
Ceklek
Misha membuka pintu, tersenyum ke arah Fabian serta Dominic yang sudah berdiri di depannya dengan membawa sejumlah barang.
"Mas Fabian? Papa Alvan?" sapa Misha.
"Halo Misha sayang! Ayah kamu udah siap kan?" balas Fabian.
"Udah kok, yuk masuk!" ajak Misha.
Misha melebarkan pintu, mempersilahkan kedua lelaki itu untuk masuk ke dalam.
Dengan perlahan dan hati-hati, Dominic memberanikan diri memasuki rumah tersebut. Perasaannya masih tak karuan, ini pertama kalinya Dominic akan bertemu kembali dengan orang yang ia tabrak beberapa waktu lalu.
"Semoga semuanya berjalan lancar! Tuhan, saya tidak mau pernikahan putra saya gagal karena saya!" batin Dominic.
Mereka melangkah bersama-sama menuju sofa, disana sudah terdapat Hardi serta Ashraf.
"Ayah, ini mas Fabian sama papanya!" ucap Misha.
"Ah iya," Hardi spontan berdiri, menghadap ke arah mereka dengan senyum di wajahnya.
Namun, seketika jantungnya seperti berhenti berdetak saat melihat keberadaan orang yang pernah menghancurkan hidupnya.
"Ka-kamu.."
Melihat reaksi sang ayah, Misha pun mulai was-was. Dia mendekati Hardi lalu memegangi tubuh ayahnya untuk berjaga-jaga.
"Yah, ayah kenapa?" tanya Misha panik.
"Misha, ngapain orang itu datang kesini? Suruh dia keluar Misha, ayah gak mau ketemu sama dia!" ucap Hardi yang mulai merasa sesak, ia terus mengelus dadanya.
"Tapi kenapa yah? Ini kan tuan Dominic, papanya Fabian yang mau ngobrol sama ayah soal pernikahan aku," ucap Misha.
"Jadi, selama ini calon suami kamu itu anaknya dia Misha? Kenapa kamu gak pernah cerita ke ayah?" geram Hardi.
"Maaf ayah! Tapi, ayah tenang dulu ya! Kalau ayah emosi, nanti ayah bisa sakit lagi! Sekarang ayah duduk lagi ya?" bujuk Misha.
Hardi mengangguk pelan mengikuti perintah putrinya, ia pun kembali duduk bersama Misha.
Sementara Ashraf kini menatap Dominic serta Fabian yang masih berdiri disana.
"Kalian lihat kan apa yang terjadi dengan paman saya? Apa kalian masih mau memaksa meneruskan semua ini? Sebaiknya kalian pergi dari rumah saya dan jangan pernah kembali! Saya gak mau paman saya sakit lagi!" tegur Ashraf.
__ADS_1
"Kak, tolong ya kakak jangan bicara yang enggak-enggak sama mereka!" Misha langsung berdiri dan menegur sepupunya.
"Apa sih Misha? Kamu masih mau belain pembunuh ini setelah kamu lihat ayah kamu hampir pingsan tadi? Gimana kalau om Hardi beneran pingsan Misha?" tanya Ashraf.
Misha terdiam melirik ayahnya, sejujurnya dia juga tidak tega melihat sang ayah seperti itu.
"Sebaiknya kamu akhiri aja hubungan kamu dan Fabian, sebelum semuanya terlambat Misha!" sambung Ashraf.
"Gak bisa gitu dong kak, aku cinta sama mas Biyan dan aku gak mau kehilangan dia! Kamu jangan asal bicara deh!" tegas Misha.
Fabian seketika tersenyum mendengar ucapan Misha yang membuatnya senang.
"Terserah kamu Misha, yang penting saya udah ingetin kamu untuk mundur sebelum semuanya terlambat! Kalau nanti terjadi sesuatu sama ayah kamu, jangan salahin saya!" ujar Ashraf.
"Nak Ashraf, sudahlah kalian berdua jangan ribut terus! Malu sama tamu kita, lebih baik kalian duduk sini!" ucap Hardi menengahi.
"Iya om," singkat Ashraf.
Ashraf pun terduduk di sofa sembari mengerutkan keningnya, sedangkan Misha masih tetap berdiri menghadap ke arah Fabian dan Dominic.
"Mas, pa, duduk dulu yuk!" ucap Misha.
"Terimakasih Misha! Ayo pa!" ucap Fabian.
Dominic mengangguk tanpa bersuara, mereka pun ikut duduk di sofa sesuai permintaan Misha.
"Betul pak Hardi! Saya atas nama Dominic Alvansyah, memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada anda atas apa yang sudah saya lakukan di masa lalu! Saya benar-benar menyesal telah melakukan itu pak!" sahut Dominic.
