GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Jangan menyesal


__ADS_3

Malam ini semua tamu kerajaan Artefea di persilahkan kembali ke penginapan istana. Semuanya di boyong ke sebuah bangunan besar yang memiliki 200 ratus kamar inap dan 3 ballroom utama.


Mereka di beri waktu 3 jam untuk istirahat karena nanti akan ada acara dansa dan pesta penutup.


Tapi, sedari tadi seorang wanita berambut pendek yang berpakaian cukup terbuka itu berjalan tak tentu arah karena merasa ada hal yang aneh di tubuhnya.


Panas, sensitif dan bergairah. Untung saja tak begitu banyak orang yang ada di lorong menuju penginapan ini.


"A..ada apa dengan tubuhku?!" Gumamnya bersandar ke dekat tiang penyangga lorong.


Siapa lagi jika bukan putri Athena. Sedari sore ia merasakan gelagat aneh di tubuhnya dan mulai menjauh dari keramaian. Hanya saja, semakin lama ia semakin tak bisa mengendalikan diri.


"Tidak. Apa mungkin..apa mungkin aku juga kena?!" Gugupnya seraya menyangga keringat di dahi.


Sayup-sayup terdengar suara beberapa laki-laki yang akan datang melewati lorong ini. Putri Athena segera bergegas pergi masuk ke penginapan dimana sudah sunyi karena semuanya beristirahat.


"T..tidak bisa. Kamarku masih jauh," Gumam putri Athena masuk ke dalam lift tak jauh darinya.


Sebelum lift itu benar-benar tertutup, putri Athena di kejutkan dengan kehadiran Ximus yang masuk ke dalam lift.


"K..kau.."


"Maaf, aku agak buru-buru," Jawab Ximus tak begitu memperhatikan putri Athena yang menyudutkan diri di belakang sana.


Ximus terlihat memeggang satu buket bunga dan mantel hangat. Wajahnya terlihat bahagia membiarkan lift itu membawa mereka ke lantai atas.


"K..kamar Latizia ada di lantai yang sama denganku. Apa mungkin pria ini ingin menemuinya?!" Batin putri Athena terengah-engah.


Jika begitu maka sangat baik. Latizia pasti juga sekarang sudah merasakan efek obatnya dan siap membuat dunia Milano terguncang, pikir putri Athena.


"Shitt!"


"Kau kenapa?" Tanya Ximus kala mendengar umpatan putri Athena yang meremas dadanya sendiri.


"A..aku.."


Ximus menoleh kecil tapi segera tersentak kala melihat keadaan putri Athena yang sudah di banjiri keringat dengan tubuh gemetar dan merah.


"Kau.."


"K..keluar!" Pinta putri Athena menekuk kedua lututnya terus merapat ke sudut lift.


"Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanya Ximus tahu jika putri Athena tengah dalam pengaruh obat.


"K..keluar!! Cepat keluaar!!"


Ximus diam. Ia tak mungkin meninggalkan putri Athena disini karena bisa saja ada orang yang berpikiran buruk akan memanfaatkan situasi.


"Aku akan mengantarmu ke kamarmu!"


"T..tidak. K..kau keluar!" Gumam putri Athena segera berjalan tak stabil melewati Ximus kala lift sudah terbuka.


Pandangan putri Athena mulai terasa kabur dan berputar. Jalannya sempoyongan mencari kamar yang khusus untuknya.


"Aku bantu panggilkan pengawalmu!! Dimana merekaa?" Tanya Ximus keluar dari lift.


"K..kamarku!"


"Nomor berapa?" Tanya Ximus mendekat tapi putri Athena tetap kekeh mencari kamar sendiri.


Ximus menatap buket bunga di tangannya. Jika seperti ini terus, ia bisa terlambat menemui Latizia tapi wanita ini..


"Sudahlah. Nama baik kerajaan lebih penting," Gumam Ximus segera menarik lengan putri Athena yang merasa tersengat.


"K..kau.."


"Aku tak akan berbuat macam-macam padamu. Jika berkeliaran disini kau akan dalam bahaya," Jawab Ximus memapah putri Athena menyusuri beberapa pintu kamar di lantai ini.


"Tunjukan kartu kamarmu!"

