
Misha kini tengah membuatkan kopi untuk Fabian begitu sampai di tempat tinggal mereka.
Namun, tiba-tiba saja lengan kekar melingkar di pinggangnya dan membuat wanita itu meremang.
"Mas, apa-apaan sih kamu?" protes Misha begitu menyadari yang memeluknya adalah Fabian, namun yang ia dapati hanya senyuman tipis dari lelaki itu.
Fabian semakin mengeratkan pelukannya, kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Kamu lagi kenapa sih mas?" tanya Misha heran dengan tingkah suaminya, lelaki itu memang setiap hari selalu manja padanya, namun tidak semanja sekarang.
"Gak kok, saya cuma pengen peluk kamu sambil hirup wangi tubuh kamu aja. Emang salah ya kalau saya lakuin itu ke istri saya sendiri?" jawab Fabian seraya menyingkap kaos Misha ke atas.
"Mas ih!" Misha tentu terkejut dengan tindakan suaminya, apalagi lelaki itu mulai mere-mas pegunungan sintal miliknya.
"Selalu enak diremas seperti ini," ujar Fabian.
"Udah ya mas, ini kopi kamu keburu dingin. Tadi kan kamu bilangnya mau ngopi dulu sebelum sarapan, giliran aku udah buatin eh kamu malah kayak gini!" ucap Misha yang mati-matian menahan hasratnya saat ini.
"Udah gapapa, yang penting kamu gak dingin sama saya," kekeh Fabian.
"Haish, udah dulu mas mesumnya nanti lagi ya? Aku masih harus beberes rumah, kan kita disini gak punya pembantu," ucap Misha.
"Kamu mau kita punya pembantu? Oke, nanti saya carikan orang yang tepat ya!" ucap Fabian.
"Terserah kamu deh, intinya sekarang kamu lepasin aku dulu mas!" pinta Misha.
"Gak mau sayang, saya lagi pengen remas gunung kamu ini. Lagian emangnya kamu gak ngerasa enak apa?" ucap Fabian sembari menguatkan remasan nya.
"Mmhhh masshh!!" Misha memekik saat dua tangan Fabian terus memainkan bagian atasnya seolah tak ingin berhenti.
"Iya iya, tuh kan kamu suka. Saya bakal bikin kamu enak pagi ini," ucap Fabian.
Tanpa menunggu jawaban Misha, lelaki itu langsung mengangkat tubuhnya dan menaruhnya di atas pantry sambil terus mere-mas bagian atasnya.
Misha tak henti-hentinya melenguh merasakan sentuhan yang diberikan sang suami, meski dia sudah seringkali diperlakukan seperti itu olehnya.
"Ahh mas udah ah!" pinta Misha, namun tentu tak digubris oleh Fabian yang sudah tidak bisa lagi menahan gairahnya.
Bahkan, dengan cekatan Fabian melepas kaos yang menutupi tubuh Misha sehingga kini wanita itu setengah telanjang.
Fabian menyeringai melihat ekspresi kaget Misha, dia senang jika Misha menunjukkan wajah kaget atau cemasnya itu, entah mengapa hal tersebut menambah gairahnya.
__ADS_1
Baru saja Fabian hendak melahap puncak gunung Misha, namun bel rumahnya lebih dulu berbunyi.
Ting nong ting nong
"Mas, itu ada yang datang. Kita bisa lanjutin ini lagi nanti, sekarang kamu buka dulu ya pintunya mas!" ucap Misha menenangkan suaminya.
"Ah sial! Saya lagi butuh pelepasan Misha, saya gak bisa tahan lagi!" geram Fabian.
"Sabar mas! Kita lihat dulu ke depan siapa yang datang, nanti kan begitu tamunya pulang, kita bisa lanjut lagi sepuas kamu," ujar Misha.
"Bener ya sepuas saya? Awas aja nanti kamu minta berhenti pas di tengah-tengah!" ucap Fabian. Oh sungguh ekspresi lelaki itu membuat Misha gemas.
"Ahaha, iya mas iya.." Misha terkekeh kemudian mengambil kaosnya yang tergeletak di lantai itu dan memakainya kembali.
"Yaudah, saya cek ke depan dulu. Kamu bawa kopinya ke ruang tamu ya!" perintah Fabian.
