
Tatapan terkejut sekaligus cemas seluruh mata orang-orang yang di lantai bawah tertuju langsung pada Latizia yang tiba-tiba saja turun sendirian.
Tak peduli bagaimana kondisinya atau keadaan di luar yang terlibat baku tembak dan jelas, wajahnya di penuhi emosi yang kompleks.
"Latizia!" Tegur Franck berdiri di balik pintu besar istana yang masih di tembaki dari luar.
Grigel dan Poharden tertegun saling pandang. Keributan penduduk di depan memang tak terbendung lagi, dan mungkin itulah yang membuat Latizia keluar dari kamar.
"Putri! Mereka mencarimu. Jangan keluar!" Cegat Grigel dan Poharden berusaha menghentikan Latizia.
Ia melangkah tanpa ragu. Netra ungu mistiknya memindai serpihan kaca yang berserakan di lantai dan banyak tempat peluru berjatuhan dimana-mana menggebrak emosi Latizia.
"Latizia! Kembali ke dalam!"
"Mereka menginginkanku," Jawab Latizia dingin. Dari sorot matanya yang tegas itu ada kilatan lelah tak berujung.
"Justru itu. Mereka bisa saja menyakitimu." Franck menekan intonasi.
"Jaga kamar putraku!"
"Jangan bercanda. Milano masih memikirkan soal keselamatan semua orang dan terutama kau."
Ucapan Franck bagai angin lalu di telinga Latizia tapi membekas di ulu hati wanita cantik itu. Latizia berjalan maju seakan tak takut akan baku tembak para prajurit kerajaan dan anggota suruhan musuh melesat di sekelilingnya.
Belum lagi para media yang bersembunyi merekam kejadian ini sekaligus menahan rasa takut.
"Putri!! Cepat masuk ke dalam!!"
"Amankan putri Latiziaa!!"
Panglima Ottmar yang membunuh 4 pembunuh bayaran yang tadi ingin menembak Latizia.
Mereka mendekat tapi pandangan dan telinga Latizia yang tajam justru bisa mendengar semua makian penduduk yang di usir oleh para prajurit dengan kasar. Milano berusaha memberi mereka pengertian tapi justru di lempar dengan banyak sampah.
Sungguh, Latizia meremas kuat pinggir terusan yang ia pakai dengan emosi sampai ke ubun kian meledak.
"SINGKIRKAN WANITA ITUU!!"
"KAMI TAK TAHAN LAGI DENGAN KEBIJAKAN ISTANAA!!"
"DIA HARUS PERGI DARI MADISOON!!!"
Milano berusaha menahan emosi. Semua penduduk Madison seakan mengerumuni istana yang ingin mereka hancurkan. Ini bahkan lebih kacau dari sekedar apa yang di pikiran mereka sebelumnya.
"Aku tak ingin menggunakan kekerasan!" Tegas Milano pada Darren yang tadi menyarankan agar mendepak semuanya pergi.
"Prince! Bagaimana cara kita menahan orang sebanyak ini? Pasti ada yang memprovokasinya," Resah Darren melihat ke luar gerbang yang di penuhi manusia bak semut mengerumuni gula.
Situasi kian memanas kala mereka semakin brutal dan ganas. Bahkan, ada yang membawa pisau dan senjata tajam lain melukai para prajurit istana yang tadi berusaha mengamankan.
"SERAHKAN WANITA ITUU!!!"
"WALAU KAMI MATI-PUN DISINI, KAMI TAK AKAN MENYESAAL!!"
Mereka seperti menahan takut melihat Milano berdiri di dalam gerbang dengan hawa yang tak bersahabat tapi masih berusaha bersikap bijak sesuai permintaan Franck yang tak mau ada yang melukai rakyat Madison.
Hanya saja, rasa takut itu di pendam kuat-kuat. Walau tubuh di banjiri keringat dingin, nyali itu terbirit lari tapi memaksa bertahan.
"Berikan kerajaan kesempatan untuk menyelesaikan masalah ini!" Gema suara Milano nyaring keluar gerbang tapi mereka seperti tak kuat dengan penyakit yang menggerogoti tubuh mereka.
"KAMI AKAN TETAP MATI!!"
"PRINCE! KAMI BERHARAP PADAMU SETELAH HANCURNYA RAJA BARACK TAPI, KENAPA KAU LAKUKAN INI PADA KAMI?!!"
"YAAH!! KENAPA KAU HANYA DIAM SAJAA??! DIMANA JANJIMU SELAMA INI MELINDUNGI KAMI!!"
Jantung Latizia berdenyut dan hatinya semakin nyeri. Ia paham perasaan rakyat Madison meminta belas kasih dari kerajaan dan Milano juga sudah melakukan apapun sampai tubuhnya terdampak hebat.
"Latizia!" Panggil Franck mendekat.
"Akan-ku selesaikan."
"Kauu.."
Kalimat Franck tak sampai kala Latizia sudah berjalan ke arah gerbang sana, para prajurit di sekitar istana sudah mengamankan para suruhan musuh itu hingga langkahnya cukup cepat.
