
Mobil yang di kendarai Iriszen terus melaju stabil melewati jalan kota yang malam ini tak begitu ramai. Awalnya Iriszen fokus ke depan tapi, tiba-tiba ia melihat ada mobil mewah yang melaju cukup cepat di belakangnya.
"Kenapa orang ini?!" Gumam Iriszen pada diri sendiri.
Iriszen berusaha santai dan tenang. Ia mempercepat laju mobilnya sampai menyalip satu kendaraan di depan lalu kembali melihat ke spion belakang.
"Dia mengikuti ku?! Untuk apa?!"
Antara kesal dan cemas jika itu orang jahat, Iriszen memilih untuk segera menghindar. Ia berusaha memotong beberapa angkutan di depan tapi sepertinya sosok penguntit itu juga lihai dalam berkendara.
Di situasi genting seperti itu, Iriszen segera menelpon polisi. Ia tak menghentikan atau mengurangi kecepatan mobilnya agar tak di potong dari belakang.
"Kepolisian 911. Ada yang bisa kami bantu? Sebutkan alamat anda?"
"Saya di kejar mobil asing yang tak saya ketahui. Dia terus mengikuti saya dari belakang. Jalan Hemberds jalur utama!" Jawab Iriszen sesekali melihat kebelakang.
"Baik. Kami akan segera ke sana, pilih jalur yang ramai."
Sambungan itu di matikan. Iriszen meremas kemudinya dengan perasaan gugup. Baru kali ini ia di ikuti oleh orang misterius sampai berkendara segila itu.
"Shitt! Jangan lagi," Gumam Iriszen kala di depan sana ada kecelakaan dan sementara jalur itu di tutup.
Iriszen di kelilingi oleh mobil-mobil pengendara lain yang berhenti. Mobil hitam mahal yang tadi mengikutinya ada tepat di belakang.
Klakson pengendara lain berbunyi nyaring kala ada antrian panjang. Mereka harus menunggu petugas jalan untuk menyingkirkan mobil pengangkut barang besar yang melintang di depan sana.
Karena khawatir jika mobil di belakang akan menabraknya dan mereka terjebak macet, akhirnya Iriszen keluar dari mobilnya.
"Seharusnya dia tak akan mengejar ku di suasana ramai ini," Gumam Iriszen berjalan cepat ke luar menjahui mobilnya.
Franck yang melihat itu juga bergegas keluar. Ia yang memakai topi dan hoodie jadi tak seorang-pun yang tahu identitasnya.
"Dia..dia tetap mengikuti-ku. Apa dia gila?!" Gumam Iriszen mempercepat langkahnya.
Ia masuk ke keramaian para pejalan kaki di depan beberapa toko pinggir jalan. Franck juga tak menyerah terus memecah kerumunan agar ia bisa mendekati Iriszen yang menganggap ia penjahat.
Saat ia sudah keluar dari kerumunan ini tiba-tiba saja Iriszen menghilang. Franck menatap beberapa tempat di sekitarnya tapi tak ada satupun sosok seperti Iriszen.
"Dimana dia?" Cemas Franck berjalan ke depan. Tepat saat ada cela penghubung toko satu dan toko lainya tiba-tiba saja ada hantaman benda tumpul tepat ke punggung Franck yang jatuh ke depan.
"Penguntit!! Kau..kau ingin apa dariku?!!" Suara geram, cemas dan panik Iriszen yang memeggang balok kayu setelah keluar dari cela gelap itu.
Franck yang tersungkur ke depan merasa punggungnya sangat sakit. Ada beberapa orang yang berjalan melewati mereka tapi seperti biasa masyarakat acuh dan memilih pergi.
"Polisi akan datang!! Jangan coba-coba menguntit ku!!" Iriszen membuang balok kayunya lalu berbalik ingin pergi.
Franck bangkit segera menarik lengan Iriszen ke dalam cela gelap persembunyian wanita ini tadi.
"Kau!! Apa yang kau mau?? Lepaas!!" Memberontak keras sampai Franck kewalahan.
"Dengarkan aku..aku.."
Brugh..
Tendangan maut Iriszen menghantam bagian bawah Franck yang langsung tersandar ke dinding. Ia meringis hebat memeggangi bagian bawahnya yang terasa pecah.
"A..asss!!"
"Jangan mengusikku!" Tekan Iriszen yang berkeringat dingin segera pergi tapi Franck masih belum melepaskan genggamannya ke lengan wanita itu.
Sontak Iriszen kembali ingin memukul Franck yang segera bicara keras.
__ADS_1
"Ini aku!! Ini aku Franck!!"
Degg..
Iriszen meneggang. Ia menatap sosok pria yang tak begitu jelas diantara remangan gelap ini.
"K..kau.."
"Franck! Kau lupa?"
Iriszen segera menyentak tangannya dari genggaman Franck. Iriszen berdiri kaku bahkan matanya mengigil seakan tak percaya itu.
"T..tidak. Tidak mungkin."
"Iriszen! Bantu aku berdiri!" Pinta Franck karena masih merasa nyeri di bagian bawahnya.
Iriszen yang diam tampak ragu-ragu. Suara Franck memang tak begitu berbeda dari saat kecil tapi lebih dewasa dan jantan.
"K..kau Franck?"
"Yah. Bantu aku berdiri!" Pinta Franck tersandar na'as.
Dengan bimbang Iriszen akhirnya membantu Franck berdiri. Ia memapah pria tinggi dengan tubuh tergolong kekar tapi tak seperti Milano yang sempurna.
Saat keluar dari cela gelap itu, Franck bersandar ke dinding toko dimana sudah ada lampu yang terang.
