Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Memasak


__ADS_3

Misha saat ini tengah sibuk di dapur menyiapkan santapan untuk Fabian, ini memang bukan kali pertama dia memasak sehingga Misha pandai betul cara membuat makanan yang enak.


Fabian menyusul ke bawah, menghampiri Misha dan memeluknya tiba-tiba dari belakang. Wanita itu sontak terkejut saat merasakan tangan melingkar di pinggangnya dan hembusan nafas yang terasa hangat di ceruk lehernya.


"Tuan, apa yang tuan lakukan? Aku sedang masak, tuan tunggu di meja saja ya!" ucap Misha gugup.


"Santai aja, rileks! Saya selalu menginginkan ini sejak lama, memeluk wanita saya dari belakang saat dia sedang memasak," ucap Fabian.


Akhirnya Misha luluh, membiarkan lelaki itu membenamkan wajahnya di pundak dan terus menghirup aroma tubuhnya.


Sebenarnya Misha cukup kesulitan untuk fokus, karena berkali-kali Fabian melakukan hal jahil padanya seperti mengecup atau menggelitik pinggangnya.


"Aw tuan, jangan begitu!" ujar Misha.


"Kamu gak suka? Harusnya kamu bangga, karena kamu bisa bikin saya tergila-gila. Gak gampang loh wanita menaklukkan hati saya," ucap Fabian.


"Oh ya?" ujar Misha tak percaya.


"Tentu, apa kamu gak percaya?" jawab Fabian pede.


"Percaya deh, soalnya tuan kan tampan dan kaya raya. Jadi, tuan bisa pilih-pilih cewek mana yang mau tuan jadikan istri atau hanya sekedar pelayan seperti saya," ucap Misha.


Raut wajah Fabian berubah seketika mendengar ucapan Misha, dia sadar bahwa wanita yang tengah dipeluknya itu hanya penghangat ranjangnya.


Fabian pun melepaskan pelukannya, memundurkan langkahnya menjauh dari tubuh Misha dan membuat wanita itu heran.


Misha berbalik dan bertanya, "Ada apa tuan? Kenapa tuan tiba-tiba menjauh?"


Fabian menggeleng sebagai jawaban. Dia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi dia sadar kalau perlakuan manisnya pada Misha tak seharusnya terjadi.


"Sa-saya ke depan aja, kamu masak yang enak ya Misha!" ucap Fabian nampak gugup.


"Iya tuan," ucap Misha menurut.


Laki-laki itu pergi meninggalkan Misha dan terduduk di sofa ruang tamu, ia mengusap wajahnya kasar kemudian berpikir mengenai wanita itu.


"Aaarrgghh!! Kenapa saya selalu gak bisa kontrol diri setiap kali bersama Misha? Bisa-bisanya saya anggap dia seperti istri saya, padahal nyatanya dia cuma wanita penghangat ranjang saya. Ayo Biyan sadar Biyan!" gumam Fabian.


"Ehem ehem, tuan.." Fabian terkejut bukan main mendengar suara deheman seorang wanita. Ia menoleh lalu bangkit menatap Misha disana.


"Misha? Sudah selesai kamu masaknya?" tanya Fabian.


"Sudah tuan, semuanya sudah saya siapkan di meja. Kalau tuan mau makan sekarang, silahkan aja!" jawab Misha.

__ADS_1


"Ah iya, boleh." Fabian melangkah begitu saja menuju meja makan, tak ada satu katapun yang terucap di bibirnya untuk mengajak Misha makan bersamanya.


Wanita itu pun hanya bisa mendengus pasrah, dia sebenarnya lapar, tapi dia tidak mungkin makan begitu saja tanpa adanya ajakan dari Fabian.


Fabian menarik kursi, duduk di dekat meja makan bersiap menyantap masakan Misha. Ia menghirup aroma makanan yang terasa sedap itu.


"Mmhhh baunya aja udah enak, apalagi rasanya. Saya jadi gak sabar buat cobain masakan Misha," ucap Fabian sambil tersenyum lebar. Ia mengambil piring, menuang lauk pauk tersebut serta nasi yang sudah disediakan oleh Misha.


Perlahan Fabian memakan makanan itu sesuap, dia langsung merasakan sensasi yang luar biasa yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Makanan buatan Misha itu sangat nikmat dan membuat lidahnya terasa nyaman.


"Wah enak banget sih! Luar biasa emang si Misha, selain punyanya enak, masakannya ternyata juga gak kalah enak!" ujar Fabian.


Sementara Misha masih setia berdiri di dekat sofa sambil menggaruk-garuk lehernya.


Plak


"Ih kok ada nyamuk sih?!" kesal Misha saat mendapati nyamuk berterbangan di dekatnya.


Mendengar itu, Fabian merasa kasihan. Ia pun menatap Misha dan tersenyum ke arahnya.


