Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Masak bareng


__ADS_3

Baru beberapa jam Misha berbincang dengan orang tua Fabian, wanita itu sudah berhasil mengambil hati Cornelia dan bahkan mereka kini terlihat sangat akrab seperti sudah lama bertemu.


Fabian pun tersenyum lebar menyaksikan momen indah itu, dia sangat senang karena wanitanya ternyata memiliki kemampuan luar biasa sehingga bisa menaklukkan mamanya itu.


"Biyan, Misha itu anaknya ceria ya? Papa pikir dia sulit buat interaksi, karena tadi dia datang dengan malu-malu. Eh ternyata setelah beberapa lama, Misha langsung bisa bikin mama kamu nyaman begitu," ujar Dominic.


"Iya pa, aku juga senang lihatnya. Aku gak nyangka Misha bisa ambil hati mama secepat ini, padahal awalnya mama gak suka sama Misha dan bilang kalau Misha itu gak pantas ada di keluarga kita," ucap Fabian.


"Kamu harus jaga Misha! Wanita itu sudah kamu rusak di usianya yang masih belia, jadi kamu harus tanggung jawab!" peringat Dominic.


"Iya pa, makanya aku mau nikahin dia sekarang. Aku ini orangnya tanggung jawab pa," ujar Fabian.


"Ya ya ya, semoga kalian berjodoh dan bisa bersama terus sampai maut memisahkan! Tapi, apa kamu sudah mendapat restu dari orang tua Misha?" tanya Dominic.


"Belum pa, aku belum bicara secara langsung sama ayahnya Misha. Soalnya sampai sekarang, ayah Misha belum juga sadar." jawab Fabian.


"Bagaimana dengan ibunya?" tanya Dominic.


"Sudah meninggal, pa." jawab Fabian.


"Berarti selama ini dia tinggal sendiri? Merawat ayahnya yang koma di rumah sakit tanpa bantuan siapapun?" tanya Dominic merasa iba.


"Sepertinya begitu pa, karena yang aku tahu Misha gak punya keluarga lagi selain ayahnya saat ini. Maka dari itu, Misha sempat bekerja sebagai wanita malam dan tanpa sengaja bertemu denganku," jelas Fabian.


"Apa? Kamu menemukan wanita itu di tempat terlarang??!" kaget Dominic.


"Iya pa, waktu itu aku memang sengaja memesan wanita di aplikasi online. Aku juga gak nyangka, ternyata yang datang itu gadis SMA dan dia masih virgin. Aku beruntung banget karena aku jadi pria pertama buat dia, makanya aku gak mau lepasin dia dan pengen nikahin dia!" jelas Fabian.


"Huh syukurlah! Papa kira Misha sebelumnya sudah tidak segel saat bertemu dengan kamu, tapi ternyata papa salah. Yasudah, ayo kita hampiri mereka!" ujar Dominic.


"Kayaknya gausah deh pa, biarin aja mama sama Misha berduaan dulu disana. Sebaiknya kita bicara di ruang tamu pa," usul Fabian.


"Mau bicara apa lagi kamu?" tanya Dominic.


"Aku pengen papa sama mama datang ke rumah sakit tempat ayah Misha dirawat," jawab Fabian.


"Untuk apa?" tanya Dominic tak suka.


"Ya supaya papa sama mama bisa ketemu sama ayahnya Misha, kan sebentar lagi aku dan Misha akan menikah. Hal yang wajar dong kalau papa mama datang temui ayahnya Misha?" jelas Fabian.


"Iya sih, tapi kan ayahnya Misha masih koma dan belum sadarkan diri. Kita mau bicara apapun sama dia, gak mungkin direspon. Udah lah, nanti aja papa ketemu sama dia kalau dia udah sadar!" tolak Dominic.


"Kenapa sih pa? Kayaknya papa gak mau banget keluar dari rumah ini," tanya Fabian curiga.


"Papa cuma malas aja Fabian, papa kan udah berumur," jawab Dominic santai.


Fabian mengangguk pelan, meskipun ia masih menaruh curiga pada sikap papanya yang sangat tidak wajar itu.


"Papa sebenarnya kenapa sih? Setiap kali diajak keluar rumah pasti selalu nolak, apa ada yang papa sembunyiin dari aku?" pikir Fabian dalam hati.

__ADS_1




Sementara itu, Misha serta Cornelia masih asyik memasak bersama di dapur rumah tersebut. Mereka memang sengaja masak berdua karena akan melakukan makan malam spesial di malam yang indah ini.


"Misha, kamu ternyata pintar masak juga ya? Kamu belajar darimana?" tanya Cornelia.


"Iya tante, kebetulan dulu sewaktu ibu aku masih hidup, ibu selalu ajarin aku masak," jawab Misha.


"Oalah, pantas aja kamu pintar banget masaknya. Ini pasti nanti rasanya enak banget!" ujar Cornelia.


"Tante bisa aja, kan aku dibantu juga sama tante buat masak ini," ucap Misha.


