GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Aku sudah sangat bersyukur!


__ADS_3

Keadaan yang semula mencekam sudah teratasi dengan baik. Para penduduk Madison kembali ke rumah masing-masing begitu juga anggota kerajaan.


Tepat di dalam kamarnya, Milano berdiri di atas balkon bersama Franck seraya menatap ke arah dalam ruangan. Di tengah desiran lebat hujan tanpa petir ini rasa lega dan bebas mereka melambung tinggi seakan beban berat itu menyingkir.


Namun, dari sorot mata coklat Franck masih menyimpan kebingungan. Apalagi, Latizia sudah lama berbaring di atas ranjang sana di temani putri Veronica dan dokter Dee.


"Apa yang terjadi?"


Akhirnya pertanyaan itu lolos juga mengakhiri keheningan. Dengan wajah tenang dan stabil tapi menyimpan rasa bahagia itu, Milano membuang nafas dalam-dalam.


"Dia berhasil meyakinkan diri sendiri."


"Adik! Apa maksudmu?" Selidik Franck menunjukan rasa tak puas.


Milano berbalik. Tatapannya kali ini memindai lingkungan luar istana yang luas dan hijau di basahi tetesan hujan bening.


"Aku sebelumnya tak pernah menduga jika kelahiran putraku akan membuat keajaiban besar. Malam itu, tepat saat Latizia menyusui baby Arch dia merasakan sakit yang sulit di jabarkan. Rasa yang tak normal dialami oleh ibu menyusui dan dia sempat tak ingin mengatakan padaku karena takut aku khawatir."


"Lalu?" Tanya Franck tak begitu panjang memotong.


"Tapi, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi di setiap tarikan baby Arch. Dia seperti merasakan darahnya ikut terhisap bahkan, Latizia sampai berkeringat dingin. Mau tak mau malam itu dia menunjukan keluhannya padaku walau dengan berat hati. Aku mulai memindai tubuhnya dan satu hal membuatku semakin berharap."


"Apa itu?" Franck kian penasaran.


"Putraku menghisap semua racikan di tubuh Latizia melalui asi itu. Semalaman Latizia menyusui baby Arch yang seperti punya kekuatan tanpa ada batasan. Akhirnya, tubuh Latizia berangsur membaik walau tak sepenuhnya bisa sembuh dalam satu malam. Tapi, melihat perkembangan itu aku menemukan cara yang lebih cepat mengakhiri semua ini dan mulai membicarakannya pada Latizia!"


Franck mangut-mangut mengerti. Dengan kata lain, keluarga kecil ini saling bekerja sama untuk membuat siasat untuk membunuh kakek Teans.


"Hari itu aku sempat ragu karena takut jika perkiraanku meleset maka Latizia akan tiada. Tapi, Latizia punya keberanian yang tinggi. Dia meyakinkanku jika ini akan berhasil. Semangatnya kuat dan penuh percaya diri."


"Kapan kalian merencanakannya? Kenapa tak mengajakku? Kau tahu, adik! Saat melihat lehermu di gorok seperti itu aku serasa ingin memukul kepalamu!" Emosi Franck sekaligus lega.


Milano menarik senyum singkat. Hanya bertahan beberapa detik lalu kembali datar tapi tak menghilangkan rona hangatnya.


"Sebelum dia benar-benar pingsan malam itu, aku mengatakan rencanaku padanya. Aku sengaja membiarkan para komplotan pemberontak menyerang istana dan Latizia punya tugas mendramatisir sampai tua bangka itu keluar dari raganya untuk melenyapkan putraku. Membuat satu koloni dari elang-elang dan bersandiwara bersama Latizia, dia menahan jiwa disini dan aku menghabisi raganya di tempat lain. Maka, semuanya bisa selesai!"


"Kalian memang luar biasa! Aku tak menduga jika yang hari itu berdebat dengan Latizia ternyata hanya kloni elang-elangmu, adik! Aku pikir.." Franck tak bisa berkata-kata lagi.


"Kak! Ini kekuatan Valley yang di perebutkan mereka semua. Kekuatan ini bisa menipu bahkan, menduplikat habis tuannya! Latizia juga paham konsep awal rencana ini. Dia hanya perlu berakting memancing kedatangan jiwa tua bangka itu," Jawab Milano sudah memperhitungkan segalanya.


Franck sontak memeluk Milano dengan penuh rasa bangga. Tepukan tiga kali ke punggung kekar itu memperdalam ikatan saudara.


