
Setelah menyelesaikan kegiatan panasnya yang cukup bergairah, Fabian bangkit dari sofa dan membiarkan Misha beristirahat disana karena wanita itu tampak sangat lelah.
Fabian tersenyum lebar, mengusap wajah penuh keringat Misha dan memberi kecupan manis disana.
"Sayang, saya pergi dulu ya? Kamu disini aja istirahat, nanti saya balik lagi buat jemput kamu dan antar kamu pulang." bisik Fabian di telinga Misha.
Cup!
Tak lupa ia mengecup bibir mungil Misha dan mengelusnya singkat.
"Saya harus temui Zya!" ujarnya.
Fabian pun melangkah keluar dari ruangannya, pergi menuju tempat sekretarisnya berada untuk bertanya mengenai kejadian obat panas tadi.
Setibanya di depan ruang Zya, Fabian langsung saja membuka pintu dan masuk ke dalam, membuat Zya merasa terkejut.
Ceklek..
"Zya, saya mau bicara sama kamu!" tegas Fabian.
"Hah? Pak Fabian??" kaget Zya, ia berdiri dari kursinya dan maju mendekati bosnya. "Ada apa ya pak? Apa ada masalah?" sambungnya bertanya pada Fabian.
"Ya memang ada masalah, ini karena minuman yang kamu bawa untuk saya tadi," ujar Fabian.
"Minuman? Kenapa emang sama minuman itu pak?" tanya Zya dengan wajah polosnya.
"Kamu tidak usah pura-pura tidak tahu! Saya yakin banget, kamu kan yang kasih obat p e r a n g s a n g di dalam minuman itu?!" sentak Fabian.
"Hah??" Zya menganga lebar, memalingkan wajahnya dan terlihat bingung.
"Duh, kok pak Fabian tuduh aku sih? Gimana ya jawabnya ini?" batin Zya.
"JAWAB ZYA!!" bentak Fabian, ia terlihat emosi pada sekretarisnya itu.
"I-i-iya pak, saya mohon maaf! Emang saya yang udah taburin obat itu di minuman bapak, tapi saya gak ada maksud apa-apa kok pak," ucap Zya gugup.
"Jadi, apa maksud kamu kasih obat itu di minuman saya? Kamu jawab yang jujur Zya!" tegas Fabian.
"Eee sa-saya.." Zya tampak gugup dan bingung saat dicecar secara terus-menerus oleh Fabian.
Karena sudah tidak sabar lagi, Fabian langsung menarik tangan Zya dan membawanya keluar dari ruangan itu dengan paksa.
"Ayo ikut saya!" ucap Fabian.
"Pak, saya mau dibawa kemana pak? Ampuni saya pak, saya minta maaf!" Zya terus memohon dan memelas pada Fabian, tetapi tak digubris.
Kini Zya dibawa ke ruang HRD, Charlie selaku manager HRD disana pun terkejut dengan kemunculan Fabian secara tiba-tiba di ruangannya.
"Pak Charlie!" panggil Fabian dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Pak Fabian? Zya? Ada apa ini?" tanya Charlie kebingungan.
"Ayo maju!" seru Fabian menarik tangan Zya.
Zya pun menurut saja mengikuti langkah kaki Fabian, mereka duduk di kursi berhadapan dengan Charlie yang masih terlihat bingung.
"Saya mau pak Charlie berikan surat pemecatan untuk Zya sekarang juga!" tegas Fabian.
"Apa? Tapi pak, kenapa saya harus lakukan itu? Apa kesalahan Zya?" tanya Charlie terkejut.
"Zya sudah melakukan kesalahan fatal, dia hampir mencelakakan saya sebagai bosnya. Dia pantas dihukum, dan pemecatan adalah hukuman yang setimpal untuknya!" jelas Fabian.
"Hah? Zya, kenapa kamu melakukan itu sama pak Fabian? Apa kamu tidak menginginkan pekerjaan ini?" ujar Charlie.
"Enggak pak, saya gak berniat mencelakakan pak Fabian. Saya itu cuma mau kasih kejutan aja," elak Zya.
"Kejutan apa yang kamu maksud? Dengan memberikan obat kuat di minuman saya, iya? Itu suatu kelancangan Zya!" sentak Fabian.
"Ti-tidak pak, bukan itu maksud saya. Saya menaruh obat itu supaya bapak dan pasangan bapak di dalam bisa semakin bergairah, hanya itu kok pak. Kalau bapak tidak berkenan, tolong maafkan saya pak!" bohong Zya.
Fabian menatap tajam wajah Zya, ia menemukan tanda kebohongan disana dan membuatnya semakin emosi pada wanita itu.
