GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Balas dendam?


__ADS_3

Pagi ini Latizia buru-buru kembali ke kerajaan. Semalam ia di paksa bermalam di restoran karna kekacauan di arena luar. Ia tak tahu, bagaimana kabar Ximus dan apa yang anggota Milano lakukan pada pria itu?!


Apalagi, saat bangun tadi Latizia tak menemukan Milano. Hanya ada beberapa pria termasuk dokter Keanu yang berjaga untuknya.


"Putri! Kau jangan masuk ke istana!" Cegah Poharden menyongsong Latizia yang berjalan ingin masuk ke pintu besar istana.


"Kenapa? Ada apa di dalam?" Tanya Latizia menyelidik.


"Putri! Kita sekarang tak punya bukti yang kuat untuk menyangkal tuduhan mereka."


"Apa mereka punya bukti?" Tanya Latizia dan Poharden mengangguk.


Sontak wanita cantik yang tampak anggun dengan balutan dress selutut itu mematung. Ia tak menyangka kasus ini akan menyebar sampai begitu rumit.


"Veronica memang sangat licik!"


"Bukan dia saja, putri! Keluarga kerajaan Sauveron juga hadir tadi malam dan membuat kegaduhan besar," Jawab Poharden menyimpan rasa cemas pada Latizia.


"Putri! Aku akan menyiapkan mobil. Kau.."


"Aku tak merasa bersalah," Tegas Latizia tetap melangkah masuk melewati Poharden yang sudah khawatir.


"Putri! Kita belum punya bukti untuk membantah. Kau akan dalam bahaya!"


Latizia hanya diam masuk ke dalam istana utama dimana Poharden masih berusaha mempengaruhinya agar berbalik.


"Putri! Aku mohon. Kita.."


"Akhirnya kau kembali!" Suara sarkas dan penuh kemarahan datang dari arah lift. Latizia diam setia dengan wajah tegas dan tatapan tajamnya yang menyelidik pada sosok pria paruh baya yang tampak bukan dari kalangan biasa.


Pria itu mengenakan stelan jas rapi di dampingi seorang wanita paruh baya yang agak mirip dengan Veronica.


"Kau begitu takut sampai tak pulang semalaman. Sungguh luar biasa!" Desis Raja Aerav yang berjenggot cukup panjang.


"Apa yang kau lakukan pada putriku itu di luar martabat kerajaan! Kau mengatakan pada dunia jika kau seorang putri tapi tindakanmu tak layak sama sekali!!" Timpal Ratu Ebnezer yang terus memanas-manasi keadaan.


Suara keduanya yang keras membuat orang-orang yang tadi ada di lantai atas langsung turun ke bawah.


Latizia hanya melihat Ratu Clorris, Raja Barack dan Delvin yang menatap sinis padanya.


"Raja Barack! Ini menantu mu yang tak tahu tata krama masih berani menampakan wajahnya!"


"Raja Aerav! Tenanglah, kita bicarakan ini baik-baik," Jawab Raja Barack turun mendekati Raja Aerav yang berapi-api menyalahkan Latizia.


"Tidak bisa. Dia harus di hukum mati karna merencanakan pembunuhan untuk putriku!"

__ADS_1


"Apa tak terbalik?" Tanya Latizia menyambar tuntutan Raja Aerav.


Semua orang langsung memandangnya termasuk para petinggi kerajaan yang tiba-tiba datang membuat posisi Latizia semakin genting.


"Apa tak terbalik? Yang Mulia!"


"Kau memang tak tahu malu," Geram Raja Aerav tapi Latizia cukup bisa mengendalikan dirinya.


"Kenapa aku harus malu?! Bukankah putrimu yang ingin mencelakai-ku?"


"Lihat!!! Lihat jawabannya yang tak masuk akal itu!!" Sambar Ratu Ebnezer seakan-akan mempermalukan Latizia di hadapan banyak orang.


Ia dengan mata berkaca-kaca mendekati Latizia yang setia dengan wajah keras kepala itu.


"Baru pertama kali ini aku melihat wanita sepicik dirimu!"


"Benarkah?" Tanya Latizia tersenyum kecut lalu berubah serius.


"Aku-pun baru pertama kali melihat aktris drama senatural dirimu!" Imbuh Latizia menekan.


Wajah Ratu Ebnezer tampak kelam. Kedua tangannya mengepal dengan amarah yang di tahan. Latizia mengamati semuanya.


Sedari tadi Raja Aerav maupun Ratu Ebnezer tak berkata-kata sangat kasar padanya. Mereka masih mempertahankan gaya kerajaan.