Iriszen berdiri di hadapan Franck dengan tatapan mata masih mencoba memahaminya.
"B..benar kau Franck?"
"Kau tak percaya?"
Iriszen diam meremas kedua tangannya. Franck menghela nafas dalam lalu membuka topi yang menutupi setengah wajahnya.
Mata Iriszen tertegun menatap pahatan tampan dewasa Franck. Ia masih kenal dengan manik coklat pekat dengan rambut abu tua yang dulu menjadi teman sekaligus idolanya.
"K..kau.."
"Maaf. Aku tak bermaksud menyakitimu," Gumam Franck dengan tatapan teduh.
Mata Iriszen mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar dengan dada kian sesak di timpa banyak perasaan yang berat.
"F..Franck!"
"Maaf!"
Tanpa ada rasa malu, segan atau gugup, Iriszen melemparkan diri ke tubuh Franck yang sempat tersentak tapi ia tetap memeluk Iriszen yang menangis.
"Kau..kau baik-baik saja. Aku..aku pikir dulu kau sudah tiada, hiks! Mereka..mereka bilang kau sudah tiada!"
"Aku masih hidup. Itu hanya konspirasi kerajaan," Jawab Franck mengusap punggung Iriszen lembut.
Pembawaan Franck sangat tenang dan hangat. Ia bisa membuat siapapun nyaman dengannya apalagi pria itu sangat bijaksana berbeda dengan Milano yang cenderung memihak.
Kalau bukan dengan Latizia dia tak akan sehangat itu. Hangat bagi Milano berbeda dengan Franck. Keduanya kakak adik tapi punya hawa yang terpisah.
"Maafkan aku! Aku menakuti mu."
Perlahan isakan Iriszen mereda. Ia menatap Franck dengan penuh rasa rindu tapi juga mulai sadar jika posisi mereka sedang tak baik.
"M..maaf!" Menjauhkan dirinya canggung.
__ADS_1
Franck tersenyum kecil. Rasa sakit di bagian bawahnya tak begitu menyiksa lagi. Bahkan, sekarang terasa lebih baik.
"Kau..kau sudah bertemu adikku, bukan?"
"Sudah. Dia tak berubah sama sekali," Jawab Iriszen mengusap kedua pipinya yang basah.
Franck gugup begitu juga Iriszen. Keduanya untuk sesaat diam memandangi para pejalan kaki yang lewat. Karena Franck memakai hoodie jadilah mereka tak mengenali siapa sosok itu.
"Ehmm!" Deheman memecah kecanggungan dari Franck.
"Itu..mereka bilang kau akan menikah, apa benar?"
Iriszen terkejut. Ia menatap Franck bingung tapi tak tahu harus menjawab apa.
"Menikah itu memang seharusnya tapi.."
"Pria tua itu tak baik. Dia cabul dan kau..kau tak akan bahagia dengannya!" Sela Franck buru-buru bicara takut Iriszen menjawab kenyataan.
Tapi, respon Iriszen justru linglung. Ia membiarkan Franck menggenggam satu tangannya dengan ekspresi agak gugup.
"Bayangkan kau menikah dengan pria yang sudah di pantau malaikat maut. Saat dia menguasai mu, dia pasti akan mati dan kau sendirian. Pria tua cabul seperti itu sudah pasti banyak simpanannya. Kau.."
"Pria tua apa?" Tanya Iriszen bingung.
"Kau di jodohkan bibi-mu dengan pria tua cabul, bukan?! Iriszen, kau masih muda. Kau harus menikah dengan pria bertanggung jawab dan tentunya tak akan mati dalam beberapa tahun ke depan. Dan pria itu.."
Franck diam. Ia menyiapkan jantungnya untuk perasaan yang menggila di dalam sana.
"Pria itu harus bisa melindungimu. Dia..dia harus.."
"Pria seperti itu tak ada," Gumam Iriszen tapi terkejut saat Franck memeggang bahunya serius.
"Aku akan jadi seperti itu. Menikahlah denganku!"
Blush...
Kedua pipi Iriszen sontak memerah panas. Ajakan menikah dari Franck membuat hatinya bergejolak bahkan Iriszen tak bisa berkata-kata.
"Aku akan membuat bibi-mu menyesal memaksamu berjodoh dengan pria cabul itu!! Aku berjanji!"
"I..itu.."
"Aku akan bertanggung jawab. Pria tua cabul itu barang bekas dan sudah banyak di modif, jangan mau menikah dengannya!!" Tegas Franck membuat Iriszen geli tapi juga heran.
"Aku.."
"Iriszen! Selera-mu bukan barang bekas seperti itu-kan?"
"A..aku tak menikah!! Pria tua apanya?! Berhenti membahas barang-barang aneh!!" Pekik Iriszen mendorong Franck lalu berlari kembali ke mobil dengan rasa malu menggunung.
Franck terdiam. Ia membayang sesaat dengan ucapan Darren tadi hingga darahnya langsung mendidih.
"Kauu!! Kau sudah berani menipuku?! Darreeen!!!" Geram Franck segera mengejar Iriszen.
Franck merasa sangat malu. Ucapannya tadi terlalu konyol di dengar oleh wanita.
Namun, saat tiba di dekat jalan Franck terkejut saat mobilnya sudah di derek pihak kepolisian bahkan dua diantara aparat itu berjalan ke arahnya.
Franck ingat jika tadi Iriszen bicara soal polisi dan jangan-jangan.."
"Shitt! Darren sialan!!"
__ADS_1
....
Vote and Like sayang