Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Pertemuan setelah sekian lama


__ADS_3

Fabian masih mencoba menenangkan papanya yang terlihat panik dan tak bisa diam karena memikirkan perusahaannya itu.


Sebenarnya Fabian sendiri juga bingung apa masalah yang menimpa perusahaan papanya itu sampai sang papa terlihat sangat cemas dan ketakutan tak seperti biasanya.


"Pa, papa tenang dulu ya! Pelan-pelan coba papa ceritain sama aku, mungkin aja aku bisa ngerti dan tau masalahnya!" ucap Fabian.


"Perusahaan papa Fabian, perusahaan papa!" hanya kalimat itu yang terus saja dilontarkan Dominic, hingga membuat Fabian makin bingung.


"Pa, iya aku ngerti pa. Tapi, coba deh papa jelasin ke aku apa yang terjadi!" ujar Fabian.


Dominic justru menggeleng dan perlahan-lahan merendahkan tubuhnya sampai berlutut di samping Fabian sembari mengeluarkan air mata.


"Pa, papa kenapa?" tanya Fabian heran.


"Ini semua salah papa, semuanya salah papa!" ujar Dominic.


Fabian semakin tak mengerti dengan sikap papanya saat ini.


"Ayolah pa, papa jangan kayak gini! Gimana aku bisa bantu papa kalau papa aja gak jelas begini?" ujar Fabian.


"Semua karena papa, orang seperti papa memang gak bisa dimaafkan! Papa seorang pembunuh, Fabian!" ucap Dominic.


"Hah? Papa ngomong apa sih?!" heran Fabian.


"Papa seorang pembunuh! Seharusnya kamu jangan ada disini Fabian! Apa kamu gak malu punya papa seorang pembunuh?" ujar Dominic yang tiba-tiba saja bangkit kembali dan memegang kedua bahu putranya.


"Jangan sampai aku panggil dokter kejiwaan untuk periksa papa! Tolong papa bicara yang jelas, aku gak ngerti sama maksud papa!" ucap Fabian.


"Kurang jelas apa lagi Fabian? Semua kekacauan yang menimpa hidup papa ini pasti karena kesalahan papa di masa lampau, papa benar-benar pengecut!" ujar Dominic.


"Cukup pa! Papa gak boleh salahin diri papa sendiri kayak gitu!" ucap Fabian.


"Emang ini semua salah papa, Fabian. Seandainya waktu itu papa lebih hati-hati lagi, pasti semuanya gak akan begini!" ujar Dominic.


"Pa, itu masa lalu dan semua yang terjadi sudah dikehendaki Tuhan. Mau sekeras apapun papa berusaha, papa tetap gak bisa mengembalikan semuanya! Ini sudah takdir, dan aku yakin ayah Misha juga udah maafin papa kok!" ujar Fabian.


"Bagaimana bisa kamu bicara begitu Fabian? Apa kamu bisa membaca isi hati orang?" tanya Dominic.


"Enggak pa, tapi aku tahu kalau ayah Misha itu orang baik. Papa cuma perlu datang temui ayah Misha dan minta maaf secara langsung sama dia, cuma itu pa! Papa mau kan ikut aku ke rumah Misha sekarang?" bujuk Fabian.


"Entahlah Fabian, papa belum siap. Papa takut!" ucap Dominic.


"Kalau papa terus begini, yang ada rasa takut dan bersalah itu bakal terus menghantui papa! Papa harus jadi laki-laki berani dan mau mengakui semua kesalahan papa!" ucap Fabian.


Dominic terdiam memikirkan perkataan Fabian.


"Baiklah, papa rasa semua yang kamu katakan itu benar Fabian! Papa mau ikut kamu dan bicara dengan ayah Misha," ucap Dominic.

__ADS_1


"Itu baru papa yang aku kenal! Udah ya, papa gak boleh sedih-sedih lagi!" ujar Fabian.


Dominic mengangguk pelan, lalu memeluk putranya sangat erat sembari mengusap punggung lelaki tersebut.


"Papa bangga punya anak seperti kamu Fabian! Maaf ya kalau papa belum bisa bahagiakan kamu!" ucap Dominic.


"Kebalik pa, harusnya aku yang bilang begitu. Karena papa sama mama udah bikin aku bahagia kok, justru aku yang belum bisa bikin kalian merasakan apa itu kebahagiaan," ucap Fabian.


"Enggak, kamu itu sumber kebahagiaan papa sama mama kok!" ucap Dominic.