Milano yang sadar akan kedatangan Latizia segera menoleh dan semua manusia di luar gerbang besar istana yang tadi rusuh tiba-tiba hening.
"Masuk kembali!" Pinta Milano menyongsong kedatangan Latizia.
__ADS_1
Jarak antara istana utama dan gerbang ini cukup jauh tapi, Latizia tak peduli akan hal itu.
"Latizia! Apa yang kau lakukan disini?! Cepat masuk!"
"Ini urusanku," Gumam Latizia dengan mata beku kedepan tak memandang Milano yang seketika mencengkal lengan Latizia.
"Kembali ke kamarmu!" Tekan Milano dengan pandangan tak biasa.
"Bagaimana dengan mereka?" Tanya Latizia dengan suara bergetar.
"Aku akan menanganinya. Mereka bisa di usir pergi!"
"Tak terlihat seperti itu," Gumam Latizia berjalan melewati Latizia yang segera sampai ke depan gerbang itu.
Darren sempat tertegun melihat Latizia ingin membuka pintu gerbang tapi tiba-tiba saja Milano datang meraih pinggangnya ringan di angkat ke atas bahu.
"Aku ingin bicara!!! Aku ingin menyelesaikan semua ini!!!"
"Kau tak bisa melakukannya," Gumam Milano terselip intonasi mengerikan. Latizia yang sudah tak kuat ada di situasi ini untuk yang kedua kalinya segera mendorong bahu Milano kuat hingga ia nekat menjatuhkan diri agar lepas.
Semuanya syok kala tubuh Latizia akan jatuh ke permukaan tanah tapi Milano sigap menangkap pinggang ramping itu.
"KAU INGIN BUNUH DIRI, HAAA??!"
"YAAAH!!!" Jawab Latizia tak kalah keras mendorong bahu Milano sekuat tenaga hingga belitannya lepas.
Bukan kekuatan Latizia tapi luka dan wajah putus asa itu yang membuat Milano melemah.
"A..aku ingin melakukannya." Dengan mata berkaca-kaca memandang Milano dengan tatapan tak berdaya.
Darren membisu. Tak ada satupun dari mereka yang berani bicara melihat wajah tampan Milano di selimuti aura menakutkan.
"Kembali!" Suara kelam penuh penahanan emosi.
"Kau yang harus kembali!"
"Jangan membuatku mengulang perintah ini," Geram Milano menggertakan giginya sampai langit di atas sana berubah gelap.
Mereka di terpa hawa menakutkan dengan hembusan angin dingin bak di pemakaman. Elang-elang Milano yang terbang di atas sana juga bergejolak mulai menatap lapar para penduduk Madison yang gemetar.
Latizia tahu Milano sedang marah tapi, ia sudah membuat keputusan dengan bulat.
"Aku akan mengorbankan diriku untuk keselamatan mereka semua!"
"Bicara sekali lagi, kau akan tahu akibatnya!"
Kilatan amarah di mata Milano tak main-main akan meledak kapan saja.
Bibir Latizia bergetar dengan air mata yang turun bebas.
"B..biarkan aku menebus dosa ini!"
"Dosa apa? Apa yang kau katakan?" Tanya Milano tak terima.
"Milano! K..kau sangat tahu apa yang-ku maksud."
"Aku tak tahu dan tak ingin tahu apapun alasanmu!!" Tekan Milano mengulur tangan untuk menarik kembali Latizia ke istana tapi di tepis cepat oleh wanita itu.
"Milano. Hanya ini jalannya," Lirih Latizia tak berdaya. Para penduduk Madison tak tahu maksud pertengkaran mereka tapi yang jelas, perasaan dan kekacauan emosi diantara keduanya sangat terasa menyakitkan.
"Hanya ini."
"Tidak," Bantah Milano keras. Ia memeggang kedua bahu Latizia yang terus berusaha bicara walau ia tak ada kekuatan untuk itu.
"Aku yakin dan percaya semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku!"
"Aku percaya!! Aku sangat percaya padamu tapi, apa mereka sanggup menunggu lebih lama hanya demi aku, haa??!" Tanya Latizia nyaris seperti jeritan kesakitan.
Matanya di penuhi rasa bingung, takut dan tak bisa memikirkan apapun.
"Latizia!" Lirih Milano dengan mata sedikit lebih lembut.
"Aku tahu kau bisa. Kau berusaha sekuat tenaga bahkan, aku sadar kaulah yang menampung semua petaka ini. Tapi.."
Tatapan Latizia beralih menyapu para penduduk Madison dengan lembut. Tak ada rasa benci sama sekali bahkan lebih bijaksana.
"Lihat mereka!" Lirihnya bergetar iba.
Keadaan penduduk Madison benar-benar seperti monster hidup. Tak terbayangkan betapa besar penderitaan mereka selama ini.
__ADS_1
"Mereka menanggung kesalahan yang tak mereka lakukan. Hanya demi satu nyawa, kau tak bisa mengorbankan ribuan nyawa rakyatmu sendiri," Imbuh Latizia tak sekejam itu bersikap egois.