__ADS_1


"A..ku t..tak tahu," Jawab putri Athena tak tahu lagi dimana tasnya.


Belitan tangan Ximus ke pinggangnya membuat putri Athena semakin panas. Tatapan mata sendu dan di kuasai hasrat itu memandang wajah tampan Ximus yang memang tergolong muda penuh pesona pangeran.


"M..milano!" Batin putri Athena melihat wajah Ximus tapi di matanya itu Milano.


"Kau kenapa? Jangan macam-macam," Geram Ximus kala tubuh putri Athena melemas.


"Milano!"


"Siall!! Nama itu lagi," Umpat Ximus emosi. Ia mendobrak pintu kamar nomor 102 dan beruntung kosong.


"Apa mata seluruh wanita di dunia ini sudah buta dengan penjahat kelamin itu?!" Kesal Ximus membaringkan putri Athena di atas ranjang.


Ia ingin bangkit tapi, lehernya langsung di belit oleh putri Athena yang sudah hanyut.


"K..kau.."


"Milano!" Gumam putri Athena menatap penuh damba Ximus.


Wajah Milano yang tampan dan tegas membuat putri Athena jatuh sangat dalam. Jarinya terulur mengusap rahang tegas jantan Milano bergulir ke bibir tipis sensual yang ranum segar dan tatapan mata elang tajam menghanyutkan.


"Milano! Kau milikku!"


"K..kau sadarlah!" Panik Ximus tapi bibirnya sudah lebih dulu di bungkam wanita ini dengan liar.


Ximus berusaha mendorong tapi putri Athena bagai karet membelit tengkuknya kuat. Mau bagaimana-pun ia bertahan untuk tak menolak, Ximus tetaplah pria normal.


"Setelah ini, jangan salahkan aku atas kemauanmu sendiri!" Batin Ximus juga punya sisi gelap yang lain.


........


Sementara di luar sana. Kedatangan Milano sama sekali tak bisa di deteksi oleh siapapun. Ia melewati pintu kamar putri Athena dengan lirikan netra tajam elangnya seakan tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana.


Langkahnya terhenti sejenak saat merasa akan ada banyak orang yang datang kesini sebentar lagi.


Nomor 112. Milano mendorong pintu kamar itu menampakan visual kamar bak hotel bintang lima di negara ini.


Ranjang king size yang lebar menampung sesosok wanita cantik tengah tertidur lelap tanpa melepas sepatu dan pakaiannya.


"Ehmm!"


Latizia tampak gelisah. Milano mendekat dengan tatapan datar tak lepas dari netra elangnya.


"P..panas!! Panas!"


Sudut bibir sensual Milano tertarik kecil. Ia melepas mantel di tubuhnya yang masih dibaluti jas segera mengungkung Latizia dalam hawa keperkasaan.


"Panas?"


"Ehmm.. Panas!" Angguk Latizia tapi matanya masih terpejam. Antara gemas dan bergairah, Milano melahap bibir ranum milik Latizia buas.


Mereka terlibat aksi perang lidah dalam beberapa saat. Ciuman yang begitu buas dan hisapan ganas dari Elang Madison ini sukses membuat mata Latizia terbuka lebar.


"Ehmm!!" Pekiknya tertahan karena Milano mengigit bibir bawahnya gemas.


Bahu kekar itu Latizia dorong hingga barulah Milano melepaskan ciuman brutalnya.


"Kau..kau ingin menelan lidahku, ha??!" Pekik Latizia ngos-ngosan dengan bibir basah bengkaknya.


"Dimana-nya yang panas?" Tanya Milano dengan tatapan intens penuh pesona.


"A..p..panas! Aku..aku merasa tubuhku.."


Takk..


Milano menjentik dahi Latizia halus hingga wajah cantik wanita itu cemberut masam.


"Kau tak di pengaruhi obat apapun."

__ADS_1


"Kauu!! Cih, sama sekali tak bisa di tipu," Umpat Latizia seraya mengusap keningnya yang agak nyeri.


Milano beralih duduk di tepi ranjang begitu juga Latizia. Netra elang tajam itu memindai seluruh pakaian Latizia yang tertutup dan itu pilihannya.


"Ceritakan padaku!"