Namun, pertanyaan yang tadi muncul di benak Latizia seketika terjawab saat ada media yang datang di pintu sana.


"Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan kepadamu?! Kau meracuni putriku!! Kau meracuninya!!"


"Istriku!" Sahut Raja Aerav mendekati Ratu Ebnezer yang menangis. Ia melirik para media yang sengaja di panggil untuk menyebarkan momen ini.


"Putri kita akan mendapatkan keadilan!"


"T..tapi, tapi racun itu terus menggerogotinya. Aku tak sanggup melihat dia kesakitan!! Ibu mana yang tega melihat anaknya menderita karena kebusukan wanita lain?! Aku..aku sangat tak tahan, hiks!"


Poharden begitu muak melihat interaksi dan drama ini. Ia berharap Grigel cepat menemukan bukti agar Latizia bersih dari tuduhan.


"Kau seorang wanita, bukan?! Kau pasti paham jika kecantikan adalah nyawa seorang wanita tapi, kau menghancurkan wajah putrikuu!!"


Tangisnya semakin kencang membuat para media yang merekam saling berbisik.


"Putri Latizia kenapa begitu kejam?"


"Tak di sangka ini wajah aslinya!"


Desas-desus mereka tergiring masuk mencela Latizia. Tentu saja kekacauan ini membuat Ratu Clorris dan Raja Barack puas. Dengan begitu Latizia tak akan lagi membuat masalah di kerajaan ini.

__ADS_1


"Serahkan dia ke pengadilan istana!" Titah Raja Barack pada para pengawal yang siap meringkus tapi Poharden menentang.


"Putri Latizia tak bersalah!!"


"Bukti sudah ada. Transaksi jual beli racun yang terkandung dalam tubuh putriku sudah atas nama Latizia! Kau ingin menentang aturan?" Tanya Raja Aerav bermaksud menekan kekuasaanya.


"Bukti itu palsu! Jelas-jelas hari itu putrimu berencana meracuni putri Latizia dan dengan sengaja mematikan cctv istana. Aku saksinya!!"


"Tapi, kau tak punya bukti apapun!" Tegas Raja Barack sama sekali tak menengahi ini.


Latizia diam sejenak. Jika di lihat dari segi manapun ia memang sudah tak bisa membela diri. Tak ada perlawanan balik karna ia tak sempat menyiapkan diri.


"Bawa wanita itu!!"


"Tidak! Putri Latizia tak bersalah!! Justru anak kalian yang berusaha mencelakainya!!" Bantah Poharden menjaga Latizia dan terlibat perkelahian dengan para pengawal istana.


Poharden berusaha menghalang tapi tetap saja ia tak bisa menahan 5 pengawal itu untuk menarik Latizia.


"Ikut kami!"


"Jangan bawa dia!! Kalian semua yang sudah menyiksanya selama ini!!" Teriak Poharden yang di tahan oleh para pengawal lain.


"Tak akan berguna jika melawan sekarang. Aku harus mengumpulkan bukti yang benar dan lengkap untuk membersihkan namaku," Batin Latizia di tarik paksa untuk pergi ke pintu samping.


Poharden terus memberontak dan kewalahan. Ia menatap sendu Latizia yang mengisyaratkan agar tetap tenang dan jangan gegabah.


"P..Putri!" Lirihnya merasa tak berguna.


Latizia di seret pergi ke luar istana utama menuju penjara bawah tanah kerajaan. Kedua tangannya di borgol dan di giring bak seorang penjahat.


Tentu saja hal itu membuat hati seluruh orang-orang di istana berpesta ria. Senyum puas samar itu di tahan agar menjaga pandangan para media yang tadi merekam semuanya.


"Satu masalah selesai. Tanpa kita bergerak, wanita itu lenyap dengan keangkuhannya," Lirih Raja Barack yang diangguki Ratu Clorris.


Delvin diam. Ini kesempatannya untuk membalas dendam atas penghinaan yang hari itu Latizia lakukan padanya.


"Pertunjukan belum selesai. Kenapa kau pergi, nak?" Tanya Ratu Clorris kala Delvin ingin mundur.


"Bu! Ada urusan yang harus di selesaikan di waktu yang tepat."


"Jangan gegabah. Kita memanfaatkan keluarga Sauveron sekarang. Paham?"


Delvin mengangguk. Ia melangkah pergi dengan senyum licik dan penuh rencana untuk menyiksa Latizia di penjara bawah tanah.


"Kita lihat sejauh mana kau akan menghinaku," Geram Delvin mengambil pisau buah di dekat meja sebelum benar-benar keluar dari istana.

__ADS_1


.....


Vote and like sayang..


__ADS_2