
Dua insan masih saling beradu menyatukan tubuh mereka di atas ranjang yang empuk, sang pria terlihat begitu semangat dengan wanita di bawahnya juga tak kalah enerjik.
Decitan terdengar memenuhi ruangan, permainan yang panas itu makin bertambah seru saat tak lama lagi si pria mencapai puncaknya.
Suara-suara indah terus keluar dari mulut Misha, wanita itu amat lelah dan wajahnya dipenuhi oleh peluh yang menyeluruh. Entah sudah berapa kali Misha keluar, sedangkan si pria masih tampak berusaha mengejar puncaknya.
Fabian yang kini berada di atasnya tampak semakin bersemangat melihat ekspresi wanitanya. Dua tangannya terulur meraih bongkahan sintal Misha, bermain-main disana dengan lihai.
Bibir keduanya kini menyatu, namun tak menghilangkan suara yang dikeluarkan Misha.
Sampai akhirnya, keduanya sama-sama meraih kepuasan setelah hampir tiga jam lebih bergelut di ruangan itu.
Dari cuaca masih terang, hingga kini matahari sudah terbenam dan berganti sinar rembulan.
Fabian terbaring lelah di sebelah Misha, tanpa melepas sesuatu di bawah sana.
"Haaahhh, terimakasih sayang!" ucap Fabian dengan nafas yang memburu.
Cup!
Misha berbalik dan langsung mengecup bibir Fabian, menimbulkan reaksi kaget dari si pria yang juga spontan memegangi bibirnya.
"Kamu nakal ya sekarang!" ujar Fabian.
"Ahaha, bukannya kamu maunya aku kayak gitu?" Misha terkekeh sembari mengusap wajah Fabian dan menyeka keringat disana.
"Kamu keringetan banget, capek ya?" tanya Misha sedikit menggoda lelakinya.
"Yeah, tapi saya merasa puas setelah permainan kita tadi. Terimakasih ya cantik, kamu selalu bisa bikin saya puas!" jawab Fabian. Ia juga mulai menggerakkan tangannya mengelus pipi mulus sang wanita.
Misha tersenyum lebar, membenamkan wajahnya di dada Fabian. Miliknya saat ini sudah berhasil lepas dari sosis si pria, sehingga dia dapat bermanja-manja dengan pria itu.
Fabian juga tak mau kalah, dia menaruh wajahnya di ceruk leher Misha dan mengecupnya berkali-kali meninggalkan bekas disana.
"Kamu lapar?" suara Fabian yang serak itu terdengar menggoda di telinga Misha, entah mengapa Misha saat ini lebih mudah tergoda sejak bersama lelaki itu.
Misha mengangguk pelan, jujur dia memang menahan lapar sedari tadi. Namun, ia tak berani mengatakannya karena khawatir mengganggu momen indah mereka.
"Kalau begitu, biar saya yang masakin kamu!" ucap Fabian sembari mengusap kening wanitanya.
"Hah? Emang kamu bisa masak?" tanya Misha.
"Tentu, begini-begini saya ahli dalam memasak. Kalau kamu gak percaya, biar saya buktikan sama kamu!" jawab Fabian.
__ADS_1
"Boleh, aku gak sabar mau coba masakan tuan Fabian yang tampan ini," ucap Misha dengan nada menggoda, tangannya juga sudah mengelus jenggot tipis sang lelaki yang nampaknya kembali tergoda itu.
"Kamu jangan iseng deh! Pakai baju kamu, terus turun dan temui saya!" Fabian tak mau tergoda dengan tindakan Misha, ia khawatir Misha terluka jika ia melakukannya kembali.
Misha pun tersenyum lebar, membiarkan Fabian bangkit dan memakai semula pakaiannya.
Setelah itu, Fabian beranjak dari ranjang dan melangkah keluar kamar untuk langsung menuju dapur.
Sementara Misha masih terbaring disana dengan posisi miring menatap ke arah pintu, ia terpejam mengingat momen panas mereka tadi.
•
•
Misha turun ke bawah mengenakan baju tidurnya, menghampiri Fabian yang tengah berkutat di dapur dengan alat-alat masaknya.
Misha tersenyum menyaksikan itu, baru kali ini dia melihat pria seperti Fabian memasak di dapur. Padahal lelaki itu terlihat tak pandai melakukannya.
"Kamu masak apa?" tanya Misha sembari memeluk Fabian dari belakang, ia sengaja menempelkan aset atasnya ke punggung si pria bermaksud menggoda.
"Ampun, kamu benar-benar ngeselin ya! Saya bisa gak fokus kalo kamu begini terus," ujar Fabian.
"Biarin wle! Kamu aja suka gini waktu aku lagi masak, kenapa aku gak boleh?" cibir Misha.