"Kau juga sudah tahu," Jawab Latizia malas bercerita tapi Milano tampak masih menunggu. Alhasil, Latizia pasrah segera merangkai peristiwa.


"Bagaimana bisa kau tahu jika botol itu ada obatnya?"


"Begini. Logikanya, di festival sebesar itu dengan banyak orang penting yang hadir tak mungkin membiarkan anak kecil berkeliaran. Apalagi, aku lihat dia sudah di arahkan untuk mendekatiku. Tak mungkin begitu berinisiatif memberiku air, bukan?!" Jelas Latizia yang sedari awal curiga.


"Lalu?" Tanya Milano seraya merapikan rambut Latizia.


"Semuanya sudah di atur. Dari pelayan yang tiba-tiba menabrakku di siang bolong padahal dia tak buru-buru dan anak kecil berinisiatif memberi botol air. Saat itu aku pura-pura menegguk airnya tapi ku masukan lagi ke dalam botol. Dia pasti minum air sisa ludahku," Geli Latizia merasa sangat jahat.


Milano suka dengan cara Latizia bertindak. Terlihat ceroboh tapi cukup licik bagi musuhnya.


"Kau membalikan rencananya?"


"Yah. Awalnya aku tak tega tapi karena tahu dia adalah mantan kekasih lamamu semangatku tiba-tiba menyala," Jawab Latizia menunjukan kepalan tangannya.


"Bukan kekasihku," Bantah Milano malas.


"Kalau bukan, kenapa dia sampai ingin menjebakku?! Perasaanya padamu begitu dalam dan penuh kekaguman. Grigel menyelidiki latar belakangnya dimana putri Athena ternyata tak pernah dekat dengan laki-laki manapun selain kauu!" Panas Latizia menyipitkan matanya tajam.


"Aku bukan yang pertama untuknya."


"Benar-kan?! Kalian pernah bermain!!" Emosi Latizia kesal sendiri.


Padahal ia yang mengungkit-ungkit soal masa lalu Milano tanpa sebab.


"Latizia! Jangan bahas ini lagi."


"Apa dosa-ku hingga bisa di jebak oleh pria sepertimu. Kehormatanku, mahkota wanita dan..haisss sudahlah. Semuanya sudah terjadi," Sesal Latizia membuat dirinya semenyedihkan mungkin.


Milano mengambil nafas dalam. Ternyata meladeni ibu hamil lebih sulit di banding melawan banyak Alkemis spritual, pikir Milano pusing.


"Kau diam?"


"Lalu aku harus apa?" Tanya Milano menaikan satu alisnya.


"Pasti kau sedang membayangkan bagaimana bentuk tubuh wanita itu-kan??" Emosi Latizia membuat Milano sesak nafas.


"Latizia! Jangan mulai lagi."


"Cih, semua pria sama saja. Kalian hanya tahu bentuk indah tanpa peduli bagaimana mendapatkan visual secantik ini."


Milano hanya mengangguk. Ia mendengarkan omelan Latizia tapi juga senang mendengar suara wanita itu menyerocos tiada henti dan penuh semangat hidup.


"Jika nanti anakku sudah dewasa. Aku ingin dia jadi laki-laki sejati dan tak mempermainkan wanita seperti ayahnya. Putraku tak boleh mengikuti jejakmu dan.."


"Tetaplah seperti ini," Lirih Milano menatap dalam wajah cantik Latizia yang juga memandangnya.


"Aku jadi merinding," Gumamnya agak ngeri dengan Milano.


"Kau boleh mengomel sampai kapanpun. Aku ingin selalu mendengarnya."


"Haiss, jangan katakan kalimat sedalam itu. Aku jadi merasa bersalah," Gumam Latizia memeluk Milano yang tersenyum tipis beralih mengusap kepalanya.


Keduanya membisu seakan menikmati momen hening yang syahdu ini. Memuaskan raga untuk saling mendekap hangat dan sentuhan hati yang menyatu.


"Temani aku berdansa!"


"Sesuai keinginanmu," Jawab Milano mengecup kening Latizia yang tersenyum lebar segera bersiap turun ke lantai dansa mewah kerajaan Artefea.


....


Vote and like sayang..

__ADS_1


__ADS_2