
Misha berjalan ke luar gerbang sekolah dengan murung dan terus menundukkan kepalanya, dia masih tak percaya jika dirinya hamil karena baginya itu tidak mungkin terjadi.
Lagipun, Misha juga belum melakukan tes yang membuktikan apakah dia hamil atau tidak. Sehingga saat ini Misha masih merasa lega walau selalu dibayang-bayangi dengan kehamilan itu.
"Aku gak mungkin hamil, kata-kata Nesya tadi pasti gak benar!" batinnya.
"Misha!" wanita itu terkejut saat suara berat memanggil namanya, dia mendongakkan wajahnya menatap ke asal suara dan menemukan sosok Fabian sudah berdiri di depannya.
"Kamu kenapa nunduk aja daritadi? Lagi ada masalah? Apa mungkin ada murid yang nakal dan ganggu kamu lagi?" tanya Fabian cemas.
"Eee gak kok tuan," jawab Misha berbohong.
"Kamu jangan bohong sama saya Misha! Saya bisa tebak kalau kamu sekarang lagi ada masalah, jadi sebaiknya kamu cerita aja ke saya atau saya akan hukum kamu seperti waktu itu lagi!" tegas Fabian.
Misha tersentak kaget, "Ja-jangan tuan, jangan hukum aku!" ucapnya lirih.
"Kalau kamu gak mau dihukum, yaudah cepat kamu cerita sama saya!" ujar Fabian.
"I-i-iya tuan, jadi tadi itu..."
Misha mulai menceritakan apa yang terjadi padanya saat di toilet, Fabian pun mendengarkan dengan seksama.
Sebelumnya...
Misha semakin dibuat bingung, pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan oleh teman-temannya dan Misha sendiri tak tahu harus menjawab apa.
"Eee itu tuh aku cuma lagi semangati diri aku sendiri aja, supaya aku yakin kalau aku itu gak mungkin kena penyakit atau apalah itu!" jawab Misha berbohong.
"Ohh, ya aamiin deh semoga lo emang gak sakit ya Misha!" ujar Elin.
"Dia emang gak sakit, tapi hamil." sebuah suara terdengar di telinga mereka berempat, tak lama tiga orang gadis muncul dari depan toilet berjalan mengarah ke tempat mereka.
Perkataan gadis itu, membuat Misha semakin berdebar-debar. Dia khawatir teman-temannya akan terpengaruh dengan perkataan Nesya.
"Lo bicara apa sih Nesya?! Jangan sembarangan nyebar fitnah tentang sohib gue deh!" tegur Elin.
"Gue gak fitnah, emang bener begitu kok. Ya kan Misha?" ujar Nesya.
Misha gelagapan dibuatnya, dia berpikir keras untuk menyangkal semua ucapan-ucapan Nesya tentang dirinya.
"Keterlaluan lo Nesya! Omongan lo itu gak ada buktinya, lo gak bisa sembarangan nuduh Misha hamil kayak gitu!" sentak Elin.
"Iya Nesya, sekarang mending lo pergi deh dan jangan ganggu Misha!" sahut Yerin.
"Oke gue pergi, tapi setelah gue dengar pengakuan dari Misha yang menyatakan kalau dia hamil. Ayo Misha cepat bilang semua itu di depan gue sekarang! Supaya gue bisa sebarin ke seluruh sekolah," ucap Nesya.
"Dasar gila lo nenek lampir! Pergi gak atau gue jambak rambut lo sampai botak!" kesal Elin.
"Eits, jangan kasar-kasar gitu dong! Lo mau gue laporin juga ke BK atas tuduhan penganiayaan?" ucap Nesya.
"Sialan lo!" umpat Elin kesal.
__ADS_1
"Udah lah Elin, lu gausah belain teman lu mati-matian kayak gitu! Percuma juga lah, yang dibelain juga diam aja gak ngebantah. Otomatis dia mengakui kalau omongan Nesya itu emang bener," sela Leka dengan smirk di bibirnya.
Seketika semua orang langsung mengarahkan pandangan pada Misha, membuat Misha semakin terpojok dan tak tahu harus mengatakan apa.
"Misha, semua itu gak bener kan? Lo gak mungkin hamil di luar nikah kayak si Roro kan?" tanya Elin.
"Iya Misha, cepat lu bilang ke kita semua kalau lu gak hamil dan kata-kata si Nesya ini gak benar! Supaya dia sama teman-temannya bisa cepat pergi dari sini," sahut Yerin.
"Misha, kalau lu diem aja lu bakal terus ditindas sama nenek lampir ini. Kita gak terima lu dikata-katain kayak gini tau!" ucap Elin.
"Kalian bisa percaya sama aku, aku gak mungkin hamil!" jawab Misha.
"Tuh kan, lo dengar sendiri kan yang dibilang Misha? Sekarang lo pergi dan jangan pernah ganggu Misha lagi!" sentak Elin mengusir Nesya.
"Ya iyalah dia gak akan mau ngaku, mana mungkin coba maling ngaku?" ucap Nesya.
"Lo bener-bener cari ribut ya sama gue!" Elin semakin menggeram kesal, perlahan dia maju mendekati Nesya dengan tangan terkepal.
"Eh eh eh, stop!!" teriak Gibran menengahi kedua gadis yang hendak bertengkar itu. "Kalian apa-apaan sih? Jangan pada ribut terus lah, kasihan si Misha lagi sakit itu!" sambungnya.
