GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Mulai curiga


__ADS_3

Setelah bicara baik-baik soal statusnya, putri Veronica menawarkan diri untuk menemani Latizia. Wanita cantik bermata ungu mistik itu ingin menemui Grigel membahas soal keadaan wilayah Garalden.


Tentu saja Latizia belum tahu soal kerajaannya sedetail itu. Ia hanya ingin memastikan penanganan wabah yang menyebar di sana sudah bisa di tekan atau tidak.


"Bagaimana bisa wabah seganas itu muncul?" Tanya putri Veronica yang semobil dengan Latizia menuju rumah sakit pusat kota Madison.


"Ada seseorang yang berusaha menghancurkan kerajaan. Musuh lama Madison termasuk yang sudah menyokong pemerintahan Raja Barack sebelumnya."


"Sama seperti kerajaanmu?" Tanya putri Veronica syok.


Latizia mengangguk. Milano masih belum mengatakan, siapa dalang ini tapi Latizia yakin Elang Madison itu pasti sudah tahu segalanya.


"Yah. Dia juga yang membuat konspirasi besarĀ  atas pernikahanku dan Delvin."


"Apa aku dan Milano juga seperti itu?"


Latizia mengangguk membuat putri Veronica mengepal.


"Jadi, sedari awal mereka hanya ingin memanfaatkan kekuasaan kerajaan Sauveron."


"Benar. Niat mereka sama seperti apa yang sudah terjadi padaku. Hanya saja.."


"Milano mendahului," Sela putri Veronica sudah tahu jika kehancuran itu karena amarah besar Milano padanya.


Latizia tersenyum canggung. Ia agak tak enak hati tapi kelihatannya putri Veronica benar-benar sudah tak peduli.


"Aku tak tahu kenapa dia sampai semarah itu."


"Sudahlah. Lagi pula itu baik bagi kerajaanku. Sekarang semua penjilat bahkan para penjahat yang dulu bersembunyi menunjukan sifat monster mereka saat kerajaan sudah kritis" Lirih putri Veronica pasrah.


"Dulu paman dam bibi mu datang ke istana."


"Mereka?" Tanya putri Veronica melebarkan pupil matanya syok.


"Yah. Mereka ingin meminta pertanggung jawaban Milano yang masih berstatus sebagai suamimu," Jawab Latizia tenang memandang ke depan.


Wajah putri Veronica kelap. Matanya memancarkan amarah yang suatu-waktu bisa meledak kapan saja.


"Mereka benar-benar," Geramnya meremas seatbelt.


"Karena hari itu dia datang dengan niat jahat tentu saja tak akan di terima. Kak Franck bisa menanganinya."


"Kakaknya Milano?"


Latizia mengangguk. Tampaknya putri Veronica tak begitu paham soal seluk-beluk Milano sampai terlihat bingung.


Tak berselang lama mereka berbincang, mobil itu segera masuk ke rumah sakit utama Madison. Pelayan Wey yang juga ikut bersiaga duduk di depan bersama supir istana yang sedia.


"Tampaknya rumah sakit ini penuh."


"Wabah itu seperti tak pernah bisa pergi dari tubuh manusia," Geram Latizia sangat muak dengan semua ini.


Mereka semua turun. Karena takut akan membuat keributan akhirnya mereka memakai masker khususnya Latizia yang akan di kerumuni.


"Nona! Akan saya bantu!"


Pelayan Wey memeggang lengan Latizia yang berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Perutnya yang besar memang menyulitkan untuk berjalan tapi, ntah kenapa semenjak kandungannya semakin besar Latizia seperti punya energi yang banyak.


"Ini lebih mengerikan dari racun di tubuhku," Gumam putri Veronica kala ada satu bangkar yang lewat di samping mereka menampung korban baru.


Seorang pria dewasa dengan kulit melepuh hampir seluruh tubuh. Ia berteriak sakit, gatal bahkan panas yang menggerogoti organ-organ nya.


"Ntah kenapa aku merasa ini ada hubungannya denganku?!" Batin Latizia melihat bintik-bintik merah di tubuh para pasien juga ada padanya kala menerima suntikan.


"Ada apa?"


"A..tidak ada," Jawab Latizia tersadar dari lamunannya kala putri Veronica bertanya.


"Kau sedang hamil. Takutnya wabah ini akan menyerangmu."


"Selama ini aku sering mengunjungi para penduduk yang terkena. Syukur tak terjadi apapun," Jawab Latizia masuk ke lift.


Mereka pergi ke lantai atas menuju ruang dokter Keanu yang di perintahkan untuk membantu disini.


Setibanya di atas sana. Mereka sudah di sambut Grigel, Poharden dan ada 5 pengawal istana yang ternyata sudah datang lebih dulu memastikan situasi aman atau tidak.


