Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Kebahagiaan Misha


__ADS_3

Setelah selesai makan, Misha berniat membereskan piring-piring di meja dan mencucinya seperti kebiasaannya selama ini.


Namun, Cornelia justru menghalanginya dan tak memperbolehkan Misha melakukan itu karena menurutnya hal itu tak pantas.


"Misha, kamu mau ngapain?" tanya Cornelia.


"Eee aku mau beresin piring-piring ini ma, terus aku cuci sekalian juga," jawab Misha.


"Apa? Gausah sayang, itu biar para maid yang lakuin! Kamu kan calon mantu mama, masa nyuci piring sih? Udah, kamu mending duduk lagi dan jangan repot-repot!" ujar Cornelia.


"Iya Misha, disini itu kamu sudah kami anggap keluarga, jadi kamu gak boleh melakukan tugas seorang pembantu!" sahut Dominic.


"Eee i-i-iya om.." lirih Misha.


"Kok om sih? Kalau kamu aja udah panggil istri saya mama, kenapa masih panggil saya om?" tanya Dominic tak suka.


"Umm, kan om belum izinin saya buat panggil om papa," jawab Misha.


"Oh iya juga sih, yaudah mulai sekarang kamu panggil saya papa aja ya! Gak enak lah didengarnya, masa mama sama om?" ujar Dominic.


"Siap om! Eh maksud saya pa," ucap Misha.


"Nah, gitu kan lebih enak didengarnya!" ucap Dominic.


"Iya pa," lirih Misha.


Fabian tersenyum lebar karena suasana di rumah itu semakin hangat, tidak seperti sebelumnya saat ia masih berstatus suami Khayra.


"Aku senang deh ma, pa. Aku jadi makin gak sabar buat nikahin Misha!" ucap Fabian.


"Halah, kamu itu gak sabar pengen nikah sama Misha karena mau anu-anu kan?" sindir Dominic.


"Apa sih pa? Bukan cuma anu-anu, tapi aku juga kepengen punya keluarga kecil yang bahagia. Pernikahan aku dan Khayra kan gagal, jadi aku masih penasaran gimana rasanya menikahi dengan seorang yang kita cintai," ucap Fabian.


"Ya ya, itu pasti rasanya nikmat Fabian. Seperti papa dengan mama kamu ini, kita kan saling mencintai," ujar Dominic.


"Kalau begitu, kenapa dulu papa sama mama paksa aku buat nikah sama Khayra? Padahal waktu itu aku tidak mencintai dia, dan terbukti kan sekarang pernikahan kami gagal?" ujar Fabian.


"Sudahlah Fabian, yang lalu biarlah berlalu dan tidak usah diungkit-ungkit lagi!" ucap Dominic.


"Iya, kamu kan sudah bertemu dengan cinta sejati kamu, yaitu Misha. Kamu gak perlu lah bicarain Khayra lagi di depan Misha!" timpal Cornelia.


"Aku bukan mau ungkit-ungkit ma, pa. Tapi, aku cuma mau nanya sama mama papa. Kenapa dulu mama papa paksa aku nikahin Khayra?" ujar Fabian.


"Kamu kayak gak ngerti papa aja!" cibir Cornelia sembari melirik ke arah suaminya.


Tiba-tiba, ponsel milik Misha berdering dan membuat obrolan mereka jadi terhenti. Misha pun langsung bergerak mengambil ponselnya di dalam tas untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.


"Eee ma, pa, mas Biyan. Aku mau angkat telpon dulu ya? Ini dari rumah sakit tempat ayah dirawat, siapa tahu penting," ucap Misha.

__ADS_1


"Ya Misha, silahkan saja kamu angkat telponnya! Barangkali ada kabar baik tentang ayah kamu," ucap Dominic.


"Iya pa," ucap Misha singkat.


Gadis itu bangkit, menjauh dari keluarga Fabian untuk mengangkat telponnya.


Fabian yang penasaran, bergerak mengejar Misha untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Sementara Dominic serta Cornelia tetap pada tempatnya sambil terus mengamati Misha.


"Mas, kamu serius terima Misha di keluarga kita? Bukannya kamu punya prinsip kalau siapapun calon Fabian, itu harus berasal dari keluarga berada?" tanya Cornelia.


"Abaikan saja prinsip itu, kasihan Misha jika Fabian tidak menikahinya! Aku tidak mau menghancurkan hidup seseorang lagi," jawab Dominic.


"Ah, kamu masih mengingatnya?" tanya Cornelia.


"Iya sayang, bagaimana bisa aku melupakan kejadian kelam itu?" jawab Dominic.


