
Setelah memberikan hukuman untuk Khayra, kini Fabian melangkah keluar rumahnya dengan senyum lega menghiasi bibirnya. Dia menatap sekeliling, menghampiri asistennya yang juga sudah bersiaga di depan sana.
"Mahen!" panggilnya. Sontak sang asisten langsung menoleh dan menghadap ke arahnya.
"Ya tuan muda, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Mahen.
"Tentu, sekitar tiga puluh menit lagi, saya minta kamu masuk ke kamar saya dan bebaskan Khayra di kamar mandi! Ini kuncinya!" jawab Fabian seraya menyerahkan kunci kamar mandi kepada Mahen.
Mahen terlihat bingung menatap kunci tersebut, ia tak mengerti mengapa Fabian memintanya untuk membebaskan Khayra dari kamar mandi.
"Kenapa begitu tuan muda?" tanya Mahen heran.
"Sudahlah, kamu tidak usah banyak tanya! Lakukan saja perintah saya tadi, saya tidak suka kalau kamu kebanyakan nanya!" bentak Fabian.
"Maaf tuan! Baik, nanti saya akan bebaskan Bu Khayra!" ucap Mahen patuh.
"Oh ya, Khayra tadi saya tinggal tanpa pakaian. Dia juga terikat dan tidak bisa apa-apa, jadi kalau kamu mau cicipi tubuh dia dulu silahkan aja!" bisik Fabian di telinga asistennya.
Seketika itu juga tubuh Mahen meremang, bayangan mengenai tubuh polos Khayra terlintas di pikirannya saat ini.
"Tidak tuan, saya tidak mungkin melakukan itu. Saya masih menghormati Bu Khayra sebagai istri tuan, jadi saya juga harus bersikap sopan kepadanya," ucap Mahen menolak.
"Kamu yakin? Saya tahu loh Mahen, kamu sangat ingin melakukan itu bukan?" goda Fabian yang semakin membuat Mahen salah tingkah. "Selama ini kamu selalu menahan gairah kamu, karena kamu tidak memiliki kekasih. Lantas kenapa kamu tidak mau mencobanya dengan Khayra? Dia enak juga kok, saya baru memakainya satu kali dan saya rasa miliknya belum terlalu lebar," sambungnya.
"Ah tidak tuan, saya tidak berani. Saya hanya akan menyelamatkan Bu Khayra nanti," ucap Mahen.
"Baiklah, itu terserah kamu! Yang penting saya sudah memberi izin pada kamu," ucap Fabian.
"Ya tuan, saya mengerti!" ujar Mahen.
"Yasudah, saya permisi dulu!" ucap Fabian.
Fabian pun bergerak menuju mobilnya, namun tiba-tiba Mahen mengejarnya dan menahan Fabian yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Eee tunggu tuan!" Mahen berteriak cukup keras.
"Ada apa lagi sih Mahen? Kamu berubah pikiran? Yaudah, kamu nanti langsung aja setubuhi Khayra! Saya kan udah kasih izin ke kamu, jadi kamu gak perlu minta izin lagi sama saya!" ujar Fabian.
"Tidak tuan, ini bukan soal itu," elak Mahen.
"Lalu apa?" tanya Fabian.
"Saya cuma penasaran, kenapa tuan melakukan ini pada Bu Khayra?" jelas Mahen.
"Ya karena saya mau balas perbuatan dia, kamu kan tahu sendiri dia udah sakitin Misha di rumah papa tadi. Saya jelas gak terima dong Mahen, bagi saya ini balasan yang setimpal untuk Khayra!" ucap Fabian.
"Tapi tuan, bagaimana kalau Bu Khayra kenapa-napa di dalam toilet nanti?" tanya Mahen.
__ADS_1
"Makanya saya minta kamu buat bebasin dia tiga puluh menit dari sekarang, supaya dia gak kenapa-napa," jawab Fabian.
"Eee kalau sekarang saja bagaimana tuan muda?" tanya Mahen.
"Boleh, silahkan aja! Tapi, nanti gantian kamu yang saya hukum pancung!" jawab Fabian.
Mahen tersentak kaget, seketika dia mengurungkan niatnya untuk menolong Khayra saat ini.
"Maaf tuan! Saya tidak jadi membantu Bu Khayra sekarang, saya ikuti saja perintah tuan," ujar Mahen.
"Ya bagus! Yasudah, saya permisi?" ucap Fabian.
"Baik tuan, hati-hati!" ucap Mahen.
Fabian mengangguk, kemudian masuk ke mobil. Sementara Mahen terlihat bingung dan cemas, dia khawatir pada kondisi Khayra, tetapi dia juga tak berani melawan perintah bosnya.
"Aduh! Saya jadi bingung harus ngapain sekarang," gumam Mahen.
•
•
30 menit kemudian...
