Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Minta pengakuan


__ADS_3

Misha menatap Ashraf yang tengah terduduk di sofa seorang diri sembari memegang ponselnya.


Ia pun melangkah menghampiri pria tersebut dengan membawa nampan berisi secangkir kopi di tangannya.


"Kak Ashraf, ini kopinya." Misha membungkuk lalu menaruh cangkir kopi tersebut di meja.


"Ya, makasih Misha!" ucap Ashraf singkat dengan senyum tipis di bibirnya.


Saat ini memang Misha serta ayahnya diajak tinggal di rumah Ashraf untuk sementara, karena tak ada pilihan lain akhirnya Misha mengiyakan saja tawaran Ashraf padanya.


"Kalau gitu aku balik ke belakang dulu ya kak? Sekalian mau ngecek kondisi ayah," ucap Misha yang kembali berdiri tegak.


"Eh tunggu Misha!" Ashraf menahan Misha tetap disana dengan memegang tangan wanita itu.


"Iya, ada apa kak?" tanya Misha penasaran.


"Bisa kita bicara sebentar?" ucap Ashraf menatap penuh harap ke arah Misha.


"Umm bisa, emang kak Ashraf mau bicara apa?" ucap Misha makin dibuat penasaran.


"Kamu duduk dulu sini biar kita bicaranya lebih enak!" ujar Ashraf.


"Eee iya iya.." Misha menurut dan duduk di sebelah Ashraf masih sambil memegang nampan.


"Itu nampan taruh aja dulu di meja!" ucap Ashraf.


"Oh iya, hehe.." Misha terkekeh kecil lalu meletakkan nampan tersebut di meja sesuai perintah sepupunya.


"Umm, terus kak Ashraf tadi katanya mau bicara kan? Bicara apa kak?" tanya Misha.


"Iya Misha, ini tentang hubungan kamu dan Fabian. Aku mau tanya deh sama kamu, kamu yakin beneran pengen nikah sama sama si Fabian itu? Kamu udah tahu kan kalau dia pelaku yang udah bikin ibu kamu meninggal dunia?" ujar Ashraf.


Misha terdiam mendengar ucapan Ashraf, ia kembali teringat pada sosok ibu yang sangat ia sayangi itu.


"Udah deh kak, jangan bahas masalah itu lagi! Aku sama ayah kan udah maafin semuanya, kita gak mau ada permusuhan atau dendam karena itu gak baik. Tolong kak Ashraf ngertiin ya!" ucap Misha.


"Kamu kenapa segampang itu sih maafin Fabian? Apa karena dia orang kaya?" tanya Ashraf heran.


"Kak! Ini gak ada hubungannya ya sama harta dan kekayaan mas Fabian! Aku itu cinta sama dia dan lagipun mas Fabian juga gak tahu menahu soal ini, jadi kak Ashraf gak bisa terus-terusan salahin mas Fabian kayak gitu! Pernikahan aku sama mas Fabian tinggal sebentar lagi, gak mungkin aku batalin gitu aja kak!" jawab Misha dengan tegas.


"Ya aku tahu, kamu emang cinta sama orang itu. Semoga aja keputusan kamu gak salah ya Misha! Aku cuma khawatir kalau ternyata Fabian gak benar-benar mencintai kamu, dia menikahi kamu karena ada maksud tertentu," ujar Ashraf.

__ADS_1


"Maksud tertentu gimana?" tanya Misha.


"Aku sih belum tahu pasti, tapi aku bakal selidiki semuanya sampai aku bisa temukan apa alasan Fabian mau menikahi kamu. Jadi, sebaiknya kamu pikir-pikir dulu deh!" ucap Ashraf.


"Udah lah kak, aku males bicarain soal itu lagi. Sekarang aku harus tengok ayah, permisi ya kak!" ucap Misha.


Wanita itu hendak bangkit dan pergi, tapi lagi-lagi Ashraf menahan tangannya.


"Kamu jangan begitu dong Misha! Aku ini mau bantu kamu loh, supaya kamu gak nyesel nantinya," ucap Ashraf.


Misha menyingkirkan tangan Ashraf dari lengannya dengan kasar.


"Cukup ya kak, aku gak mau dengar apa-apa lagi dari kamu! Kalau kamu masih aja kayak gitu, aku bakal bawa ayah pergi dari rumah ini!" tegas Misha.


"Pergi? Emangnya kamu mau pergi kemana Misha? Aset ayah kamu kan udah gak ada, itu semua gara-gara kelakuan jahat papanya Fabian. Dan anehnya, kamu malah mau nikah sama orang jahat kayak dia," cibir Ashraf.