"Kamu bohong Zya! Bukan itu alasan kamu, cepat kamu katakan saja yang sejujurnya! Kamu ingin menjebak saya, iya kan?!" Fabian berbicara tegas dan menatap tajam ke arah Zya.
"Saya gak bohong pak, saya serius. Sekarang kalau bapak emang mau memecat saya, baiklah saya terima keputusan bapak. Silahkan saja bapak pecat saya!" ucap Zya pasrah.
Fabian terdiam, sesungguhnya ia juga tak mau memecat Zya karena wanita itu adalah salah satu karyawan terbaiknya.
"Tidak masalah pak," ucap Charlie.
Setelahnya, Fabian pun bangkit dan melangkah keluar dari ruangan itu meninggalkan Charlie serta Zya berduaan.
"Pak, saya gimana ini?" tanya Zya cemas.
Charlie hanya menggeleng sembari menaikkan kedua bahunya.
•
•
Sementara itu, Misha tersadar dari tidurnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing dan perlahan terduduk di sofa.
Misha menatap sekeliling, merasa heran karena disana tidak ada siapapun yang bisa ia temui di ruangan itu.
"Loh, tuan Fabian kemana ya? Kok aku ditinggal sendiri sih?" gumam Misha.
Perlahan Misha bangkit dari sofa dengan berpegangan pada pinggiran sofa itu dan terus meringis menahan sakit, ya bisa dibayangkan betapa perihnya milik Misha karena digempur berkali-kali oleh Fabian tadi.
Ditambah, Misha juga mengkonsumsi obat kuat pemberian Zya yang membuat kepalanya terasa sakit dan pusing.
__ADS_1
"Aku coba cari tuan Fabian ke luar deh," ucapnya lirih. "Awhh sshh!!" baru melangkah ia sudah merasakan sakit yang amat sangat pada bagian bawahnya.
"Duh, sakit banget ih!" rintihnya.
Ceklek..
Tiba-tiba pintu terbuka, membuat Misha kaget dan spontan menoleh ke arah pintu.
"Tuan Fabian??!" kaget Misha.
"Misha, kamu ngapain sih?" Fabian bergerak cepat menghampiri Misha dan memegangi tubuh wanita itu agar tak terjatuh.
"Aku tadi mau cari kamu, abisnya aku ditinggal sendiri disini. Kamu darimana aja sih tuan?" jelas Misha.
"Eee tadi saya keluar sebentar, maaf ya sayang! Tapi, kamu gapapa kan?" ujar Fabian cemas.
"Aku baik kok, cuma sakit sedikit di bagian bawah aku. Gara-gara tuan juga tadi terlalu bersemangat," ucap Misha.
"Hehe, maafin saya ya! Itu kan efek obat kuat, jadi saya gak bisa kendalikan diri saya," ucap Fabian.
"Ya gapapa tuan, aku ngerti kok. Sekarang aku udah boleh pulang kan tuan?" ucap Misha.
"Kamu mau pulang? Tapi, kerjaan saya masih banyak sayang. Saya gak bisa anterin kamu pulang sekarang," ucap Fabian.
"Gapapa, aku bisa pulang sendiri kok. Tuan disini aja urusin kerjaan tuan," ucap Misha.
"Eh jangan lah! Kamu diantar Mahen ya? Saya gak bisa biarin kamu pergi sendiri, nanti kalau kamu kenapa-napa gimana?" ucap Fabian.
"Terserah tuan aja, yang penting aku mau pulang karena aku masih ada tugas sekolah," ucap Misha.
"Oke! Saya telpon Mahen dulu ya? Kamu duduk aja dulu disini, tunggu sebentar!" ujar Fabian.
Misha menurut saja, lalu duduk di sofa sesuai perintah Fabian. Sementara lelaki itu mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Mahen.
📞"Halo Mahen! Kamu lagi dimana sekarang?" ucap Fabian di telpon.
📞"Eee iya tuan muda, ini saya masih di rumah sakit jagain Bu Khayra. Ada apa ya tuan?" tanya Mahen kebingungan.
📞"Saya butuh kamu untuk menjemput Misha di kantor saya, bisa kan kamu kesini sekarang?" jelas Fabian.
📞"Bisa sih pak, tapi Bu Khayra bagaimana? Beliau tidak ada yang menjaga," ujar Mahen.
📞"Biarkan saja, kenapa kamu begitu perduli dengan dia? Kamu suka sama dia?" tanya Fabian.
Deg!
Suasana hening, Mahen tak dapat menjawab pertanyaan dari Fabian karena ia pun bingung dengan perasaannya sendiri.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...