Setengah jam setelah kepergian Fabian, kini Mahen masuk ke dalam rumah bosnya itu untuk menyelamatkan Khayra sesuai perintah Fabian.
Namun, Mahen justru dihadang oleh pelayan yang bekerja disana, mengingat Mahen hendak memasuki kamar Fabian dan Khayra.
"Eh bibik? Ini bik, saya diperintahkan tuan muda untuk membantu Bu Khayra di dalam sana," jawab Mahen.
"Oh begitu, memangnya Bu Khayra kenapa pak? Kok pake dibantu segala?" tanya si pelayan.
Mahen terdiam bingung.
"Duh, kalau saya ceritakan semuanya sama bik Anar nanti pasti bibik bakal mikir yang enggak-enggak sama tuan muda. Saya bohong aja deh," batin Mahen.
"Eee gapapa kok bik, yaudah ya saya masuk dulu? Takut Bu Khayra keburu marah nanti," ucap Mahen.
"Eh iya iya pak, silahkan!" ucap bik Anar memberi jalan.
Mahen tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar Fabian dan menutup pintu dengan cepat agar tak ada siapapun yang mengetahuinya.
"Saya harus cepat!" lirih Mahen.
Mahen bergegas menuju kamar mandi, membuka pintu dengan kunci yang diberikan Fabian tadi. Ia terlihat sangat cemas memikirkan kondisi Khayra di dalam sana.
Ceklek
__ADS_1
Pintu terbuka, Mahen terbelalak melihat Khayra tak sadarkan diri dengan kondisi tanpa busana dan tangan kaki terikat.
Sontak Mahen langsung bergerak menghampiri Khayra, walaupun ia sesekali memejamkan mata melihat tubuh polos Khayra.
"Aduh! Tuan muda tega banget sih sama istri sendiri!" ujar Mahen seraya mematikan shower.
Mahen tampak bingung saat hendak membawa Khayra pergi keluar, dia tak berani menyentuh tubuh polos istri bosnya itu.
"Haish, saya harus gimana ini? Masa iya saya sentuh tubuh Bu Khayra gitu aja?" gumamnya.
"Ah gapapa deh, saya gak punya pilihan lain! Bu Khayra harus diselamatkan!" pikirnya.
Akhirnya Mahen memberanikan diri untuk menggendong tubuh Khayra, dia membawa wanita itu keluar kamar mandi dan meletakkannya di atas ranjang.
Mahen membuka ikatan pada tangan dan kaki Khayra, lalu mengambil handuk serta satu set pakaian untuk Khayra. Perlahan ia mengeringkan tubuh Khayra dengan handuk itu.
"Maafin saya ya Bu! Bukan maksud saya untuk lancang, tapi saya gak punya pilihan lain," lirih Mahen.
Sebagai lelaki normal, tentu Mahen merasakan sesuatu mengeras di bawah sana saat ia menyentuh tubuh Khayra meski beralaskan handuk.
"Aaarrgghh tahan Mahen! Kamu gak boleh kayak gitu, Bu Khayra itu istrinya tuan muda!" ujar Mahen.
Saat ia hendak memakaikan baju untuk Khayra, tiba-tiba tanpa sengaja tangannya menyenggol bongkahan milik wanita itu.
"Duh, kesenggol lagi!" ucapnya reflek.
"Punyanya Bu Khayra masih segar banget, kayak bukan perempuan yang sudah menikah. Saya jadi pengen pegang lagi," gumam Mahen.
Insting lelakinya menjalar kuat, membuat Mahen tak tahan lagi. Perlahan dia mendekatkan tangannya ke bongkahan indah itu, ditatapnya bola kenyal tersebut dengan tatapan bergairah.
Ceklek..
"Astaghfirullah!" Mahen terkejut saat mendengar suara teriakan bik Anar. Ia reflek menjauhkan tangannya dan menatap ke arah pintu.
"Ih, pak Mahen mau apa? Itu kok Bu Khayra gak pake baju?" tanya bik Anar yang masih syok.
"Eee bibik jangan salah paham dulu! Saya gak ada maksud buat apa-apain Bu Khayra," jawab Mahen gugup.
"Bohong! Tadi saya lihat sendiri, pak Mahen mau sentuh punyanya Bu Khayra. Bapak mau saya laporin ke tuan muda?!" ujar bik Anar.
"Hah? Eh eh, jangan bik! Saya itu cuma mau pakein baju buat bu Khayra, saya mana mungkin berani begitu?!" elak Mahen.
"Yasudah, biar saya aja yang pakaikan Bu Khayra baju. Ini kan tugas perempuan, sana pak Mahen keluar!" sentak bik Anar.
"I-i-iya bik," ucap Mahen.
Mahen pun melangkah keluar dengan sedikit kecewa sekaligus menyesal karena sempat berniat melecehkan istri bosnya sendiri.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...