
Perawakan tubuh kekar tinggi dengan aura jantan menakutkan itu sudah ada di dalam jeruji besi lembab menampung tubuh tua bangka di dalamnya.
Dua bawahan setianya juga sudah berdiri di belakang. Mereka saling pandang kala prince-nya sudah 10 menit berdiri tanpa satu patah katapun.
"Prince! Ini waktunya kau mengakhiri semua bencana Madison!" Ujar salah satu anggota berjubah hitam tipis yang tak sabaran.
"Benar, prince! Jiwanya sudah di serap prince kecil, ini kesempatan bagi kita," Timpal rekannya yang kedua.
Pria yang di panggil Prince itu lain tak bukan adalah Milano. Yah, jika di bandingkan dengan kelicikan otak kotor kakek Teans, ia bisa dijadikan lawan seimbang.
Dengan wajah tenang tapi mata penuh sorot intimidasi, Milano berkata penuh ketenagan.
"Putraku belum selesai membuat pertunjukan!"
Ucapan itu membuat dua bawahannya saling pandang.
Tak berselang lama, tubuh kakek Teans tiba-tiba saja mengeluarkan cahaya keemasan yang begitu silau sampai kedua bawahan Milano memejamkan mata.
"Ada apa ini?" Gumam mereka terus mengernyit merasa kilauan ini begitu tajam.
Karena kekuatan penghalang Valley yang ada dalam tubuhnya, Milano tampak santai tak terusik seperti dua bawahannya. Netra elang pekat khas Milano dapat menyaksikan perubahan tubuh kakek Teans secara berkala.
Kulit berminyak lembab pria itu mulai merekah. Darahnya keluar tak meredam kilau emas yang selalu lolos dari cela retakan yang ia buat.
"P..prince!" Gugup dua bawahannya karena ada getaran halus tapi menakutkan dari lantai ini.
Cahaya yang semula menyengat perlahan mulai melembut. Kilauannya tak begitu tajam tapi masih terkesan memakan tubuh kakek Teans.
Milano membuka telapak tangannya menciptakan cahaya merah bercampur kehitaman yang keluar membalut sebuah pedang bermata dua milik dua saudara yang kemaren lenyap di tangan Milano.
"Prince! Apa tak sebaiknya kita eksekusi pria ini di hadapan seluruh rakyat Madison?" Tanya salah satunya belum puas dengan retakan di seluruh kulit raga kakek Teans.
"Tubuhnya di penuhi racun. Sangat beresiko membawa ke tengah banyak orang dan lagi pula.."
Milano menjeda kalimatnya dengan tangan ringan terangkat menghunus pedang berkilo-kilogram itu ke arah kepala kakek Teans.
Pedang berat dan ganas itu melunak di tangan kekar Milano. Walau dia bukan pemilik asli, tapi pedang ini tunduk pada kuasa Elang Madison itu.
"Hancurkan!" Titah Milano hingga pedang itu melesat bak kilat ke arah kening raga kakek Teans hingga mata lancipnya yang gagah menembus kepala pria itu sampai menancap ke dinding.
Dua bawahan Milano diam. Ada rasa syukur di benak mereka lahir sebagai bawahan pria ini. Jika datang sebagai musuh, apa kepala mereka juga akan di lubangi?!
"Walau ini hanya raga tanpa jiwa, keduanya juga saling bertaut. Jika jiwa mengalami luka maka raganya akan merasakan dan berlaku untuk sebaliknya. Perkiraan prince memang sangat akurat!" Puji mereka mengagungkan Milano yang membuat rencana sangat detail.
Seakan belum puas melubangi kening pria itu. Jari Milano bergerak mengendalikan pedang bermata dua itu untuk menebas bagian bahu sebelah kanan hingga tangannya putus.
Milano menguarkan jiwa psikopat. Ia membelah bagian tengah perut pria itu bak menyisip perut ikan. Terlihat lunak tapi menjijikan.
"Prince! Kenapa kau memotong menjadi 4 bagian?" Tanya satu bawahannya kala melihat tubuh kakek Teans tercabik kejam terbagi menjadi tiga.
Atas kepala, pertengahan perut, bawahan pinggang dan lengan. Ia di mutilasi tanpa suara tapi darahnya seperti pancuran mengalir ke seluruh lantai.
"Dia membuat 4 wilayah menjadi kacau. Tubuhnya akan berubah menjadi tameng racun bagi 4 wilayah besar. Madison, Garalden, gunung Andolf dan tempat pelarian kakakku!"
"Itu luar biasa, prince!" Jawab mereka sekali lagi kagum.
