GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Orang ini sangat kuat


__ADS_3

Malam yang semalam terasa sangat panjang akhirnya bisa di lewati Milano. Sudah puas meladeni pesta kekanak-kanakan yang di buat Franck dan di tambah lagi pesta minum yang membuat semuanya mabuk sampai pagi ini, tapi hanya Milano yang bertahan.


Ia bangun pagi-pagi sekali segera bertemu dengan pelayan Wey yang ada di area samping kediaman memberi pakan merpati Latizia.


"Prince!" Sapanya mundur kala Milano berdiri di depan sangkar yang di gantung.


Tatapan tajam Milano mengingatkan Ninu pada serbuan elang kemaren. Merpati malang itu meredupkan sayapnya tak lagi berani makan.


"Dia sakit?"


"Tidak, prince! Tadi dia makan dengan lahap!" Jawab pelayan Wey juga bingung. Kenapa merpati ini jadi ketakutan kala prince-nya datang?!


"Kau pergilah!"


"Baik, prince!"


Pelayan Wey pergi masuk ke kediaman meninggalkan Milano yang setia dengan wajah datarnya. Ia tak berhenti menatap tajam Ninu sampai merpati itu tak bergerak.


"Sampai sekarang nonamu tak menelponku. Dia sudah tak peduli padamu, merpati murahan!"


Ninu tampak diam tapi dari matanya, Milano bisa lihat kepercayaan dan kesetiaanya pada Latizia cukup kuat.


"Bagaiamana kalau aku mencabuti bulumu?"


Sontak Ninu langsung memberontak di dalam sangkar. Milano menyeringai seraya mengeluarkan ponselnya dari saku celana jogger yang ia pakai lalu merekam semua itu.


"Adik!"


Suara Franck yang muncul dengan kursi rodanya di belakang. Milano menyelesaikan rekaman yang segera ia kirim ke Latizia.


"Apa ini peliharaan Latizia?"


"Yah. Dia menitipkannya padaku!"


Franck mengangguk paham. Tapi, tampaknya burung cantik ini sama sekali tak senang dengan keberadaan Milano.


"Kau menakutinya, Milano!"


"Jika dia sakit itu lebih baik," Gumam Milano mengirim banyak pesan soal Ninu pada Latizia tapi tak ada satupun yang di balas.


Wajah Milano mulai jengkel bercampur kesal. Ia tahu di sana tak ada sinyal tapi setidaknya ada beberapa tempat yang bisa.


"Latizia belum menelpon?"


"Hm. Dia sangat sibuk," Jawab Milano terus menatapi layar ponselnya. Karena tak ada balasan jadilah Milano menyimpan benda itu dengan wajah tak bersahabat.


Franck mengulum senyum. Baru kali ini ia melihat adiknya yang begitu angkuh tiba-tiba gusar hanya karena wanita.


"Adik! Mungkin dia terlalu banyak pekerjaan."


"Hm, mungkin!" Gumam Milano seadanya. Franck hanya tersenyum kecil segera menepuk pinggang Milano akrap.


"Temani kakak jalan-jalan di taman samping!"


"Baiklah," Jawab Milano segera membantu Franck berdiri dan keduanya mulai berjalan pelan menuju area taman samping yang cukup luas.


Taman yang di dominasi oleh pepohonan ini terlihat segar dan lapang. Milano tampak setia berjalan di samping Franck yang terlihat bertopang ke bahu kokoh adiknya.


"Milano!"

__ADS_1


"Hm?"


"Dulu kakek selalu mengajarimu berjalan di rumput seperti ini," Ujar Franck tapi Milano hanya mengangguk.


Ia bersumpah. Apapun yang terjadi ia harus bisa kembali merebut kerajaan yang seharusnya di pimpin oleh Franck.


"Kau akan menangis setiap menginjak rumput karena kau pikir mereka menusuk-nusuk kakimu. Aku masih ingat kala itu gigimu baru tumbuh dua biji," Geli Franck dan Milano tersenyum tipis.


"Kakek sangat memanjakan kita berdua tapi padamu, kakek akan selalu keras karena kau sangat manja, adik!"


"Aku hanya begitu pada kalian," Gumam Milano mendudukan Franck di kursi taman dan ia juga duduk di sebelah pria itu.


Franck diam menatap wajah tampan gagah Milano yang sekarang sudah tumbuh sebesar ini. Adik kecil yang dulu ia manjakan sekarang juga sama.


"Milano! Kau sudah besar dan kakak tahu itu."


"Hm."


"Pasti kau merasa kakak terlalu mengekangmu selama ini. Kau tak boleh begini, kau tak bisa ke sana dan.."


"Kak!" Sela Milano membuat Franck diam dengan tatapan sendu.


"Aku tak pernah berpikir seperti itu."


"Kakak percaya padamu. Terimakasih karena sampai sekarang kau masih mendengarkan kakak tak bergunamu ini, Milano!" Ujar Franck tapi Milano menunjukan wajah tak sukanya.


"Kak! Aku tak mau mendengar itu lagi. Sekarang kau ceritakan, bagaimana rasanya saat masa pengobatan?" Tanya Milano mengalihkan suasana sendu ini.


