Gadis Ranjang Tuan Muda

Gadis Ranjang Tuan Muda
Tidak diculik kok


__ADS_3

Fabian pulang ke rumahnya pagi-pagi sekali, dia sengaja meninggalkan Misha saat masih tertidur karena tak ingin membuat wanita itu banyak bertanya.


Lelaki itu pun masuk ke dalam rumah, berjalan pelan dengan bola mata menatap sekeliling mencari tahu apakah Khayra istrinya itu sudah terbangun atau belum.


Prok


Prok


Prok


Baru saja Fabian mencemaskan mengenai istrinya, dan kini orangnya sudah muncul tepat di hadapannya. Khayra berjalan pelan sembari bertepuk tangan seakan mengejek Fabian.


"Bagus ya mas, bagus banget! Darimana aja kamu semalam gak pulang, ha?" ucap Khayra.


"Apa urusannya sama kamu? Toh selama ini kamu juga gak pernah ngurusin aku," ketus Fabian.


"Loh gak bisa gitu dong mas, aku ini istri kamu. Harusnya kamu kasih kabar ke aku supaya aku gak cemas, bukan malah kayak gini!" ujar Khayra.


"Masih aja ya kamu sebut diri kamu sebagai istri! Istri mana yang nelantarin suaminya selama tiga tahun lebih? Ya itu kamu Khayra, cuma kamu. Makanya sekarang aku udah gak perduli lagi sama kamu, aku mau kita cerai aja!" tegas Fabian.


"Apa sih mas?! Kamu pulang-pulang kok langsung bahas cerai aja? Duduk dulu mas, tenangin diri kamu dulu! Jangan bicara dalam keadaan emosi begini!" bujuk Khayra.


Sikap Khayra yang sebelumnya garang, mendadak berubah lembut begitu Fabian membahas perceraian. Tampak jelas bahwa Khayra memang tak ingin diceraikan oleh suaminya itu, tapi entah kenapa dia malah selalu mementingkan pekerjaan dibanding Fabian.


"Ayo mas, aku antar kamu ke kamar ya buat istirahat! Kamu pasti capek banget deh, nanti aku buatin minuman spesial untuk kamu!" ujar Khayra.


"Gak perlu! Terakhir kali kamu buatin aku minuman, kamu taruh sesuatu di minuman itu. Kali ini aku gak mau terjebak lagi dalam permainan kamu ya Khayra!" tolak Fabian.


"Enggak kok mas, aku—"


"Aku gak mau!" potong Fabian kesal. Ia tampaknya sudah tidak percaya lagi dengan bualan Khayra, setelah apa yang wanita itu lakukan sebelumnya.


"Mas, kamu itu kenapa sih? Aku mau kasih perhatian loh buat suami aku yang tampan ini, tapi kamu malah begitu sama aku, jadi aku harus gimana sekarang?" ujar Khayra.


"Kamu urus aja pekerjaan kamu sana! Itu kan lebih penting daripada aku," ketus Fabian.


Fabian yang emosi akhirnya melangkah pergi menuju kamarnya, Khayra pun mengejarnya berharap lelaki itu mau mendengarkannya.


"Mas, mas tunggu mas!" teriak Khayra.


Khayra berhasil mencekal lengan Fabian, akan tetapi lelaki itu langsung menepisnya. "Jangan pernah kamu sentuh aku, apalagi paksa aku buat sama kamu! Perasaan aku ke kamu sekarang udah gak ada, dan sebentar lagi kita akan cerai." Khayra menunduk lesu mendengarnya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi mas? Kamu kayak gini pasti karena perempuan bernama Misha itu kan? Ayolah mas, dia itu cuma gadis bau kencur yang gak bisa apa-apa! Mana mungkin dia bisa lebih baik daripada aku?!" ucap Khayra.


Fabian mencengkeram rahang Khayra dengan kuat dan menatapnya penuh emosi, "Jangan pernah kamu hina Misha di depan aku!" tegasnya.


"Ih kamu apa-apaan sih mas?! Kamu lebih belain perempuan gak tahu diri itu daripada aku? Aku ini istri kamu mas!" ucap Khayra.


"Gak lama lagi, setelah kita cerai kamu udah bukan istri aku dan kita gak akan pernah bertemu lagi," ucap Fabian.


Lelaki itu melepaskan tangannya dari rahang sang istri, lalu masuk ke kamarnya dan membanting pintu cukup keras sampai membuat Khayra terkejut.


"Semuanya gara-gara cewek sialan itu! Awas aja, aku bakal bikin perhitungan sama dia!" batin Khayra.