"Halah udah terlambat kali, kenapa baru sekarang nyesel nya? Harusnya tuh dari dulu anda minta maaf sama kita!" cibir Ashraf.
"Kak, kakak bisa diam gak sih? Biarin masalah ini diurus sama ayah dan papa Dominic, kakak gausah ikut campur!" tegur Misha.
"Loh gak bisa gitu dong Misha, disini saya juga jadi korban! Asal kamu tahu, di dalam mobil itu ada saya!" ujar Ashraf.
"Sudah sudah, kenapa malah jadi kalian sih yang ribut? Ayah mau bicara sama pak Dominic, jadi tolong kalian diam sebentar!" ucap Hardi.
"Maaf ayah!" lirih Misha sambil tertunduk.
Akhirnya Ashraf dan Misha sama-sama terdiam, mereka membiarkan Hardi berbicara dengan Dominic lebih dulu.
"Saya minta maaf atas kelakuan putri dan keponakan saya!" ucap Hardi.
"Gapapa pak, wajar mereka debat karena saya memang sudah melakukan kesalahan yang besar. Justru seharusnya saya yang minta maaf kepada anda dan keluarga anda, mungkin kalau perlu saya juga akan melakukan apapun yang anda minta untuk menebus kesalahan saya!" ucap Dominic.
__ADS_1
"Tidak perlu begitu, percuma saja karena istri saya tidak mungkin kembali. Dia mungkin sudah tenang disana, jadi saya rasa kita tidak perlu berdebat lagi soal ini!" ucap Hardi sembari memegangi dadanya yang sesak.
"Maaf juga atas perkataan saya tadi, saya kaget aja karena ternyata Fabian itu anak anda!" sambungnya.
Fabian dan Misha kompak tersenyum senang mendengar perkataan Hardi.
"Terimakasih pak! Tapi, apa bapak mau memaafkan saya dan menerima Fabian sebagai menantu bapak?" tanya Dominic.
"Eee..."
Hardi terlihat bingung, jujur di dalam hatinya dia masih tak rela dengan semua itu. Namun disisi lain, tak mungkin juga dia merenggut kebahagiaan putri satu-satunya itu.
Tiba-tiba saja, Dominic bangkit dan berlutut di depan Hardi. Ia memohon maaf pada Hardi seraya mencium kaki ayah Misha.
"Saya mohon pak Hardi, maafkan saya! Saya benar-benar menyesal atas semua yang sudah saya lakukan dulu! Saya janji pak, saya pasti akan lakukan apapun demi menebus kesalahan saya! Tapi tolong, bapak mau maafkan saya dan restui hubungan mereka! Karena saya tidak ingin anak saya terkena imbas atas kesalahan saya," rengek Dominic.
Satu ruangan itu dibuat kaget dengan sikap Dominic, baru kali ini pemimpin dari perusahaan besar berlutut di hadapan orang.
"Pak, apa yang anda lakukan? Anda gak perlu seperti ini, saya sudah memaafkan anda dan menerima Fabian sebagai menantu saya! Sudahlah, ayo bangkit pak tidak enak seorang tuan besar berperilaku seperti ini!" ucap Hardi.
"Saya gak perduli pak, yang penting saya bisa mendapat maaf dari anda!" ucap Dominic.
Fabian pun ikut berlutut di samping papanya, dia turut meminta restu dan maaf dari Hardi agar hubungannya dengan Misha dapat terus berlanjut.
"Ayah, saya juga memohon restu dari ayah untuk menikahi Misha! Saya cinta sama Misha, saya gak bisa pisah dari dia! Maafkan papa saya, saya janji akan menebus semuanya!" ujar Fabian.
"Kalian ini apa-apaan? Ayolah Fabian, pak Dominic, jangan begini!" ucap Hardi.
"Sekali saya mohon maaf pak! Saya tidak akan berdiri sebelum mendapat maaf dari anda!" ucap Dominic.
"Iya ayah, saya juga sama," sahut Fabian.
"Saya sudah maafkan anda pak Dominic, saya juga sudah lama melupakan semua kejadian itu. Jadi mohon, jangan begini!" ucap Hardi.
"Apa betul pak, anda sudah memaafkan saya?" tanya Dominic mendongakkan kepalanya.
"Tentu saja, lagipun ini semua sudah takdir dan saya tidak bisa melakukan apapun untuk mengembalikan istri saya," jawab Hardi.
"Terimakasih pak, terimakasih banyak!" Dominic sangat senang dan terus mencium kaki Hardi sebagai tanda senangnya.
Sementara Ashraf menatap tak suka melihat adegan itu, ia merasa Dominic hanya sedang berdrama saat ini.
"Cih banyak drama!" batin Ashraf.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...