Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Main di mall


__ADS_3

"Dasar kurang ajar!" Fabian emosi dan hendak memukul Khayra, tetapi sebuah tangan besar menahannya dari depan.


Khayra mengeluarkan seringainya, Fabian pun melirik ke samping melihat Mahen berdiri disana menahan tangannya.


"Maaf tuan! Saya tidak bisa membiarkan tuan terus-terusan menyakiti bu Khayra, ini salah tuan!" ucap Mahen.


Fabian menggeleng pelan, menarik tangannya lepas dari cengkraman Mahen.


"Ohh, jadi kamu bela dia sekarang? Berarti benar kalau kamu suka sama dia? Kamu itu kerja untuk siapa sih sebenarnya Mahen?!" kesal Fabian.


"Saya cuma gak mau Bu Khayra tersakiti lagi, tuan." ucap Mahen.


"Kamu dengar itu kan mas? Asisten kamu aja lebih bela aku loh, kenapa kamu yang suami aku malah terus-terusan sakitin aku?" ujar Khayra.


"Baiklah, kalau kamu bela Khayra, itu tandanya kamu menentang saya Mahen. Mulai detik ini, kamu bukan asisten saya lagi!" ucap Fabian.


Mahen tersentak kaget, bukan ini sebenarnya yang dia inginkan karena ia masih ingin bekerja untuk Fabian.


Misha yang sedari tadi diam, bergerak menghampiri Fabian bermaksud menenangkan pria yang tengah emosi itu.


"Tuan!" panggil Misha memegangi tangan Fabian dengan lembut.


"Tolong tuan jangan emosi terus sama Bu Khayra atau pak Mahen!" ucap Misha.


"Tapi Misha, si Mahen ini udah berani melawan saya demi membela wanita tidak tahu diri ini! Saya kan sudah pernah memperingati dia untuk tidak ikut campur dalam masalah rumah tangga saya! Saya tidak akan segan-segan memecat dia dari pekerjaannya!" kesal Fabian.


"Tu-tuan muda, maafkan saya! Saya bukan bermaksud lancang, saya hanya kasihan dengan Bu Khayra!" ucap Mahen terbata-bata.


"Yasudah, kalau begitu kamu nikahi saja dia dan jadikan dia istrimu! Setelah itu, kamu cari pekerjaan lain karena saya tidak mau mempunyai asisten seperti kamu!" tegas Fabian.


"Jangan tuan muda! Saya mohon jangan pecat saya!" ucap Mahen memohon di depan Fabian.


"Cih, jangan merengek di hadapan saya! Saya bukan tipe orang yang mudah termakan ucapan apalagi akting seperti ini! Kamu pergi sekarang, bawa Khayra pergi dari sini!" sentak Fabian.


"Tuan, ayolah jangan kayak gini! Pak Mahen kan udah minta maaf sama kamu, kamu jangan pecat dia dong!" ucap Misha.


"Kamu diam aja Misha!" bentak Fabian.


Misha pun menundukkan wajahnya, ia tak menyangka Fabian begitu emosi saat ini.


"Sudahlah Mahen, kalau Fabian gak mau mempekerjakan kamu lagi, kamu kan bisa bekerja untuk saya! Sekarang ayo kita pergi, biarkan Fabian berdua dengan wanita murahan itu!" ucap Khayra.


"Ba-baik Bu!" ucap Mahen menurut.


Khayra tersenyum ke arah Fabian dan Misha, lalu berbalik pergi bersama Mahen keluar dari mansion itu.


Misha pun melirik Fabian, mencoba meredakan amarah lelaki itu dengan menaruh tangannya di dada Fabian.


"Sabar ya tuan!" lirih Misha.


"Ya, saya memang selalu sabar. Yang penting kamu ada di sebelah saya, itu aja udah cukup kok buat saya. Meskipun Mahen juga berkhianat dari saya, tapi itu tidak terlalu berpengaruh bagi saya. Saya kan bisa cari pengganti dia," ucap Fabian.

__ADS_1


"Tapi tuan, kamu yakin mau pecat pak Mahen? Bukannya dia sudah lama bekerja untuk kamu? Masa semudah itu sih kamu memecat orang yang sangat berjasa buat kamu?" tanya Misha.


"Saya gak perduli, kan dia sendiri yang minta dipecat dengan membela Khayra," jawab Fabian.


"Harusnya tuan jangan begitu dong! Bu Khayra itu kan juga masih istri sah tuan, sikap tuan ke dia gak boleh kayak gitu!" ujar Misha.


"Kamu sekarang mau belain Khayra juga dibanding saya?!" tanya Fabian dengan tegas.


"Eee enggak kok tuan, aku mah gak gitu kok. Iya deh, terserah tuan aja mau ngapain. Sekarang kita jadi kan ke mall tuan?" ucap Misha gemetar.


"Sebenarnya saya malas pergi-pergian setelah kejadian tadi, tapi daripada nanti kamu kecewa karena saya sudah janji, yaudah ayo kita pergi sekarang!" ucap Fabian.


