
Milano masih mengurus perusahaan tambang milik kerajaan Madison. Ia datang di luar pengawasan kerajaan karna Milano berniat mengambil alih perusahaan ini agar terlepas dari pungli dan korupsi dari dalam.
Bersama Darren ia mengeluarkan semua orang-orang yang di pilih sebelumnya. Milano tak memperlihatkan wajahnya karna akan jadi masalah jika mereka mengadu nantinya.
"Prince! Mandor dan semua petinggi perusahaan sudah di ganti sesuai perintahmu!"
"Hm, lenyapkan semua orang-orang yang bermain kotor sebelumnya!" Titah Milano yang duduk di kursi CEO disini seraya memeriksa data para pekerja yang sudah di seret keluar dalam diam.
Darren yang mendapat titah itu segera pergi menemui utusan anggota mereka yang sudah menyekap para pekerja lama itu.
Ia meninggalkan Milano dalam ruangan khusus CEO perusahaan pertambangan Madison yang tampak serius meneliti foto-foto dan berkas di mejanya.
"Richo. Dia adalah direktur utama disini. Bisa jadi dia berhubungan langsung dengan para penjilat istana dan penanggung jawab tambang ini," Gumam Milano memisahkan beberapa orang yang belum di singkirkan.
Sistem perusahaan seperti ini biasanya hanya menugaskan orang yang di pilih langsung dari istana. Keuntungan yang di dapat nanti akan di kirim tapi, menurut data yang Milano baca keutungan itu sama sekali tak di dapat oleh rakyat melainkan habis di tangan koruptor.
Satu persatu Milano ambil alih. Ia ingin memberi ganjaran pada para petinggi kerajaan yang berani menggali keuntungan di atas penderitaan rakyat Madison.
"Prince!"
Darren datang membawa sebuah flashdisk yang tadi di berikan oleh anak buah mereka yang sudah memaksa pekerja lama itu untuk bicara.
"Ini rekaman mereka! Semua data penyelundupan uang dan penyalahgunaan kekuasan juga sudah siap."
Darren menyerahkan benda itu pada Milano yang segera memeriksa di laptopnya.
Manik coklat elang tajam Milano melihat rekaman penyiksaan para anggotanya pada pekerja lama yang mengaku jika mereka memang sudah mengambil keuntungan yang besar.
Wajah mereka sudah pucat dan kaki tangan di ikat rantai yang berlumuran darah. Milano tak asing lagi dengan pemandangan seperti itu karna menurutnya ini bukanlah apa-apa.
"Bukti-bukti ini hanya menunggu waktu saja untuk tersebar. Aku selalu mendukungmu, Prince!"
"Hm, bagaimana dengan kakakku?" Tanya Milano tak mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang masih memutar rekaman.
"Pangeran Franck masih menjalani pengobatan. Sudah ada beberapa kemajuan dan dia berulang kali memintamu dan nona Latizia untuk pulang!"
Mendengar itu Milano lega. Ia tak sabar untuk melihat kakaknya berjalan kembali hingga mereka akan berkumpul dengan tawa seperti dulu.
"Prince! Emm itu..."
Darren seperti ingin bicara sesuatu yang sulit ia ucapkan. Milano yang tahu mengetuk mejanya dua kali pertanda LANJUTKAN.
"Pangeran Franck tadi berulang kali menelpon. Jika berbohong terus takutnya akan buruk untuk ke depan."
"Dia ingin aku pulang?"
"Iya, Prince! Dan..dan dia ingin nona Latizia cepat h..hamil!"
Sontak Milano langsung menutup laptopnya. Darren yang terkejut sempat jantungan karna takut Milano tak suka dengan ucapannya barusan.
__ADS_1
"P..Prince! Aku..aku hanya mengatakan apa yang pangeran Franck inginkan. Aku.."
"Apa mungkin?"
Degg..
Darren syok melihat Milano tampak serius memikirkan soal itu. Padahal tadi ia hanya bicara lugas tanpa ada harapan jika Milano akan mempertimbangkannya.
"Mu..mungkin saja bisa, Prince!"
"Tapi tidak mungkin," Gumam Milano menimbang-nimbang. Setiap berhubungan dengan Latizia maka ia akan keluarkan di luar. Bagian perut, dada dan ada beberapa tempat terdesak akan jadi pelampiasannya.
Melihat keraguan Milano, Darren langsung mendelik gerah. Tapi, jika di pikir-pikir Milano memang sangat berhati-hati soal hubungan ranjang. Selama ini belum ada yang kebobolan apalagi sampai lepas kandang.
"Prince! A..apa kau tak berencana untuk serius dengan nona Lati.."
"Komitmen itu menyusahkan," Gumam Milano dengan raut wajah berat memikirkan soal hubungan terikat.
Ia sama sekali tak pernah berpikir untuk memiliki komitmen perasaan karna menurutnya hanya hasrat saja yang harus di lampiaskan setelah itu tak ada urusan lain.
