
Misha memasuki kamar ayahnya membawa makanan serta minuman untuk makan siang sang ayah yang sedang terbaring disana.
Hardi langsung tersenyum lebar begitu melihat putrinya datang, ia bangkit dan bersandar seraya menyapa Misha.
"Eh Misha, kamu makin cantik aja deh!" ucap Hardi memuji putrinya.
"Ahaha, makasih ayah! Ayah udah mendingan kan? Masih ada yang sakit enggak?" ucap Misha yang kini sudah duduk di pinggir ranjang dan meletakkan piring serta gelas pada nakas.
"Udah enggak kok sayang, ayah udah baikan. Kamu gak perlu khawatir lagi ya!" jawab Hardi.
"Syukurlah, aku senang banget dengarnya! Semoga ayah bisa pulih benar deh!" ucap Misha.
"Aamiin! Oh ya, kamu apa enggak ke sekolah sayang? Ini kan hari sekolah loh," tanya Hardi.
"Eee aku tadi udah izin sama wali kelas aku kok yah, dan untungnya dibolehin. Lagian gak mungkin juga aku tinggalin ayah disini," jawab Misha.
"Duh, harusnya kamu gak perlu pakai izin buat gak masuk sekolah segala cuma demi jagain ayah! Ayah ini kan udah sehat, ayah bisa kok jaga diri ayah sendiri. Kamu itu udah mau lulus loh, jangan keseringan izin!" ucap Hardi.
"Gapapa ayah, nanti Misha bisa kok kejar pelajaran yang tertinggal. Bagi Misha, yang terpenting itu cuma ayah sekarang! Misha harus pastiin kalau ayah baik-baik aja," ucap Misha dengan lembut.
"Terimakasih ya Misha, kamu emang anak ayah yang paling perhatian!" ucap Hardi.
Misha menunduk sambil tersenyum saat ayahnya memberi usapan lembut di wajahnya, ia sangat senang mendapat sentuhan itu karena sudah lama Misha tak merasakannya.
"Kamu kenapa sayang? Ayah lihat kamu seperti sedang memikirkan sesuatu, apa kamu ada masalah?" tanya Hardi tiba-tiba.
"Hah? Eee..." gugup Misha.
"Kamu cerita aja sama ayah, kamu punya masalah apa? Soal pernikahan kamu dan Fabian ya?" tebak Hardi.
"Kok ayah bisa tau?" heran Misha.
"Itu kan tadi ayah cuma nanya, eh ternyata benar ya? Nah, sekarang kamu cerita aja sama ayah biar kamu juga bisa lega!" ujar Hardi.
"Eee i-i-iya sih yah, aku emang lagi mikirin tentang pernikahan aku dan mas Fabian yang akan dilangsungkan sebentar lagi. Aku khawatir kalau acara itu gak akan berjalan sempurna, karena kan ada masalah besar yang menimpa kita berdua," ucap Misha sambil menunduk.
"Maksud kamu? Masalah apa Misha yang bikin kamu khawatir?" tanya Hardi penasaran.
Misha terdiam sesaat masih dengan wajah tertunduk lesu, dia ragu untuk menceritakan semuanya pada sang ayah bahwa Fabian adalah anak dari pelaku yang menabrak mobilnya dulu.
"Kenapa Misha? Kamu gak mau cerita sama ayah? Kan ayah sudah bilang tadi, kamu cerita aja supaya kamu gak cemas terus!" ucap Hardi.
__ADS_1
"Enggak kok yah, gapapa." jawab Misha singkat.
"Kamu yakin gak ada yang mau diceritakan ke ayah sekarang?" tanya Hardi sembari menatap wajah putrinya dari dekat.
"Eee iya aku yakin kok yah, aku gak mau bikin ayah jadi kepikiran. Yaudah ya yah, sekarang ayah makan siang dulu?" jawab Misha.
Wanita itu mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan mengambil piring berisi makanan yang tadi ia letakkan di nakas.
"Misha suapin ya yah? Ayah pokoknya harus makan banyak supaya cepat sehat!" ujar Misha.
"Iya Misha, terimakasih ya kamu perhatian sekali sama ayah!" ucap Hardi.
Misha tersenyum lebar, kemudian mulai menyuapi sang ayah dengan perlahan dan hati-hati. Ia sangat senang karena dapat melayani ayahnya kembali.
"Kalau nanti kamu sudah menikah, pasti ayah akan jarang bertemu dengan kamu," ucap Hardi.