"Kakak sangat bahagia untukmu!"


"Jangan lupa perjodohanmu, kak!"


Franck spontan menjauhkan diri dari Milano yang sekarang menyeringai monster sampai bulu kuduknya merinding.


"Kau jangan merusak suasana hati kakak, adik!" Tekannya jengah.


"Aku ingin putraku punya teman bermain."


"Buat saja satu lagi, apa susahnya, ha?! Dengan kemampuanmu, mustahil tak membuat Latizia mengandung 20 kali!"


Jawaban Franck di dengar oleh putri Veronica dan dokter Dee. Dua wanita dewasa itu hanya pura-pura menuli terus menunggu Latizia bangun.


"Ehmm!"


Gumaman Latizia muncul di sela bibir pucatnya. Putri Veronica yang semula duduk dk tepi ranjang segera memeggang jemari Latizia bergerak pelan.


"Kau sadar?"


"Nona! Kau mendengarku?" Tanya dokter Dee menyadarkan Latizia yang mulai membuka mata perlahan.

__ADS_1


Pandangan kabur dan tak jelas. Ia mengerijab beberapa kali menormalkan kesadaran dan agak merasa pusing.


"Nona!"


"P..putraku," Gumam Latizia yang sepenuhnya sadar segera panik saat tak melihat baby Arch disini.


"Putraku! Putraku dimana?"


"Kau tenanglah. Baby Arch ada di luar, dia bermain dengan Darren dan yang lain!" Jawab putri Veronica yang menenagkan Latizia.


Milano dan Franck sudah masuk mendekati ranjang. Dua wanita itu berdiri membiarkan Milano lebih leluasa menjemput kesayangannya itu.


"Milano!"


"Bagaimana tubuhmu?" Tanya Milano duduk di tepi ranjang.


Tangannya memeggang kening Latizia yang agak panas lalu berpindah ke leher jenjang wanita itu. Sepertinya Latizia demam ringan dampak dari pengeluaran racun besar-besaran dalam tubuhnya.


"Kau demam ringan karena adaptasi baru di dalam tubuhmu. Istirahatlah beberapa jam lagi, hm?"


"Bagaimana dengan baby?" Tanya Latizia dengan suara serak karena kerongkongannya agak kasar dan nyeri.


"Dia tak akan mengalami hal buruk. Perhatikan kesehatanmu!"


"Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Latizia lagi tak tenang.


Franck dan yang lainnya berangsur keluar membiarkan Milano lebih leluasa merawat Latizia yang terlihat lemah dan pucat.


"Semuanya sudah membaik. Setelah keadaanmu normal kita akan membuat klarifikasi media secepat mungkin. Aku tak ingin ada berita buruk soal kau maupun kerajaan!" Seraya menggenggam satu tangan kanan Latizia hangat.


Latizia mengangguk. Dari sorot netra ungu mistik sayu itu memandang dalam wajah tampan Milano yang fokus mengusap punggung tangannya.


"Ada masalah lagi?"


"Kenapa? Ayah kenapa?"


Sontak Milano menatap Latizia dengan agak konyol. Panggilan itu serasa menyapu dingin bulu kuduknya sampai berdiri.


"Jangan membuatku seperti di alam lain," Jengahnya tapi tak bisa menyembunyikan senyum malu yang tipis.


"Ayah kenapa? Ada yang salah dengan perkataan ibu barusan?" Goda Latizia gencar seraya menahan senyum geli melihat respon jenaka Milano.


"Apa demammu membuat otak jadi agak miring?"


"Ayah tega mengatakan itu pada ibunya Arch. Apa.."


"Latiziaa!! Sudah!" Dengus Milano membekap bibir Latizia dengan tangannya. Respon seperti ini hanya akan di lihat oleh Latizia seorang, Elang Madison memang sangat manja.


Latizia terkikik tipis. Ia menurunkan tangan Milano dari bibirnya lalu menatap santai pria itu.


"Dulu saat aku hamil, kau yang selalu menggodaku. Sekarang kita gantian!"


"Tapi, ucapanmu barusan lebih menggelikan. Aku tak biasa," Jawab Milano sedikit bergidik tapi tak menghilangkan kesan pria monoton dalam dirinya.


Latizia tersenyum kecut. Ia tahu tadi Milano tengah kesal akan sesuatu. Seperti biasa, brandal messum plus pencemburu tingkat dewa ini selalu membuat ulah.


"Katakan! Ada yang mengganggumu?"


