Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Mudah rindu


__ADS_3

Fabian tengah disibukkan dengan urusan kantor yang tidak ada selesainya, dia terus berkutat di depan komputer selama beberapa jam untuk menyelesaikan semuanya.


Ya saat ini Fabian berada di kantornya, lebih tepatnya kantor sang papa yang diberikan pada Fabian. Ia pun kini harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi di kantor itu.


"Huft, capek banget rasanya! Coba aja ada Misha di samping saya, pasti saya gak akan secapek ini!" gumamnya. Sejenak ia berpikir, tidak ada salahnya untuk mengajak Misha kesana. "Ah iya, benar juga! Kenapa saya gak ajak aja Misha kesini?" pikirnya.


Fabian mengambil ponsel, menghubungi nomor Misha untuk meminta wanita itu datang ke kantornya.


πŸ“ž"Halo tuan! Ada apa tuan telpon aku? Kangen ya?" Fabian langsung disambut dengan suara indah Misha yang membuat telinganya nyaman.


πŸ“ž"Ah kamu emang paling ngerti saya deh Misha, iya nih saya kangen banget sama kamu! Saya pengen kamu ada di sebelah saya terus, bisa kan Misha sayang?" ujar Fabian.


πŸ“ž"Gimana caranya tuan? Aku kan lagi di rumah sakit temenin ayah, sedangkan tuan di kantor," tanya Misha.


πŸ“ž"Kamu gausah bingung! Kamu kan bisa datang kesini sayang, mau kan?" jawab Fabian.


πŸ“ž"Umm, aku mau-mau aja sih. Tapi, aku kan gak tahu dimana kantor tuan. Nanti kalau aku nyasar gimana?" ujar Misha.


πŸ“ž"Itu urusan gampang sayang, nanti saya minta Mahen buat jemput kamu. Yang terpenting itu, kamu mau datang kesini buat temenin saya!" ucap Fabian.


πŸ“ž"Iya tuan, aku pasti mau kok," ucap Misha.


πŸ“ž"Yasudah, saya kabari Mahen dulu ya? Kamu siap-siap aja, nanti saya minta Mahen jemput kamu di rumah sakit!" ucap Fabian.


πŸ“ž"Siap tuan!" ucap Misha singkat.


πŸ“ž"Cium dong sayang!" pinta Fabian dengan manja.


πŸ“ž"Ih sejak kapan tuan jadi manja kayak gini?" ujar Misha keheranan.


πŸ“ž"Sejak saya kenal kamu, kamu udah bikin hidup saya lebih berwarna Misha. Saya sangat berterima kasih sama kamu, i love you Misha!" ucap Fabian sembari mengecup layar ponselnya.


πŸ“ž"..." suasana hening, tak ada suara terdengar di telinga Fabian.


Sontak Fabian kebingungan, ia melihat layar dan telponnya masih tersambung. Hanya saja Misha tidak mau berbicara.


πŸ“ž"Hey, halo sayang! Kamu masih disitu kan?" ujar Fabian.


πŸ“ž"Eee i-i-iya tuan, aku masih disini kok. Kenapa ya?" ucap Misha terdengar gugup.


πŸ“ž"Kamu itu yang kenapa?! Daritadi kok cuma diam aja? Kamu gapapa kan? Gak ada masalah kan?" tanya Fabian cemas.


πŸ“ž"Enggak kok tuan, aku tadi cuma kaget aja waktu tuan bilang i love you ke saya," jelas Misha.


πŸ“ž"Ohh soal itu.. ya ampun Misha, begitu aja masa kamu kaget sih?!" kekeh Fabian.


πŸ“ž"Ya abis aku belum pernah dengar cowok bilang begitu ke aku," ucap Misha.


πŸ“ž"Hahaha, berarti saya yang pertama dong? Kalo gitu, sekarang giliran kamu bilang i love you too untuk saya!" ucap Fabian.


πŸ“ž"Hah? Emang harus ya tuan?" kaget Misha.

__ADS_1


πŸ“ž"Gak juga sih, kalau kamu belum siap juga gapapa. Tapi, saya akan selalu tunggu kamu sampai kamu berani bilang i love you ke saya," ucap Fabian.


πŸ“ž"I-i-iya tuan," ucap Misha lirih.


πŸ“ž"Yaudah, saya tutup dulu ya? Bye Misha, muaach!" ucap Fabian memberi kecupan melalui telpon.


πŸ“ž"Bye juga tuan, muaach!" balas Misha dengan malu-malu.


Begitu saja sudah membuat perasaan Fabian senang bukan main, dia terus tersenyum memandangi layar ponselnya. Kebahagiaan ini belum pernah dia rasakan sebelumnya.


β€’


β€’


Sementara itu, Mahen masih kelimpungan sendiri di depan rumah Fabian. Dia menyesali apa yang tadi hendak ia lakukan kepada Khayra.


Berkali-kali Mahen mondar-mandir sembari merutuki dirinya sendiri, ia merasa bersalah telah berniat melecehkan Khayra tadi.


"Haish, dasar bodoh kamu Mahen! Apa kata orang kalau tadi kamu sentuh Bu Khayra yang sedang pingsan? Bisa-bisa saya dipecat sama tuan muda," ujar Mahen.


