
Mahen mencegah Khayra di parkiran mobil, membuat Khayra merasa kaget melihat kehadiran Mahen yang secara tiba-tiba ada di hadapannya.
Khayra tampak menunjukkan gelagat yang aneh saat melihat Mahen, ia khawatir lelaki itu akan merusak rencananya kali ini.
"Kamu mau apa ada disini?!" tanya Khayra.
"Bu, ikutlah dengan saya! Saya ingin bicara sebentar dengan Bu Khayra," pinta Mahen.
"Aku gak mau, kamu juga gak bisa paksa aku kayak gitu! Sekarang kamu menyingkir dari hadapan aku, dan jangan pernah halangi aku lagi! Ingat Mahen, status kamu disini cuma sebagai bawahan aku, gak lebih!" sentak Khayra.
Khayra yang emosi hendak pergi lebih dulu dari tempat itu, akan tetapi Mahen kembali menghadangnya dan mencekal lengan wanita itu.
"Tunggu Bu! Saya tidak akan biarkan ibu pergi dan mengacaukan hubungan tuan muda dengan nona Misha!" ucap Mahen dengan tegas, kedua tangannya terus memegangi satu lengan Khayra.
"Apa? Jadi, kamu sekarang lebih membela mereka dibanding aku?!" kesal Khayra.
"Bukan begitu Bu, saya hanya tidak mau ibu terluka seperti sebelumnya kalau ibu masih saja mengusik mereka!" ujar Mahen.
"Bagaimana caranya aku tidak mengusik mereka? Fabian itu suamiku, dan aku tidak terima kalau suamiku direbut oleh wanita murahan itu!" bentak Khayra dengan lantang.
"Sabar Bu, sebaiknya Bu Khayra terima saja semuanya dengan lapang dada! Tuan muda sudah memilih nona Misha, saya tahu betul beliau tidak akan mau merubah pilihannya!" ucap Mahen.
"Kamu diam Mahen! Jangan berani-berani kamu halangi aku, apalagi menasehati aku seperti itu!" tegas Khayra.
"Maafkan saya Bu! Tapi, ini semua demi kebaikan ibu! Jujur saja, saya tidak tega melihat ibu sakit-sakitan seperti kemarin! Tolong Bu, kali ini aja ibu ikuti kata-kata saya!" ujar Mahen.
"Ah berisik kamu Mahen!" Khayra emosi, ia menghentak tangan Mahen darinya dan menatap tajam ke arah sang lelaki. "Jangan mentang-mentang aku kasih izin kamu buat dekat sama aku, terus sekarang kamu berani halangi aku kayak gini!" lanjutnya.
Setelah mengatakan itu, Khayra pun pergi dengan mobilnya, meninggalkan Mahen begitu saja tanpa berkata apapun.
Mahen terlihat kecewa dan marah besar, dia mengusap wajahnya kasar serta menjambak rambutnya sendiri meluapkan emosi.
"Aaarrgghh!! Kenapa kamu keras kepala sekali sih Khayra??!" geram Mahen.
•
•
"Aaaakkkhh!!" lenguh panjang Misha dan Fabian mengakhiri kegiatan panas mereka yang sudah berlangsung selama delapan jam kurang lebih.
Tak terhitung berapa kali keduanya mencapai puncak, yang pasti Misha saat ini merasa sangat lemas dan tak mampu menggerakkan kedua kakinya.
"Tuan, aku lemas. Aku tidak sanggup lanjut lagi, kumohon hentikan!" rengek Misha.
__ADS_1
"Iya iya, Misha. Saya juga tidak akan memaksa kamu melakukannya lagi, bagi saya tadi itu sudah lebih dari cukup karena kamu melakukan tugas kamu dengan baik sayangku!" lirih Fabian. Ia mengusap lembut dahi penuh peluh sang kekasih dan mengecupnya.
Misha tersenyum lebar, menaruh wajahnya di dada bidang sang lelaki seraya memejamkan mata. Dia ingin beristirahat dengan tenang saat ini.
"Kamu capek banget ya? Nafas kamu sampai memburu gini," ujar Fabian.
"Iya tuan, kali ini tuan benar-benar menguras tenaga saya," jawab Misha pelan.
"Maafkan saya ya! Saya selalu tidak bisa mengontrol diri saat bersama kamu, karena saya benar-benar menikmati tubuh kamu!" ucap Fabian.
"Tidak apa tuan, aku ini milikmu dan kamu berhak melakukan apapun padaku," ucap Misha.
"Itu jawaban yang saya inginkan sayang," ujar Fabian.
Lelaki itu menarik selimut menutupi tubuh polos keduanya, satu tangannya bergerak menyamping untuk merangkul dan mendekap tubuh sang kekasih. Ia usap punggung terbuka Misha dengan lembut hingga membuat wanita itu merasa nyaman.
