
Mahen merasa geram karena telponnya tak kunjung direspon oleh Fabian, dia semakin panik dan tak tahu harus melakukan apa untuk mencegah keributan di dalam sana.
Akhirnya Mahen menyerah, percuma juga menunggu Fabian menjawab telpon darinya karena pria itu sedang asyik menunggangi Misha di kantornya.
"Haish, apa saya masuk aja ya ke dalam? Saya cegah supaya orang tua Bu Khayra dan tuan besar gak saling ribut disana," gumam Mahen.
"Ah iya deh, saya masuk aja!" sambungnya.
Disaat ia hendak masuk ke dalam, tiba-tiba Khayra beserta kedua orangtuanya sudah lebih dulu keluar dari rumah besar itu.
Mahen pun mengurungkan niatnya, ia merasa lega karena ternyata tidak ada keributan yang terjadi di dalam sana, meski ia tak tahu pasti.
Pria itu melangkah mendekati Khayra dengan senyum merekah di bibirnya, namun ekspresi Khayra justru terlihat tak suka saat didekati olehnya.
"Bu Khayra, bagaimana Bu apa semua urusannya sudah selesai?" tanya Mahen lembut.
"Kamu apa sih Mahen? Saya kan sudah bilang, saya itu gak mempekerjakan kamu sebagai asisten saya. Kenapa kamu masih aja ngikutin saya dan bertingkah seolah-olah saya ini bos kamu?" ujar Khayra.
"Saya hanya ingin memastikan Bu Khayra dan keluarga baik-baik saja, tidak perlu menjadi asisten kan untuk melakukan itu?" ucap Mahen.
"Heh! Kamu itu asistennya Fabian kan? Buat apa kamu dekati anak saya? Sebaiknya kamu pergi saja sana, saya tidak sudi Khayra dekat dengan orang yang berhubungan dengan Fabian!" sentak Broto.
"Maaf pak! Saya memang asisten tuan muda, tapi sekarang saya sudah dipecat," ucap Mahen.
"Ah saya gak perduli! Apapun itu, kamu tetap tidak bisa mendekati anak saya!" tegas Broto.
Mahen hanya tersenyum sembari menundukkan kepala.
"Sudah, ayo Khayra kita pulang!" ajak Broto.
"Iya dad," Khayra menurut, ia dan kedua orangtuanya pun pergi dari rumah besar itu.
"Saya gak boleh nyerah, saya harus tetap lindungi Bu Khayra supaya tidak terjadi apa-apa dengan dia! Ini tanggung jawab saya sebagai lelaki, yakni menjaga dan melindungi wanita yang saya sayangi!" gumam Mahen.
Mahen memaksa mengikuti mobil Khayra dari belakang, meskipun dia tau resikonya nanti.
•
•
Setelah menuntaskan gairahnya, Fabian kini terduduk di sofa dengan bertelanjang dada. Ia mendongakkan kepalanya seraya mengambil nafas untuk menetralkan tubuhnya.
Sementara Misha masih terbaring menyamping di sofa tersebut, tubuhnya bahkan tak tertutupi apapun karena dia belum sanggup untuk bergerak apalagi bangkit dari sofa.
Permainan Fabian memang tak sekasar biasanya, karena dia tahu Misha tengah mengandung. Tetapi, tetap saja Misha kewalahan meladeni stamina Fabian yang tidak ada habisnya itu.
"Haaahhh capek juga saya main lima jam lebih! Orang-orang kantor udah pada pulang apa belum ya?" ujar Fabian.
Pria itu melirik ke arah Misha, dia tersenyum dan kemudian menggerakkan tangannya mengusap pinggul Misha yang tengah terlelap. Jujur ia kasihan melihat Misha seperti ini, namun ia juga sulit jika harus menahan keinginannya untuk menikmati tubuh Misha.
"Maafin saya ya Misha! Saya selalu paksa kamu berhubungan badan, padahal saya tahu kamu selalu tersiksa setiap kali kita melakukan itu. Tapi, saya juga tidak bisa menahannya Misha. Tubuh kamu terlalu seksi untuk dilewati," lirih Fabian.
Sentuhan pria itu mulai merambat ke atas, menyentuh wajah Misha yang dipenuhi peluh.
Perlahan ia membungkuk mendekat ke telinga sang kekasih, ia menyingkirkan rambut Misha yang menghalangi pandangannya pada wajah wanita itu.
Cup!
Ia mengecup ceruk leher Misha, menggigit cuping telinga dan juga meraup bibir mengatup Misha yang amat menggoda itu.
__ADS_1
"Kamu istirahat ya cantik, saya keluar sebentar buat cek keadaan! Saya janji akan kembali kok, kamu disini aja dan gausah khawatir!" ucap Fabian seraya mengusap puncak kepala wanitanya.
"Hmm," Fabian terkejut saat Misha berdehem kecil, ia tak mengira jika wanita itu masih mendengarnya.
Fabian pun terkekeh kecil, lalu pergi dari sana meninggalkan Misha dengan berat hati. Jujur saja dia tak pernah bisa jauh-jauh dari Misha.
Setelah Fabian pergi, rupanya Zya memantau sedari tadi tak jauh dari tempat Fabian berada. Ia mengeluarkan smirk nya kemudian maju mendekat ke ruangan Fabian.
"Hahaha, cewek itu sendiri di dalam. Aku bisa kerjain dia nih, supaya dia gak bisa mesum lagi di kantor sama pak bos!" batin Zya.
•
•
Fabian baru sadar kalau sebelum ini Mahen sempat menghubunginya beberapa kali, ia merasa penasaran mengapa mantan asistennya itu masih saja menghubungi nomornya.