"Kalian.."


"Putri!" Sapa Grigel dan Poharden menunduk hormat.


Namun, keduanya langsung bersiaga mendorong putri Veronica menjauh dari Latizia.


"Menjauh dari putri Latizia!!" Waspada mereka gila.


"Aku tak melakukan apapun," Bantah putri Veronica kesal.

__ADS_1


"Kau sangat ingin melukai putri dan jangan harap rencanamu berhasil!"


"Grigel!" Cegah Latizia saat Grigel ingin mengeluarkan pisau di balik mantelnya.


"Putri! Dia bisa mencelakaimu."


"Tidak akan. Jika itu terjadi, dia lebih dulu berakhir," Tegas Latizia meyakinkan.


Grigel diam melirik putri Veronica tajam dan waspada.


"Grigel!"


"Saya mengerti, putri!" Jawab Grigel kembali tenang.


Latizia akhirnya bisa lega tak ada bentrokan lagi.


"Bagaimana kabar wilayah kita?" Berjalan ke ruang tunggu di lantai khususnya ini di ikuti yang lain.


Yah, lantai ini sudah menjadi wilayah khusus bagi Latizia semenjak ia jatuh sakit dulu. Hanya orang-orang kerajaan yang boleh kesini.


"Putri! Semuanya baik-baik saja. Hanya beberapa penduduk yang masih mengidap wabah itu," Jawab Grigel membiarkan Latizia duduk di sofa ruangan di bantu pelayan Wey.


"Bagaimana cara kalian menekan wabah ini?"


"Prince Milano bekerja keras melakukannya. Putri tak perlu khawatir," Jawab Grigel menunduk.


Latizia diam seraya melepas maskernya. Ia merasa ada yang aneh dengan semua ini. Jelas-jelas di rumah sakit masih penuh bahkan wabah itu tak benar-benar musnah tapi, kenapa di wilayah Garalden tiba-tiba menyusut.


"Aku ingin bertemu dengan para penduduk yang ada di sana."


"Putri! Sebaiknya tunggu keadaanmu benar-benar leluasa," Jawab Poharden ambil bagian.


Latizia membisu. Ia tatap pekat dua orang kepercayaannya itu sampai mereka menunduk tak kuat dengan penyelidikan Latizia.


"Kalian yakin?"


"Yakin, putri!" Jawabnya serentak.


Putri Veronica saling pandang dengan Latizia. Keduanya seperti merasakan jika dua pria paruh baya ini berbohong.


"Baiklah. Kalian pergi bantu yang lain!"


"Mengerti!" Jawab mereka segera keluar.


Tinggallah Latizia, pelayan Wey dan putri Veronica yang berdiri di dekat pintu.


"Baik, putri!" Jawab wanita itu segera ikut keluar.


Putri Veronica segera duduk di samping Latizia.


"Kau merasa jika itu tak benar?"


"Yah. Tak mungkin wabah sekuat ini bisa di tekan dengan mudah. Aku tahu Milano kuat tapi, rasanya ada yang janggal," Gumam Latizia berpikir.


"Apa yang bisa ku bantu?"


"Aku penasaran dengan wabah ini," Gumam Latizia sungguh ingin tahu lebih banyak.


"Kau tinggal tanya pada Milano. Dia pasti menjelaskan secara rinci lebih dari dokter."


"Tidak. Dia tak pernah membahas soal wabah ini secara detail bahkan, terkesan menghindar," Gumam Latizia heran.


Putri Veronica juga ikut berpikir sampai dokter Keanu datang bersama pelayan Wey yang kembali berdiri di dekat Latizia.


"Nona! Kau datang dalam kondisi seperti ini?! Terlalu beresiko."


"Apa para korban wabah itu sudah di tangani?" Tanya Latizia dan diangguki dokter Keanu.


"Yah. Semuanya bisa di tangani. Hanya saja wabah itu cepat menular jadi butuh waktu."


"Syukurlah! Aku pikir.."


Brakk..


Tiba-tiba saja pintu itu di dobrak kasar oleh seseorang yang tubuhnya langsung terlempar ke dalam.


Latizia dan semuanya syok melihat seorang wanita paruh baya dengan penampilan kacau dan tubuh penuh bintik-bintik merah yang melepuh tersungkur di lantai.


"Pengawaal!!" Panggil dokter Keanu waspada begitu juga pelayan Wey.


"K..kau p..putri Latizia-kan?" Tanya wanita itu mengangkat wajahnya dan semuanya terkejut.


Wajah wanita itu di penuhi bekas kuku dan sepertinya ia menggaruk secara ganas.


"Kalian anggota kerajaaan!!! Kalian membunuh putrakuuu!!"

__ADS_1


"Bawa dia!" Titah dokter Keanu kala pengawal yang tadi menangani kekacauan di depan akhirnya kembali.


