu aja? Apa salah aku??" tanya Khayra dengan nada tinggi. Dia bangkit dari ranjangnya dan mendekati Fabian.


"Cukup ya Khayra! Aku udah muak dengan sandiwara kamu!" bentak Fabian.


"Apa sih? Kamu itu kenapa? Aku lagi enak-enak tidur terus tiba-tiba kamu datang dan tampar aku, sebenarnya kamu punya masalah apa?!" ujar Khayra.


"Masalah aku ya kamu Khayra! Seandainya dulu aku tolak perjodohan itu, mungkin aku sudah hidup bahagia tanpa adanya masalah!" tegas Fabian.


"Kamu kok gitu mas? Aku ini istri kamu loh, kamu sadar gak sih kata-kata kamu barusan itu menyakiti hati aku?" lirih Khayra. Air mata kembali membasahi pipinya, dia berharap dengan begitu Fabian akan merasa kasihan padanya.


Nyatanya, Fabian justru semakin muak dan kesal dengan sikap Khayra yang banyak drama itu.


"Stop Khayra!! Berhenti drama di depan aku! Aku tidak akan pernah termakan sandiwara busuk kamu itu lagi!" sentak Fabian.


"Aku benar-benar gak ngerti sama kamu, mas. Mana yang katanya dulu kamu cinta sama aku? Kok sekarang kamu malah jadi kayak gini ke aku sejak kenal dengan perempuan murahan itu?" ujar Khayra.


"Jangan pernah merendahkan Misha! Asal kamu tahu, kamu lebih murahan daripada Misha! Bahkan, dibandingkan dengan j a l a n g sekalipun, tetap kamu masih lebih rendah Khayra!" Fabian tersulut emosi, dia mencengkram rahang Khayra dengan kuat hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Akh mas sakit! Kamu kenapa jadi kasar gini sih sama aku?! Lepasin aku mas, aku gak terima diginiin sama kamu!" rengek Khayra.


"Kamu pikir semudah itu aku akan lepasin kamu? Oh tidak Khayra, aku akan bikin kamu menderita lebih parah daripada yang Misha rasakan kemarin!" ucap Fabian penuh emosi.


"Hah?? Jadi, karena itu kamu sekarang marah sama aku mas? Perempuan murahan itu ngadu ke kamu, iya?!" ujar Khayra.


"Kalau iya kenapa? Dia berhak cerita sama aku kalau dia dijahatin sama kamu, karena dia itu calon istri aku! Sekarang kamu diam dan ikut aku!" tegas Fabian.


"Mas, kamu mau bawa aku kemana??" Khayra gemetar ketakutan begitu Fabian mencengkram lengannya dan menarik paksa tubuhnya menuju kamar mandi.


Fabian langsung mendorong tubuh Khayra hingga terbentur dinding bak mandi. "Akh!" Pria itu kembali menarik lengan Khayra, menyobek pakaiannya secara paksa dan menyalakan air shower.


Tak lupa Fabian juga menggunakan sobekan pakaian itu untuk mengikat tangan dan kaki Khayra di bawah guyuran shower itu agar Khayra tidak bisa bergerak kemana-mana.


Khayra duduk di lantai kamar mandi, dahinya mengeluarkan darah akibat benturan tadi, rasanya sangat perih apalagi tetesan air tersebut sangat deras dan mengenai lukanya.


"Mas, aku mohon ampuni aku!" Khayra memohon dengan bibir gemetar, dia mulai kedinginan!


"Ini hukuman untuk kamu, jangan harap kamu bisa keluar dari sini!" tegas Fabian.


"Mas, tapi mas—"


Fabian langsung keluar dari kamar mandi, mengunci pintu rapat-rapat dan meninggalkan Khayra sendirian disana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2