"Eh, tapi kan tadi tuan muda sendiri yang kasih tubuh istrinya ke saya. Kenapa saya harus takut begini ya? Malahan harusnya tadi saya lakuin aja hal itu sesuai perintah tuan muda," gumam Mahen.


"Aaarrgghh saya jadi nyesel deh!" lanjutnya.


Tak lama kemudian, bik Anar keluar dengan wajah panik, ia menghampiri Mahen yang sedang berdebat dengan dirinya sendiri itu.


"Pak, pak Mahen gawat pak!!" teriak bik Anar.


"Eh eh, iya bik ada apa? Kenapa bibik panik banget kayak gini?" tanya Mahen.


"Apa? Bu Khayra sakit??" Mahen tersentak kaget mendengar penjelasan bik Anar itu.


"Iya pak, kita harus bawa Bu Khayra ke rumah sakit untuk dapat pengobatan!" ucap bik Anar.


"I-i-iya bik, ayo bantu saya bawa Bu Khayra ke mobil ya!" ucap Mahen.


Bik Anar mengangguk, lalu mereka pun sama-sama masuk ke dalam rumah dengan kondisi panik.


Tiba-tiba saja ponsel milik Mahen berdering, membuat Mahen menghentikan langkahnya sejenak untuk memeriksa ponselnya.


"Sebentar bik!" ucap Mahen.


Ia mengecek ponsel, mendapati nama Fabian yang ternyata menghubunginya.


"Tuan muda telpon, bibik duluan aja jagain Bu Khayra supaya gak kenapa-napa!" ujar Mahen.


"Baik pak!" ucap bik Anar menurut.


Bik Anar pun pergi ke kamar Khayra, sedangkan Mahen terdiam disana mengangkat telpon.


πŸ“ž"Halo tuan muda! Ada apa ya tuan?" tanya Mahen dengan nafas memburu.

__ADS_1


πŸ“ž"Loh loh, kamu kenapa kayak panik gitu Mahen? Apa yang terjadi disana? Kamu baik-baik aja kan?" ujar Fabian cemas.


πŸ“ž"Saya gak kenapa-napa tuan, tapi bu Khayra jatuh sakit tuan. Ini mungkin efek dari hukuman tuan muda tadi," jelas Mahen.


πŸ“ž"Hadeh, itu orang nyusahin aja sih! Udah kamu gausah urusin dia! Bilang aja ke pengawal lain di rumah saya itu buat bawa Khayra ke dokter! Kamu sekarang harus jemput Misha di rumah sakit Andika!" ucap Fabian.


πŸ“ž"Tapi tuan, Bu Khayraβ€”"


πŸ“ž"Lakukan sesuai perintah saya Mahen! Kamu jangan membangkang atau saya akan pecat kamu!" potong Fabian.


πŸ“ž"Ba-baik tuan, saya akan jemput nona Misha sekarang!" ujar Mahen.


πŸ“ž"Baguslah, jemput dia lalu bawa dia ke kantor saya! Mengerti?" titah Fabian.


πŸ“ž"Siap mengerti tuan!" jawab Mahen tegas.


Setelahnya, Fabian langsung menutup telpon. Mahen pun tampak bingung saat ini, di satu sisi dia khawatir pada kondisi Khayra, tapi di sisi lain dia juga tak mungkin melawan perintah Fabian.


"Aaarrgghh saya jadi bingung! Yasudah lah, saya lakukan saja apa yang diperintahkan tuan muda!" gumam Mahen.


Akhirnya Mahen kembali ke luar, dia menemui salah seorang penjaga disana dan mengatakan apa yang diperintahkan Fabian tadi.


Setelah itu, Mahen masuk ke mobil dan bergegas menjemput Misha di rumah sakit.


β€’


Sementara Fabian juga kepikiran dengan kondisi Khayra, ada rasa takut di dalam hatinya setelah mendengar kabar bahwa Khayra jatuh sakit.


"Duh, kok Khayra bisa sampe sakit sih? Apa saya keterlaluan kasih hukuman buat dia? Abisnya dia ngeselin banget sih, buat apa coba dia jambak Misha segala?" gumam Fabian.


"Ah sudahlah, untuk apa juga saya mikirin Khayra? Kalaupun dia sakit, toh disana masih ada banyak orang yang bisa bantu saya. Seharusnya saya tidak usah perduli lagi sama dia!" sambungnya.


Fabian pun kembali menatap komputernya, berusaha melupakan Khayra dari pikirannya.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu ruangannya dari luar dan meminta izin masuk.


"Ya masuk!" suara Fabian mengizinkan seseorang di luar sana untuk segera masuk.


Ceklek..


"Permisi pak, maaf mengganggu! Ini saya ingin membawakan berkas-berkas yang harus bapak tandatangani," ucap seorang wanita yang tak lain ialah Zya, sekretaris Fabian.


"Oh iya iya, letakkan saja disitu!" ucap Fabian seraya menunjuk ke arah meja.


"Baik pak!" Zya meletakkan beberapa berkas di atas meja, lalu pamit pada Fabian dan keluar dari ruangan itu.


Bau harum masih tertinggal di hidung Fabian, membuat dirinya merasa kagum.


"Tumben Zya pakai parfum sebanyak ini, sampai wanginya masih ketinggalan disini," ujar Fabian.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2