Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Tindakan salah


__ADS_3

Mahen terlihat bingung saat ini, pertanyaan Fabian mengenai perasaannya pada Khayra telah membuat Mahen berpikir keras apakah mungkin dia memang menyukai Khayra?


Setiap kali berurusan dengan Khayra, Mahen memang memiliki rasa lain dan terkadang ia pun merasa gugup saat berbicara empat mata dengan istri dari bosnya itu.


"Aduh! Saya harus jawab apa ini? Gak mungkin kalau saya mengiyakan perkataan tuan muda, bisa abis saya!" batin Mahen.


Tiba-tiba, ponselnya yang masih menempel di telinga itu terdengar suara Fabian. Ya ia memang belum mematikan telpon, sejak Fabian melontarkan pertanyaan Mahen hanya bisa diam tak mampu menjawab apa-apa.


📞"Halo Mahen! Kamu kenapa diam aja? Kalau kamu suka sama dia, ya jujur!" tegur Fabian.


📞"Eee tuan bicara apa sih? Saya gak mungkin lah suka sama istri orang," elak Mahen.


📞"Kamu gak perlu takut gitu Mahen, saya dengan Khayra kan sebentar lagi cerai. Jadi, kalau kamu mau sama dia ya silahkan aja!" ujar Fabian.


📞"Enggak tuan, saya mah gak begitu. Saya bantu Bu Khayra dengan tulus kok, bukan karena saya suka sama beliau," elak Mahen.


📞"Yasudah, tapi sekarang kamu jemput Misha dulu ya di kantor saya! Abis itu baru kamu boleh balik ke rumah sakit buat jagain Khayra," titah Fabian.


📞"Baik tuan muda! Kalau begitu saya izin dulu sama Bu Khayra, karena saya khawatir nanti beliau nyariin saya kalau saya gak pamit," ujar Mahen.


📞"Oke, saya tunggu kamu!" ucap Fabian.


📞"Siap tuan!" ucap Mahen lantang.


Fabian langsung menutup telpon, membuat Mahen mampu bernafas lega dan mengelus dadanya. Ia sedikit tenang karena telah lepas dari cecaran bosnya.


"Huh lega rasanya! Untung aja tuan muda gak banyak tanya lagi!" ujar Mahen.


Setelahnya, Mahen pun kembali ke dalam ruangan tempat Khayra dirawat. Ia masuk kesana dan menemui Khayra yang masih terbaring lemah.


"Bu Khayra!" panggilnya.


"Ada apa?" tanya Khayra ketus.


"Tidak Bu, saya hanya ingin pamit sama ibu. Tuan muda meminta saya datang ke kantornya, Bu Khayra gapapa kan sendirian disini?" ujar Mahen.


"Iya, buat apa juga kamu pamit sama saya? Sudah sana pergi, saya gak butuh dijagain!" ucap Khayra.


"Baik Bu! Tapi, kalau ada apa-apa Bu Khayra jangan sungkan buat hubungin saya ya!" ucap Mahen.


"Hm," dehem Khayra seraya membuang muka.


Mahen pun menggeleng melihat ekspresi Khayra yang begitu menyebalkan, ingin rasanya ia mengumpat tetapi tidak bisa.


"Kalau begitu saya permisi Bu, semoga cepat sehat ya!" ucap Mahen.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Khayra, wanita itu bahkan masih memalingkan wajahnya seakan tak mau menatap Mahen.


Akhirnya Mahen pergi keluar dari ruangan itu, meninggalkan Khayra sendirian walau dengan perasaan ragu.


Setelah Mahen pergi, barulah Khayra kembali menoleh ke arah pintu. Tersirat penyesalan di dalam dirinya karena sejujurnya ia tak mau Mahen pergi dari sana.


"Duh, harusnya tadi aku gak kasih izin. Mahen pasti diminta buat jemput Misha," lirih Khayra.


•


•


Keesokan harinya, Fabian mengajak Misha pergi ke mall untuk memanjakan wanitanya yang selalu membuatnya puas itu.


Fabian yang tengah sibuk dengan ponselnya pun dibuat terkejut saat Misha muncul dari belakang dan mendekat ke arahnya dengan senyum di wajahnya.


"Tuan!" Misha memanggil Fabian, suara imut nan manja khasnya membuat lelaki itu terpesona.


Fabian reflek menjauhkan matanya dari layar ponsel, lalu berdiri menatap Misha yang sangat cantik pagi ini.



"Misha, kamu kok bisa secantik ini sih? Saya sampai gak kedip lihatnya," ujar Fabian terperangah. Matanya tak henti-hentinya menatap wajah Misha yang memang terlihat beda hari ini.


"Ah tuan bisa aja, emang aku cantik? Perasaan aku gak cantik deh, masih cantikan nyonya Khayra kemana-mana kali," ucap Misha merendah.


