
Selang beberapa hari, Fabian kembali ke rumah papanya untuk mencoba membujuk sang papa agar mau keluar menemui ayah Misha dan meminta maaf secara langsung padanya.
Itu adalah salah satu syarat yang diberikan Misha pada Fabian, wanita itu tidak mau menikah dengan Fabian jika Dominic belum menemui ayahnya dan menyampaikan permintaan maafnya.
"Saya harus berhasil bujuk papa sampai mau minta maaf sama ayah Hardi!" gumam Fabian.
Lelaki itu turun dari mobil, bergerak dengan cepat memasuki halaman rumah Dominic sambil terus berharap papanya mau menuruti kemauannya.
"Tuan muda!"
Namun, suara panggilan itu membuat langkah Fabian terhenti. Ia segera menolehkan wajahnya ke asal suara dan melihat sosok Mahen, mantan asistennya yang tengah berdiri disana.
"Mahen? Kenapa kamu datang kesini?" tanya Fabian singkat.
"Maaf tuan muda jika saya mengganggu! Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu pada tuan muda," jawab Mahen seraya mengambil sesuatu dari saku bajunya.
"Apa itu?" tanya Fabian penasaran.
"Ini undangan pernikahan saya dengan Bu Khayra, kami berdua sudah sepakat untuk menikah dalam waktu dekat. Saya harap tuan muda dan keluarga mau datang ke acara ini, karena saya masih menganggap tuan muda sebagai keluarga saya!" jelas Mahen.
Seketika Fabian terkejut mendengarnya, baru kemarin rasanya Khayra meminta tanggung jawab darinya, tetapi sekarang Mahen sudah datang mengatakan berita aneh itu.
"Apa? Kamu akan menikahi Khayra, yang benar saja Mahen?! Apa kamu tahu kalau Khayra sedang mengandung anak saya?" tanya Fabian curiga.
"Ya tuan muda, saya tahu." jawabnya.
"Lalu, mengapa kamu ingin menikahi dia? Apa dia memaksa kamu?" tanya Fabian lagi.
"Tidak tuan muda, justru saya sendiri yang ingin menikahi Bu Khayra dan bertanggung jawab atas bayi itu. Saya tidak mau beliau tersiksa karena mengurus bayi itu tanpa sosok suami," jawabnya.
"Baguslah, mungkin saja itu bukan bayi saya dan malah anak kamu," ujar Fabian.
"Tentu tidak mungkin tuan muda, saya bersumpah selama ini saya tidak pernah menyentuh Bu Khayra!" elak Mahen.
"Ah masa? Kamu kan dekat sama dia, masa gak pernah begituan?" tanya Fabian.
"Benar tuan, tuan muda bisa percayai saya. Anak yang dikandung Bu Khayra adalah anak anda tuan muda, dan saya melakukan ini semua hanya karena saya ingin membantu Bu Khayra," jawab Mahen.
"Yasudah, saya ambil undangannya ya? Nanti saya akan datang bersama istri saya Misha, terimakasih Mahen karena masih mengingat saya!" ucap Fabian mengambil undangan tersebut.
"Sama-sama tuan, biar gimanapun dulu saya pernah lama bekerja untuk anda," ucap Mahen.
Setelahnya, Mahen pun pamit dari sana untuk kembali ke rumah Khayra.
__ADS_1
"Tuan muda, saya mohon izin pamit!" ujar Mahen.
"Ya silahkan!" singkat Fabian.
Mahen berbalik dan melangkah menuju mobilnya, sedangkan Fabian melihat undangan pernikahan itu sejenak sebelum masuk ke rumahnya.
"Syukurlah! Sekarang masalah Khayra sudah selesai, untung saja ada Mahen yang mau menikahi Khayra! Jadi, saya tidak perlu pusing memikirkan wanita ini," lirih Fabian.
Baru saja Fabian hendak melangkah, lagi-lagi kakinya terhenti dengan kemunculan Dominic yang terlihat panik.
"Fabian! Syukurlah kamu datang Fabian, kamu harus tolong papa!" ujar Dominic.
"Hah? Ada apa ini pa? Kenapa papa kelihatan panik begitu?" tanya Fabian.
"Perusahaan papa sedang dalam masalah besar, papa bisa bangkrut Fabian!" jawab Dominic.
"Bangkrut? Mengapa bisa begitu pa? Memangnya apa yang terjadi?" tanya Fabian heran.
"Papa juga gak ngerti, semuanya terjadi secara tiba-tiba. Kamu harus tolong papa, Fabian!" ucap Dominic.
