Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Modus


__ADS_3

Fabian datang ke kantornya tepat seminggu setelah pernikahannya dengan Misha, itu karena salah seorang karyawannya memberitahu bahwa ada masalah yang harus ia selesaikan disana.


Tentu saja Fabian terpaksa datang, meskipun dia masih ingin menghabiskan waktu berdua bersama istri tercinta.


Saat di dalam ruang kerjanya, Fabian yang ditemani Zya itu terus sibuk mempelajari apa yang terjadi pada perusahaannya.


Sementara Zya sendiri justru fokus memperhatikan wajah Fabian yang terlihat lebih tampan dibanding sebelumnya, tampaknya Zya belum bisa melupakan perasaannya pada lelaki itu.


"Pak Biyan ganteng banget, makin beraura juga setelah nikah! Aku jadi pengen godain dia terus deh," gumam Zya dalam hati.


Zya pun memberanikan diri menggerakkan satu tangannya untuk menyentuh jemari Fabian yang tergeletak di atas meja, secara perlahan dia mengusap jari itu dan lalu mengelusnya.


"Kenapa Zya? Ada yang ingin kamu sampaikan lagi?" tanya Fabian begitu sadar Zya menyentuh tangannya, ia juga spontan menarik tangannya menjauh dari wanita itu.


"Umm, tidak pak. Maaf tadi saya gak sengaja sentuh bapak!" elak Zya.


"Oh oke! Saya minta sekarang kamu keluar dari ruangan saya, nanti saya akan hubungi kamu lagi begitu saya selesai dengan ini!" perintah Fabian.


"Saya disini aja pak," pinta Zya.


"Sekarang kamu bosnya disini, Zya?" sarkas Fabian.


"Eee bukan pak," jawab Zya.


"Yasudah, kamu keluar dan jangan bantah perintah saya!" tegas Fabian.


"Ba-baik pak!" ucap Zya sedikit gugup.


Wanita itu bangkit dari duduknya dengan perasaan jengkel, dia sempat menatap wajah Fabian sekilas sebelum melangkah keluar.


Nampaknya Fabian memang menyadari maksud dan tujuan Zya menyentuhnya tadi, bukan karena tidak sengaja tapi memang wanita itu ingin melakukannya.


"Saya gak habis pikir sama Zya, kok dia masih aja kayak gitu ya ke saya?" gumam Fabian.


"Ah sudahlah, buat apa juga saya mikirin Zya? Mending saya fokus ke kerjaan ini," sambungnya.


Zya sendiri masih merasa jengkel lantaran Fabian mengusirnya, dia berdiri di depan pintu ruangan pribadi bosnya itu berharap mendapat panggilan lagi untuk masuk ke dalam.


"Ish, pak Biyan kenapa tiba-tiba usir saya ya? Apa jangan-jangan dia tahu niat saya buat godain dia?" gumam Zya dengan pelan.


"Mbak Zya!" gadis itu terkejut saat namanya dipanggil, ia spontan menoleh dan melihat ke arah suara tersebut berasal.

__ADS_1


"Hadeh kamu ngagetin aja sih Adel! Ada apaan kamu panggil-panggil saya?" geram Zya pada Adel, si resepsionis disana.


"Eee ini mbak, ada istrinya pak Fabian mau ketemu sama pak Fabian," jawab Adel.


"Hah??" Zya kembali dibuat kaget mendengar pernyataan Adel, dia langsung mengalihkan pandangan ke wanita di sebelah Adel.


"Iya mbak, ini Bu Misha. Kenapa mbak kelihatan kaget gitu sih? Bukannya mbak kemarin hadir ya di acara nikahan pak Fabian?" ujar Adel.


"Saya kaget karena gak biasanya Bu Misha datang kesini, eh ngomong-ngomong selamat siang Bu Misha!" ucap Zya mencoba ramah dengan Misha.


"Ya siang. Saya emang sengaja mau ajak mas Biyan makan siang bareng, makanya saya datang kesini sekarang," ucap Misha.


"Oh begitu, yaudah silahkan masuk Bu!" ujar Zya memberi jalan bagi Misha.


"Terimakasih! Permisi ya?" ucap Misha.


"Iya Bu," ucap Zya dan Adel.