Darren paham maksud Milano. Berhubungan terikat dengan wanita memang sangat sulit di mengerti bahkan sering membuat pusing. Apalagi di zaman sekarang mereka tak perlu bermain hati untuk melampiaskan gairah masing-masing.
"Prince! Jangan sampai pangeran Franck tahu hubunganmu dan nona Latizia hanya sebatas saling memuaskan. Aku takut kalian akan bertengkar hebat."
"Hm, jika tak ada yang bicara dia tak akan tahu," Gumam Milano tampak masih begitu kejam. Darren hanya bisa mengambil nafas dalam memeriksa ponselnya.
Ia mengernyit saat ada notif pesan dari panglima Ottmar yang melaporkan soal, apa saja yang dilakukan Latizia setelah kepergian Milano tadi.
"Prince!"
"Hm," Gumam Milano datar kembali memeriksa berkas di mejanya.
Darren agak ragu tapi setelah ia menimbang-nimbang akhirnya ia putuskan untuk bicara. Peduli atau tidak itu bukan urusannya.
"Prince! Apa kau tadi meminta Panglima Ottmar untuk mengawasi nona Latizia?"
"Hanya berjaga-jaga," Jawab Milano tampak sibuk tapi sedetik kemudian tangannya berhenti membolak-balikan kertas itu dan malai menatap datar Darren.
"Ada laporan?"
"Yah, ini soal.."
"Bacakan!" Titah Milano bersandar di punggung kursi dengan ekspresi serius. Darren yang merasa heran mulai membacakan list pesan ini.
"Setelah prince pergi tadi, nona Latizia memberi makan merpatinya!"
"Lalu?"
"Hal sekecil ini juga harus di laporkan. Apa tidak salah tulis?!" Batin Darren kebingungan melihat semua aktifitas kecil Latizia-pun di laporkan membuatnya heran tujuh turunan. Apa fungsinya?! Pikir Darren pusing.
__ADS_1
"Lanjutkan!" Titah Milano belum puas.
"Setelah memberi makan merpati. Nona Latizia pergi berkeliling di sekitar taman lalu bertemu dengan..."
"Dengan?" Tanya Milano serius bahkan ekspresinya seperti menunggu informasi penting.
"Dengan Ximus pangeran dari kerajaan Artefea!"
Seketika wajah Milano berubah beku. Terlihat urat kemarahan di mata elangnya sampai hawa ruangan ini seperti di tepi pantai yang tengah di gempur tsunami.
Rasa panik, takut dan waspada menghantui Darren yang tak tahu apa salahnya.
"Pr..Prince kau.."
"Apa yang mereka lakukan?" Tanya Milano dengan suara yang cukup membuat Darren mimpi buruk.
Sebelum bicara ia menelan ludah bulat-bulat melancarkan tenggorokannya yang tadi kering.
"Mereka bicara sangat serius. Ximus memetikan mawar untuk nona Latizia yang merangkai bunga itu menjadi mahkota. Keduanya bicara dengan sangat akrab dan tampak dekat. Nona Latizia sangat nyaman dengan pria itu sampai menyerahkan ponselnya untuk di pegang sampai..."
Brakk..
Ponsel di tangan Darren langsung mencium lantai. Wajah Darren berubah pucat melihat Milano yang tampak emosi bahkan ada kilatan kemurkaan di matanya.
"P..Prince!"
"Beraninya dia," Geram Milano sama sekali tak peduli dengan apa yang baru saja ia lakukan pada Darren.
Pria yang tergolong lebih muda darinya itu menatap nanar ponselnya tapi tak berani komplain karna ia masih sayang nyawa.
"Aku sudah katakan jangan melanggar batas tapi dia..."
"P..Prince! Memangnya apa masalahnya?! N..Nona mungkin p..punya.."
"DIA TAK BISA MELAKUKAN INI!!" Geram Milano menggebrak meja sampai laptopnya jatuh dengan na'as.
Darren tak lagi berani bicara bahkan ia seperti patung menerima gelombang panas dari Milano yang seperti kehabisan obat penenang.
"Aneh. Sudah jelas tadi nona Latizia bukan apa-apa baginya tapi kenapa tiba-tiba marah-marah?!" Batin Darren merasa kesal tapi ia hanya bisa mengumpat di batin saja.
Karena tak bisa tenang membayangkan cerita romantis Latizia dan Ximus, Milano segera berdiri dari duduknya dengan wajah masih seperti malaikat maut.
"Aku ingin kau cari alat pelacak yang bisa di tanam di tubuh seseorang. Wanita ini memang tak bisa di anggap remeh," Gumam Milano segera pergi dengan langkah lebar penuh hawa membunuh.
Darren langsung menghembuskan nafas lega segera mengusap dadanya.
"Jika bersama kakaknya aku akan di ajak bergosib tapi, jika bersama adiknya nyawaku selalu di ujung tanduk. Kemana lagi aku mengabdi?!" Gumam Darren serba salah.
Ia mengambil ponselnya yang sudah retak di lantai dan segera mengikuti Milano dengan hati yang ikut retak seperti benda kesayangannya ini.
__ADS_1
....
Vote and like sayang