Disisi lain, Misha telah bersiap menyambut kedatangan Dominic serta Fabian di rumah sepupunya itu.


Berbagai jamuan disediakan cukup banyak spesial untuk calon mertua serta suaminya yang akan datang itu.


"Misha!" wanita itu terkejut, Ashraf datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Ada apa lagi kak? Aku lagi gak mau bicara sama kak Ashraf!" ketus Misha.


"Misha, kamu kenapa kayak gitu sama nak Ashraf? Dia udah baik loh sama kita, harusnya kamu berterima kasih sama dia bukan malah jutek begitu!" tegur Hardi.


"Iya ayah, aku cuma lagi kesel aja sama kak Ashraf. Itu sebabnya aku gak mau ngomong sama dia," jelas Misha.


"Udah lah kak, semua itu jangan dibahas sekarang! Aku lagi mau fokus sambut kedatangan mas Fabian dan papanya kesini! Kalau kak Ashraf mau bantu, silahkan aja!" ujar Misha.


"Iya Misha, saya pasti akan tetap disini sampai mereka datang. Saya juga gak mungkin melewatkan momen itu," ucap Ashraf sambil tersenyum.


Misha memutar bola matanya, dia tahu betul apa yang ada di isi kepala sepupunya itu.


Misha pun mendekat dan berbisik di cuping telinga Ashraf karena tak ingin ayahnya mengetahui apa yang dia bicarakan.


"Kak, kalau kak Ashraf kesini cuma mau bikin rusuh di acara aku nanti, sebaiknya kakak gausah ada disini deh! Aku gak mau tuan Dominic makin tertekan nantinya!" bisik Misha.


"Kamu tenang aja Misha! Saya pastikan semua itu tidak akan terjadi, percaya sama saya!" balas Ashraf.


Dengan sangat terpaksa akhirnya Misha membiarkan saja Ashraf tetap disana, meski sebenarnya dia khawatir lelaki itu akan berbuat hal-hal yang tidak diinginkan.


"Sayang, kamu coba chat atau telpon nak Fabian! Tanya udah sampai mana!" ujar Hardi.


"Eee iya ayah," ucap Misha singkat.


Saat Misha hendak mengambil ponselnya, tiba-tiba sudah terdengar suara ketukan pintu dari luar.


TOK TOK TOK...

__ADS_1


"Permisi! Misha, ini saya Fabian."


Mendengar itu, sontak Misha bergegas bangkit dari duduknya dan bergerak menuju pintu.


"Yah, itu mas Fabian udah datang. Aku ke depan dulu ya buka pintu?" ucap Misha antusias.


"Iya iya sayang," ucap Hardi.


Misha pun langsung melangkah pergi, sedangkan Hardi dan Ashraf hanya menunggu disana.


"Om, om yakin mau ketemu sama papanya Fabian?" tanya Ashraf pada pamannya itu.


"Memangnya kenapa nak Ashraf?" Hardi balik bertanya pada Ashraf.


"Gapapa sih om, saya cuma tanya aja. Barangkali om belum siap gitu," ucap Ashraf.


"Ah kamu ini aneh Ashraf! Cuma ketemu sama calon besan ya harus siap lah," kekeh Hardi.


"Iya om," lirih Ashraf.


Ceklek


Misha membuka pintu, tersenyum ke arah Fabian serta Dominic yang sudah berdiri di depannya dengan membawa sejumlah barang.


"Mas Fabian? Papa Alvan?" sapa Misha.


"Halo Misha sayang! Ayah kamu udah siap kan?" balas Fabian.


"Udah kok, yuk masuk!" ajak Misha.


Misha melebarkan pintu, mempersilahkan kedua lelaki itu untuk masuk ke dalam.


Dengan perlahan dan hati-hati, Dominic memberanikan diri memasuki rumah tersebut. Perasaannya masih tak karuan, ini pertama kalinya Dominic akan bertemu kembali dengan orang yang ia tabrak beberapa waktu lalu.


"Semoga semuanya berjalan lancar! Tuhan, saya tidak mau pernikahan putra saya gagal karena saya!" batin Dominic.


Mereka melangkah bersama-sama menuju sofa, disana sudah terdapat Hardi serta Ashraf.


"Ayah, ini mas Fabian sama papanya!" ucap Misha.


"Ah iya," Hardi spontan berdiri, menghadap ke arah mereka dengan senyum di wajahnya.


Namun, seketika jantungnya seperti berhenti berdetak saat melihat keberadaan orang yang pernah menghancurkan hidupnya.


"Ka-kamu.."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2