"Tetap aja kamu yang masak semuanya, justru tante cuma bantu," ucap Cornelia.


Misha tersenyum dan kembali fokus memasak.


"Oh ya, sebelum ketemu Fabian kamu tinggal dimana dan sama siapa Misha? Soalnya yang tante tau, ayah kamu itu kan masih dirawat di rumah sakit. Terus eee maaf ya! Ibu kan udah gak ada," tanya Cornelia.


"Iya tante, aku tinggal sendiri di kontrakan. Semua harta ayah dan ibu aku ludes untuk biaya pengobatan ayah di rumah sakit, jadi aku cuma bisa tinggal di kontrakan," jawab Misha.


"Duh, kasihan sekali nasib kamu Misha! Tante gak nyangka ternyata hidup kamu begitu menyedihkan! Maafin tante ya, karena sebelum ini tante sempat ketus sama kamu!" ucap Cornelia.


"Gapapa tante, aku wajarin itu kok. Aku ini kan emang bukan siapa-siapa, sejujurnya aku juga gak pantas buat mas Fabian. Aku cuma wanita biasa, sedangkan mas Fabian itu..."


"Iya tante, makasih!" lirih Misha.


"Mulai sekarang kamu panggil saya mama aja ya! Kan sebentar lagi juga kamu bakal jadi menantu mama," pinta Cornelia.


"Hah? Tante serius??" kaget Misha.


"Iya Misha sayang, kamu biasain panggil saya mama ya!" ucap Cornelia.


"I-i-iya tante.."


"Kok tante lagi sih? Mama dong sayang!" potong Cornelia.


"Eee ma-maksud aku iya mama," ralat Misha.


"Kamu gak perlu gugup gitu, santai aja kali kalo sama mama! Anggap mama seperti ibu kandung kamu sendiri," ucap Cornelia sembari memegang bahu calon menantunya itu.


"Terimakasih ya ma! Aku senang kalau mama mau jadi mama aku, karena udah lama aku gak ngerasain kasih sayang seorang ibu," ujar Misha.


"Iya, kamu jangan sungkan lagi ya sama mama!" ucap Cornelia.


Misha tersenyum tipis disertai anggukan kecilnya, lalu tiba-tiba Fabian muncul dari belakangnya dan mengagetkan keduanya.


"Sayang, belum selesai masaknya?" tanya Fabian.

__ADS_1


"Hah? Ma-mas??" kaget Misha.


"Fabian, kamu ngapain malah kesini? Mama kan minta kamu tunggu di depan sama papa," tegur Cornelia.


"Aku udah gak sabar nunggu ma, aku pengen cobain masakan mama sama Misha. Ini kan kali pertama mama dan Misha masak bareng, pasti rasanya enak banget deh!" ucap Fabian.


"Ya kamu yang sabar lah! Emang dikata masak itu cuma satu menit dua menit?!" ujar Cornelia.


"Iya ma, aku ngerti. Tapi—"


"Mas, kamu duduk dulu ya? Nanti aku sama mama bakal anterin makanannya ke tempat makan deh," potong Misha.


"Iya iya, tapi boleh lah aku ikut disini? Aku soalnya gak bisa jauh-jauh dari kamu," ucap Fabian sambil melingkarkan tangannya di pinggang Misha.


"Mas, kamu apa-apaan sih?! Malu tau ada mama!" protes Misha.


"Apa salahnya kalau ada mama?" goda Fabian seraya mengecup ceruk leher Misha.


Akhirnya Misha hanya bisa diam saat Fabian membenamkan wajahnya di area lehernya, meski ia merasa tidak nyaman saat ini.




Disisi lain, suster datang ke ruang ICU tempat Hardi—ayah Misha dirawat. Suster itu hendak memeriksa kondisi Hardi sesuai anjuran dokter.


Namun, begitu terkejutnya ia saat mendapati Hardi sudah tersadar dari komanya dan melirik ke arahnya dengan tatapan dingin.


"Pak, bapak sudah sadar?" tanya sang suster.


Hardi mengangguk lemah, dia masih merasa sangat lemas karena tenaganya belum sepenuhnya pulih.


"Syukurlah! Saya ikut senang karena bapak sekarang sudah siuman!" ujar suster itu.


"Sebentar ya pak, saya mau panggil dokter dulu biar bapak bisa langsung diperiksa!" lanjutnya.


"Tunggu sus!" lirih Hardi.


"Ah iya, ada apa pak?" tanya sang suster.


"Dimana putri saya? Dia baik-baik aja kan sus?" Hardi langsung bertanya mengenai Misha.


"Eee putri bapak baik-baik saja kok, setiap hari dia selalu berkunjung kesini untuk menengok bapak. Tapi, gak tahu kenapa hari ini dia tidak datang." jelas suster itu.


Hardi tersenyum mendengarnya, ia sangat merindukan putrinya yang sudah sekian lama tak dapat ia temui.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2