"Udah, kamu tunggu aja di meja! Bentar lagi selesai kok, saya jamin kamu pasti suka sama masakan saya!" ucap Fabian melepaskan dua tangan Misha dari perut kekarnya.
"Okay! Tapi, kalau kamu perlu bantuan bilang aja sama aku ya! Siapa tahu aja kamu masih bingung buat pake alat-alat disini, secara kamu kan cowok," ucap Misha.
Fabian mencolek hidung Misha dengan gemas, "Siap sayang! Udah kamu sana tunggu di meja, jangan ganggu saya lagi masak atau nanti kamu saya makan disini!" ujarnya.
"Hihihi," kekeh Misha yang langsung berbalik dan melangkah pergi menuju meja makan.
Fabian menggeleng singkat, sebelum kembali melanjutkan masakannya. Belum pernah Fabian melakukan ini untuk perempuan lain, baru Misha seorang yang dia layani seperti ini.
Tak lama kemudian, masakannya pun telah siap dan Fabian langsung menyajikan itu untuk Misha yang sudah menunggu di meja makan.
"Tara! Ini dia sup salmon terenak di dunia buatan tuan muda Fabian," Misha terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Fabian, namun pandangannya teralihkan begitu melihat rupa makanan di atas meja.
Terdapat beberapa jenis makanan yang bahan dasarnya menggunakan ikan salmon, tentu Misha sangat kaget karena salmon adalah makanan favoritnya sewaktu kecil.
"Tuan, ini kok semuanya salmon sih? Tuan suka salmon ya?" tanya Misha.
"Betul! Saya dari kecil memang suka banget sama salmon, tapi alasan utama saya masak salmon hari ini bukan karena itu," ucap Fabian.
__ADS_1
"Lalu apa?" tanya Misha makin penasaran.
"Karena saya tahu, makanan favorit kamu itu salmon kan? Terutama steak salmon ini, benar begitu?" jawab Fabian.
Misha terkejut bukan main mendengarnya, darimana Fabian bisa tahu semua itu?
"Kok tuan bisa tahu kalau aku suka salmon? Perasaan aku belum pernah bilang begitu deh sama tuan," tanya Misha heran.
"Kamu kayak gak tahu saya aja, apapun pasti bisa saya cari tahu kalau saya mau. Itu semua mudah untuk saya lakukan," jelas Fabian.
"Terimakasih ya tuan!" Misha tersenyum dan memeluk Fabian dengan erat. Dia memang pernah hidup bahagia dulu, tapi semua mendadak berubah karena sebuah kejadian kelam yang menimpa keluarganya.
•
•
Setelah acara makan malam itu, kini Fabian dan Misha kembali ke ranjang besar mereka. Fabian menggendong tubuh wanita itu lalu membaringkannya di atas ranjang.
Tak lupa Fabian menutup pintu, kemudian naik ke ranjang menyusul Misha. Dia mendekati Misha yang tersenyum menatapnya seperti minta dibuahi.
Fabian perlahan membuka satu persatu kancing baju tidur Misha, sampai dihentikan oleh tangan wanita itu setelah ia mengingat sesuatu.
"Ada apa sayang?" tanya Fabian.
"Tuan beneran mau lagi? Emang tuan gak capek? Tadi kan kita udah main lama," Misha balik bertanya pada Fabian. Tentu saja dia sebenarnya amat lelah dan tidak mau melakukannya lagi.
"Iya, saya mau. Saya tidak pernah lelah sayang, tubuh kamu terlalu candu untuk saya," bisik Fabian sensual di telinga Misha, sesekali dia menggigit daun telinga wanita itu.
"Eenngghh, ta-tapi tuan..." Misha tak sanggup melanjutkan kata-katanya, Fabian sudah lebih dulu melepas pakaian atasnya hingga kini dapat terlihat jelas dua bongkahan kembar itu.
Tanpa berpikir panjang, Fabian langsung saja melahap keduanya secara bergantian. Tangannya juga tak didiamkan begitu saja, ia mulai mengelus mutiara Misha di bawah sana secara lembut.
"Cu-cukuphh tuan!" pinta Misha sembari mendorong kepala Fabian menjauh darinya.
"Kamu kenapa sih?!" tanya Fabian sedikit sewot.
"Aku baru ingat, aku belum ngerjain pr buat besok. Tuan tahan dulu ya keinginannya, aku gak mau kena hukum sama guru!" jelas Misha.
"Apa??!" Fabian menggeram kesal, gairahnya sudah memuncak tetapi dia juga tak mau memaksa Misha melakukannya saat ini.
Akhirnya batal lah Fabian mendapat jatah malam ini, dia terpaksa menyelesaikan sendiri di kamar mandi dengan tangannya, sedangkan Misha terkekeh kecil dan beranjak menuju meja belajar.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...