
...Mau sad end apa happy end nih?...
...•••...
Beberapa hari kemudian...
Fabian serta Cornelia tengah berbahagia karena hari ini akhirnya Dominic berhasil sadar dari komanya setelah beberapa hari kemarin pria itu terbaring cukup lama.
Keduanya pun bergerak cepat menemui Dominic di dalam sana, Cornelia langsung menatap penuh gembira ke wajah sang suami yang masih tertutup infus itu.
"Mas? Syukurlah akhirnya mas sadar juga! Aku senang banget mas lihatnya!" ucap Cornelia.
"Iya pa, aku juga senang papa bisa sadar kayak gini! Jangan koma lagi ya pa, aku gak bisa lihat mama sedih terus!" timpal Fabian.
"Ka-kalian gak perlu sedih begitu, papa kan sudah sadar. Lagipun, papa juga gak mungkin koma lagi kok!" lirih Dominic.
"Makasih ya pa, karena papa udah berjuang untuk kesembuhan papa!" ucap Fabian.
"Seharusnya papa yang bilang makasih sama kalian, kalian udah mau setia temani papa disini selama papa sakit. Papa benar-benar bangga punya keluarga seperti kalian!" ujar Dominic.
"Itu udah kewajiban kita pa, kita kan kepengen papa cepat sadar dan pulih dari penyakit papa!" ucap Fabian.
Dominic tersenyum di sela-sela tangisannya.
"Papa kenapa nangis? Ada yang bikin papa sedih?" tanya Fabian heran.
"Maafin papa ya Fabian! Gara-gara papa, hubungan kamu dengan Misha jadi terhambat. Harusnya papa dulu gak bertindak seperti itu sama keluarga Misha, papa benar-benar menyesal telah melakukan itu semua!" jawab Dominic.
"Udah lah pa, papa gak perlu bahas itu lagi! Yang penting sekarang papa harus pulih dulu, lagian hubungan aku sama Misha baik-baik aja kok dan gak ada masalah!" ucap Fabian.
"Masa sih? Bukannya Ashraf tidak suka jika kalian berhubungan?" tanya Dominic.
"Iya emang begitu pa, tapi sekarang kan Ashraf udah di penjara. Dia ditangkap karena melakukan penusukan terhadap papa," jelas Fabian.
"Ashraf ditangkap? Kalau begitu harusnya papa juga ada disana Fabian," ucap Dominic.
"Maksud papa? Kenapa papa bicara begitu?" tanya Fabian tak mengerti.
"Iya Fabian, kesalahan yang papa perbuat itu lebih daripada apa yang dilakukan Ashraf. Papa juga pantas berada di penjara bersama dia, karena papa sudah menghilangkan nyawa ibu kandung Misha!" jelas Dominic.
"Pa, udah ya papa jangan bahas itu lagi! Semuanya kan udah clear pa, jadi papa gak perlu merasa bersalah kayak gitu terus!" ujar Fabian.
"Iya mas, kamu sebaiknya fokus aja sama kesembuhan kamu dulu! Soal masa lalu kamu, itu kan udah bukan jadi masalah lagi," timpal Cornelia yang ikut cemas.
__ADS_1
"Gak bisa begitu lah, meski pak Hardi dan Misha sudah memaafkan papa, tetap saja papa merasa sangat bersalah. Apalagi belum tentu istri pak Hardi di alam sana mau maafin papa, gimana kalau dia masih dendam sama papa?" ucap Dominic.
"Papa gak perlu khawatir! Aku bakal bantu papa tebus semua dosa-dosa papa di masa lalu! Nanti begitu papa sembuh, aku bisa antar papa ke makam ibunya Misha kok," ucap Fabian.
"Iya iya, antar papa kesana! Papa mau minta maaf sama dia!" ujar Dominic.
"Aku pasti antar papa, tapi sekarang papa fokus sama kesembuhan papa dulu!" ucap Fabian.
"Betul mas, kalau kamu gak sembuh gimana caranya kamu bisa datang ke makam ibunya Misha?" timpal Cornelia.
"Tapi, papa udah sembuh kok. Papa bisa lah pergi ke makam itu sekarang," ujar Dominic.
"Belum mas, kamu belum sembuh. Dokter bilang kondisi kamu juga masih belum stabil, kamu masih harus dirawat disini," ucap Cornelia.
Dominic terdiam pasrah, melawan pun percuma karena istri dan putranya pasti akan selalu menghalangi niatnya untuk pergi dari sana.
•
•
Singkat cerita, Dominic beserta Fabian dan Cornelia datang ke makam ibu Misha ditemani oleh Misha sendiri tentunya.
