Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Sudah mau menikah?


__ADS_3

...Wih udah mau 50 bab aja, itu artinya bentar lagi tamat. Siapa yang nunggu Fabian Misha nikah? Jadi kagak ya nikahnya mereka?🤔...


...Terus support author, supaya author semangat dan gak pindah ke pf lain. Karena lagi bimbang nih mau menetap atau pindah ke yang cuannya lebih gede😆...


Oke lanjut ke ceritanya >>>


...|||...


Misha dan Fabian tiba di depan ruang rawat tempat ayah Misha berada, tanpa menunggu lama Misha langsung membuka pintu tersebut dan melangkahkan kakinya ke dalam diikuti Fabian.


Ceklek..


Misha benar-benar bahagia melihat ayahnya sudah sadar dan tengah berbaring disana, ia berdiam sejenak menutup mulutnya dengan telapak tangan seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Fabian pun ikut terharu, ekspresi Misha saat ini amat menandakan bahwa dia sedang bahagia.


"Ayah?" lirih Misha. Perlahan ia melangkah maju mendekati ayahnya, sang ayah bahkan juga menoleh menatapnya begitu mendengar suara.


"Ayah sudah sadar? Ini Misha yah, Misha ada disini buat ayah. Misha senang banget lihat ayah pulih kembali!" sambungnya. Kini posisinya sudah dekat dengan sang ayah, berdiri di samping lelaki tua itu sambil terus menatapnya.


"Mi-Misha??" Hardi terus berusaha untuk membuka mulutnya dan berbicara meski sulit, ia juga berniat bangkit dari posisinya saat ini untuk sekedar menyentuh putrinya.


"Udah yah, ayah diam aja! Biar Misha yang deketin ayah, Misha gak mau ayah kenapa-napa!" pinta Misha. Tangannya bergerak menahan tubuh sang ayah agar tidak bangkit.


"Misha, ayah sangat senang bisa melihat kamu lagi nak!" ucap Hardi pelan.


"Iya ayah, Misha juga sama senangnya seperti ayah. Bertahun-tahun Misha menunggu momen ini, akhirnya kita bisa saling berbincang lagi seperti dulu yah!" ucap Misha mengulum senyum.


"Ayah mau peluk kamu nak," ucap Hardi. Tentu Misha mengangguk menyetujui permintaan sang ayah, dia membungkuk dan memeluknya.


"Aku kangen ayah!" ucap Misha membenamkan wajahnya di dada sang ayah.


"Ayah juga kangen kamu nak! Ayah bahagia sekali bisa peluk kamu kayak gini!" ucap Hardi mengusap punggung putrinya lembut.


Tanpa sadar, cairan bening membasahi pipi keduanya. Mereka menangis bersamaan melepas kesedihan yang terpendam selama ini.


Fabian yang berdiri di belakang pun ikut menitikkan air mata, dia benar-benar terharu saat ini.


Setelah selang beberapa menit, Misha melepas pelukannya, menghapus air mata di wajahnya serta mengusap punggung tangan sang ayah yang masih menggenggamnya.


"Ayah, udah ya ayah jangan sedih lagi! Misha gak mau lihat ayah sedih kayak gini, Misha pengennya ayah tersenyum seperti dulu!" ucap Misha.


"Iya Misha, ayah pasti akan selalu tersenyum untuk kamu! Tapi, mengapa kamu tidak datang dengan ibu kamu? Dimana dia sayang?" Hardi terlihat bingung dan terus menatap sekeliling ruangan mencari sosok istrinya.


"Hah?" Misha terhenyak mendengar ucapan sang ayah, jantungnya berdetak tak karuan bingung memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan kepada ayahnya itu.


"Kenapa nak? Mana ibu kamu? Dia tidak ikut kesini sama kamu buat lihat ayah?" tanya Hardi.

__ADS_1


"Eee ibu pasti udah lihat ayah juga kok, ibu mungkin lagi tersenyum disana karena ayah udah sadar. Sekarang ayah istirahat dulu ya? Aku gak mau ayah sakit lagi!" jawab Misha.


"Iya sayang, ayah akan istirahat." Hardi menurut disertai senyum tipisnya. Lalu, tatapannya mengarah pada sosok pria yang berdiri di dekat putrinya. Dia pun mengajukan pertanyaan kepada Misha, "Siapa dia Misha?" ucapnya.


"Ah kenalin yah, ini calon suami Misha, namanya mas Fabian. Dia yang selama ini bantu Misha soal biaya rumah sakit ayah," jawab Misha.


"Apa??!" kaget Hardi.


Fabian pun maju mendekati Hardi, tangan halusnya meraih satu tangan lelaki tua itu dan mengecupnya sebagai tanda hormat.