"Kau bangun-bangun bukan mencari ku tapi iblis kecil itu. Apa aku tak begitu penting?" Mengutarakan kekesalannya dengan berapi-api. Tentu sangat angkuh.


Latizia tak bisa untuk tak mengulum senyum.


"Tentu saja putraku lebih penting. Dia yang terbaik!"

__ADS_1


"Latiziaa!!" Geram Milano dengan mata berubah tajam.


Melihat kemarahan Milano kian meningkat, Latizia mencubit bagian dada bidang itu tapi, lebih pada cubitan cinta.


"Jangan kekanak-kanakan! Baby lebih kecil darimu. Dia lebih banyak membutuhkanku dari pada kau."


"Aku juga membutuhkanmu. Semalaman menahan itu apa kau pikir aku tak depresi?!" Sarkas Milano mengibarkan peperangan.


Latizia tak syok atau marah. Ia sangat tahu jika Milano punya hasrat yang tinggi dan meledak-ledak. Semalam saja dia absen maka, paginya Latizia akan di buat tak beranjak dari tempat tidur.


Sore absen maka malam akan jadi sangat panjang dan begitulah seterusnya. Jatah Milano ada 3 kali sehari, itu vitamin penyemangat dan penunjang hidup pria ini.


Namun, setelah melahirkan Latizia tak di perbolehkan melakukan hubungan badan dulu sela satu bulan. Bayangkan betapa tersiksanya Milano saat ini.


"Baru sehari tapi, rasanya seperti satu tahun. Ini sangat menyusahkan," Rutuknya tak berdaya.


"Mau bagaimana lagi?! 1 bulan itu sudah sangat cepat. Jangan aneh-aneh."


"Aku tak bisa menunggu selama itu," Gumam Milano dengan mata bersitatap dalam dengan netra ungu bingung Latizia.


"Lalu?"


"Kita main atasan, bagaimana?" Tawar Milano menaikan alis messum.


Latizia memerah. Ia tahu apa yang di pikiran Milano sekarang sampai otaknya tak lagi bisa jernih.


"Kau!! Kau memang benar-benar!!"


"Sayang! Aku serius. Sekarang kau istirahat saja. Aku akan membuat jadwal untukmu!"


"Milanoo!!" Kesal Latizia tahu jadwal apa itu. Tapi, di balik sikap galaknya Latizia selalu menerima apapun yang Milano mau.


Lain bibir lain hati. Itulah yang Milano tahu dari Latizia ketika dia memberontak seperti itu.


"Jika waktunya minum asi, kau milik iblis kecil itu! Tapi, selebihnya kau MILIKKU!"


"Tergantung. Apa baby mau atau tidak?!" Gumam Latizia membiarkan Milano membuat jadwal di ponselnya.


"Jika tidak aku akan tetap memaksa. Kau milikku sejak pertama. Tiba-tiba dia hadir dan ingin merebutmu, cih! Jangan bermimpi."


Suara percakapan konyol tapi manis Latizia dan Milano bisa di dengar jelas dari cela pintu oleh putri Veronica yang tadi ingin mengantarkan segelas air hangat.


Hanya saja, saat tahu suasana di dalam tak cukup tepat akhirnya ia berhenti di depan pintu.


"Putri!"


Dokter Dee tiba-tiba datang memeggang bahu putri Veronica.


"Kau antarkan ini ke dalam. Latizia butuh minuman hangat."


Dokter Dee tak buta. Ia tahu hubungan pelik antara 3 mahluk ini tapi, juga menjadi saksi perjalanan prince-nya.


"Putri! Apa kau cemburu?" Pertanyaan konyol tapi ia tak bisa menahan diri.


Senyum pelik putri Veronica tampak menyedihkan tapi, ada rasa rela dan lepas di baliknya.


"Aku mencintainya tapi tak cukup pantas di bandingkan dengan Latizia. Berdiri disini dan di beri kesempatan untuk bergabung sudah menjadi keberuntungan besar dalam hidupku. Walau Milano hanya mencintai Latizia tapi dia tak melarang ku untuk mencintainya. Begitu juga Latizia!" Jelas putri Veronica dengan tatapan damai.


"Dia berbesar hati membiarkanku mencintai Milano dan putranya. Apa lagi yang-ku mau?! Mengharapkan cinta Milano itu mustahil," Imbuhnya tersenyum menghardik diri sendiri.


.....


Vote and like sayang.

__ADS_1


__ADS_2