Dominic yang masih tertatih-tatih karena baru keluar dari rumah sakit itu, coba duduk di dekat makam ibu Misha sambil menabur bunga.
"Nah, ini dia makam ibu aku," ucap Misha.
"Sama-sama pa," ucap Misha sambil tersenyum.
Dominic dengan mata sembabnya perlahan menyentuh nisan tersebut, seketika dia teringat pada peristiwa yang merenggut nyawa ibu Misha beberapa tahun lalu itu.
"Permisi ibu Fey! Saya kesini dengan niat tulus mau meminta maaf pada ibu, atas segala kesalahan yang saya perbuat dahulu," lirih Dominic.
Fabian dan yang lainnya ikut bersedih melihat Dominic menangis di depan mereka saat ini.
"Saya benar-benar menyesal telah melakukan itu semua pada keluarga ibu, bahkan sampai membuat nyawa ibu melayang. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya sama ibu! Saya juga janji, saya akan menebus kesalahan saya!" ujar Dominic.
"Tolong maafkan saya ya Bu! Walau saya sadar saya tidak pantas dimaafkan, tapi saya sangat berharap maaf dari ibu untuk saya!" sambungnya.
Dominic mengakhiri ucapannya dengan menaburi bunga cukup banyak dan memanjatkan doa untuk ibu Misha itu, Fabian juga ikut mendekati sang papa bermaksud menenangkan nya.
"Udah ya pa? Aku yakin tante Fey pasti bisa maafin papa!" bujuk Fabian.
"Ya, semoga!" ucap Dominic.
__ADS_1
"Papa tenang ya! Ibu orang baik kok, ibu pasti udah maafin papa!" ujar Misha.
Dominic kembali berdiri mendekati Misha, ia mengusap puncak kepala wanita itu dengan lembut diiringi isak tangisnya.
"Saya percaya ibu kamu orang yang baik, karena kamu juga sangat baik Misha!" ucap Dominic.
"Makasih pa! Sekarang papa gak perlu sedih-sedih lagi, aku bisa jamin ibu pasti udah maafin papa!" ucap Misha.
"Ya, saya bahagia dengarnya. Semoga saja ibu kamu memang sudah memaafkan saya dan merestui hubungan kalian berdua!" ujar Dominic.
"Aamiin!" ucap Fabian dan Misha serentak.
"Iya juga, kapan pernikahan kalian dilaksanakan? Waktu itu bilangnya Minggu depan, tapi kenapa sampai sekarang masih belum terlaksana? Malah kalian keduluan loh sama Mahen," tanya Dominic.
"Iya pa, kemarin emang harusnya jadwal kami menikah. Tapi kan ada peristiwa buruk yang menimpa papa, jadinya kami harus menunda pernikahan kami demi menjaga papa," jawab Fabian.
"Ohh, kalo gitu papa minta maaf ya? Gara-gara papa jadinya kalian gagal menikah," ujar Dominic.
"Enggak kok pa, ini bukan salah papa. Siapa sih yang mau papa terluka kayak gitu?" ucap Misha.
"Tau ih, papa kalo ngomong ngada-ngada aja!" sahut Fabian.
"Yasudah, papa kan sekarang udah sembuh. Gimana kalau pernikahan kalian dilanjutkan?" ucap Dominic.
"Itu sih udah pasti pa, malahan aku maunya besok bisa langsung nikahin Misha," ucap Fabian.
"Nah bagus itu! Lebih cepat emang lebih baik, tapi kamu yakin bisa persiapkan semuanya sampai besok?" ujar Dominic.
"Jangan buru-buru mas! Kayak mau ngapain aja," ucap Misha.
"Aku udah gak sabar pengen menjalin rumah tangga sama kamu Misha," ujar Fabian.
Wajah Misha bersemu merah mendengarnya, Fabian yang melihatnya pun tersenyum karena wanitanya benar-benar tampak cantik.
"Ambil jalan tengahnya aja, gimana kalau tiga hari lagi?" usul Dominic.
"Mama setuju! Biar para tamu undangan juga gak kerepotan karena mendadak," timpal Cornelia.
"Umm, ya boleh deh. Terpaksa aku harus tunda sampai tiga hari, padahal pengennya mah besok," ucap Fabian.
"Hahaha.." akhirnya mereka tertawa bersamaan.
Kesedihan yang dirasakan Dominic, perlahan terganti dengan kebahagiaan. Meski tak sepenuhnya menghilangkan kesedihan di dalam hatinya serta rasa penyesalan akibat kesalahannya di masa lalu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...