"Iya mas," singkat Misha.
Fabian pun melangkah ke pintu depan, sedangkan Misha melakukan apa yang diperintahkan lelaki itu padanya.
•
•
Fabian membuka pintu, dilihatnya sosok lelaki muda berdiri disana menghadap ke arahnya dengan senyum terurai.
Fabian menatap penuh curiga, ia kenal betul bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah teman sekolah Misha, yakni Rully.
"Halo bang! Saya Rully teman sekolah Misha, saya bisa ketemu dengan Misha?" ucap Rully.
Mata Fabian melotot tajam, bisa-bisanya ada lelaki yang dengan terang-terangan ingin menemui istrinya saat ini.
"Ada urusan apa kamu sama Misha?" tanya Fabian dengan tegas.
"Eee saya cuma mau bicara sama dia, kita kan udah lumayan lama juga gak ketemu sejak terakhir kali waktu kelulusan itu. Boleh kan saya temuin Misha?" jawab Rully dengan santai.
"Misha itu istri saya, kamu gak bisa sembarangan minta izin buat temuin dia!" ujar Fabian.
"Kenapa begitu bang? Apa kamu cemburu kalau saya temuin Misha?" tanya Rully.
"Kamu tahu jawabannya, jadi sekarang kamu pergi dan jangan pernah kembali!" kesal Fabian.
__ADS_1
"Kamu tenang aja! Saya kesini bukan mau rebut Misha dari kamu, saya kan udah bilang kalau saya cuma pengen ngobrol santai sama dia. Hanya itu, apa salah?" ucap Rully meyakinkan Fabian.
"Tetap saja saya tidak suka ada laki-laki lain yang mendekati istri saya, meskipun dia temannya. Saya bisa tahu niat terselubung kamu," ucap Fabian.
"Baiklah, tapi apa Misha juga tidak mau menemui saya? Sebaiknya kamu tanya dulu ke Misha, saya yakin kok dia mau bertemu dan bahkan bicara sama saya!" ujar Rully.
"Jangan memancing amarah saya!" geram Fabian.
"Saya hanya ingin bicara dengan Misha, saya gak punya maksud lain," tegas Rully.
"Saya kan sudah bilang gak boleh, kenapa kamu maksa sekali mau ketemu Misha?!" kesal Fabian.
"Ya karena saya rasa gak ada salahnya kalau saya menemui Misha sekarang," ucap Rully.
Fabian menggelengkan kepalanya dengan dua tangan terkepal, baru saja ia berniat maju dan memberi pukulan pada Rully, namun tiba-tiba Misha muncul dari dalam rumahnya menyela apa yang hendak dilakukan Fabian itu.
"Mas, siapa yang datang sih?" tanya Misha. Ia lalu terkejut saat mengetahui Rully ada di depan rumahnya bersama Fabian.
"Loh Rully? Ka-kamu ngapain disini? Tahu darimana kamu rumah aku?" heran Misha.
"Hai Misha! Iya, aku tau rumah kamu dari Elin. Aku kesini cuma mau ngobrol-ngobrol sama kamu, sekalian temu kangen," ucap Rully.
Fabian semakin geram mendengar ucapan Rully.
"Ohh, yaudah masuk aja yuk ke dalam! Boleh kan mas kalau Rully masuk?" ucap Misha lebih dulu meminta izin pada suaminya.
"Terserah." Misha sangat heran mendengar jawaban suaminya, apalagi setelah itu Fabian langsung pergi meninggalkan dirinya.
"Suami kamu kenapa sih cemburuan banget?" tanya Rully pada Misha.
"Umm, gak tahu juga sih. Kayaknya emang iya deh dia cemburu sama kamu, soalnya dia gak bolehin aku dekat-dekat dengan lelaki lain. Maaf banget ya Rul, kayaknya kita gak bisa lanjut ngobrol sekarang deh soalnya situasinya gak mengenakan! Kamu pulang aja dulu ya?" jelas Misha.
"Oke gapapa, demi kamu aku nurut aja. Tapi, lain kali kita bicara berdua di luar ya?" ujar Rully.
"Ya ya, itu dibahas nanti aja!" ucap Misha.
"Aku pamit ya? Maaf udah ganggu pagi kamu dan suami kamu!" ucap Rully.
"No problem," singkat Misha.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...