
Keadaan menjadi sama seperti dulu. Latizia yang memejamkan mata berusaha mengenali hawa keberadaan ini. Terasa menakutkan, dingin tapi cukup hangat untuknya.
Perlahan tangan Latizia terangkat seakan sudah tahu siapa yang sekarang berdiri di hadapannya dengan perlindungan yang mengusir semua rasa takut sebelumnya.
"M..milano!" Gumam Latizia kala tangannya sudah ada dalam genggaman tangan kekar seseorang.
Perlahan Larizia membuka mata. Angin berhembus sangat dingin dan membuat dahan-dahan pohon di sekeliling mereka berderit.
Milano berdiri di hadapan Latizia dengan tangan mencekik pria yang tadi melakukan hal yang sama pada Latizia. Waktu seakan terhenti dimana orang-orang yang tadi ingin menyabetnya dengan pisau juga tiba-tiba kaku seperti di tahan oleh sesuatu.
"K..kau.."
Pria itu merasa lehernya akan patah. Ia menatap wajah dingin kelam Milano yang sudah di selubungi hawa kematian.
Latizia mencengkram tangan Milano menahan aura intimidasi ini serta, ia gemetar kala tubuh pria yang di cekik Milano mengeluarkan asap hitam pekat.
"Tahan sebentar nafasmu!" Titah Milano pada Latizia yang segera menahan nafas.
Asap itu adalah racun. Milano menekan area nadi di leher pria itu hingga tubuhnya seperti di lumpuhkan dalam satu jentikan.
"A..apa yang k..kau lakukan?!" Geraman sakit pria itu tak bisa bergerak dan asap yang tadi keluar dari tubuhnya perlahan menghilang.
"Kau pikir mudah melenyapkan orang-orangku!" Dingin Milano menyeringai.
"K..kau.."
Hal yang sama terjadi pada bawahannya. Mereka seperti di tahan dengan kuat bahkan Milano bisa menekan spirtual dalam tubuh semua orang.
"I..itu apa?!"
Latizia semakin pucat kala melihat ada bayangan hitam yang ada di balik bawahan pria yang mati kutu di tangan Milano.
Leher mereka juga di cekik bahkan ada yang membelalakkan matanya karena tak sanggup menahan tekanan intimidasi yang Milano sebar.
"M..milano! Bayangan itu! Mereka.."
"Mereka orangku!" Jawab Milano mendorong melepaskan cekikannya hingga pria itu tumbang dengan tubuh kaku seperti tak punya energi lagi.
Tatapan mereka semua seperti tak percaya jika anggota Milano yang tadi mereka bantai di lereng gunung ternyata bukan yang asli.
Milano sudah memperhitungkan segalanya. Orang-orang yang berserakan di lereng gunung itu bukanlah anggotanya melainkan hanya pemancing agar bisa menangkap anak buah pengecut itu.
"Bawa mereka pergi dan jangan ada satupun yang bunuh diri!" Titah Milano dan dalam sekejab semuanya bisa hilang.
Latizia masih syok dan tak percaya hal semacam ini. Ia menatap Milano yang segera melepas mantelnya.
"Pakailah!" Membalutkan benda itu ke punggung Latizia.
"Jadi, kau sengaja menjadikanku umpan?" Kesalnya dengan mata melotot.
"Hm. Pertunjukannya tidak buruk," Jawab Milano tanpa belas kasih.
"Bagaimana jika tadi anakku terluka?! Dia sudah menderita sebelum lahir dan itu karena ayahnya yang sangat menyebalkaan!!!" Teriak Latizia mendorong bahu Milano yang tak bergerak sama sekali.
"Kau sendiri yang datang kesini. Aku hanya memanfaatkan keras kepalamu."
"Brandal!!" Ketus Latizia berjalan mendahului Milano yang mengikut dari belakang.
Sebenarnya mereka bisa saja langsung keluar dari hutan ini tapi, dengan mood Latizia yang sedang tak baik pasti nanti akan kena masalah.
Lebih baik membiarkan Latizia menggerutu di sepanjang jalan dari pada di gendang telingaku, pikir Milano setia menguntit.
__ADS_1
"Selalu saja begitu. Apa dia tak pernah membutuhkan bantuanku?!" Gerutu Latizia merasa bodoh.
Ia begitu semangat untuk membantu mencari siput Madison itu tapi ternyata, Milano sudah punya rencana dan hanya menjadikannya boneka saja.
"Seharusnya dia tak perlu sesempurna itu. Biarkan aku tampak lebih berguna sedikit."
"Kau itu sangat berguna," Jawab Milano yang berjalan dengan jarak 1 meter di belakang Latizia yang langsung berbalik tapi berjalan mundur.
"Dalam segi apa?"
"Ranjang?!" Jahil Milano menaikan satu alisnya hingga Latizia mendengus langsung meraup salju di bawahnya.
"Otakmu tak jauh-jauh dari kelamin!!" Melempar bongkahan itu ke wajah Milano yang terlalu fulgar.
"Jika tak ada itu siapa yang akan tahan, nona!"
"Berati kau dekat denganku hanya ingin itu??!" Marah Latizia tapi bagi Milano tampak sangat menggelikan.
"Yah. Rasanya berbeda dari yang lain!"
"Kau..."
