Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Masih selamat


__ADS_3

Kabar mengenai peristiwa penusukan Dominic telah didengar oleh Fabian, bahkan Dominic juga sudah dibawa ke rumah sakit untuk segera mendapat perawatan.


Fabian terlihat histeris dan sangat sedih mengetahui papanya menjadi korban penusukan, ia masih belum tahu siapa pelaku yang melakukan itu kepada sang papa.


"Mas, kamu yang sabar ya! Kamu harus bisa tenang dan jangan emosi begini!" bujuk Misha.


"Gimana saya bisa tenang Misha? Papa saya ditusuk sama orang, dan saya harus cari tau siapa orang itu!" ujar Fabian.


"Sabar mas! Polisi kan juga lagi nyari siapa pelakunya, kita sekarang fokus ke papa kamu aja dulu!" ucap Misha.


Fabian mengangguk setuju, ia kembali bangkit dan melihat melalui kaca untuk memastikan kondisi papanya.


"Pa, papa harus selamat! Papa gak boleh tinggalin Fabian!" ucap Fabian menahan tangisnya.


Misha masih terus setia menemani sang kekasih, dia berdiri di samping Fabian seraya mengusap pundak lelaki itu.


"Aku yakin papa kamu pasti selamat!" ucap Misha.


"Fabian, Misha!" tiba-tiba suara seorang wanita terdengar memanggil mereka, keduanya pun menoleh dan melihat Cornelia yang baru datang ke rumah sakit itu.


"Mama?" Fabian sontak terkejut, ia langsung menghampiri mamanya dan memeluk wanita itu cukup erat.


"Ma, papa ma!" ucap Fabian menangis tersedu-sedu.


"Iya mama tahu, mama juga sedih begitu dengar kabar dari kamu ini. Gimana bisa papa ditusuk orang sayang?" ucap Cornelia.


"Aku gak tahu ma, tiba-tiba aja orang kantor papa kasih kabar kalau papa ditemukan dalam kondisi tertusuk pisau. Aku juga belum tahu kejelasannya seperti apa," ucap Fabian.


"Selama ini papa kamu kan gak punya musuh, gimana caranya bisa ada orang yang tusuk papa lu tanpa alasan jelas?" ujar Cornelia.


"Entahlah ma, polisi juga masih menyelidiki semuanya. Kita tinggal tunggu waktu aja, aku yakin pelakunya pasti bakal tertangkap!" ucap Fabian.


"Iya, mama juga berharap begitu. Pelakunya gak boleh dibiarkan gitu aja, dia harus ditangkap dan dijebloskan ke penjara!" geram Cornelia.


Mereka menyudahi pelukan itu, lalu Cornelia pun beralih ke jendela untuk melihat kondisi suaminya.


"Ya ampun! Mas, kenapa kamu bisa jadi seperti itu? Kalau tau semuanya akan begini, aku pasti gak bakal izinin kamu buat pergi tadi mas!" ucap Cornelia.


"Udah ya ma, mama jangan salahin diri mama sendiri!" ucap Fabian.


"Tapi, ini semua gak akan terjadi kalau mama larang papa kamu buat pergi sayang," ujar Cornelia.


"Semuanya takdir ma, mau gimanapun juga pasti akan terjadi. Mama yang tenang ya!" ucap Fabian.

__ADS_1


"Iya ma, mama harus sabar menghadapi semua ini! Aku yakin papa Dominic pasti bisa melewati cobaan ini dan bisa sadar kembali!" timpal Misha.


"Terimakasih ya Misha!" ucap Cornelia.


Tak lama kemudian, sang dokter keluar dari dalam ruangan itu. Tentu saja ketiganya langsung bergerak cepat mendekati dokter tersebut.


"Dok, gimana kondisi suami saya dok? Dia baik-baik aja kan?" tanya Cornelia panik.


"Suami ibu masih dalam keadaan kritis, ada luka di organ dalamnya dan beliau juga kehilangan cukup banyak darah. Untungnya kami masih memiliki stok darah yang cukup, ya walau kami tetap butuh bantuan lagi jikalau sewaktu-waktu kondisi pasien kembali memburuk. Apa diantara kalian ada yang bergolongan darah seperti pasien?" jelas dokter.


"Eee saya dok, golongan darah saya sama seperti papa saya. Dokter ambil aja darah saya sebanyak mungkin, saya mau papa saya selamat dok!" ucap Fabian dengan yakin.


"Baiklah, mari ikut saya!" ucap dokter itu.


Fabian mengangguk pelan, kemudian melangkah bersama sang dokter meninggalkan Cornelia serta Misha disana.