Misha tersenyum malu saat merasakan sentuhan tangan Fabian, ia hendak menunduk tapi dengan cepat Fabian menghalanginya.


"Hayo, kebiasaan deh kalo lagi malu pasti mau nunduk. Kamu itu gak boleh sembunyiin wajah cantik kamu dari saya, Misha!" ujar Fabian.


"Iya tuan, maaf kebiasaan!" ucap Misha.


Fabian tersenyum lebar, bergerak semakin dekat dan mengikis jarak diantara mereka. Tiba-tiba satu tangannya merengkuh pinggang Misha, menariknya hingga menempel di tubuhnya dan dengan kilat ia mendaratkan kecupan pada bibir mungil wanita itu.


Cukup lama Fabian menyatukan bibirnya, Misha tak bergerak sedikitpun seolah memberi sinyal bahwa ia siap melakukan yang lebih dari itu.


Namun entah kenapa, Fabian melepas tautan bibirnya, membuat Misha agak kecewa dan mencibirkan bibirnya.


"Kenapa? Kamu minta dicium lebih lama lagi?" tanya Fabian menggoda sang wanita.


"Enggak tuan, kita berangkat sekarang aja yuk!" elak Misha.


"Kamu gak usah malu-malu gitu, bilang aja apa yang kamu mau dan pasti saya akan turuti itu!" ucap Fabian sensual, tanpa sadar lidahnya sudah menari-nari di cuping telinga sang kekasih membuat sang empu bergidik.


"Bibir kamu selalu menggoda sayang," ujarnya seraya membelai bibir mungil Misha.

__ADS_1


Cup!


Kembali Fabian mengecup bibir itu. Tak hanya kecupan, tetapi juga sebuah ******* dalam dan panas. Lidahnya menerobos masuk, menyusuri tiap inci rongga mulut wanitanya.


Cukup lama mereka saling berbagi liur dalam posisi berdiri, sampai tiba-tiba kemunculan Khayra membuyarkan momen panas mereka.


"Ehem ehem, nikmat banget ya ciuman pagi-pagi begini.."


Fabian menghentikan aktivitasnya, menoleh ke asal suara dan mengumpat kesal begitu melihat sang istri ada disana.


"Sial! Mau apa lagi sih kamu?!" ujar Fabian.


"Kenapa mas? Kamu kok marah sih didatengin sama istri sendiri? Harusnya aku loh yang marah, karena aku pergokin suami aku lagi ciuman sama wanita murahan ini," ucap Khayra santai.


Fabian bertambah emosi, ia melepas pinggang Misha dan beralih mendekati Khayra.


"Kamu benar-benar lancang Khayra!" geram Fabian.


"Apa mas? Kamu mau apa? Pukul aku, iya? Sini mas, pukul aja ayo! Kamu siksa aja fisik aku, jangan batin aku!" tantang Khayra.


"Cukup Khayra! Jangan bertindak seolah-olah kamu korbannya disini, jelas-jelas kamu itu yang salah, bukan aku!" bentak Fabian.


"Aku salah? Ya aku ngerti aku salah, tapi kamu juga gak benar mas! Apa kamu pikir dengan selingkuh itu bisa bikin semuanya selesai? Enggak mas!" ucap Khayra.


"Kamu mau apa sih sebenarnya? Aku kan udah bilang, jangan ganggu aku lagi!" tegas Fabian.


"Aku akan tetap ganggu kamu mas, sampai kamu sadar kalau perempuan itu cuma j a l a n g murahan yang gak tahu diri dan kamu mau balik lagi sama aku!" ujar Khayra.


"Dasar kurang ajar!" Fabian emosi dan hendak memukul Khayra, tetapi sebuah tangan besar menahannya dari depan.


Khayra mengeluarkan seringainya, Fabian pun melirik ke samping melihat Mahen berdiri disana menahan tangannya.


"Maaf tuan! Saya tidak bisa membiarkan tuan terus-terusan menyakiti bu Khayra, ini salah tuan!" ucap Mahen.


Fabian menggeleng pelan, menarik tangannya lepas dari cengkraman Mahen.


"Ohh, jadi kamu bela dia sekarang? Berarti benar kalau kamu suka sama dia? Kamu itu kerja untuk siapa sih sebenarnya Mahen?!" kesal Fabian.


"Saya cuma gak mau Bu Khayra tersakiti lagi, tuan." ucap Mahen.


"Kamu dengar itu kan mas? Asisten kamu aja lebih bela aku loh, kenapa kamu yang suami aku malah terus-terusan sakitin aku?" ujar Khayra.


"Baiklah, kalau kamu bela Khayra, itu tandanya kamu menentang saya Mahen. Mulai detik ini, kamu bukan asisten saya lagi!" ucap Fabian.


Mahen tersentak kaget, bukan ini sebenarnya yang dia inginkan karena ia masih ingin bekerja untuk Fabian.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2