"Tidurlah sejenak, saya yang akan siapkan makan malam untuk kita kali ini! Kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik, maka saya akan perlakukan kamu dengan baik juga!" ucap Fabian.
"Terimakasih tuan!" balas Misha.
Tampaknya wanita itu benar-benar lelah, dia pun memejamkan mata dan menikmati posisi itu. Sementara Fabian hanya diam mengamatinya.
"Kamu sungguh cantik Misha! Dalam kondisi lelah saja, kamu bisa secantik ini! Saya makin tidak sabar untuk menikahi kamu dan memiliki anak darimu!" gumam Fabian.
"Cepatlah tumbuh anakku! Daddy sudah tidak sabar ingin melihat keberadaan mu!" lirihnya.
"Maksud tuan apa? Memangnya Misha hamil anak tuan?" ucap Misha tiba-tiba.
Sontak Fabian terkejut, rupanya Misha belum sepenuhnya tertidur dan masih mendengar apa yang diucapkan olehnya. Fabian pun tampak bingung menjawabnya, apalagi Misha terus mencecarnya dengan tatapan sinis.
"Tuan, kok tuan diam aja? Kenapa tuan bicara kayak gitu tadi? Perasaan Misha gak hamil deh, atau ada yang tuan sembunyikan dari Misha?" tanya Misha menelisik.
"Apa sih sayang?! Saya cuma berharap di perut kamu ada anak saya, apa salah?" jelas Fabian.
"Ohh, aku kirain aku udah hamil.." gaya bicara Misha kembali berubah seperti biasa.
"Belum sayang, tapi semoga sebentar lagi kamu bisa hamil anak saya ya!" ujar Fabian.
"Eee i-i-iya tuan.." Misha mengangguk saja, mengiyakan perkataan Fabian barusan.
•
•
__ADS_1
"Dengan ini saya nyatakan, saudara Fabian Labib Walandouw dan saudari Khayra Fazila Farhana resmi bercerai!" ucap sang hakim sembari mengetuk palunya.
Fabian memicingkan senyum, bangkit dari duduknya dan menatap Khayra dengan perasaan gembira.
Sementara Khayra menampilkan reaksi berbeda, ia nampak tak senang dengan hasil persidangan mereka kali ini.
"Bu, yang sabar ya!" ujar Mahen.
Khayra tak mendengarkannya, ia justru bangkit dan mendekati Fabian di seberang sana yang tengah berbahagia di atas penderitaannya.
"Mas, kamu benar-benar tega ya mas! Aku gak nyangka kamu ternyata beneran mau ceraikan aku kayak gini hanya demi perempuan murahan itu!" geram Khayra.
"Kamu sekarang udah bukan siapa-siapa aku lagi, jadi aku gak bisa tahan diri lagi kalau kamu terus menghina Misha di depan aku, jangan salahkan aku kalau aku lepas kontrol!" tegas Fabian.
"Aku gak perduli Fabian! Hidup aku sekarang udah benar-benar hancur setelah perceraian kita ini, silahkan aja kalau kamu mau pukul aku! Pukul sepuasnya!!" sentak Khayra.
Mahen datang menahan tubuh Khayra yang ingin menyakiti dirinya sendiri.
"Bu, Bu tahan Bu!" ujar Mahen.
"Lepas Mahen! Seharusnya bukan kamu yang tahan aku, tapi Fabian!" bentak Khayra.
"Cih! Jangan mimpi kamu Khayra! Hubungan kita sekarang sudah selesai, jadi jangan pernah ganggu aku lagi!" ucap Mahen.
"Bagi aku ini semua belum selesai mas, aku pastikan hubungan kamu dengan Misha tidak akan pernah bahagia!" ancam Khayra.
"Aku tidak takut dengan ancaman kamu Khayra! Silahkan, lakukan saja apa yang kamu ingin lakukan!" tantang Fabian.
Setelah mengatakan itu, Fabian bersama pengacaranya pergi begitu saja dari sana.
"Ah sial!" Khayra mengumpat kesal sembari menghentakkan kakinya dengan kasar, ia benar-benar kacau saat ini!
"Bu, sabar Bu! Sudah ya, ayo kita pergi!" ajak Mahen.
Tak ada jawaban dari Khayra, tetapi dia mengikuti perkataan Mahen dan melangkah keluar dari ruang persidangan itu.
Mahen pun mengikuti Khayra dari belakang, sejak dipecat oleh Fabian, dia memang memilih menjaga Khayra walau wanita itu tak menginginkannya.
Di luar, Fabian merasa lega karena setelah sekian lama akhirnya ia telah resmi bercerai dengan Khayra.
"Syukurlah! Akhirnya saya bisa terbebas dari perempuan itu, saya jadi makin gak sabar buat menikahi Misha!" batin Fabian.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...