Milano tak ingin membuang waktu. Ia menancapkan pedang kedua kali menuju kepala pria itu lalu kembali menggenggam pedangnya dengan kepala kakak Teans menjadi puncak di ujungnya.
"Kuburkan masing-masing bagian ini ke 3 wilayah setelahnya!"
"Baik, prince!"
Mereka menunduk kala Milano sudah menghilang di tempat. Potongan tubuh kakek Teans seperti remahan bangkai hewan.
"Prince tak menyisakan satupun."
"Ini layak untuknya!"
__ADS_1
........
Di depan gerbang Madison..
Keadaan mencengangkan itu masih berlangsung. Mereka tak berkedip sekaligus menahan syok melihat jiwa pria itu masih setengah di tahan oleh bayi perkasa milik Elang Madison.
Latizia menatap tajam ke arah jiwa kakek Teans yang tadi berteriak hebat nyaris seperti lulungan buas tanpa alasan.
Yang tahu penyebabnya hanya Latizia dan baby Arch. Keduanya tak begitu terkejut bahkan, hujan yang lebat ini menambah sisi benci mereka pada mahluk itu.
"T..tubuhku!!! Apa yang kau lakukan pada tubuhkuu?!!" Teriaknya heroik berusaha lepas tapi hanya punya satu tangan yang di tahan bayi sialan ini.
"Kau tak akan bisa kembali pada ragamu!"
"Latiziaa!!!" Geram kakek Teans mengigil. Rasa tak terima berkobar tapi amarah lebih mendominasi.
"Semua yang kau lakukan sudah di luar batas. Aku ingin kau tiada bahkan dengan cara beribu kali lebih menyakitkan dari apa yang mereka rasakaan!!"
Tawa kakek Teans pecah. Ia menahan sakit sekaligus mengejek remeh atas ucapan Latizia.
"Jangan lupa. Jika aku mati, kau juga akan mati!" Desisnya licik melirik tajam.
"Kau pikir dirimu begitu pintar?"
Suara itu menarik titik fokus semua orang termasuk kakek Teans. Mata mereka membelalak saat Milano tiba-tiba berdiri di belakang Latizia dengan tampilan gagah penuh pesona seperti biasanya.
Hanya saja, kali ini mereka di buat gemetar melihat pedang yang menancap kepala seseorang di ujungnya.
Darah menetes deras di dorong air hujan yang tak membasahi tubuh Milano. Pria itu seakan punya pelindung sama seperti baby Arch yang tersenyum lebar melihat kedatangan ayahnya.
"K..kau..b..bagaimana bisa?"
Kakek Teans menatap gentar Milano yang berdiri di belakang Latizia dan sosok pria yang tadi terbujur kaku di atas rengkuhan Franck yang juga syok.
"K..kauu.."
Ia bisa melihat wajah mengerikan kakek Teans di bawah sana dan lehernya putus dengan kejam.
"B..bagaimana bisa?" Gumam jiwa kakek Teans seakan tak percaya ini.
Tubuh yang di peggang Franck perlahan mulai berubah menjadi segerombolan elang yang seketika langsung mengerumuni ke arah kepala buntung itu.
"BAGAIMANA BISAA???!! AKU YANG TERKUAT DAN KAU TAK BISA MENANDINGIKUU!!" Gilanya berteriak tapi menahan sakit karena cabikan cakar dan paruh runcing elang-elang itu seperti akan mengoyak tengkorak kepalanya.
Latizia yang sudah basah kuyup menoleh pada Milano. Tatapan yang berubah hangat dan lembut penuh kasih ia lempar pada pria itu.
"Ini karena-mu!" Gumam Latizia terjerat rasa haru luar biasa.
Milano merengkuh bahu Latizia masuk ke pelukan hangatnya. Ia mengusap kepala wanita itu hingga seluruh tubuhnya di aliri perasaan hangat dan perlahan pakaiannya mengering.
"Jika kau tak punya keberanian sebesar ini, aku juga tak akan bisa melangkah lebih jauh."
"Sekarang kita akhiri ini," Gumam Latizia kembali menatap kakek Teans yang menggila akan cabikan elang ganas itu.
Milano mengayun tangan kedepan menghunus pedang ke arah jiwa kakek Teans.
"HENTIKAN INII!!" Jerit pria itu tak bisa tahan.
Milano mengangkat pedang ke atas hingga jiwa kakek Teans melayang sendiri ke tengah-tengah mereka semua.
"Kau menciptakan racun yang begitu kuat dan kau bangga dengan itu. Mereka sudah merasakannya dan sekarang, giliranmu yang mencoba racikan sendiri!" Suara Milano menggema membuat mereka merinding.