Tanpa disadari, seseorang dengan hoodie abu-abu serta masker dan kacamata yang menutupi wajahnya terlihat memantau dari jauh.




"Sial! Kenapa Dominic bisa bertahan? Padahal saya sudah berikan racun yang mematikan di pisau itu, seharusnya dia sudah mati sekarang!" geram Ashraf sembari berjalan keluar rumah sakit.


Bruuukkk...


Sangking terburu-buru nya, Ashraf tanpa sengaja menabrak seseorang yang jalan berlawanan dengannya.


"Duh gimana sih?! Jalan yang bener dong!" protes si bapak itu.


"Heh! Lo yang salah kok malah lo yang nyolot? Udah awas ah, gue lagi buru-buru!" bentak Ashraf.


Ashraf pergi begitu saja tak perduli dengan orang yang tadi dia tabrak, baginya saat ini ia harus cepat-cepat menghilang sebelum polisi menemukannya.


"Kalau tahu si Dominic masih bisa selamat, saya gak bakal biarin tuh pisau nancep di dadanya tadi. Sekarang kan saya jadi repot sendiri, polisi pasti lagi cari saya karena ada sidik jari saya di pisau itu. Saya gak boleh ketangkap, dendam saya belum tersalurkan!" ucap Ashraf.


Sementara itu, si bapak yang sebelumnya bertabrakan dengan Ashraf tak sengaja menemukan sebuah botol kecil tergeletak di lantai.


Karena penasaran, dia pun mengambil botol tersebut. Matanya terbelalak lebar saat mengetahui isi di dalam botol itu adalah racun.


"Hah? I-ini kan racun mematikan, kenapa bisa ada disini ya?" kaget si bapak.


"Apa jangan-jangan ini punya orang yang tadi? Pantas aja gerak-geriknya mencurigakan banget, saya harus laporin ke security nih!" sambungnya.

__ADS_1


Bapak itu pun pergi menemui security disana sembari membawa botol racun tersebut.


"Pak, saya mau buat laporan pak!" ucap si bapak.


"Iya pak, ada apa ya?" tanya security yang bertugas di rumah sakit itu.


"Ini pak, tadi saya temuin ini di lorong rumah sakit. Kayaknya sih milik pemuda yang nabrak saya, saya curiga orang itu ada niat jahat disini pak!" jelas si bapak sembari memberikan botol racun itu.


"Waduh ini kan racun berbahaya! Dimana bapak ketemu sama orang itu?" ujar security itu.


"Disana pak," jawab si bapak sambil menunjuk ke arah ia bertemu dengan Ashraf tadi.


"Lalu, seperti apa ciri-ciri orang tersebut pak?" tanya security itu.


"Dia pake jaket abu-abu sama kacamata hitam, terus mukanya juga ditutupin masker pak. Oh ya, kalo gak salah celananya warna hitam juga pak," jelas si bapak.


"Baik, terimakasih atas laporannya ya pak! Selanjutnya biar kami yang menelusurinya, bapak bisa pergi sekarang!" ucap security itu.


"Iya iya pak.." si bapak pun berbalik dan pergi.


"Halo halo! Lapor, ada orang mencurigakan berkeliaran di rumah sakit! Dia memakai jaket abu dan jeans hitam, masker sama kacamata hitam juga. Cari dia dan bawa ke pos sekarang!" security itu menghubungi rekannya melalui alat komunikasi khas satpam.


Setelahnya, security itu juga bergerak mengitari rumah sakit untuk menemukan keberadaan Ashraf.


Ashraf sendiri juga masih berkutat di area rumah sakit, dia tidak bisa tenang karena menjadi buronan dan Dominic yang masih bisa diselamatkan.


"Aaarrgghh sialan emang tuh orang! Dia pakai ilmu apa sih bisa kebal racun segala?" geram Ashraf.


"Hey!!" Ashraf dibuat terkejut saat dua orang satpam berteriak dan bergerak ke arahnya.


"Berhenti kamu, jangan bergerak!" ucap si satpam sembari menangkap tubuh Ashraf.


"Ish, apa-apaan ini pak? Saya salah apa?" tanya Ashraf coba berontak.


"Diam! Kami akan bawa kamu ke pos untuk diperiksa lebih lanjut, mari ikut kami!" sentak si satpam.


"Duh pak, saya gak melakukan kesalahan apa-apa pak! Lepasin saya!!" ujar Ashraf.


Namun, kedua satpam itu tak memperdulikannya. Mereka terus membawa Ashraf menuju pos satpam sesuai arahan rekannya tadi.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2