Misha kembali bersekolah seperti biasa, namun kali ini ia nampak tidak fokus dan terus murung akibat memikirkan perkataan Fabian di rumah sakit semalam.


Ya Misha merasa sakit hati dengan apa yang diucapkan Fabian, meskipun lelaki itu tak mengucapkan langsung di hadapannya.


"Aku kira perlakuan manis tuan Fabian ke aku itu karena dia mulai suka sama aku, tapi nyatanya dia cuma anggap aku seorang la cu r. Lagian kenapa juga sih aku berharap tuan Fabian suka sama aku? Emangnya siapa aku?" batin Misha.


"Eh, neng Misha?" wanita itu terkejut saat satpam penjaga di depan sekolah menegurnya.


"Neng Misha gak kenapa-napa? Gak ada yang luka kan neng?" tanya satpam itu tampak cemas.


"Enggak kok pak, emangnya kenapa?" jawab Misha dengan bingung.


"Loh, kemarin itu kan neng Misha sempat dibawa sama orang misterius. Kita disini sampai panik loh mikirin neng Misha, eh ternyata neng sekarang udah balik sekolah lagi," ujar satpam itu.


"Eee iya pak, saya—"


"Misha!" ucapan Misha terpotong lantaran Elin sahabatnya tiba-tiba muncul dan meneriakkan namanya.


"Misha, lu baik-baik aja kan? Gak kenapa-napa kan? Ada yang luka gak?" tanya Elin sangat cemas, ia sampai merabaa-rabaa tubuh Misha.


"Ih udah kamu tenang aja Elin! Aku baik-baik aja kok, aku gak luka. Kemarin itu aku bukan diculik, cuma dibawa paksa," jelas Misha.


"Lah bukannya maknanya sama aja ya? Terus, siapa yang bawa paksa kamu kemarin?" tanya Elin.


"Beda Elin, kalo diculik mana mungkin aku bisa sekolah lagi sekarang? Kemarin itu aku cuma dipaksa buat dateng ke rumah seseorang, abis itu udah deh aku dibebasin," jelas Misha.

__ADS_1


"Ohh, ya syukur deh kalau lu emang gak diculik! Tapi jujur deh, gue udah panik banget pas dengar kabar lu diculik dari grup sekolah!" ucap Elin.


"Hah? Berarti satu sekolah tau dong?" kaget Misha.


"Ya iya, mereka semua pada panik nyariin lu. Bahkan, ada yang sampai keliling kota demi buat temuin lu tau," ucap Elin.


"Duh, aku jadi ngerasa gak enak deh! Gara-gara aku, semuanya jadi pada repot begitu," ucap Misha.


"Gapapa Misha, santai aja!" ucap Elin.


"Iya neng, semuanya pasti malah senang kok kalau tau ternyata neng Misha gak diculik, jadi neng gak perlu ngerasa bersalah begitu!" ucap pak satpam.


"Iya deh pak, yaudah kita masuk ke dalam yuk Lin! Aku sekalian mau minta maaf dan jelasin ke semua orang disana," ucap Misha menggandeng tangan sahabatnya.


"Oke, yuk gue temenin!" Elin terlihat bersemangat untuk menemani Misha ke dalam.


Namun, belum sempat melangkah mereka sudah dikejutkan dengan kemunculan sosok perempuan bergaya mewah di hadapan mereka.


Perempuan itu menatap ke arah Misha dan Elin dengan senyum penuh arti, membuat kedua gadis disana merasa heran.


"Halo! Bisa saya bicara dengan Misha?" ucap perempuan itu.


"Iya, aku sendiri. Ada apa ya?" Misha tampak heran dan bingung dengan perempuan di depannya itu.


"Gak ada kok, saya cuma mau bicara sebentar aja. Kamu bisa kan ikut sama saya?" jelas perempuan itu.


"Maaf nih mbak! Tapi, mbaknya ini siapa ya dan ada perlu apa sama teman saya?" cegah Elin.


"Saya ada urusan penting sama Misha, kamu tolong jangan ikut campur ya! Ayo Misha ikut saya!" ucap perempuan itu.


"Enak aja, mbak gak bisa main bawa teman saya gitu aja dong!" ujar Elin.


"Lin, udah gapapa. Kamu tunggu di lobi aja, aku mau bicara dulu sama mbak ini," ucap Misha.


"Tapi Mis—"


"Tenang aja!" potong Misha, senyum di bibirnya berhasil meyakinkan Elin untuk melepaskannya.


"Yaudah, tapi jangan lama-lama ya!" ucap Elin.


Misha mengangguk, lalu mengajak perempuan tadi pergi menjauh dari gerbang sekolah.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2