"Ayah gak perlu khawatir, Misha sama mas Fabian bakal sering-sering tengok ayah kok!" ucap Misha.
Hardi terkekeh kecil bersamaan dengan putrinya, lalu kembali melanjutkan aktivitas makan siang dengan lahap.
Sementara dari luar, Ashraf rupanya mendengar perbincangan antara Misha dan ayahnya di dalam kamar.
"Saya jadi kasihan sama Misha, apa saya hentikan aja ya rencana balas dendam ini? Saya juga gak mau hancurin perasaan Misha yang sangat mencintai Fabian," batin Ashraf.
•
•
Khayra menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai mengalir, ia merasa benar-benar hina di hadapan mantan suaminya itu saat ini.
"Kok diem? Cepet jawab kamu minta apa dari saya! Saya lagi buru-buru nih, sebentar lagi saya mau nikah dengan Misha dan saya gak punya banyak waktu untuk meladeni kamu," ucap Fabian.
"Aku gak butuh apa-apa mas, aku cuma mau kamu akui anak ini sebagai anak kamu," ujar Khayra.
"Oke, aku akui anak itu anak aku. Tapi, setelah ada bukti kalau itu emang anak aku. Kalau kamu gak bisa tunjukin bukti itu, jangan harap aku mau akui anak itu!" sentak Fabian.
"Bukti apa lagi sih mas? Anak ini udah pasti anak kamu, cuma kamu yang sentuh aku selama ini mas Fabian!" tegas Khayra.
"Khayra cukup!" Broto bergerak menahan putrinya.
"Kenapa dad? Aku lagi bicara sama mas Fabian, dia harus tanggung jawab sama anak ini!" ujar Khayra.
__ADS_1
"Udah Khayra, kita jangan ngemis-ngemis kayak gini! Kalau emang dia gak mau akui anak itu, gapapa. Biar daddy sama mommy yang bantu kamu rawat anak itu nantinya," ucap Broto.
"Benar sayang, jangan jatuhi harga diri kamu di depan mantan suami kamu itu!" sahut Linda.
"Nah, baguslah kalau om sama tante ngerti. Sekarang tolong jangan ganggu saya lagi ya om, tante! Silahkan kalian pergi!" ucap Fabian.
Broto menggeram kesal disertai sorot mata tajam mengarah ke Fabian.
Disaat mereka bertiga hendak pergi, Cornelia lebih dulu muncul dari dalam dan menahan mereka.
"Hey tunggu!" panggil Cornelia.
Sontak mereka semua menoleh dan menghentikan langkah mendengar suara itu.
"Mama? Ngapain mama pake keluar segala sih?" tanya Fabian tak suka.
"Tadi mama penasaran aja, soalnya kayak ada keributan gitu dari depan. Eh ternyata ada Khayra sama mama papanya, kenapa kamu gak suruh mereka masuk sih Fabian? Terus, kok kalian malah mau pergi?" ujar Cornelia.
"Gimana kami gak pergi Bu? Anak ibu yang kurang ajar itu usir kami dari sini, dia benar-benar keterlaluan dan tidak punya adab!" ujar Broto.
"Apa? Benar begitu Fabian?" tanya Cornelia pada putrinya.
"Iya ma, tapi aku punya alasan yang jelas kenapa aku usir mereka. Aku gak mau mereka bikin keributan di rumah papa," jawab Fabian.
"Apapun alasan kamu, tetap aja kamu gak boleh bertindak seperti itu sama mereka! Mereka itu orang tua kamu juga Fabian, kamu—"
"Mama salah, mereka bukan orang tua aku. Mereka cuma mantan mertua aku, ingat itu ma mantan mertua!" potong Fabian dengan cepat.
Setelah mengatakan itu, Fabian pun pergi begitu saja meninggalkan semua orang disana.
"Fabian tunggu! Fabian!" Cornelia berteriak coba menahan putranya, tetapi tak didengar oleh Fabian yang malah masuk ke mobilnya dan pergi.
"Lihat sendiri kan Bu Cornelia, bagaimana kelakuan anak ibu itu pada kami?" ujar Broto.
"Umm, sekali lagi saya minta maaf atas kelakuan Fabian ya pak Broto! Tolong jangan diambil hati, mungkin dia cuma kesal aja!" ucap Cornelia.
"Ya tidak masalah, kami tidak marah juga kok. Kami kesini cuma mau meminta pertanggungjawaban dari Fabian terkait anak yang dikandung Khayra saat ini," ucap Broto.
"Apa? Anak??!" kaget Cornelia.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...