"Aku di rendam dalam air yang terasa hangat. Awalnya begitu sakit sampai darah keluar dari pori-pori kulitku."


"Lalu?"


Milano diam. Ia membiarkan Franck bercerita panjang lebar tapi matanya mulai menelisik ke arah kedua kaki pria ini.


Hawa spritual Milano mengelilingi Franck dan peredaran darah pria ini lancar tak seperti sebelumnya. Semuanya cukup baik tapi, Milano mencium aroma yang terasa familiar di tubuh Franck saat terus menelisik lebih jauh.


"Kak!"


"Yah?" Tanya Franck kala Milano tampak serius.


"Apa kau pernah keluar kediaman sebelumnya?"


Franck terdiam. Dari matanya Milano jelas tahu Franck tengah menyembunyikan sesuatu.


"Tidak ada. Kenapa?"


"Ada aroma kayu dan dedaunan yang khas di tubuh kakak. Aroma ini tak akan tercium oleh indra mahluk biasa," Batin Milano yang tak menunjukan eskpresi yang berlebih.


"Kak! Aku ada urusan sebentar. Keanu akan menemanimu!"


"Baiklah. Hati-hati!" Ujar Franck membiarkan Milano pergi kembali masuk ke dalam kediaman.


Kebetulan Darren juga baru datang dari luar membawa hasil uji lab yang kemaren Milano minta.


"Prince! Ini hasil uji kandungan botol itu. Keanu mengatakan jika semua kandungan dalam racun itu di luar dugaan."


Milano mengambil kertas yang di sodorkan Darren. Di sana tertera bahan-bahan asing yang tak pernah di campur dalam racun apapun sebelumnya.


Yang paling menonjol adalah bahan-bahan alami yang tak mungkin ada di kerajaan Madison.

__ADS_1


"Kau ambil sampel obat kakakku di kamarnya dan bawa ke lab!"


"Apa terjadi sesuatu pada pangeran?" Cemas Darren tapi Milano masih tampak berpikir.


"Dia menyembunyikan sesuatu dariku. Biasanya Franck tak akan menghindari kontak mata saat bicara jujur."


Darren langsung mengerti. Ia bergegas ke kamar Franck dan berpapasan dengan panglima Ottmar yang tampaknya terburu-buru mendekati Milano.


"Prince!"


"Bagaimana situasi istana?" Tanya Milano masih membaca laporan lab ini.


"Para pejabat yang melihat istana tak punya pimpinan langsung melakukan penggelapan dana besar-besaran. Mereka begitu rakus menaikan harga pajak, Prince!"


"Hm, biarkan saja!"


Panglima Ottmar mengangguk. Ia tahu rencana Milano adalah membiarkan para pejabat itu menggelapkan dana dengan besar lalu menyergapnya di tengah jalan. Jika sudah seperti itu, uang akan kembali dua kali lipat dan penjara tahanan akan penuh.


"Prince! Apa tak masalah melibatkan kerajaan Artefea dalam rencana kita?"


"Bukan melibatkan," Sangkal Milano menatap datar ke depan dengan tatapan penuh ketegasan.


"Tapi, MEMANFAATKAN!" Imbuhnya licik.


Panglima Ottmar akhirnya paham. Ia selalu percaya akan apa yang Milano lakukan karena pria ini sangat tahu resikonya.


Drett..


Ponsel Milano berdering. Ada nama Latizia di sana hingga Milano tampak segar mengangkat dengan cepat.


"Hm?" Acuh Milano padahal panggilan ini yang ia nantikan sedari tadi.


"Milano! Kerajaan Madison akan di serang besok pagi. Kau selamatkan para rakyat yang tak bersalah!!"


Suara Latizia terdengar cemas dan tengah di ujung tanduk. Milano sudah tahu itu tapi ia tak menyangka Latizia pergi ke sana untuk hal berbahaya seperti ini.


"Kau jangan bertindak sendirian. Aku sudah mengurus ini dari awal."


"Baguslah. Aku.."


Tutt..


Sambungan tiba-tiba mati mendadak. Milano mulai cemas karena suara Latizia terdengar baru saja di kejar oleh seseorang.


"Kenapa tak ada satupun laporan dari anggota yang memantau Latizia?" Murka Milano pada panglima Ottmar yang pucat tapi juga bingung.


"Prince! Laporan terakhir itu tadi malam. Setelah itu tak ada lagi!"


"Shitt!" Umpat Milano segera pergi naik ke area kamarnya. Ia masuk ke kamar dan segera membuka balkon lebar.


Milano menjentikkan jarinya hingga tak lama setelahnya ada satu elang yang datang dengan tergesa-gesa bertengger ke balkon.


"Apa yang terjadi pada mereka?" Tanya Milano menatap intens mata elang itu hingga keduanya menjalin spritual yang tinggi.


Saat udara mulai berhembus dingin Milano mengepal melihat anak buahnya sudah tewas tepat di pegunungan Andolf. Ia merasakan jenis racun yang kuat mengelilingi area itu dan hawa nafas Latizia juga tertinggal di sana.


"Orang ini sangat kuat," Geram Milano dengan langit berubah mendung akan amarahnya yang terasa mengelilingi kediaman.


.....

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2