Tak ada yang berani menyela ucapan Latizia karena itu benar. Latizia berjalan pelan mendekat ke gerbang besar istana menatap hangat semua rakyat Madison yang tadi memakinya habis-habisan.
"Aku yang salah. Kalian menderita karena kesalahanku!"
"Nona!" Lirih Darren melihat Latizia tak ragu untuk membuka gerbang dan berhadapan dengan semua orang tanpa ada penghalang apapun.
Para prajurit Madison yang tadi menahan para penduduk ini segera diam. Mereka tak tahu apa yang akan di lakukan Latizia di tengah situasi panas seperti ini.
"Tak perlu melempar sampah ke dalam istana. Orang yang kalian anggap tak berguna itu bahkan, menguras seluruh energinya untuk mempertahankan kalian sampai detik ini. Jika tidak, sedari awal semuanya sudah tiada."
Semuanya hanya diam seakan tak ada keberanian untuk menjawab Latizia.
"Wabah ini memang karena diriku sendiri! Kalian mungkin tak percaya jika, ada seorang alkemis yang memasukan sejumlah zat aneh dalam tubuhku hingga hidup mati kami berdampingan. Tapi, itulah yang terjadi!"
"Putri! Kami sungguh tak tahu harus berbuat apa. Kami putus asa!" Jawab salah satu pria paruh baya yang tampak dilema akan semua ini.
"Ibuku meninggal sehari sebelumnya. Sekarang kami juga akan sama seperti mereka."
"Jika kau tahu cara menghilangkan penyakit ini. Kami mohon kasihani kami!!" Pinta mereka semua segera bersujud.
Milano menatap datar semua itu. Franck melihat ketakutan besar terpancar di manik elang Milano tapi di sembunyikan oleh kilatan amarahnya.
"Kami mohon!! Kasihani kamii!!"
Latizia diam. Air matanya terus mengalir karena masih terbayang wajah belia baby Arch yang baru lahir semalam.
Maafkan aku! Kelahiranmu sudah menjadi berkat dan anugrah besar bagiku. Dan Milano...
Sudut bibir Latizia terangkat kecil. Ada senyum jenaka yang di lapisi oleh ketidakrelaan.
Kau masih menduduki posisi pria brandal tertinggi di hidupku. Walau sangat menyebalkan tapi, aku mencintaimu.
Perlahan Latizia mengambil satu pisau yang tergeletak di dekat kakinya. Walau susah bergerak, ia punya keberanian untuk melakukan semua ini.
"Aku bisa mengakhiri ini tapi, aku ingin kalian berjanji padaku!"
Mereka saling pandang kembali berdiri menatap Latizia bingung.
"Apa putri?"
"Apapun yang aku tinggalkan kalian harus menerimanya. Aku tak ingin mendengar atau melihat kalian menghina keturunanku atau mempermasalahkan latar belakangnya!" Tegas Latizia ingin anaknya hidup dengan baik tak seperti dirinya.
"Kami bersedia, putri!"
"Bekerja samalah dengan baik bangun wilayah kerajaan ini. Jangan mudah percaya pada orang luar yang ingin memecah belah kalian!"
"Kami bersediaa!!!" Jawab mereka tanpa pikir panjang.
Latizia tampak tak keberatan mengayunkan pisau itu ke arah lehernya membuat semua orang tertegun.
"P..putri! Kau.."
"Ingat peristiwa ini. Darahku mengalir di tanah Madison dan sampai mati-pun akan-ku ingat kalian yang ingin menyakiti keturunanku!!" Tegas Latizia ingin menyabetkan pisau itu ke lehernya tapi tiba-tiba saja ada tangan kekar seseorang yang memeggang mata pisau itu sebelum merobek lehernya.
"Kauu.."
"Akhiri bersamaku," Bisik Milano mengarahkan pisau itu ke lehernya sendiri. Franck yang melihat itu syok segera berlari mendekat begitu juga semua orang disini.
"Adiiik!!"
Latizia tak bisa menggerakan tangannya yang seakan kaku dan menurut akan genggaman Milano.
"Lepas!!! Kau jangan gila!!"
"Aku bahkan bisa lebih gila lagi dari ini, Sayang!" Bisik Milano menyayat bagian tengkuknya hingga perlahan turun ke nadi.
Darah yang mengalir di pisau dan tangan Latizia membuat mata wanita itu mengigil hebat di penuhi rasa takut begitu juga yang lainnya.
"Prince!!"
"M..milano! Jangan!! Jangan lakukan ini," Pinta Latizia bergetar menatap Milano yang juga memandangnya dalam tanpa ada desisan sakit padahal pisau itu sudah merobek tengkuknya.
"Kau pikir bisa meninggalkanku tanpa izin, hm?"
"J..jangan!" Lirih Larizia menggeleng sekuat tenaga berusaha menggerakan tangannya yang di ambil alih Milano.
"Jika kau lelah, akan-ku temani istirahat!"
__ADS_1
"Milanooo!!!" Teriak Franck histeris kala pisau itu merobek bagian leher adiknya.
Vote and like sayang..