GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA
Jangan lakukan lagi!


__ADS_3

Hasrat membunuh yang terkobar di wajah Milano begitu mengerikan. Tubuh mentri Human tak lagi utuh bahkan berserakan di aspal hitam ini.


Latizia yang sebenarnya merasa mual melihat semua itu tetap memaksakan langkahnya mendekati Milano.


"Milano!" Panggil Latizia berdiri di belakang pria itu.


Milano tak mendengarnya. Ia masih dengan buas mencabik-cabik anggota tubuh pria menyedihkan itu bahkan cipratan darah di pakaian yang ia kenakan sudah tampak jelas.


"Milano! Sudah!" Pinta Latizia cemas bercampur panik karena langit yang gelap dengan serbuan elang semakin terlihat menakutkan.


"Nonaa!! Kau harus cepaat!!" Teriak Darren dari belakang sana karena mendapat kabar jika elang-elang itu menyerang penduduk kota.


"Milano!!! Sudahi semua ini. Kau akan mencelakai seluruh penduduk kota!!"


"KAU MENGHINA KAKAKKU!! MATI-PUN AKU TAK AKAN MELEPASKANMU!!!" Geram Milano benar-benar membabi-buta.


Latizia yang tak tahu harus bagaimana lagi, langsung menarik lengan Milano yang masih ingin menghaluskan tubuh bajingan itu.


"Milano, sudah cukuup!!!"


"KAUUU!!! LEPAAS!!!" Bentak Milano menarik tangannya kasar hingga Latizia tersungkur ke aspal hitam itu.


Darren dan Franck terkejut begitu juga Milano yang terdiam saat lutut Latizia berdarah dan lengan wanita itu terkikis permukaan aspal yang kasar.


"Latiziaa!!"


"Nona!!"


Teriak Franck dan Darren yang cemas segera berlari karena Latizia sedang hamil muda.


Franck dengan cepat berdiri dan tertatih-tatih mendekati Milano yang tampak mulai sadar atas apa yang sudah ia lakukan.


"K..kau.."


"Aku tak apa-apa," Jawab Latizia berdiri kembali kala Milano tampak menatap lutut dan lengannya dengan penuh rasa bersalah.


"Darah! Kau berdarah!" Lirih Milano seraya melepas kedua palu yang tadi ia genggam erat.


"Milano! Aku.."


"Kau berdarah! Kau.."


"Tenanglah! Aku baik-baik saja, hm?!" Ujar Latizia berusaha menenagkan Milano yang melihat langit di atas sana.


"Prince! Kawanan elang ganasmu membuat satu kota kacau. Sekarang banyak yang di larikan ke rumah sakit!"


Milano diam. Ia mengambil nafas dalam memejamkan matanya. Latizia mengusap punggung kekar Milano yang berusaha menstabilkan emosinya agar keadaan terkendali.


Beberapa saat kemudian elang-elang itu mulai


mengurai dan langit kembali cerah. Angin yang tadi begitu dingin perlahan mulai bersahabat kembali.


Tapi, semuanya terkejut saat elang-elang yang masih tersisa di atas sana menyerbu ke arah sini.


"Mereka akan terbang ke sini!!" Panik Latizia tapi Milano tampak lebih tenang.


"Milano! Mereka.."


"Mereka hanya lapar," Jawab Milano beralih menatap Darren yang tahu maksud prince-nya.


"Aku akan menutup jalan ini! Kalian istirahatlah dulu!"


"Tapi.."


"Aku akan ambil kotak obat di mobil!" Sela Darren segera pergi kembali ke mobil.


Franck masih diam. Ia menatap ratusan elang yang datang langsung mengerumuni daging dan darah yang ada di aspal.


Hal itu membuatnya beralih pada Milano dengan pandangan sulit dan tak percaya jika adiknya bisa melakukan semua ini.


"Milano!" Lirih Franck ingin menyapa tapi Milano tak mau memandangnya.


Pria itu pergi ke bibir pantai di samping sana untuk membersihkan sisa darah di tubuhnya. Tak ada satu kata-pun lolos menjawab kegundahan Franck yang merasa bersalah sekaligus takut jika Milano marah padanya.


"L..Latizia! Dia..dia marah padaku!"


"Tenanglah. Bicarakan baik-baik, Milano tak akan bisa marah padamu," Ucap Latizia menepuk bahu Franck.


Karena tak tenang di diamkan Milano, tentu saja Franck segera berjalan tertatih-tatih turun dari aspal menuju bibir pantai.


Latizia hanya berdiri di tepi jalan melihat Franck yang sesekali terjatuh karena ia tak bisa berjalan di atas pasir basah yang di terpa air pantai.


"Nona! Obati dulu lukamu!"


Darren yang datang membawa kotak obat. Ia mengikuti arah pandangan Latizia yang tertuju pada dua kakak beradik itu.


"Pasti prince sangat kecewa."


"Rasa kecewanya tak sebanding dengan rasa takut jika kakaknya sampai di lukai oleh mereka," Jawab Latizia sangat memahami Milano.