•


•


Misha kini menerima telpon dari rumah sakit, dia sangat senang mengetahui kabar bahwa ayahnya sudah sadar dan kini tengah mencarinya.


📞"Apa sus? Jadi, ayah saya sudah sadar sekarang?" tanya Misha penuh gembira.


📞"Iya benar kak, sekarang pasien juga mencari dan menyebut-nyebut nama kakak. Apa kakak bisa datang kesini menemui pasien?" jelas si suster.


📞"Baik kak, ditunggu ya?" ucap sang suster.


📞"Iya sus iya," ucap Misha.


Setelah telpon terputus, Misha pun mengucap syukur seraya mengusap wajahnya. Ia sangat senang karena ayahnya telah diberi kesadaran dari komanya selama beberapa tahun itu.


"Syukurlah ya Tuhan! Terimakasih karena engkau telah memberikan keselamatan pada ayah hamba!" ucap Misha penuh syukur.


"Misha!" panggil Fabian yang baru datang, ia heran melihat Misha tampak sangat bahagia.


"Kamu lagi kenapa? Kok kayaknya senang banget?" tanya Fabian keheranan.


"Eee iya nih mas, aku baru dapat kabar dari pihak rumah sakit kalau ayah aku udah sadar. Sekarang aku disuruh kesana untuk ketemu sama ayah, boleh kan mas?" jelas Misha.


"Apa? Ayah kamu sudah sadar?" kaget Fabian.


Misha manggut-manggut tanda iya, membuat Fabian turut mengucap syukur dan terlihat bahagia seperti Misha.


"Oh syukurlah, aku ikut senang mendengarnya kalau memang ayah kamu sudah sadar!" ucap Fabian gembira.


"Iya mas, aku juga senang banget! Aku mau buru-buru datang kesana, gapapa kan mas?" ucap Misha.

__ADS_1


"Gapapa sayang, aku antar ya? Tapi, kita pamit dulu sama papa sama mama!" ujar Fabian.


"Iya mas," ucap Misha singkat.


Fabian pun mengajak Misha berpamitan sejenak pada Dominic dan Cornelia sebelum pergi ke rumah sakit.


"Hah? Ayah kamu sudah sadar dari koma Misha?" ujar Cornelia terkejut.


"Iya ma, aku juga gak nyangka banget akhirnya penantian aku selama bertahun-tahun tiba! Aku senang ayah bisa sadar!" jawab Misha.


"Syukurlah! Selamat ya sayang! Mama ikut bahagia dengarnya, semoga ayah kamu sehat selalu ya!" ucap Cornelia.


"Aamiin, terimakasih ya ma!" ucap Misha.


"Doa papa juga menyertai, jangan lupa kirim salam dari papa sama mama oke?!" sahut Dominic.


"Iya pa, pasti." Misha mengangguk kecil.


"Yaudah, kalo gitu aku mau antar Misha ke rumah sakit dulu ya ma, pa? Katanya ayah Misha udah gak sabar pengen ketemu Misha," ucap Fabian.


"Iya iya, hati-hati ya kalian! Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut Fabian!" ucap Cornelia.


"Siap ma! Ayo Misha kita berangkat sekarang!" ucap Fabian seraya menggandeng tangan Misha.


Misha mengangguk setuju, lalu keduanya pun berbalik pergi setelah berpamitan kepada Dominic dan Cornelia.


Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit, Misha terlihat sangat senang dan tidak sabar ingin menemui ayahnya.


"Oh ya Tuhan, aku senang sekali ayah sudah sadar! Aku jadi gak sabar pengen ketemu ayah dan bicara sama ayah lagi! Terimakasih ya Tuhan engkau telah mengabulkan doa-doaku!" ucap Misha.


Fabian yang melihatnya ikut tersenyum gembira, belum pernah dia melihat wanitanya sebahagia ini sebelumnya.


"Akhirnya penantian itu tiba, semoga setelah ayah Misha sadar, saya bisa secepatnya menikahi Misha!" batin Fabian.


Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit tempat ayah Misha dirawat. Keduanya langsung saja turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah sakit untuk bertemu sang ayah.


"Hey Misha, pelan-pelan tidak usah buru-buru begitu!" tegur Fabian.


"Maaf mas! Aku gak sabar mau ketemu ayah," ucap Misha.


"Iya saya ngerti, tapi kamu pelan-pelan aja ya?" pinta Fabian.


"Baik mas!" Misha menurut dan memelankan langkahnya.


Mereka tiba di depan ruang rawat ayah Misha, keduanya pun masuk ke dalam. Misha langsung tersenyum lebar melihat ayahnya disana.


"Ayah?"


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2