"Benar paman, saya Fabian dan saya calon suami Misha. Saya turut senang melihat paman bisa sadar seperti ini! Itu artinya, di pernikahan kami nanti paman bisa hadir," ujar Fabian.


Hardi masih tersentak tak percaya, dia kembali melirik putrinya dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Misha, kamu sudah mau menikah?" tanya Hardi.


"I-i-iya ayah.." Misha menjawab dengan pelan.


"Oh astaga! Berapa lama ayah koma nak? Sampai ketika ayah sadar, putri kecil ayah ini sudah memiliki calon suami. Dia tampan lagi, selamat ya buat kalian!" ucap Hardi tersenyum ceria.


"Iya paman, terimakasih! Berarti paman merestui hubungan kami kan?" ucap Fabian.


"Tentu saja, kenapa tidak?" jawab Hardi tanpa ragu.


Ketiganya tertawa riang, Fabian merasa lega karena ternyata ia juga mendapat restu dari ayah Misha.


"Oh ya, kamu jangan panggil saya paman lagi! Langsung aja panggil ayah, seperti Misha!" pinta Hardi pada Fabian.


"Hahaha.." Hardi tertawa renyah, sebuah tawa yang sangat dirindukan Misha.


"Terimakasih ya Tuhan! Aku benar-benar bahagia saat ini, aku senang karena aku masih bisa mendengar tawa bahagia ayahku lagi!" batin Misha.


•


•


Singkat cerita, Misha mengantar Fabian sampai depan rumah sakit karena pria itu hendak pulang.


Fabian baru mendapat kabar dari Zya—sekretarisnya bahwa besok kliennya dari Brunei akan datang pagi-pagi sekali.


Akibatnya, Fabian pun terpaksa pamit pada Misha dan tak bisa menemani wanita itu disana.


"Maaf ya Misha, saya gak bisa temenin kamu buat jaga ayah kamu! Tapi, besok selesai meeting saya pasti akan langsung datang kesini buat jenguk ayah kamu!" ucap Fabian sembari mengusap rambut wanitanya.


"Gapapa mas, aku ngerti kok. Lagian kan aku masih bisa urus ayah aku sendiri, udah mas mending pulang aja terus istirahat supaya besok gak ngantuk!" ucap Misha.


"Iya Misha, terimakasih ya atas pengertiannya! Besok saya balik lagi sekalian bawa baju-baju kamu dan makanan buat kamu," ucap Fabian.

__ADS_1


"Iya mas iya.."


Cup!


Fabian menarik tengkuk Misha dan mengecup bibirnya, cukup lama bibirnya menempel disana, ya hanya menempel.


"Good night sayang!" ucap Fabian.


"Night too mas Fabian sayang!" balas Misha yang berhasil membuat Fabian meleleh.


"Duh, saya bisa diabetes nih lihat senyum kamu!" ujar Fabian.


"Ahaha, tuan ada-ada aja!" kekeh Misha malu-malu.


"Yaudah, saya pergi ya? Kamu hati-hati disini!" ucap Fabian mulai melepas tangannya dari tubuh Misha.


"Kebalik mas, harusnya mas yang hati-hati di jalan tau!" ucap Misha.


"Iya iya, bye sayang!" ucap Fabian.


"Bye!" balas Misha sambil tersenyum.


Setelahnya, Fabian pun masuk ke mobilnya. Misha masih setia disana melambaikan tangan untuk Fabian sampai pria itu mulai melaju pergi.


Fabian masih terus tersenyum mengingat momen indahnya hari ini, dia baru saja mendapat restu dari kedua orangtuanya dan juga Misha.


"Benar-benar hari yang membahagiakan! Saya gak sabar buat nikahin kamu Misha!" kekehnya. Ia terus membayangkan wajah cantik Misha yang selalu membuatnya rindu.


Tiba-tiba, sebuah mobil dari arah samping menyalipnya dan berhenti tepat di depannya.


Ciiitttt...


Fabian terpaksa mengerem secara mendadak, ia sangat kaget dengan apa yang terjadi barusan.


"Hah? Siapa sih itu?!" kesalnya.


Fabian pun turun dari mobil dengan segera, menghampiri mobil di depannya untuk mencari tahu siapa itu.


"Woi keluar lo!" sentak Fabian, ucapannya barusan seperti bukan berasal dari mulutnya.


Tak lama, seorang pria dengan jas hitam pun turun dari mobil tersebut. Ia menatap Fabian dari atas sampai bawah dengan senyum smirk nya.


"Lo siapa? Mau lo apa cegat mobil gue di jalan tadi?" tanya Fabian.


"Akhirnya kita bertemu disini, Fabian Labib Walandouw. Putra dari Dominic Alvansyah yang kaya raya itu," ucap si pria.


"Hah? Apa maksud lo??"

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2