Misha pun melangkah mendekati pintu, sedangkan Zya serta Adel tetap pada tempatnya memperhatikan Misha yang hendak mengetuk pintu tersebut.


TOK TOK TOK...




Ia mengira bahwa Zya lah yang ada di luar sana, sehingga Fabian sama sekali tidak merespon ketukan pintu tersebut.


"Haish, mau apa lagi sih itu Zya? Saya minta tunggu di luar, kenapa malah ketuk-ketuk pintu segala? Gak tahu apa dia kalau saya ini lagi sibuk? Malah diganggu!" gumam Fabian.


TOK TOK TOK..


"Mas, mas Biyan!" suara ketukan itu kembali muncul, namun kali ini dibarengi dengan teriakan seorang wanita yang tak asing di telinga Fabian.


"Loh saya kayak gak asing sama suara itu, siapa ya?" gumam Fabian.


"Mas ih kok gak dibuka-buka sih?!" sementara Misha di luar sana semakin geram lantaran Fabian suaminya tak kunjung membukakan pintu.


"Hah Misha??" Fabian yang terkejut sontak bangkit dari duduknya, lalu bergerak menuju pintu depan.


Ceklek

__ADS_1


Fabian pun membuka pintu dan benar saja yang tadi didengarnya adalah suara Misha.


"Misha, kamu ngapain kesini?" tanya Fabian.


"Ya mau ajak kamu makan siang bareng lah, kenapa sih kamu kayak gak suka gitu aku dateng kesini?" ujar Misha.


"Eee kita bicara di dalam aja ya?" Fabian langsung mengajak Misha masuk ke ruangannya setelah melihat Zya dan Adel yang masih ada disana.


Misha menurut saja, keduanya pun melangkah memasuki ruangan itu dan tak lupa pula Fabian menutup pintu rapat-rapat agar tidak ada siapapun yang mengganggu mereka.


Fabian membawa istrinya ke sofa, mendudukkan wanita itu secara perlahan dan hati-hati karena tak mau menyakitinya mengingat Misha saat ini tengah hamil calon anaknya.


"Nah, kamu duduk dulu sini ya!" ujar Fabian.


"Kamu lagi apa sih mas? Kayaknya sibuk banget sampe lama bukain pintunya," tanya Misha.


"Maaf ya! Tadi itu saya lagi ngecek berkas laporan, kamu jangan ngambek gitu dong!" jawab Fabian yang ikut duduk di sebelah istrinya.


"Gak ngambek, aku cuma penasaran aja. Kirain aku kamu tadi lagi sama wanita lain," ujar Misha.


"Bicara apa sih kamu? Saya kan udah pernah bilang sama kamu, saya gak mudah tertarik dengan perempuan. Tapi dengan kamu, rasanya saya bukan cuma tertarik tapi juga cinta dan sayang banget," ucap Fabian.


"Huh gombal terus! Udah, sekarang kita makan siang dulu yuk! Aku udah masakin nih makanan kesukaan kamu, sesuai permintaan kamu kemarin!" ucap Misha.


"Umm, sebenarnya sih saya masih sibuk. Gimana kalau makan siangnya ditunda dulu? Lagian masih jam dua belas kok, belum terlalu telat lah buat makan siang," ucap Fabian.


"Gak bisa! Kamu harus makan sekarang! Aku gak mau kamu sakit mas karena telat makan! Kerjaan itu bisa diurus lagi nanti, sekarang kamu makan dulu!" tegas Misha.


"Duh galak amat sih istriku ini! Iya deh iya, saya mau makan. Tapi, kamu suapin ya?" ujar Fabian.


"Ih sejak kapan kamu jadi manja kayak gitu? Sampe minta disuapin segala," kaget Misha.


"Apa salahnya kalau saya manja?" tanya Fabian.


"Malu sama umur mas! Apalagi kalau nanti anak kita udah lahir, pasti kamu diledekin deh sama dia!" jawab Misha.


"Gapapa, selagi dia belum lahir jadi saya masih bisa manja-manja sama kamu," kekeh Fabian seraya memeluk dan mengusap perut istrinya.


Misha tersenyum saja diperlakukan seperti itu, tentu saja dia suka kalau suaminya berlaku manja padanya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2