"Oh iya, tadi kan Mahen telpon saya. Kira-kira dia mau ngapain ya?" gumamnya.
Fabian mengambil ponsel, berniat menelpon nomor Mahen. Namun, ia mengurungkan niatnya dan malah memasukkan kembali ponsel itu.
"Ah biarin aja deh, palingan dia juga cuma mau ngemis-ngemis minta kerjaan!" pikirnya.
Lelaki itu melanjutkan langkahnya menyusuri lorong kantor, sebelum tanpa sengaja dirinya bertabrakan dengan seorang wanita disana.
Bruuukkk..
"Duh!" wanita itu terkejut dan seluruh berkas yang dia bawa pun jatuh berserakan, sedangkan Fabian menatapnya kesal.
"Pak, ma-maaf pak saya gak sengaja!" ucap si wanita tampak gugup.
"Kamu siapa? Karyawan baru ya disini?" tanya Fabian dingin.
"Siapa nama kamu?" tanya Fabian.
"Jane pak," jawab wanita itu sambil menunduk.
"Oke! Kenapa kamu belum pulang? Jam pulang kantor kan sudah tiba," tanya Fabian.
"Umm, sa-saya diminta bawa berkas-berkas ini ke ruang pak manager pak," jawab Jane.
"Yasudah, mari saya bantu!" ujar Fabian.
"Eh gausah pak, saya bisa sendiri kok!" tolak Jane.
"Gapapa," Fabian memaksa untuk membantu gadis itu merapihkan kembali berkas-berkas tersebut.
Entah mengapa Jane merasa kagum begitu melihat kebaikan Fabian, tanpa sadar ia pun mengulum senyum.
"Terimakasih ya pak! Ini biar saya yang bawa sendiri ke ruangan pak manager," ucap Jane.
"Ya, kalau kamu butuh sesuatu tinggal bilang aja sama saya," ucap Fabian.
"Baik pak, saya permisi dulu!" ucap Jane pamit, kemudian melangkah melewati Fabian.
Namun, tiba-tiba saja suara teriakan seorang wanita membuat keduanya terkejut.
"Aaaaa!!"
"Apa itu pak? Siapa yang teriak barusan?" kaget Jane.
__ADS_1
Fabian berpikir sejenak, seketika ia mengingat Misha yang masih berada di ruangannya.
"Ya ampun, Misha!"
Fabian bergegas menuju ruang kerjanya, ia melangkah begitu saja meninggalkan Jane yang masih dibuat bingung.
"Siapa Misha?" gumam Jane.
•
•
"Misha! Kamu kenapa?!" Fabian berteriak panik dan langsung menghampiri Misha yang tengah berdiri disana.
"Tuan?" Misha menoleh, ia reflek menutupi tubuh polosnya saat melihat Fabian muncul.
"Kamu kenapa Misha?" tanya Fabian seraya memeluk tubuh Misha.
"Tu-tuan, itu tadi ada kecoa merayap di tubuh aku. Geli banget tau tuan, aku juga ngerasa jijik!" jawab Misha dengan rahang bergetar.
"Kecoa? Masa di ruangan saya bisa ada kecoa sih? Biasanya gak ada loh, darimana coba tuh kecoa bisa masuk?" ujar Fabian keheranan.
"Gak tahu tuan, tadi pas aku lagi tidur, tiba-tiba aja aku ngerasa ada yang merayap di tubuhku. Eh pas aku lihat ternyata kecoa," jelas Misha.
"Yaudah, kamu tenang ya!" ucap Fabian mendekap tubuh Misha untuk menenangkannya.
"I-i-iya tuan, tapi kecoa nya belum ketangkap," ucap Misha.
"Nanti saya suruh ob buat cari kecoa nya, kamu pake baju dulu gih sana!" ujar Fabian.
Misha mengangguk dan hendak meraih pakaiannya, tapi lagi-lagi ia dikejutkan dengan kemunculan kecoa disana.
"Aaaaa tuan itu kecoa nya!" pekik Misha kaget.
"Hah?? Tenang tenang, biar saya yang tangkap kecoa nya!" ujar Fabian.
Misha menyingkir membiarkan Fabian menangkap kecoa itu, ia tak mengira Fabian ternyata berani menangkap kecoa dengan tangan kosongnya.
"Nah, udah saya buang kecoa nya. Kamu gausah takut lagi sayang!" ucap Fabian.
Misha reflek menghindar begitu Fabian hendak memeluknya kembali, tentu itu menimbulkan pertanyaan di benak Fabian.
"Kamu kenapa menghindar?" tanya Fabian.
"Tuan kan abis pegang kecoa, aku gak mau disentuh tuan. Jorok tau! Tuan cuci tangan dulu sana!" jelas Misha.
Fabian tersenyum miring, perlahan ia mendekati Misha dan mendekapnya erat.
"Tubuh kamu kan juga abis disentuh kecoa, jadi kita sama-sama jorok. Biar saya bersihin tubuh kamu ya Misha?" bisik Fabian sensual.
Misha terkejut, apalagi saat tiba-tiba Fabian menariknya ke dalam kamar mandi.
Sementara Zya yang menyaksikan momen itu dibuat jengah karena Fabian dan Misha justru semakin romantis.
"Ih sial! Kenapa pak Fabian malah datang sih?! Harusnya kan biarin aja si Misha itu digerayangi kecoa! Tapi gapapa, ini baru permulaan. Aku akan lakukan cara lain sampai bisa menjauhkan mereka!" gumam Zya.
"Mbak? Mbak lagi ngapain di depan ruangan bos?" Zya terkejut saat seseorang mendekatinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...