Misha menatap tajam wajah Ashraf, seakan tak terima dengan ucapan yang dilontarkan pria itu pada calon suaminya.


"Mas Fabian bukan orang jahat, dia gak salah!" sentak Misha.




Namun, lelaki itu dibuat terkejut saat melihat Khayra hadir di depannya bersama kedua orangtuanya.


"Halo mas! Apa kabar?" sapa Khayra.


"Mau ngapain lagi kamu kesini? Diantara kita sudah enggak ada hubungan apa-apa, buat apa juga kalian bertiga datang ke rumah papa saya?" tanya Fabian dengan nada tak suka.


"Hey Fabian! Kamu bisa sopan sedikit gak sama kami? Gimanapun juga, kami ini pernah jadi keluarga kamu dan Khayra juga mantan istri kamu!" tegas Broto.


"Iya om, saya paham. Tapi, sekarang kan kita udah gak ada hubungan lagi. Harusnya kalian bertiga tidak usah datang ke rumah papa saya kayak gini!" ucap Fabian.


"Memang lancang kamu Fabian! Asalkan kamu tahu, Khayra saat ini sedang mengandung anak kamu. Kedatangan kami kesini, karena kami ingin meminta pertanggungjawaban dari kamu selaku ayah bayi ini!" sentak Broto.


"Hah? Khayra hamil anak saya om?? Apa gak salah tuh om?" kaget Fabian.


"Apanya yang salah Fabian? Anak ini emang anak kamu, sebagai laki-laki kamu harus tanggung jawab!" ucap Linda ikut kesal.


"Baiklah, bentuk tanggung jawab apa yang kalian minta dari saya? Uang?" tanya Fabian.

__ADS_1


Ucapan Fabian justru semakin membuat Broto kesal, dia melangkah maju mendekati Fabian dan melayangkan tamparan keras di wajah pria itu hingga membuat semua disana terkejut.


Plaaakk...


"Dasar laki-laki gak beradab!! Apa ini yang diajarkan tuan Dominic pada putranya?!" bentak Broto.


"Ohh, om kok nampar saya sih? Salah saya apa om saya kan cuma tanya?" ujar Fabian.


"Heh kamu itu—"


"Daddy udah cukup! Jangan buat keributan di rumah orang!" potong Khayra yang langsung maju menghalangi niat papanya.


"Apa sih Khayra? Anak ini harus diberi pelajaran, supaya dia gak bersikap seenaknya sama kita!" ujar Broto.


"Sabar dad! Kita kan kesini bukan mau cari ribut," ucap Khayra menenangkan.


"Om, tadi om bilang apa tentang saya? Bersikap seenaknya sama kalian? Harusnya om introspeksi diri dulu dong, lihat gimana kelakuan om dan juga anak om yang ada di sebelah om itu! Saya gak mungkin begini om, kalau Khayra bisa menghormati saya sebagai suaminya dulu," ucap Fabian.


"Sudahlah, saya lagi malas bahas masa lalu. Kalian mending pergi aja dari sini, percuma juga minta tanggung jawab karena belum tentu anak yang dikandung Khayra itu anak saya!" lanjutnya.


Emosi Broto kembali memuncak, matanya melotot tajam dengan tangan yang seperti sudah siap untuk memukul wajah Fabian lagi.


"Apa maksud kamu Fabian?!" bentak Broto.


"Iya kan om, belum tentu itu anak saya. Emangnya ada buktinya kalau anak itu anak saya?" ucap Fabian dengan santai.


"Mas! Kamu kok bicaranya begitu sih? Selama ini yang sentuh aku itu cuma kamu, gak ada yang lain. Udah jelaslah anak ini anak kamu!" ujar Khayra.


"Ah masa? Kamu kan calon artis besar, bisa aja kan di belakang aku ternyata kamu ada main sama atasan kamu sampai bisa jadi artis terkenal?" kekeh Fabian.


"Jaga bicara kamu mas! Aku itu gak begitu, aku setia sama kamu. Buktinya di malam itu kamu rasain sendiri kan kalau aku masih perawan?!" elak Khayra.


"Ya emang iya sih, tapi kan.... ah sudahlah, saya gak mau lanjutin perdebatan ini. Kamu mau minta apa dari saya Khayra?" ucap Fabian.


Khayra menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai mengalir, ia merasa benar-benar hina di hadapan mantan suaminya itu saat ini.


"Kok diem? Cepet jawab kamu minta apa dari saya! Saya lagi buru-buru nih, sebentar lagi saya mau nikah dengan Misha dan saya gak punya banyak waktu untuk meladeni kamu," ucap Fabian.


"Aku gak butuh apa-apa mas, aku cuma mau kamu akui anak ini sebagai anak kamu," ujar Khayra.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2