__ADS_1


Darren yang diam segera menghela nafas. Ia menatap bagian lengan dan kedua lutut Latizia yang masih berdarah.


"Nona! Aku akan bantu mengobatinya!"


"Aku saja. Kau beli 4 ice cream untukku!" Pinta Latizia mengambil alih kotak obat itu.


Darren yang bingung hanya bisa mengangguk. Ia pergi ke arah mobil dengan tatapan ngeri melihat 3 mayat itu di kerumuni oleh elang-elang ganas yang tampak kelaparan memakan setiap inci daging yang berserakan.


"Untung aku terlahir jadi bawahan prince, bukan musuhnya!" Gumam Darren merinding segera pergi.


Sementara Milano di tepi pantai sana mengacuhkan Franck yang kesulitan berjalan mendekatinya.


Milano membuka hoodie yang ia kenakan karena sudah amis berat. Ia mencuci kedua tangannya lalu membuka sepatu yang ia letakan di pasir pantai.


"Adik!"


Panggil Franck yang masih berusaha berjalan mendekati Milano tapi ia lagi-lagi jatuh sampai pakaiannya di lumuri pasir.


"Adik! Adik kau marah?"


Milano tetap diam. Ia mengusap kasar lengannya dengan air itu karena ia juga tengah menahan perasaan marah sekaligus tak tega melihat Franck seperti itu.


"A..adik! Adik, kakak minta maaf! Kakak.."


"Kenapa kau melakukan hal seperti itu, haa??" Tanya Milano menatap marah sekaligus sesak Franck yang terduduk di pasir basah pantai.


"Kenapa kau bohong padaku? Dan kenapa kau tak pernah jujur tentang semua ini!!"


Franck diam. Matanya mulai merah berair pertanda selama ini ia mengemban beban perasaan takut yang besar.


"A..adik!"


"Kau selalu melarang-ku berhubungan dengan mereka tapi,..tapi kau.."


Milano tak bisa berkata-kata. Ia menatap hamparan laut lepas dengan nafas memburu karena setiap bayangan dimana kakaknya di dorong dengan kasar itu membuat darah Milano mendidih.


"Kau selalu menganggap-ku anak kecil," Gumam Milano mengepal.


"K..kakak hanya tak mau mereka melukaimu. Sudah cukup kakek dan nenek pergi! Tapi, kau jangan!"


"Aku bisa melindungi diriku sendiri!! Aku bukan anak kecil yang selalu kau pikirkan!!" Ucap Milano tegas sampai Franck terdiam.


Air mata pria itu turun tapi diiringi senyuman sempit.


Franck menatap hangat Milano yang tadi memang mengejutkannya tapi sekarang, pria tampan bertubuh lebih tegap darinya itu bahkan tampak menggemaskan di matanya.


"Apa semua itu sudah membuatmu dewasa?" Tanya Franck membuat Milano tertegun.


"Kak! Aku.."


"K...kau masih kecil. Tubuhmu saja yang besar tapi..tapi kau masih kecil, Milano!" Lirih Franck menunduk.


Milano yang tak bisa tahan lagi, segera mendekati Franck dan memeluk jantan pria itu.


"K..kau tetap masih anak-anak bagiku. Kau belum dewasa."


"Jangan lakukan itu lagi!" Pinta Milano mengusap punggung Franck yang menangis.


"K..kau kau adikku! Aku..aku tak ingin mereka melukaimu. Biarkan mereka mengambil kerajaan itu, aku tak butuh sama sekali, adik!" Suara Franck yang parau dan gemetar.


Milano yang sudah melunak bisa memahami maksud Franck. Ketakutan akan kehilangan beberapa tahun lalu membuatnya nekat bertindak sendirian.


"A..adik! Maafkan kakak, maaf! Kau..kau bisa marah atau memukulku atau kau.."


"Jangan menyembunyikan apapun dariku lagi!" Sela Milano menepuk-nepuk pakaian Franck yang terkena pasir.


Latizia yang melihat kakak adik itu sudah berbaikan segera duduk di tepi jalan menikmati pandangan haru itu.


"Kenapa dulu ibu dan ayah tak melahirkan satu adik lagi untukku?!" Gumam Latizia jadi ingin punya adik.


Latizia menatap bahagia Milano yang menggendong Franck di punggungnya.


Mereka berdua terlihat lucu dan Franck tampak senang kala ia bisa merasakan kekuatan Milano yang bisa menahan bobot tubuhnya.


"Adik! Lain kali kakak akan menggendong mu!"


"Hm, cepat sembuh!" Singkat Milano berjalan kembali ke atas.


Tak ada guratan lelah atau berat di wajah Milano yang juga senang bisa menggendong kakaknya.


"Duduk disini!!" Teriak Latizia menepuk aspal di sampingnya.


"Cepatlah! Kau harus obati luka di kaki dan tangan Latizia. Jika terlambat akan infeksi, adik!"