"Dia tuh yang cari ribut, dasar nenek lampir!" umpat Elin.
"Hah? Apa lo bilang? Lo ngatain gue nenek lampir? Sialan banget lo, dasar nenek sihir!" balas Nesya.
"Bangs*t!" Elin mengumpat kesal, ia langsung menarik rambut Nesya dengan kuat dan kasar.
Ya mereka pun ribut disana, Misha serta yang lainnya sampai kewalahan untuk menengahi mereka.
"Nah, begitu ceritanya tuan.." ucap Misha yang baru selesai menceritakan semuanya.
"Apa? Kamu sempat pusing dan mual-mual??" Fabian tersentak kaget.
"I-i-iya tuan... ada satu teman sekolah aku yang curiga kalau aku hamil, tapi aku gak percaya karena gak mungkin aku hamil tuan," jawab Misha.
"Loh kenapa gak mungkin? Bisa aja kamu memang hamil Misha, saya selalu keluar di dalam. Sekarang gini deh, kamu udah berapa hari gak menstruasi?" ucap Fabian.
"Eee..." Misha coba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia mengalami datang bulan, dan ia baru sadar kalau sudah hampir dua Minggu dirinya tak mengalami itu.
"Gimana?" tanya Fabian.
"Iya sih tuan, udah sekitar satu Minggu aku telat haid. Tapi, belum tentu juga aku hamil. Tuan jangan takut-takuti aku dong!" ucap Misha.
"Siapa yang nakut-nakutin kamu sayang? Saya justru berharap kamu memang hamil anak saya, karena saya sudah tidak sabar ingin memiliki anak dari kamu!" ujar Fabian.
"Aku belum siap tuan, aku masih mau sekolah dan lanjutin pendidikan aku," ucap Misha.
"Hey! Emangnya kalau kamu hamil, terus kamu gak bisa lanjut kuliah gitu?" ucap Fabian.
"Ya pasti nanti tuan bakal nikahin aku kan?" ucap Misha.
"Iya sih, tapi itu gak perlu nunggu kamu hamil dulu sayang. Saya akan segera nikahi kamu secepatnya, walau kamu belum hamil. Kamu juga gak perlu khawatir, setelah kita menikah kamu saya izinin buat lanjutin pendidikan kamu kok!" ucap Fabian.
__ADS_1
Misha tertunduk lesu sembari memainkan jari-jarinya, namun Fabian langsung menarik dagunya dan menatapnya secara intens.
"Jadi gimana sayangku? Apa kamu mau menikah dengan saya?" tanya Fabian seraya menggenggam dua telapak tangan wanitanya.
"Aku mau-mau aja tuan, tapi emang tuan udah lidah sama nyonya Khayra?" ucap Misha.
"Kamu gausah mikirin itu! Barusan aja saya baru selesaikan proses perceraian saya dengan Khayra, sekarang saya dan Khayra sudah resmi berpisah. Jadi, kamu mau kan nikah sama saya?" ujar Fabian.
Lama Misha terdiam, tetapi akhirnya dia mengangguk pelan dan membuat Fabian bersorak gembira.
"YES! WOOHOO!!" teriak Fabian secara spontan.
Misha tampak tersipu malu, wajahnya memerah terlebih saat Fabian mengangkat dan membawa tubuhnya berputar-putar disana.
Murid-murid yang berada di dekat mereka pun terlihat heran menyaksikan momen itu, namun mereka tak berani mendekat apalagi bertanya.
"Tuan, udah tuan turunin aku! Aku pusing tau muter-muter terus begini," pinta Misha.
"Hahaha, iya Misha iya.." Fabian menurut, lalu menurunkan tubuh Misha ke bawah.
"Maafin saya ya! Saya kebawa suasana tadi, sangking senangnya karena kamu akhirnya mau nikah sama saya!" ucap Fabian.
"Gapapa tuan," ucap Misha tersenyum tipis.
"Oh ya, saya juga punya sesuatu buat kamu." Fabian tersenyum, kemudian merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu dari sana.
Misha penasaran saat Fabian memegang kotak perhiasan di tangannya, Misha yakin bahwa itu berisi sebuah cincin emas.
Dan benar saja, Misha terbelalak begitu Fabian membuka kotak tersebut dan menunjukkan sebuah cincin berlian yang sangat mahal di depannya.
"Ini untuk kamu Misha, boleh kan saya selipkan cincin mungil ini di jari manis kamu?" ujar Fabian.
"Tu-tuan yakin? Itu pasti bukan cincin biasa kan tuan? Aku gak berani ah pakainya," ucap Misha.
"Kamu tolak pemberian saya Misha?" tanya Fabian.
"Eee bu-bukan begitu, tapi..."
"Sudah, gak ada tapi-tapi! Kamu harus pakai cincin ini supaya orang-orang tau kalau kamu milik saya dan gak akan ada yang berani dekati kamu!" potong Fabian.
"I-i-iya tuan," Misha menurut saja. Fabian langsung menarik tangannya dan menyelipkan cincin mahal itu di jari manisnya.
"Pas!" ucap Fabian seraya mengecup punggung tangan sang wanita.
Setelahnya, Fabian mendekap erat tubuh Misha sembari menghirup aromanya. Barulah Fabian membawa Misha ke mobil dan melaju menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksa kondisi Misha.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1