"Kau tak akan bisa melawanku!! Kau tak bisa mengubah takdir wanita ituu!!!"
"Kembalilah pada tuanmu!" Titah Milano menancapkan pedangnya ke tanah hingga pusaran cahaya merah itu keluar memancar terang tapi tak menyilaukan mereka.
Cahaya itu terkesan lembut mengelilingi semua orang. Di bantu hujan deras yang turun, tubuh mereka seperti terhisap dan ada yang ingin keluar secara masal.
__ADS_1
"A..ada apa dengan tubuhku?"
"Ini.."
Mereka kebingungan tapi sedetik kemudian ada secercah harapan hadir. Cahaya merah itu seakan menarik sesuatu dari tubuh mereka.
Satu persatu mulai merasakan dampak besar. Ada gumpalan asap hitam berbau busuk keluar dari masing-masing penduduk yang menatap ke sekeliling.
"Tubuhku!! Tubuhku kembali normal!!"
"Tak sakit dan gatal lagi!!"
Sorak mereka semua memancarkan api kebahagiaan. Asap hitam itu di tarik masuk ke dalam jiwa kakek Teans yang merasa dirinya penuh dengan semua jenis api dan bara yang panas meledak-ledak.
"Hentikaan!!! Hentikaan!!"
Teriakannya tak di pedulikan semua orang. Cahaya merah itu menyebar seakan mencari penduduk yang lain. Dari berbagai penjuru tampaklah aliran kabut yang masuk ke jiwa kakek Teans yang mulai membengkak.
"Kau juga harus melakukannya!"
Milano mendorong lembut bahu Latizia berhadapan dengannya. Milano memeggang kening Latizia lalu memejamkan matanya yang di ikuti wanita itu.
"Keluar!" Gumam Milano menekan tangannya di kening Latizia yang mulai di kelilingi cahaya merah pekat.
Walau baby Arch sudah menghisap racun itu dari tubuh Latizia, tentu saja masih harus di bersihkan.
Asap hitam yang keluar dari pori-pori kulitnya terasa di tusuk ribuan jarum. Jelas Latizia merasakan sakit yang luar biasa dibanding para penduduk Madison karena ia tumbuh dengan racikan kotor pria itu.
"M..milano!!" Geraman sakit Latizia mengepalkan tangan.
Melihat ibunya dalam keadaan tak berdaya, baby Arch memejamkan matanya hingga munculah cahaya emas kental perlahan mengalun ke arah punggung Latizia.
"Aaaaa!!!!" Teriak Latizia hebat kala cahaya itu masuk dalam tubuhnya.
Semua orang terkejut. Franck berdiri menyaksikan keajaiban ini sekaligus mematung sama seperti penduduk lainnya.
Jeritan Latizia benar-benar tak berujung pertanda jika tubuhnya begitu berlawanan menolak pembersihan ini tapi, baik Milano atau baby Arch tak menyerah.
Baby Arch bertugas memperkuat tubuh ibunya sedangkan Milano menarik sisa racun itu keluar.
Kerjasama yang mengagumkan tergambar jelas. Milano membuka matanya hingga teriakan Latizia perlahan-lahan mereda.
Asap hitam itu keluar mengusung tinggi ke arah jiwa kakek Teans yang sudah terpanggang akan panasnya racun yang kembali.
"K..kalian.."
Jiwa kakek Teans benar-benar mengembang hebat. Penambahan racun murni dari Latizia begitu terasa menakutkan di tubuhnya.
"Ledakan!" Titah Milano segera menarik Latizia dalam perlindungannya dan semua orang menunduk.
Dentuman besar terdengar hebat bahkan desakan angin menyebar membuat beberapa orang terpental dalam beberapa meter.
Guncangan atas ledakan itu membuat tanah Madison bergetar bahkan gema suaranya sampai mengajar di langit.
Asap hitam yang meledak di netralkan oleh hujan yang tak biasa. Di timba tetesan air ini membuat tubuh mereka kembali pada masa muda bahkan semangat muncul berapi-api.
Energi terasa di isi penuh bahkan tubuh menjadi sangat ringan untuk bisa mengambang.
"A..apa sudah selesai?"
"Kita..kita bebas!"
Gumam mereka seakan tak percaya hari ini akan datang. Perasaan lega luar biasa dan seperti bebas dari kurungan neraka selama bertahun-tahun.
Sementara Latizia, ia sudah tak sadarkan diri. Milano menghela nafas dalam menatap Franck yang masih syok tapi dari matanya mengatakan 'JELASKAN SEMUA INI SECARA DETAIL PADAKU'.
...
__ADS_1
Vote and like sayang