Fabian hanya diam kebingungan, baru saja ia senang karena masalah Khayra selesai, namun ternyata kesenangannya hanya bertahan sebentar.
•
•
Ucapan lirih itu dilontarkan oleh Ashraf, dia masih saja menganggap Dominic adalah musuhnya yang harus dihancurkan karena sudah membuat keluarga pamannya hancur.
Meskipun ia tak mendapat izin pamannya maupun Misha untuk melakukan balas dendam, namun tekad Ashraf sudah bulat dan dia pun melakukan semua itu secara diam-diam.
"Ternyata begitu mudah untuk meretas situs perusahaan tuan Alvan itu, saya gak nyangka kalau semuanya akan semudah ini!" gumamnya.
"Kak!" Ashraf dikejutkan dengan suara perempuan yang memanggilnya dari arah pintu.
"Misha?" lelaki itu terkejut bukan main, ia spontan bangkit dari duduknya dan menghadap ke arah Misha.
"Ka-kamu sejak kapan ada disitu? Kenapa gak ketuk pintu dulu?" tanya Ashraf gugup.
"Maaf kak! Tadinya aku mau ketuk pintu, tapi aku gak sengaja dengar ucapan kakak tentang papa Dominic," jawab Misha.
Ashraf pun terlihat panik, dia khawatir kalau Misha mendengar semua ucapannya tadi.
"Duh sial! Ngapain sih Misha pake datang segala? Dia dengar semua kata-kata saya gak ya?" gumam Ashraf dalam hati.
__ADS_1
"Maksud kakak bicara begitu tadi apa? Kakak mau balas dendam sama papa Dominic?" tanya Misha.
"Hah??" kaget Ashraf. Dia berusaha mencari cara untuk membuat Misha tak curiga padanya.
"Benar begitu kan kak? Iya kan?" Misha terus mencecar sepupunya itu.
"Kamu ngomong apa sih? Siapa yang balas dendam coba?" elak Ashraf.
"Kak, kakak gausah bohong deh sama aku! Aku dengar sendiri kok tadi kakak ngomong kalau kakak mau hancurin hidup papa Dominic! Itu apa namanya kalau bukan balas dendam?" ujar Misha.
"Misha cukup ya! Saya lagi gak mau debat sama kamu soal ini, jadi sebaiknya kamu keluar dan jangan ganggu saya!" ucap Ashraf.
"Aku gak bakal keluar kak, sebelum kakak ngaku sama aku!" tegas Misha.
"Ngaku apa sih? Kamu itu salah dengar Misha, buat apa juga saya hancurin hidup Dominic? Sudah, kamu pergi sana!" ujar Ashraf.
"Enggak kak, aku gak mungkin salah dengar. Mending kakak ngaku aja deh!" ucap Misha.
"Huft, kamu kenapa gak percayaan banget sih sama sepupu kamu sendiri? Saya gak ada niatan buat balas dendam," ujar Ashraf.
"Terus, kenapa kakak meretas situs perusahaan milik papa Dominic??" tanya Misha.
Ashraf kembali dibuat kaget dengan pertanyaan Misha, rupanya wanita itu memang mendengar semua yang dia bicarakan tadi.
"Kenapa diam kak? Jawab pertanyaan aku!" tegas Misha.
"Ya okay! Saya emang melakukan semua itu untuk balas dendam, puas kamu?!" jawab Ashraf.
Misha menggeleng tak percaya.
"Kak, kenapa kak Ashraf ngelakuin itu semua? Papa Dominic itu calon mertua aku, gak seharusnya kakak melakukan itu sama dia!" ujar Misha.
"Maaf Misha! Saya masih gak rela aja Dominic bisa hidup tenang dan damai sampai sekarang, sedangkan kita? Kita hidup susah selama bertahun-tahun Misha, dan itu karena siapa? Karena Dominic Alvansyah yang kejam itu!" ucap Ashraf.
Misha terdiam memalingkan wajahnya, Ashraf pun maju mendekat dan memegang kedua bahunya.
"Kamu dengerin saya ya Misha! Semua ini saya lakukan demi kebaikan kita, seharusnya kamu itu dukung saya bukan malah bela orang jahat seperti Dominic! Dia yang udah bikin hidup kamu hancur Misha!" ucap Ashraf.
Misha tetap diam menatap wajah Ashraf, sepertinya wanita itu mulai terpengaruh dengan apa yang diucapkan Ashraf.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1