Milano bergegas naik ke atas. Pinggiran jalan itu memang agak miring tapi tak menjadi halangan bagi Milano yang membawa Franck ke atas tanpa alas kaki.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Latizia pada Franck yang sudah duduk di sampingnya.


"Yah, kakiku hanya keram. Mungkin terlalu lama di paksakan berjalan!"

__ADS_1


"Istirahat saja dulu!" Pinta Latizia menepis pasir yang ada di pakaian Franck.


Namun, ia tersentak saat kedua kakinya di angkat ke atas aspal padahal tadi tengah selonjoran di bawah.


"Milano!"


"Kau peduli dengan luka orang tapi tidak dengan lukamu sendiri," Datar Milano cukup kesal.


"Aku sudah biasa dengan luka seperti itu. Nanti darahnya juga berhenti sendiri."


"Milano sering memukulmu?!" Syok Franck bercampur marah.


"Tidak! Bukan Milano."


"Lalu siapa?" Tanya Franck emosi. Ia sudah menaikan dua lengan sweaternya ke atas pertanda ingin memukuli sosok itu tapi..


Latizia diam hanya cukup dengan senyum kecilnya yang menyimpan banyak kenangan buruk.


Milano tahu siapa yang di maksud Latizia. Sampai sekarang, ia masih mengutuk pria itu bahkan berharap tak akan pernah mengalami kemudahan di alam manapun.


"Siapa yang melakukan itu?"


"Dia.."


"Anak haram itu!" Jawab Milano bermakna kasar.


Baik Franck maupun Latizia terkejut. Keduanya saling pandang bertanya-tanya akan jawaban Milano barusan.


"A..anak haram?"


"Siapa?" Tanya Franck menimpali ucapan Latizia.


"Delvin bukan anak kandung pria bodoh itu. Dia hanya anak haram Clorris dari hubungan bebasnya di luar kerajaan."


"Astaga!" Gumam Latizia menutup mulut tak percaya jawaban Milano ternyata sama dengan dugaannya dulu.


"Pantas saja dari segi fisik berbeda. Walau matanya sama tapi rambut dan postur wajah kalian sangat berbeda. Kalian berdua punya rambut abu pekat dan mata elang yang mirip dengan Yang Mulia Raja terdahulu!"


"Hm. Kami berdua lebih kental pada pihak kakek. Walau benihnya harus dari pria bodoh itu," Umpat Milano seraya mengobati kedua lutut Latizia dengan kapas di tangannya.


Franck hanya diam. Ia tahu Milano sangat marah dengan ibu dan ayah mereka apalagi, keduanya tumbuh tanpa kasih sayang dari yang namanya orang tua.


Saat Milano dan Franck mulai suram, Latizia tak lagi membahas soal keluarga kerajaan. Untung saja ia melihat Darren yang berjalan kesini setelah keluar dari mobil.


"Cepatlaah!!!"


"Sabar, nona!" Jawab Darren mendekat dengan plastik besar di tangannya.


Milano dan Franck saling pandang kala Darren menyerahkan plastik itu pada Latizia yang dengan berbinar menerimanya.


"Ini untukmu!"


Memberikan satu bungkus ice cream pada Darren lalu beralih ke Franck yang tentunya suka bukan main.


"Kau sangat paham seleraku!"


"Kita sehati!" Jawab Latizia tersenyum kecil kala Franck mengajak Darren duduk di sebelahnya.


Mereka berdua layak di sebut bestie karena akan bergosip ria. Apalagi, Darren punya banyak hal yang mau di laporkan pada Franck yang semangat 45 mendengarkan kisah prince-nya yang cemburu pada merpati Latizia.


Milano dan Latizia yang melihat itu hanya menggeleng saja. Latizia membuka bungkusan ice cream nya lalu menatap Milano yang sialnya juga memandangnya intens.


"Mau?" Tawar Latizia menyodorkan satu bungkus Ice Cream yang ada di dalam plastik.


"Aku tak suka makanan manis."


"Ouhh, pria sejati!" Gumam Latizia dengan makna mengejek.


Latizia mulai menjilati coklat yang meleleh di tangannya lalu terus hanyut sampai lupa jika Milano terus memandangnya penuh minat.


"Mau?" Tawar Latizia lagi menyodorkan Ice cream di tangannya.


Namun, fokus Milano justru tertuju pada bibir merah segar yang belepotan milik Latizia.


"Mau tidak?! Kau.."


Cup..


Milano mencium bibir Latizia dan menjilati sisa coklat yang tadi menarik seleranya. Latizia yang syok segera mendorong Milano karena Darren dan Franck sampai mematung kosong menatap ke arahnya.


"D..Darren!"


"Iya?"


"A..apa dia adikku?!" Tanya Franck cukup syok karena tak pernah melihat Milano se-nakal itu.


Sementara Latizia di buat malu memalingkan wajahnya tapi, Milano tampak biasa saja. Ia tak mau bersembunyi lagi di hadapan kakaknya.


...

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2