Latizia menggeram tak bisa berkata-kata lagi. Dengan nafas memburu Latizia mendekat dan menjambak rambut Milano seraya berjinjit.
"Otakmu perlu di cuci ulang!!"
"Bisa. Tapi, nanti aku tak ingat denganmu lagi bagaimana?" Pancing Milano membelit pinggang Latizia agar tak jatuh.
Setelah puas mengobrak-abrik rambut Milano, Latizia segera diam karena cukup lelah.
"Mau di gendong?"
"Tidak perlu. Aku wanita mandiri," Ketus Latizia mengambil nafas dalam dan ingin berbalik tapi Milano sudah berjongkok di hadapannya.
"Aku wanita mandiri. Aku tak butuh laki-laki yang.."
Brugh..
Milano sudah menarik lengan Latizia hingga tubuh wanita itu jatuh ke punggungnya. Dengan ringan Milano berdiri tanpa takut dingin walau hanya di baluti jaket.
"Bagiku, tak ada wanita yang mandiri."
"Kenapa? Kau pikir aku sama seperti para ja**lang-mu yang hanya bisa membuka ************?" Ketus Latizia masih saja kesal soal adegan pangku-memangku kemaren.
"Cemburu?"
"A..apanya?! Aku hanya jijik," Gerutu Latizia memangku dagu ke bahu Milano yang mengulum senyum tipis seraya berjalan.
"Itu dulu. Sekarang tak ada waktu main-main."
"Cih, mulut pria memang manis. Aku sampai diabetes," Ketus Latizia sepertinya mengulti Milano dengan ajaran sesat pria itu kemaren.
"Siapa yang mengajarimu seperti itu?"
"Ntahlah. Seorang brandal messum yang menasehatiku padahal dia menceritakan diri sendiri."
Jawaban Latizia sungguh membuat Milano tergelitik. Tak pernah rasanya seumur-umur ada yang mengkritiknya secara pedas, apalagi itu seorang wanita. Latizia cukup membuatnya tertantang.
"Kenapa kau senyum? Ada yang lucu?!"
"Sedikit."
__ADS_1
"Kau pasti sedang membayangkan betapa lembutnya bokong-bokong babi itu-kan?"
Milano langsung tersentak saat Latizia menarik telinganya dengan kuat.
"Babi apa?"
"Babi-babi liar yang kemaren duduk di pahamu."
Sontak Milano menghentikan langkahnya kala sebentar lagi akan keluar dari hutan. Suasana juga tak lagi begitu gelap hingga Latizia bisa melihat telinga Milano merah.
"Latizia! Hanya bokong-mu yang membuat tidurku tak nyenyak!"
"Dan kau babi jantannya," Ketus Latizia tak lagi percaya bualan manis Milano yang membuatnya mual.
Tapi, ekspresi hangat Milano tadi seketika berubah dingin saat merasakan ada yang tengah berlari ke arah mereka.
Latizia yang juga sadar ikut teggang melihat ke belakang.
"Ada lagi?"
"Hm. Turun sebentar!"
Milano menurunkan Latizia yang segera ia tarik ke belakang tubuhnya. Tatapan elang Milano memindai seluruh penjuru hutan sampai...
"P..putrii!!"
Seseorang yang berlari dari hutan dan segera jatuh di hadapan mereka dengan tubuh penuh luka.
"Zehen!!" Syok Latizia ingin mendekat tapi Milano menahan lengannya waspada.
"Milano! Itu Zehen muridnya Guru!!"
"Dia dipenuhi racun!" Tegas Milano melihat seluruh bekas sayatan di tubuh Zehen terdapat racun yang cukup mematikan sel tubuh.
"Zehen! Dimana Guru? Apa yang terjadi?" Tanya Latizia cemas.
Zehen yang sudah pucat dan bibir membiru mencoba menatap Latizia. Kulitnya di penuhi luka sabetan pisau yang cukup dalam dan mengerikan.
"G..guru di..di bawa o..oleh mereka!"
"Mereka?!" Gumam Latizia sudah tahu kemana arahnya. Berarti segerombolan pria yang sudah di tangkap bawahan Milano tadi sudah lebih dulu mengusik Zehen dan Guru Teans.
"Milano! Bantu Zehen jika tidak dia akan tiada!"
"Tenanglah! Racun ini tak akan membunuhnya," Ujar Milano menjentikan jarinya hingga datanglah satu bayangan hitam berbentuk asap yang langsung membawa Zehen pergi.
Latizia begitu cemas. Bagaimana jika orang-orang Alkemis jahat itu ingin memperbudak Gurunya?!
"Milano! Pengobatan kakakmu masih belum selesai. Bisa jadi mereka ingin kakakmu tetap di kursi roda."
Milano hanya diam. Pendapat Latizia memang cukup logis tapi Milano tak pernah memandang dari satu sisi. Apapun yang terjadi jika berhubungan dengan pengecut itu pasti tak sederhana.
"Kita harus kembali! Kau tak bisa lama-lama disini."
"Tapi, sebelum itu aku mau pamit pada nenek yang.."
"Dia sudah tiada!" Jawab Milano mengejutkan Latizia yang mematung.
"T..tiada?"
"Hm. Orang-orang itu membunuhnya," Jelas Milano singkat lalu menutup mata Latizia dengan tangannya sampai wanita itu tak sadarkan diri.
__ADS_1
.....
Vote and like sayang..