"Hey!!" panggil Fabian. Misha menoleh dengan dua tangan yang masih sibuk menghadapi nyamuk-nyamuk disana, "Iya tuan, kenapa?" tanya Misha keheranan.


"Sini kamu!" perintah Fabian.


"Ya tuan, ada apa ya? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Misha.


"Huum, bantu saya habiskan makanan ini!" jawab Fabian.


Misha terkejut dan masih tak mempercayai ucapan Fabian barusan, "Serius tuan?" tanyanya.


"Yeah, ayo duduk! Masakan kamu enak banget, juara deh! Saya gak perlu sewa tukang masak kayaknya disini, cukup kamu aja," ucap Fabian.


"Ah tuan bisa aja, makasih pujiannya! Aku senang kalau tuan suka sama masakan aku!" ucap Misha.


Fabian tersenyum lebar, menarik kursi di sebelahnya lalu meminta Misha segera duduk disana.


Akhirnya sepasang kekasih— eh bukan, maksudnya Fabian dan Misha sama-sama menikmati makanan sambil saling bercanda ria.




Keduanya kini berada di rumah sakit, menjenguk sang ayah dari Misha yang tengah terbaring koma disana dan dalam kondisi kritis.

__ADS_1


Misha menatap kasihan ke arah tubuh ayahnya, air mata lolos begitu saja membasahi pipinya begitu ia tiba di dekat sang ayah.


"Ayah, selamat malam!" ucap Misha lirih. Ia menoleh ke arah Fabian dan berkata, "Yah, ini aku bawa tuan Fabian, dia yang akan bantu aku buat lunasi semua biaya rumah sakit ini. Aku benar-benar terimakasih banget sama tuan Fabian yah, kalau gak ada dia mungkin aku sekarang gak bisa apa-apa."


Fabian mengulum senyum saat Misha melontarkan pujian kepadanya, ia melangkah mendekati wanita itu dan ikut menatap tubuh ayah Misha.


"Malam om! Saya janji akan selalu penuhi semua kebutuhan om selama di rumah sakit, cepat sadar ya om! Misha butuh kehadiran om di sisinya, dia butuh pelukan dari om," ucap Fabian.


"Terimakasih ya tuan! Saya beruntung bisa bertemu dengan tuan!" ucap Misha.


"No, saya yang beruntung karena berhasil menemukan wanita seperti kamu," ucap Fabian.


Misha tertunduk malu, sedangkan Fabian terus menatapnya sambil mengembangkan senyumnya.


"Om, anak om itu cantik sekali, saya suka sama dia terutama saat dia malu-malu seperti ini. Om harus cepat sadar, supaya om bisa lihat wajah cantik Misha yang sekarang! Saya aja ngeliatnya gak tahan loh om," ucap Fabian.


"Ih apa sih tuan?!" Misha makin bertambah malu.


"Hahaha, kamu memang cantik Misha. Mulai sekarang dan seterusnya, saya berjanji akan menjaga kamu sebaik mungkin!" ucap Fabian.


Misha dibuat bingung saat ini, ia tak tahu apakah ucapan Fabian itu nyata atau hanya sekedar bualan semata. Tapi yang pasti, dia tidak mau berharap lebih karena tahu akan siapa dirinya.


"Yaudah, saya mau urus administrasi dulu ya? Kamu jagain ayah kamu aja disini," ucap Fabian sembari merengkuh pinggang Misha.


"Iya tuan, terimakasih!" balas Misha lembut.


Fabian mengangguk dan tersenyum, tak lupa ia mendaratkan kecupan manis di kening Misha yang membuat wanita itu semakin tak karuan. Sikap Fabian memang terkadang membuatnya bingung, karena lelaki itu suka sekali menganggap dirinya seperti seorang kekasih.


Lalu, Fabian keluar dari sana. Dia menutup pintu dan bersandar sejenak seraya memijat pelipisnya.


"Aduh Biyan! Lagi-lagi kamu gak bisa kontrol diri kamu! Kenapa sih selalu begini? Saat bersama Misha, rasanya seperti ada sesuatu yang bikin saya merasa aneh! Tapi, apa itu ya?" gumamnya.


"Apa itu cinta? Saya cinta sama Misha? Ah enggak, ini mah paling cuma sekedar terobsesi aja, karena tubuh Misha sangat menggoda. Aaarrgghh ayolah Biyan, stop bersikap manis begitu di depan Misha! She's just your whore, no more!" ucapnya tampak kesal sendiri.


Setelah mengalami perdebatan batin itu, Fabian langsung melangkah pergi menuju tempat pembayaran untuk melunasi semua biaya rumah sakit ayah Misha.


Tanpa disadari olehnya, Misha rupanya menguping apa yang diucapkan Fabian tadi selama di luar.


"Tuan kenapa bicara begitu ya?" pikirnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2