"Terimakasih ya tuan! Aku janji deh, nanti di mall aku bakal berusaha bikin tuan ceria lagi!" ucap Misha.


Fabian mulai tersenyum, ia memang selalu tidak tahan saat melihat wajah Misha yang menggemaskan.


Akhirnya mereka pergi ke mall berdua untuk sekedar jalan-jalan melepas penat dan menenangkan diri.




Kini Fabian dan Misha tengah asyik bermain permainan di mall, bahkan Fabian juga telah melupakan segala masalahnya tadi, sepertinya Fabian terbuai dengan keseruan itu.


Mereka sedang bermain permainan basket, keduanya berlomba-lomba memasukkan bola ke dalam jaring yang sudah tersedia demi mendapat nilai banyak.


"Yeay aku menang tuan!! Mana nih yang katanya jago main basket? Masa kalah?" ujar Misha.


"Iya dong tuan, aku gini-gini jago main basket tua. Makanya tuan jangan anggap remeh aku!" ucap Misha dengan sombongnya.


"Iya deh iya, selamat ya karena kamu bisa menang dari saya!" ujar Fabian.


"Kita main lagi yuk tuan! Aku masih belum puas nih pengen kalahin tuan," ajak Misha.


"Ayo, siapa takut?! Kita main sekali lagi, abis itu baru kita main permainan yang lain!" ucap Fabian.


"Oke tuan!" Misha setuju, kemudian mulai menempelkan kartu untuk bermain kembali bersama Fabian.


"Udah siap buat kalah?" ledek Misha.


"Waduh, jangan sombong nanti kalah nangis!" ujar Fabian.


"Hahaha.." Misha tertawa lepas, begitupun juga Fabian. Belum pernah Fabian sebahagia ini jika bersama Khayra istrinya.


Mereka pun kembali bermain, dan lagi-lagi Misha memenangkan permainannya.


"Hore aku menang lagi! Tuh kan, emang aku jago tuan. Kamu payah banget sih, masa gitu aja kalah?!" ujar Misha.


"Hadeh, kalah lagi deh. Kamu ternyata selain jago di ranjang, jago main ginian juga ya?" ucap Fabian tersenyum mengejek.


"Ish, apa hubungannya coba?!" kesal Misha.

__ADS_1


"Hahaha, terus kamu mau main apa lagi? Saldonya masih banyak banget nih, harus kita abisin hari ini juga biar puas!" ucap Fabian.


"Umm.." Misha terlihat berpikir sembari mengedarkan pandangannya. Ia tersenyum saat melihat sebuah capit boneka yang lucu dan menggemaskan.


"Ah itu tuan, aku mau boneka yang disana!" ujar Misha menunjuk ke arah capit boneka.


"Hah? Kalau kamu mau boneka, kenapa gak langsung beli aja sih sayang? Saya gak bisa main gituan, nanti yang ada gagal terus dan malah gak dapat bonekanya," ucap Fabian.


"Yah kalo beli mah gak asik dong tuan, gak menantang! Ayo dong tuan coba dulu! Belum dicoba belum tau kan tuan?" ujar Misha.


"Ya iya sih, tapi..."


"Ayolah tuan, please! Saldonya kan masih banyak, jadi tuan bisa coba berkali-kali deh!" potong Misha.


"Eee i-i-iya deh sayang, saya gak bisa berkutik kalau kamu udah tunjukin wajah kamu kayak gitu," ucap Fabian menurut saja.


"Hehe, makasih tuan!" Misha langsung tersenyum lebar dan menggenggam tangan Fabian.


Mereka beralih menuju tempat capit boneka itu, Fabian menempelkan kartu dan mencoba meraih boneka yang diinginkan Misha.


"Yang mana?" tanya Fabian.


"Itu tuh yang itu tuan," jawab Misha seraya menunjuk salah satu boneka di dalam sana.


"Ohh, oke!" ucap Fabian singkat.


Fabian menghela nafas sejenak, dia tampak sangat fokus demi bisa mendapatkan boneka itu. Perlahan dia menggerakkan pencapit tersebut menuju boneka yang diinginkan Misha.


Akan tetapi, usaha pertamanya gagal dan tak berhasil mendapatkan apa-apa.


"Duh gagal lagi!" keluh Fabian.


"Ayo tuan semangat!" ujar Misha.


Fabian tersenyum singkat, "Cium saya dulu dong biar makin semangat!" pintanya.


"Hah?" Misha terkejut dan menggeleng pelan.


Cup!


"Tuh udah, sekarang ayo coba lagi!" ucap Misha setelah memberi kecupan di pipi Fabian.


Fabian pun terlihat bersemangat, dengan kekuatan penuh kini ia mencoba kembali mesin capit itu.


Dan tanpa diduga, Fabian berhasil mendapatkan boneka yang diinginkan Misha hanya dengan dua kali percobaan.


"Yeay berhasil!" mereka kompak bersorak gembira dan membuat sekitarnya menatap ke arah mereka.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2