"Kalian semua pembunuuuh!!! Kembalikan putrakuu!!!"


"Diam!!" Tekan para pengawal menyeretnya keluar.


Latizia berdiri di bantu pelayan Wey dan putri Veronica yang juga bingung.


"Putraku tiadaaa!!! Dia sakiiit tapi tak ada yang pedulii!! Semuanya hancuur!!"


"D..dia.."


"Nona! Dia hanya depresi dampak dari wabah ini," Elak dokter Keanu tapi bukan Latizia namanya jika tak menelisik lebih jauh.


"Lepaskan dia!"


"Nona! Kau.."


"Lepaskan wanita itu!!" Titah Latizia berdiri di depan pintu ruangan menatap tajam para pengawal yang saling pandang.


"Lepaskan atau kalian keluar!"


"B..baik," Jawab mereka akhirnya melepaskan wanita itu.


Dokter Keanu pucat. Ia sudah di larang Milano agar jangan membiarkan Latizia berinteraksi dengan para korban di rumah sakit.


"Nona! Kau sedang hamil. Ini tak baik untukmu!"


"Apa maksudmu dengan kami pembunuh?" Tanya Latizia pada wanita itu.


Gejala aneh mulai tampak. Kulit wanita itu mulai bernanah dan ia tak bisa menahan sakit sampai berteriak tapi di bumbui tangis.


"P...putrakuu!!! Dia tak bisa menahan ini hingga tiada, hiks! Dia masih sangat muda dan punya keinginan tinggi. Dia tiadaa!!"


"Maaf jika kerajaan masih belum bisa me.."


"Ini tak adiiil!!" Bantah wanita itu menunjuk Latizia dengan marah dan mata mengigil.


"Kerajaan seakan menutup mata dengan keadaan para penduduk yang terkena. Kalian tak pernah benar-benar ingin mengusir wabah inii!! Tidak pernah!!"


"Jika tahu solusi, mereka juga tak akan mau membunuh rakyat sendiri," Ketus putri Veronica geram. Jiwa arogannya seketika memberontak ingin menginjak-injak wanita ini.


"Tapi, kenapa tak satupun anggota kerajaan yang terkena wabah?? Kenapa hanya kami?? Kenapaa??"


Latizia diam. Apa yang di katakan wanita ini benar. Seharusnya wabah itu juga menyerang semua orang.


"P..putri, hiks! Kau..kau hamil. Tak peduli itu anak siapa tapi kau akan jadi seorang ibu!! Aku mohon padamu kembalikan putrakuu!! Kembalikan dia, hiks!"


"A..aku.."


"Aku mohon hentikan semua ini. Masih banyak keluargaku yang menangis kesakitan bahkan mati mengenaskan di luar sana!! Kami ingin memberontak tapi kerajaan me.."


Tiba-tiba saja hembusan angin datang cukup kuat membuat wanita itu pingsan.


Kedatangan sosok yang paling berpengaruh itu membuat lantai ini menjadi sangat beku khusunya dokter Keanu dan 5 pengawal yang gemetar takut.


"K..kami akan membawanya pergi."


Para pengawal itu membawa pergi wanita tadi. Saat sosok menakutkan ini melewati mereka tentu saja ada tegukan ludah yang sulit di telan.


"Prince akan marah besar jika nona tahu keadaan yang sebenarnya," Batin dokter Keanu menunduk kala Milano sudah berdiri di hadapan Latizia yang diam.


"P..prince!"


"Ayo pulang!" Tegas Milano pada Latizia tanpa melirik putri Veronica yang menunduk tak lagi punya kepercayaan diri.


"Prince! Saya permisi."


"Aa...benar. Banyak hal yang mau di urus," Timpal dokter Keanu pada pelayan Wey yang juga merasa hawa prince tengah menahan amarah.


Keduanya pergi di ikuti putri Veronica yang sesekali memandang Milano sendu tapi sedetik-pun Milano tak menoleh.


Aku sama sekali tak pernah ada di hidupmu, batin putri Veronica pergi.


Tinggallah Latizia dan Milano yang terus memandang wajah cantik Latizia yang masih diam membisu.


"Akan-ku jelaskan nanti," Ucap Milano seakan tahu isi kepala Latizia yang beralih memandangnya.


"Kau tak bohong-kan?"


"Hm. Tidak," Jawabnya tegas.


Latizia menghela nafas membiarkan Milano memeluknya lalu seperti biasa dengan mata terpejam ia di bawa pergi dalam sekejap mata.


Walau-pun begitu, Latizia tak akan mudah untuk percaya. Lagi pula keanehan ini sudah terlalu membuatnya ingin memastikan sendiri.

__ADS_1


...


Vote and like sayang..


__ADS_2